Minggu, 24 Januari 2016

Pengobatan Qurani Wal Hikmah: Bukan Sekedar Pengobatan Biasa, Ada Upaya Mengeluarkan Kebatilan dari dalam Jiwa (Hati Ruhaniah)



Al-Quran dan Al-Hikmah adalah kitabullah yang sulit untuk dipahami secara mendalam bagi sementara kaum mukmin. Pada Al-Quran, semua keterangan Allah tentang petunjuk dan pembeda antara hak dan batil sudah sangat jelas. Hanya saja, sebagaimana difirmankan oleh Allah, tidak semua orang dapat mengetahui takwil Al-Quran. Ada ayat muhkamat dan ada juga yang mutasyabihat. Allah swt telah berfirman:

“Dia-lah yang menurunkan Al-Kitab (Al-Quran) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamat itulah pokok-pokok isi Al-Quran dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal” (QS. Ali Imran: 7). 

Sekiranya belum diturunkan ke dalam dada seorang hamba keluasan ilmu Allah, maka pastilah tidak akan mengetahui ayat-ayat Allah yang mutasyabihat. Sementara ini otak-lah yang menjadi acuannya dalam mengungkap akan kebenaran firman Allah; masih sangat langka hati dijadikan rujukan disebabkan karena masih gelap hatinya. Padahal, Allah telah menyatakan bahwa pada dada (hati) keluasan ilmu Allah itu diturunkan, sebagaimana Allah telah berfirman: “Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim” (QS. Al-‘Ankabuut: 49). 

Maka, sangat jelaslah bahwa apabila belum diturunkan (dianugerahkan) oleh Allah Al-Hikmah (kebijaksanaan) ke dalam dada (hati atau jiwa) seorang hamba, dia takkan mengerti apa makna yang dikandung di dalam Al-Quran. Allah telah menegaskan “Yaasiin, walquranil hakim,” (Yaasiin, demi Al-Quran yang penuh Al-Hikmah). Artinya, takkan diperoleh pemahaman yang mendalam atas ayat-ayat Allah yang mutasyabihat bila Allah belum menganugerahkan Al-Hikmah kepada siapa yang Dia (Allah) kehendaki. 

“Allah menganugerahkan Al-Hikmah (kepahaman yang dalam tentang Al-Quran dan As-Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugerahi Al-Hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)” (QS. Al-Baqarah: 269). 

Hanya hamba-hamba Allah yang berakallah (ulul albab) yang dapat mengambil pelajaran bahwa Al-Quran yang penuh dengan Al-Hikmah itu nyata benar menjadi penawar (obat) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, sebagaimana yang diterangkan oleh Allah: “Dan Kami turunkan dari Al-Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian” (QS. Al-Isra’: 82). “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. Katakanlah: "Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan" (QS. Yunus: 57-58). 

Perlunya Pengobatan Qurani Wal Hikmah 

Adakah sebutan ini (Qurani Wal Hikmah) masih terasa asing di telinga kaum muslim? Lalu bagaimana ketika Allah berfirman pada Surat Al-Isra’ ayat 82 dan Surat Yunus ayat 57-58 sebagaiman tersebut di atas? Adakah sebutan Al-Hikmah juga dianggap tidak familiar pada telinga kaum muslim? Jika demikian, dikemanakankah Al-Quran selama ini? 

Subhanallah, sekiranya Rasulullah saw hadir saat ini pastilah beliau bersedih. Al-Quran yang telah diturunkan ke dalam hati beliau (lihat QS. Al-Baqarah: 97) untuk umat manusia masih juga belum dijadikan sebagai petunjuk dan pembeda antara hak dan batil (lihat QS. Al-Baqarah: 185). Untuk yang mengimani Al-Quran, tentu saja, beliau sangat menghendaki agar tidak mengabaikannya. Bukan saja hanya dibaca, juga dihayati dan diamalkan. Allah swt telah berfirman: “Katakanlah: "Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul Nya, Nabi yang umi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk" (QS. Al-A’raaf: 158). 

Ada banyak yang belum diketahui dari ayat-ayat Allah. Padahal, sebagaimana disampaikan oleh Allah di dalam Al-Quran, “Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan menyucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al-Kitab (Al-Quran) dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui” (QS. Al-Baqarah: 151). 

Al-Quran telah ditetapkan menjadi petunjuk, adakah kaum mukmin yang hadir saat ini menganggap perkataan Allah tidak lagi menjadi petunjuk untuk umat Rasulullah saw yang tidak hadir bersama beliau? Lalu umat siapa kaum mukmin saat ini? Jika saat ini kaum mukmin adalah umat Rasulullah saw, adakah Rasulullah saw tidak lagi mengajarkan secara langsung kepada umatnya yang hadir saat ini? Adakah Rasulullah saw tidak dapat lagi berhubungan dengan umatnya di sepanjang zaman? Lalu, bagaimanakah dengan firman Allah berikut ini: “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya” (QS. Al-Baqarah: 154). 

Benarlah perkataan Allah, ternyata masih banyak yang tidak menyadari bahwa Rasulullah saw (Nur Muhammad) masih hidup. Kenyataan dalam hidup dan kehidupan kaum mukmin masih diselimuti oleh keragu-raguan. Hatinya belum benar-benar seyakin Rasulullah saw ketika menerima wahyu dari Allah. Hatinya masih kosong dari mengingat Allah. Padahal, melalui Al-Quran, Allah hendak menerangkan kepada kaum mukmin bahwa selain mengajarkan melalui perantaraan kalam (pengetahuan yang tertulis lewat kitab-kitab yang sudah ada), juga mengajarkan kepada manusia dari yang tidak diketahui akalnya (‘allamal insan ma lam ya’lam). 

Itulah kebijaksanaan Allah kepada umat manusia, terlebih kepada kaum beriman. Kebijaksanaan (Al-Hikmah) adalah sebuah bukti akan perwujudan Allah sebagai Tuhan Yang Maha Mengetahui atas segala sesuatu. Sedangkan makhluk-Nya, di antaranya adalah manusia, sama sekali tidak banyak mengetahui perkara-perkara yang tidak terjangkau oleh akalnya. “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lohmahfuz)” (QS. Al-An’am: 59). 

Jika Allah hendak mengajarkan melalui Rasul-Nya saw atas segala perkara yang tidak diketahui oleh umatnya, adakah kaum mukmin akan menolaknya? Astaghfirullahal ‘adhim itu sangat berlebihan. Manusia yang tidak tahu apa-apa tidak sepatutnya merasa sudah cukup tahu atas hal-hal yang sulit dijangkau akalnya sendiri. Al-Hikmah dianugerahkan oleh Allah kepada kaum yang berakal (ulul albab) merupakan sebuah keniscayaan bagi mereka. 

Siapakah orang-orang berakal (ulul albab) itu? “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (QS. Ali Imran: 190-191). 

Jadi, orang-orang berakal itu adalah orang-orang yang selalu berzikir, bertafakur, bertasbih dan selalu berlindung kepada Allah di setiap keadaan dan waktu (berdiri, duduk dan berbaring baik pada pagi, petang, siang maupun malam). Untuk ahli zikir, Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Bijaksana telah berfirman: “Kami tiada mengutus rasul-rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada ahli zikir (orang yang diberi ilmu oleh Allah di dadanya) jika kamu tiada mengetahui” (QS. Al-Anbiya: 7). 

Itulah pentingnya menjadikan Al-Quran yang penuh dengan Al-Hikmah sebagai bentuk kekuatan iman dalam mengobati segala hal yang akal sulit untuk menjangkaunya kecuali dengan kebijaksanaan Allah Yang Maha Mengetahui yang gaib dan yang syahadah. 

Apa Saja yang Ditangani Melalui Pengobatan Qurani Wal Hikmah?

Sangat boleh jadi banyak yang bertanya: Apa hubungannya Al-Quran dapat mengobati penyakit zahir? Adakah sebab-sebab yang ditimbulkan karena godaan dan gangguan jin kafir terhadap jiwa mengakibatkan gangguan (penyakit) fisik? Subhanallah, demi Dia (Allah) Yang Maha Mengetahui, kami telah banyak mendapati pengetahuan dari apa yang belum kami ketahui sebelumnya, bahwa sangat terkait apa yang dialami oleh jiwa dirasakan pada bagian fisik-jasmaniahnya. 

Penyakit-penyakit untuk kalangan yang mengabaikan jiwanya sering dirasakan pada bagian organ dalam, seperti jantung, paru-paru, ginjal, rahim, hati (liver), pankreas, saluran pencernaan (usus), kelenjar, sel-sel saraf otak dan lain-lain. Maka, lahirlah sebutan-sebutan penyakit seperti penyakit jantung, penyakit paru-paru, penyakit ginjal, penyakit diabetes, penyakit liver (hati), penyakit kelenjar getah bening, penyakit migran, penyakit kanker otak, penyakit stroke (kelumpuhan) dan lain-lain. 

Perilaku hidup seseorang sangat berpengaruh terhadap keadaan dirinya sendiri. Akibat-akibat yang diperoleh dengan sebab-sebab yang salah dari perilaku hidup tersebut hasilnya berdampak negatif. Akan tetapi, Allah Maha Baik, dengan kekuasaan-Nya sebagai Tuhan, Dia tak pernah mengabaikan hak-hak hamba-Nya untuk mendapat kegembiraan. Ditunjuki oleh keberadaan Diri-Nya sebagai Tuhan yang memiliki rahmat (kasih sayang). *** 
--------------------------------
Telah dibuka Pengobatan Qurani Wal Hikmah untuk kaum muslim yang sangat membutuhkan. Silakan kunjungi kami di Majelis Dzikir Tawashow.

Alamat Majelis Dzikir Tawashow: 
Jl. Kalen Haji RT 01 RW 01 Desa Dermayu Kecamatan Sindang, Indramayu, Jawa Barat, Indonesia. 

Untuk konsultasi, silakan hubungi kami via:
1. SMS no hp 081324159458
2. Email : ayy_kb@yahoo.co.id 
Social Media : Facebook (inbox) 
0008474419100
A/N: Drs. Ahmad Yuli Yanto
Kantor Cabang Bank Bjb Indramayu
Selengkapnya

Rabu, 04 September 2013

Derita Kebahagiaan

Bukanlah derita jika lahir kebahagiaan, tetapi orang bahagia disebabkan karena menempuh pelbagai perjuangan yang sangat melelahkan dan menyakitkan. Kebahagiaan hakiki tidak terindikasi karena luapan kesenangan yang menyengsarakan, melainkan kekuatan jiwa melawan pasukan iblis yang menggoda, merayu dan menipu.

Penderitaan yang tak terukur karena jihad (perjuangan) dengan mencurahkan seluruh kekuatan jiwa mengikis keangkuhan iblis sang durjana, sesungguhnya adalah gerbang untuk memasuki pintu rahmat yang penuh dengan kebahagiaan hakiki. Di sanalah yang sesungguhnya kebahagiaan hakiki dapat dirasakan. 

Berjuang melawan kebatilan membutuhkan kesungguhan dengan berpayah-payah tanpa kelelahan dan keletihan. Al-Haq (Allah azza wa jalla) pasti takkan membiarkan para penempuh kebahagiaan hakiki selain kekuasaan-Nya menyingkirkan iblis dari kedalaman jiwa yang tak terjangkau oleh keangkuhan akalnya.

--------

Duhai Yang Maha Mulia inikah jalan yang harus aku tempuh
Sementara hamba-Mu tak patut berbahagia karena tak berdaya 
Dapatkah diriku Engkau junjung pada ketinggian derajat-Mu?
Demi meraih kebahagiaan itu

Patutkah jika Engkau menolongku?
Sedangkan diriku tak patut Engkau dekati 
Karena kotornya diriku
Karena malasnya diriku

Duhai Yang Maha Bijaksana
Mustahil bagi diriku Engkau biarkan 
Apalah arti diriku menghadapi kekuasaan-Mu
Kekuasaan-Mu tak terbantahkan

Dengan rahmat-Mu
Kutadahkan tangan kotorku
Agar Engkau mencurahkan keluasan kasih sayang-Mu 
Agar Engkau memperkuat kepastian hakku pada-Mu

Kewajibanku hanyalah pada sehelai daun pembungkus
Terkena panas tak akan mampu memulihkan kulitku 
Begitu tipis dan tak berkekuatan
Adakah berarti seluruh perjuanganku?

Tidak, Duhai Allah
Engkau adalah Tuhanku
Engkau penghilang deritaku karena iblis sang durjana 
Engkau adalah penghapus segala kesengsaraanku

Tetapkan pada diriku
Kebahagiaan,
Keluasan kasih sayang, 
Petunjuk dan bimbingan-Mu

Hanya Engkau yang aku tuju
Hanya Engkau penguat jiwaku
Hanya Engkau yang menjadi sandaranku
Hanya Engkau Pemenuh kebahagiaan itu
Selengkapnya

Sabtu, 27 Juli 2013

Akidah Ahli Hikmah

Akidah kaum muslim tentu saja sama, bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya. Ikrar kaum muslim atas keesaan Allah sebagai Tuhan Yang Maha Pencipta memperlihatkan akan pengakuan ada-Nya Dia (Allah) sebagai satu-satunya Tuhan, dan tentu tak mungkin ada Tuhan lain selain Allah. Pengakuan akan kedudukan Allah sebagai Tuhan merupakan derajat keyakinan pertama atas seorang hamba di dalam kekuasaan Allah.

Adakah seorang hamba di dalam kekuasaan Allah, dengan berbagai alasan, menolak keyakinan seperti tersebut di atas? Atau, karena perbedaan mazhab pemikiran, lantas ada seorang hamba berkata tak sama keyakinannya dengan orang-orang yang berada di luar kelompoknya? Saya memastikan tak ada seorang muslim pun menolak bahwa semua yang berikrar dengan kalimat syahadat tersebut sama akidahnya satu muslim dengan muslim lainnya. 

Sudah lama Islam mengajarkan akan kedudukan seorang hamba yang setia kepada Tuhannya akan dibalas oleh Allah dengan keluasan kasih sayang-Nya (rahmat-Nya). Akankah seseorang mendapatkan kebaikan atas apa yang diperbuatnya jika perbuatan tersebut berbeda dari kebanyakan kaum mukmin? Ambil contoh seperti orang yang memperoleh al-hikmah. Adakah karena dia diberi keutamaan oleh Allah lantas dapat disebut sebagai tak patut untuk mendapatkannya. Adakah sesuai syar'i orang yang memperoleh al-hikmah dianggap batal memperoleh pahala disebabkan adanya perbedaan pandangan tentang kepatutan Allah membalas harapan perjumpaan dengan diri-Nya? 

Sungguh sangat disayangkan jika hanya karena perbedaan pandangan, maka semua orang yang tak sama pemahamannya dianggap menyimpang dari akidah. Aneh! Atas ketidakpahamannya kerap kali orang-orang semacam itu menunjuk orang lain yang tidak sejalan dengan pikirannya selalu saja dimentahkan dan, lalu, dianggap sebagai orang salah. Spontan menganggap dirinya paling benar, dan tak patut dipersalahkan. Aneh bukan? 

Saatnya saya tak perlu meneruskan pembicaraan tentang perbedaan pandangan, yang dianggapnya sebagai yang 'menyimpang' dari pandangan dirinya tersebut. Insya Allah saya hanya akan menunjukkan sesuatu yang sangat jarang ditemui mengenai kedalaman keyakinan seseorang yang memperoleh al-hikmah dari Allah azza wa jalla. Kekuasaan Allah sesungguhnya karena meliputi semua makhluk-Nya, maka apabila saya menunjukkan sesuatu itu tak terlepas dari kekuasaan Allah atas segala sesuatu. 

Apakah akidah itu? Anda akan mendapati kesulitan jika Anda menunjuk akidah atau keyakinan itu adalah keimanan yang selalu sama antara seseorang dengan yang lainnya dalam keluasan ilmu Allah. Akan tetapi, Anda akan mudah memaklumi bila keyakinan adalah keimanan bagi semua muslim yang mengakui bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya. Adakah hal semacam ini akan membantu Anda menempatkan akidah itu tentu tak sama bila yang dimaksud sebagaimana yang disebut pertama, yakni ketika kekuatan iman seseorang telah berada pada keluasan ilmu Allah? 

Anda akan memaklumi bila keyakinan akan kekuasaan Allah selalu tidak sama dalam setiap pandangan masing-masing orang. Dalam menyebut istilah 'keyakinan,' kerap kali digunakan untuk menunjuk sebagai 'akidah keislaman'! Apa pun mazhab pemikiran Anda, jika akidah keislaman adalah sama untuk semua kaum muslim. Anda bisa saja berbeda bila yang dimaksud adalah tingkat keyakinan yang tak sama atas kemahabesaran Allah dalam penciptaan langit dan bumi. Adanya perbedaan semacam ini tidak dapat diklaim sebagai tak satu akidah dengan orang yang berbeda dengan Anda. 

Keimanan Ahli Hikmah 

Tak diragukan bahwa setiap yang difirmankan oleh Allah adalah pasti benar. Maka, bila ada seorang hamba senantiasa menyandarkan perkataan dan perbuatannya pada apa yang difirmankan oleh Allah, pastinya dia telah memiliki keteguhan iman atas semua perkataan Allah sebagai yang patut untuk diikuti. Iman yang teguh menunjukkan adanya tingkat keyakinan yang kuat menerima kebenaran Allah dalam perkataan-Nya (firman-Nya). Ambil contoh, jika Allah telah berfirman di dalam Al-Quran, "Sebutlah nama Tuhanmu di hatimu...," maka orang yang teguh imannya pasti melaksanakan perintah Allah tersebut tanpa membantah dengan banyak argumentasi yang menyesatkan. Dan, sebaliknya, orang yang imannya lemah, sekalipun dia pandai dalam berbicara atau menulis tentang kebenaran, tentu saja dia lebih banyak berargumentasi daripada segera menjalankan perintah-Nya. 

Adakah, setelah mengetahui kuat dan lemahnya iman seseorang, akan berkata tak patut dan patut memberikan penilaian untuk diberi pahala dan tak diberi pahala jika tak sekeyakinan? Tidak dapat. Itu bukan hak mutlak manusia untuk memberi penilaian kepada saudara seimannya sendiri. Terlampau angkuh orang yang semacam itu. 

Menyimpulkan sesuatu tidaklah dari faktor-faktor perbedaan, melainkan perbedaan itu sesungguhnya adalah rahmat bukan laknat. Jika suatu kesimpulan disandarkan atas ketidaksukaan dari cara pandang seseorang (karena karunia Allah atas dirinya) terhadap ayat-ayat Allah dan al-hadis, tentu sangat kerdil orang yang memberi kesimpulan tersebut. Kesimpulan yang membenarkan tidaklah muncul dari keberadaan kondisi jiwa seseorang karena kebencian dan kedengkian, melainkan karena kesucian jiwanya. 

Akal yang menyesatkan selalu menyimpulkan kehebatan cara berpikirnya yang menakjubkan orang mendengarnya atau membacanya sedangkan dia sendiri tak pernah memuji-muji Allah, mengingat-ingat Allah, tak banyak berdoa, tak banyak berlindung, jarang bertafakur, seolah telah menjadi 'dewa' atas dirinya karena saking hebatnya dalam berpikir jernih yang logis-sekuler-liberal! Anda akan dicap sebagai orang bodoh oleh orang-orang cerdas yang berpikirnya seperti itu, siapa pun Anda jika tidak sekeyakinan.

Akal sehat yang tercerahkan akan mengantarkan kepribadian seseorang menjadi rendah hati (tawadhu) di hadapan kemahabesaran Allah azza wa jalla. Rendah hati, bukan tinggi hati, adalah sifat kepribadian seseorang yang telah mencapai ketakutan akan keluasan ilmu Allah yang tak sebanding dengan kedangkalan ilmunya sedemikian hingga dia tak sungkan untuk merendah di hadapan kemahabesaran-Nya seraya hatinya senantiasa berzikir tak pernah melupakan Allah. Puji-pujian atas keagungan Allah, ketakjuban atas penciptaan langit dan bumi seraya hatinya berkata: "Ya Allah Engkau ciptakan semua ini tidak sia-sia," juga selalu berlindung kepada Allah atas godaan iblis lakanatullah 'alaih adalah tradisi yang tak pernah terabaikan dari kehidupannya. Subhanallah. 

Karena itu, jika ditanyakan bagaimanakah akidah Ahli Hikmah, maka jawabnya apa juga keyakinan seorang muslim terhadap Allah sebagai Tuhannya? Adakah Allah dianggap hanya sebuah wacana tanpa diiringi dengan kepatutan untuk menyembah (menghambakan diri) di hadapan kemahabesaran-Nya? Adakah Allah disembah dalam pemahaman akal yang tak mampu menjangkau bagaimana Allah berkehendak atas dirinya? Anda akan semakin terpuruk karena pikiran Anda sendiri jika Allah hanya lipstik terucap di bibir, tetapi bukan ekspresi jiwa yang terungkap keluar melalui lisannya. Anda baru mengucapkan Allah di lisan, tetapi belum ada kemampuan menyebut asma-Nya di hati.***
Selengkapnya

Senin, 15 Oktober 2012

Kebahagiaan Akhirat, Kenikmatan Duniawi, Berbuat Baik dan Tidak Membuat Kerusakan

وابتغ فيما آتاك الله الدار الآخرة ولا تنس نصيبك من الدنيا وأحسن كما أحسن الله إليك ولا تبغ الفساد في الأرض إن الله لا يحب المفسدين 

"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan" (QS. Al-Qashash: 77).

Adalah akhlak kaum mukmin sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah pada ayat di atas. Al-Qur’an telah mencatat isi perintah-Nya ke dalam 4 (empat) pokok: 
1. Perintah mencari kebahagiaan negeri akhirat; 
2. Perintah jangan melupakan bahagian dari kenikmatan duniawi; 
3. Perintah untuk berbuat baik kepada orang lain; 
4. Perintah untuk tidak membuat kerusakan di muka bumi. 

Penjelasan Al-Qur’an atas firman Allah Yang Maha Suci sama sekali bukan tidak memiliki tujuan, tetapi di setiap kalimat-Nya terdapat keutamaan bagi orang yang mengimani dan mengamalkannya. Pokok-pokok isi Al-Qur’an pada ayat di atas sudah sangat jelas. Adakah keempat pokok isi ayat tersebut dipahami dan diakui sebagai perintah yang tidak boleh diabaikan? 

Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Bijaksana telah memerintah orang-orang yang beriman agar berkhidmat menjalankannya tanpa merasa sungkan. Keempat perintah Allah tersebut dimaksudkan agar kaum mukmin tak akan melupakan tugasnya dalam kehidupan di alam dunia. Pengamalan keimanan terhadap firman Allah menjadi bukti bahwa seorang hamba tidak meragukan akan kebenaran firman-Nya. Maka, adakah dapat disebut telah beriman bila mengaku beriman tidak mengamalkan ayat-ayat-Nya? 

Perintah Mencari Kebahagiaan Negeri Akhirat 

Sebagai bukti akan keluasan kasih sayang-Nya, Allah Yang Maha Berkuasa telah menunjukkan cara meraih kebahagiaan hidup di Hari Kemudian. Pernyataan akan keluasan kasih sayang Allah telah disebutkan menjadi perintah yang harus dijalankan oleh orang-orang yeng telah beriman kepada-Nya: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat,…” 

Kehidupan bahagia di negeri akhirat telah dipersiapkan oleh Allah Yang Maha Pencipta bagi orang-orang yang beriman dan beramal soleh. Kedudukan mereka telah dipandang patut untuk mendapatkannya. Karena itu, kepada mereka Allah Swt telah menganugerahkan petunjuk-Nya agar diikuti. 

Islam adalah agama yang telah menjamin bagi pemeluknya berarti karena Allah memberinya hidayah (petunjuk). Al-Qur’an menegaskan petunjuk bagi orang yang beragama Islam pada ayat berikut:

 فإن حآجوك فقل أسلمت وجهي لله ومن اتبعن وقل للذين أوتوا الكتاب والأميين أأسلمتم فإن أسلموا فقد اهتدوا وإن تولوا فإنما عليك البلاغ والله بصير بالعباد 

"Kemudian jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam), maka katakanlah: "Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku". Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al Kitab dan kepada orang-orang yang ummi: "Apakah kamu (mau) masuk Islam?" Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya" (QS. Ali Imron: 20). 

Al-Qur’an menegaskan hal demikian bukan dimaknai bahwa setiap muslim sudah pasti bahagia hidupnya di akhirat walaupun tidak beramal soleh. Pemahaman kaum muslim akan perintah Allah untuk berbuat soleh sesungguhnya telah diketahui menjadi petunjuk-Nya agar dijalankan. Karena itu, jika telah berikrar menjadi muslim, maka dia harus mengikuti petunjuk Allah Yang Maha Mengetahui sebagaimana yang telah difirmankan di dalam Al-Qur’an. 

Sekiranya telah berketetapan menjadi muslim, setiap apa yang telah ditetapkan menjadi perintah, sekaligus sebagai petunjuk Allah atas kaum muslim, tidak boleh ditinggalkan. Kaum muslim sesungguhnya adalah kaum yang berserah diri kepada apa yang menjadi kehendak Allah. Maka, kemusliman seseorang sangat ditentukan oleh ketulusan hatinya untuk menjadi hamba Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Mengetahui.

Syarat menjadi seorang hamba Allah adalah kepatuhan dan ketaatan terhadap perintah dan larangan-Nya. Menjadi muslim sejati tidak ditentukan oleh sekedar pengakuan, melainkan mengamalkan seluruh perintah dan larangan Allah. Luasnya perintah dan larangan Allah tidak dapat menyurutkan ketaatan kaum muslim untuk menjalankannya. Islam dipilih, maka berkonsekuensi untuk menaati apa yang telah menjadi kehendak-Nya. 

Alhasil, mendahulukan kehendak Allah merupakan sine qua non (syarat mutlak) yang tidak boleh ditinggalkan oleh kaum muslim. Sebagai pemilik petunjuk yang lurus, Allah lebih mengetahui yang terbaik untuk hamba-Nya. Petunjuk-petunjuk yang sudah dianugerahkan oleh Allah di dalam Al-Qur’an dan diri kaum muslim lebih utama daripada mengikuti keinginan hawa nafsu. 

Persoalan yang muncul kemudian adalah tidak semua kaum muslim mengikuti petunjuk-petunjuk Allah tersebut, selain mendahulukan keinginan hawa nafsu. Maka, yang terjadi adalah banyak kaum muslim yang terjebak oleh bujuk rayu setan durjana. 

Patutkah orang-orang yang selalu mengikuti hawa nafsu akan memperoleh kebahagiaan di akhirat? Akal lah yang pertama-tama akan segera memaklumi bahwa bahagia bukanlah produk akal, yang cenderung suka mengakali nilai-nilai kebenaran. Bahagia letaknya di hati, bukan di akal. Maka, akal yang bijaksana sepatutnya memahami bagaimana seharusnya memperlakukan hati agar meraih kebahagiaan. Katika hati diabaikan mengikuti nilai-nilai kebenaran, maka hati kerapkali menderita. Persoalan semacam ini sering dijumpai di saat masih hidup di dunia. Bagaimanakah kebahagiaan hati ketika hidup di akhirat? 

Allah tak mungkin mencurahkan kebahagiaan kepada orang-orang yang hatinya melupakan Dia. Sumber kebahagiaan adalah keridha’an Allah terhadap hamba-hamba-Nya yang senantiasa tunduk dan patuh mengikuti perintah dan larangan-Nya yang tercurahkan ke dalam hatinya. Seorang hamba yang tak pernah putus berdzikir (mengingat Allah) di hati adalah hamba Allah yang dapat merasakan bahagia di dalam hatinya. Ada Dia Sang Maha Pemilik kebahagiaan di dalam hatinya. 

Itulah sebabnya mengapa banyak kaum muslim yang hatinya tidak bahagia ketika mereka tak pernah memperhatikan hatinya, selain mengunggul-unggulkan akalnya. Akalnya cerdas tetapi tidak cerdas hatinya, maka kecerdasannya hanya menghasilkan penderitaan batin (jiwa). Karena itu, untuk mencari kebahagiaan negeri akhirat harus ditemukan pada hati yang telah dianugerahkan karunia Al-Hikmah di dalamnya. 

Sangat sulit bagi siapa pun akan mendapati kebahagiaan di negeri akhirat sekiranya kebahagiaan hidup di dunia tak pandai meraihnya. Kehidupan di negeri akhirat tercermin pada keberadaan hati atau jiwa atau diri atau ruh yang telah mendapati kebahagiaan hakiki. Hanya pada jiwa yang tenteramlah kebahagiaan dapat diraih. Pada jiwa-jiwa yang tenteramlah Allah memanggil untuk kembali kepada-Nya bergabung bersama dengan hamba-hamba-Nya dan Allah pun memperkenankan untuk memasuki surga-Nya. 

“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku” (QS. Al-Fajr: 27-30). 

Perintah Jangan Melupakan Bahagian Kenikmatan Duniawi 

Alkisah ada seorang merindukan kekayaan dunia. Setiap hari dia menyibukkan diri untuk meraih apa yang diinginkannya. Pagi pergi hingga pulang larut malam. Dunianya tertuntut agar memperoleh kesejahteraan dan kemakmuran! Selama itu, dia hampir jarang dapat ditemui. Akhirnya, dia pun benar-benar menjadi orang kaya sebagaimana yang diinginkannya. 

Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah. Bukan milik makhluk-Nya. Apa yang telah difirmankan-Nya dapat dibuktikan kebenarannya. Ahli dunia akan memperoleh kekayaan dunia dengan keahlianya. Dan, Allah lah yang telah menyediakannya. Dengan keluasan kasih-Nya, Allah Yang Maha Pemurah memenuhi orang-orang yang menginginkan dunia. 

Seluas langit dan bumi, apa pun yang dibutuhkan makhluk-Nya telah Allah sediakan. Adakah yang berharap dunia dengan kenikmatannya? Dasar-dasar yang memperkuat kenikmatan adalah anugerah yang disediakan oleh Allah agar hidup di dunia tidak menyengsarakan umat manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya. 

 وما أوتيتم من شيء فمتاع الحياة الدنيا وزينتها وما عند الله خير وأبقى أفلا تعقلون 

"Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya?" (QS. Al-Qashash: 60). 

Al-Qur’an yang mulia menjelaskan dengan tegas kedudukan orang yang hidup di dunia, yang telah menginginkan kenikmatannya, dibandingkan dengan kebahagiaan hidup di negeri akhirat. “…apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka, apakah kamu tidak memahaminya?” 

Kenikmatan yang diperoleh di dunia telah Allah sediakan, dan sebagaimana penjelasan ayat 77 surat Al-Qashash di atas, jangan sampai dilupakan, walaupun kebahagiaan negeri akhirat lebih baik dan lebih kekal. Apa maksud Allah menegaskan hal seperti itu? 

Penting untuk diketahui, bahwa Kehidupan Dunia bukanlah sebuah kehidupan yang lebih baik dari kehidupan di negeri akhirat, karena sesungguhnya kehidupan di dunia (yang fana) ini pasti tidak kekal. Hanya bersifat sementara, di samping takkan dapat dibandingkan kenikmatannya dengan kenikmatan yang didapatkan di surga (negeri akhirat). Kehidupan di surga benar-benar penuh kenikmatan. 

 إن الذين آمنوا وعملوا الصالحات يهديهم ربهم بإيمانهم تجري من تحتهم الأنهار في جنات النعيم 

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shaleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya, di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam surga yang penuh kenikmatan" (QS. Yunus: 9). 

Sekalipun demikian, Allah Yang Maha Kaya tidak membiarkan kaum mukmin kehilangan kenikmatannya di dunia. Allah menyediakan kenikmatan dunia agar juga tidak mengabaikan untuk mencari kebahagiaan negeri akhirat. Kenikmatan duniawi, seperti makan, minum, berhubungan biologis bagi suami istri, tidur, pilih-pilih kesukaan hati, bercengkerama dengan anggota keluarga, berpikiran positif, berteman, berusaha, berkolaborasi, berolah raga, hidup sehat, kelebihan harta (kaya raya) dan lain-lain kenikmatan, sebetulnya hanya sementara saja, tidak kekal. 

Allah sebagai Tuhan Yang Maha Kaya selalu Memberi dan Menyediakan apa yang dibutuhkan oleh makhluk-Nya. Apa yang disediakan oleh Allah di dunia adalah kenikmatan hidup duniawi. 

Adakah setiap kenikmatan duniawi dapat dinikmati oleh semua orang? Adakah dalam hidup yang dipenuhi oleh kesemrawutan pikiran, ketidaktenangan jiwa, kekusutan akal, kesumpekan dada, kekalutan pola hidup, ketidaknyamanan hati, kegelisahan ruhani, kegalauan diri dan lain-lain ketidaknyamanan yang dialami hati atau jiwa atau diri atau ruh dapat merasakan nikmatnya pemberian yang sudah disediakan Allah di dunia? Akan terasa sulit orang yang dalam kondisi jiwa atau diri atau hati atau ruh seperti itu dapat menikmatinya. Makanan dan minumannya sama, tetapi tidak semua orang dapat menikmatinya ketika hatinya gelisah. Makan dan minum terasa hambar. Bahkan tidur pun tak nyenyak dan sulit untuk ditidurkan. Ada banyak beban dalam pikirannya, sedangkan hatinya kosong atau hampa dari mengingat Allah.

Nyatalah sudah bahwa ketidaknyamanan hati karena beban pikiran tidak dapat meraih kenikmatan hidup duniawi. Pada hati yang tenteramlah kenikmatan hidup di dunia dapat dirasakan. Sekalipun tidak banyak harta, kaum mukmin yang jiwanya atau hatinya atau dirinya atau ruhnya tenteram, maka makan, minum, tidur, berhubungan suami istri dan lain-lain kenikmatan hidup benar-benar dapat dirasakan. 

Keputusan untuk mengedepankan pencarian kenikmatan hidup duniawi berseberangan dengan kehendak Allah sebagaimana ayat 77 surat Al-Qashash di atas, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi…” Allah Yang Maha Bijaksana memerintahkan kaum mukmin agar, pertama-tama, untuk mencari kebahagiaan negeri akhirat. Baru kemudian, sesudah itu, jangan melupakan bagian dari kenikmatan hidup di dunia. 

Adakah selama ini telah disadari oleh kebanyakan kaum mukmin? Inilah big problem yang dihadapi kaum mukmin selama ini. Silakan anda renungkan, betulkah kenikmatan duniawi yang harus dicari, bukan kebahagiaan negeri akhirat? Betulkah kebahagiaan negeri akhirat jangan dilupakan setelah mencari kenikmatan hidup di dunia? 

Kesalahan menempatkan cara pandang atas ayat-ayat Allah dapat menyebabkan dampak negatif terhadap kualitas keimanan seseorang. Apa yang dikehendaki Allah ternyata direspon dengan keinginan hawa nafsu. Diperintahkan untuk mendahulukan pencarian kebahagiaan negeri akhirat, yang dilakukan justru mengedepakan pencarian kenikmatan duniawi. Padahal, yang dikehendaki oleh Allah atas kenikmatan hidup di dunia adalah jangan dilupakan, bukan dicari. 

Adakah yang memahami perbedaan mendasar antara “mencari” dengan “tidak melupakan”? Atas pertolongan Allah Yang Maha Bijaksana, saya insya Allah akan menjelaskan perbedaan tersebut di sini: “Kata perintah ‘Carilah’ mengandung makna bahwa kebahagiaan di negeri akhirat sesungguhnya sangat sulit untuk diraihnya. Karena itu, jika selama hidup di dunia tidak bersegera diupayakan dengan sungguh-sungguh, maka batas waktu hidup yang tidak lama di dunia akan menghasilkan kekalutan pikiran disebabkan tidak ada lagi waktu yang dapat dikompromikan dengan Sang Maha Pencipta untuk diakhirkan atau dimajukan. Kehidupan di dunia ditentukan oleh batas waktu (ajal) yang tidak ada yang dapat mengetahuinya, selain Allah. Membiarkan waktu sampai ajal menjemput akan menyengsarakan kaum mukmin apabila tidak diisi dengan mengikuti kehendak Allah. Karena itulah, perintah untuk segera menemukan kebahagiaan negeri akhirat tidak perlu ditunda-tunda. Sebaliknya, perintah ‘Jangan kau lupakan’ bermakna bahwa Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang telah menyiapkan segala kebutuhan hidup di dunia agar tidak boleh dibiarkan, selain harus dapat dinikmati. Sesungguhnya Allah telah berbuat yang terbaik kepada umat manusia (termasuk kaum mukmin) agar tidak menderita hidup di dunia. Kehidupan di dunia merupakan salah satu syarat yang tidak dapat dilewatkan sebelum akhirnya menuju ke negeri akhirat. Segala apa yang ada di dunia diperuntukan untuk digunakan dengan sebaik-baiknya sedemikian hingga dapat meraih kenikmatannya. Jadi, kenikmatan hidup di dunia sesungguhnya telah disediakan oleh Allah dan tak perlu harus dicari. Hilangnya kenikmatan hidup di dunia karena tiadanya kebahagiaan di dalam hatinya disebabkan oleh kesibukan akal mencari harta dunia. Harta dunia bukanlah sebuah kenikmatan hidup, melainkan hiasan semata. Kenikmatan hidup dapat dirasakan pada hati yang damai, tenteram dan tenang. Untuk kaum mukmin yang mengikuti kehendak Allah telah disiapkan rezeki tanpa batas dari arah yang tidak diduga-duga.” 

Perintah Berbuat Baik Kepada Orang Lain 

Allah adalah Tuhan Yang Maha Baik. Karena itu, apabila Dia berbuat sebagaimana kehendak-Nya sesungguhnya demi kebaikan hamba-hamba-Nya. Luasnya kebaikan yang diperbuat oleh Allah tidak dapat dicari tandingannya. Apa yang dipandang baik oleh manusia belum tentu baik dalam pandangan Allah.

Mustahil bagi Allah dapat dipersekutukan kebaikan-Nya dengan makhluk-Nya. Dari seluruh yang dimiliki-Nya, baik di langit maupun di bumi, telah disediakan untuk kebutuhan makhluk-Nya. 

Betapa pun baiknya seseorang, dalam perkataan dan perbuatannya, mustahil akan terjadi sekiranya bukan karena Allah yang menghendakinya. Allah Maha Berkehendak kepada siapa yang Dia kehendaki. Apabila berkehendak, maka Dia hanya berkata: “Jadilah,” “maka Terjadilah.” 

Berbuat baik dapat disebabkan oleh keinginan hawa nafsu. Akan tetapi, jika Allah tidak menghendaki, maka kebaikannya tidak dapat mendatangkan kemanfaatan. Artinya, apa yang diinginkan manusia, sekalipun untuk berbuat baik, tidak pasti terjadi jika tiada kehendak Allah. Dengan kata lain, berkeinginan agar dapat berbuat baik sehingga mendatangkan kemanfaatan hanya dapat terjadi apabila Allah menghendaki. 

 قل لا أملك لنفسي نفعا ولا ضرا إلا ما شاء الله ولو كنت أعلم الغيب لاستكثرت من الخير وما مسني السوء إن أنا إلا نذير وبشير لقوم يؤمنون 

"Katakanlah: "Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudaratan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudaratan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman"" (QS. Al-A'raaf: 188). 

Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Bijaksana sesungguhnya tidak melupakan perintah untuk berbuat baik karena Dia lah Sang Pemilik Kebaikan. Cara berbuat baik sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah adalah dengan berbuat baik kepada orang lain. Allah Yang Maha Baik memerintahkan hal demikian karena Dia telah berbuat baik kepada umat manusia. 

Namun demikian, sebagaimana penjelasan ayat di atas, tidak selalu orang yang berbuat baik dapat menarik kemanfaatannya kepada dirinya. Adakah kita memandang bahwa perbuatan baik kita disebabkan oleh kesungguhan kita melakukannya tanpa campur tangan kehendak Allah? Sekiranya tiadanya kasih sayang Allah dalam perbutan baik kita, mengapa ada orang yang telah berbuat baik tetapi mendatangkan kemudharatan bukan kemanfaatan kepada dirinya? 

Ambil contoh kita berbuat baik menolong orang yang sedang membutuhkan keuangan. Atas ketidaktegaan kita terhadap orang yang datang meminta pertolongan, maka uluran tangan kita menolongnya dianggap telah dapat menjamin lahirnya nilai kemanfaatan. Keputusan untuk menolong orang yang sedang membutuhkan merupakan kewajiban yang tidak dapat kita abaikan. Akan tetapi, adakah kita mengetahui apa yang akan diperbuat oleh orang yang kita tolong itu untuk kebutuhan yang memiliki nilai manfaat? 

Dari keterangan orang tersebut, diambilnya keputusan untuk meminjam uang karena untuk berobat. Adakah kita mengetahui apa yang diucapkan oleh orang tersebut benar-benar untuk memenuhi apa yang diperlukannya? Allah Maha Mengetahui apa yang tersembunyi di dalam hatinya. Sekiranya dia telah berdusta atas apa yang diutarakannya, maka kita telah ditipu olehnya. Maka, uang yang kita pinjamkan itu tidak dapat menarik kemanfaatan untuk diri kita, melainkan kemudharatan. Artinya, apa yang diduga bermanfaat ternyata tidak bermanfaat karena tipu daya orang bersangkutan. Inilah ketidakuasaan kita dapat menarik kemanfaatan atas perbuatan baik kita. 

Akal kita boleh saja menyimpulkan bahwa orang yang sedang membutuhkan layak ditolong. Tetapi, apakah segala yang disembunyikan dapat kita ketahui? Akankah kebaikan dapat dipetik nilai kemanfaatannya jika Allah tidak menghendaki? Allah lah yang berkuasa mendatangkan kemanfaatan kepada perbuatan baik kita, bukan menurut dugaan kita. 

Ada banyak contoh perbuatan baik lainnya yang ternyata tidak mendatangkan kemanfaatan. Seseorang membagi-bagikan sejumlah uang atas dasar memenuhi panggilan jiwa untuk berbagi. Akan tetapi, sayangnya dia menyimpan di dalam hatinya agar orang memberikan pujian bahwa dia orang yang telah banyak menolong orang. Unsur riya terselip di dalam hatinya. 

Ada lagi keinginan orang untuk kepentingan politik berupaya berbuat baik dengan membagi-bagikan sejumlah uang. Sudah sangat jelas tiada nilai kemanfaatan atas perbuatan seolah-olah baik tersebut, selain demi memperoleh dukungan perolehan suara kepada dirinya. Perbuatan baiknya didasarkan atas keinginan hawa nafsunya, bukan atas dasar perintah Allah untuk berbuat baik yang memberikan nilai kemanfaatan. 

Adakah yang mengetahui Allah berkehendak mendatangkan kemanfaatan apabila kita berbuat baik mengikuti perintah-Nya? Akal kita takkan mampu menjangkau apa yang dikehendaki oleh Allah atas perbuatan baik kita yang dapat mendatangkan kemanfaatan kepada kita sekiranya disertai dengan dorongan hawa nafsu. 

Kebaikan suatu perbuatan terletak pada ketulushatian seseorang saat suatu perbuatan terjadi tanpa disertai oleh keinginan mengharap balasan dari selain Allah. Riya adalah bagian yang sangat tersembunyi karena bisikan iblis di dada (ruhaniyah). Apabila berbuat baik didorong oleh keinginan riya, maka tidak ada pahala yang didapatkan, selain pujian dari sesamanya. 

Oleh karena itu, menjalankan perintah untuk berbuat baik mengikuti perintah Allah sangat sulit ketika hati kita masih terkontaminasi riya dan takabur. Godaan untuk meraih pujian dari orang berdampak tidak diperolehnya kemanfaatan dari suatu perbuatan baik kepada pelakunya. 

Apabila Allah telah dapat berbuat baik kepada semua makhluk-Nya, maka hal tersebut karena Allah Maha Baik. Tetapi tidak demikian pada manusia yang selalu cenderung tidak dapat melepaskan kesalahan pada dirinya, kecuali yang telah diberi rahmat oleh Allah. Allah Yang Maha Bijaksana bermaksud memerintahkan untuk berbuat baik menurut kehendak-Nya, bukan mengikuti hawa nafsu manusia. 

Itulah sebabnya Allah memerintahkan agar jangan mencampuradukkan antara hak dan batil, baik dan buruk, benar dan salah. Jika berbuat baik, hendaknya tidak keluar atas dorongan keburukan (hawa nafsu), tetapi didorong oleh niat yang tulus karena mengharap ridha Allah. Pada hati yang bersihlah yang dapat memahami suatu perbuatan baik tidak didasarkan atas keinginan hawa nafsunya. 

Akankah jika berbuat baik mengikuti kehendak Allah dapat memetik manfaatnya? Jawabannya bukan dapat tidaknya mengambil manfaat jauh sebelum hati kita bersih dari kekotoran hawa nafsu, melainkan menjadi sebuah kepastian apabila hati bersih dari penyakit hati dapat mengenali kehendak Allah untuk mengikuti perintah-Nya berbuat baik. Sekiranya masih belum bersih hati kita, yang lahir adalah berdasarkan dugaan akal bahwa perbuatan baik kita dinilai cenderung memiliki nilai manfaat (dapat dipetik manfaatnya). Dugaannya masih patut dipertanyakan: benarkah? Sulit menduga-duga apa yang dikehendaki oleh Allah atas diri kita jika tidak ada petunjuk dari-Nya ke dalam hati kita. 

Perintah Tidak Membuat Kerusakan di Muka Bumi 

Allah Yang Maha Kuasa tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi. Kerusakan berakibat buruk terhadap orang dan lingkungan. Akankah kerusakan yang dilakukan seseorang berdampak buruk terhadap orang bersangkutan? Adanya kerusakan dapat menimbulkan terlepasnya nilai kemanfaatan kepada semua orang, termasuk si pembuat kerusakan. 

Akal yang merusak adalah salah satu penyebab munculnya kerusakan. Bila seseorang berbuat kerusakan, sesungguhnya akalnya lah yang rusak. Artinya, kecerdasan akal yang diselimuti oleh kezaliman (penganiayaan) berbuah merusak sistem atau tatanan yang telah ada. Akal yang dzalim selalu mengubah-ubah tatanan yang sudah bagus menjadi rusak mengikuti keinginan hawa nafsunya. 

Adalah karena kecenderungan buruk dari hawa nafsu, maka orang yang mengikuti hawa nafsu juga cenderung berbuat buruk. Aturan-aturan diubah dengan sebuah kecenderungan untuk memuluskan keinginan hawa nafsu sedemikian hingga orang lain tidak dianggap (dipedulikan). Gairah untuk meraih kemenangan, sekalipun berakibat buruk terhadap dirinya dan orang lain, ditempuh dengan merusak tatanan yang sudah diterima secara umum. 

Perbuatan orang dzalim tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya, melainkan diotak atik akalnya agar mendukung kesuksesan keinginan hawa nafsunya. Tak peduli jika perbuatan tidak adilnya dapat menimbulkan kerusakan. Seluruh pemikirannya dipandang telah memenuhi syarat untuk berubah demi kemajuan. Pola pikir liberal melandasi tindakan kedzalimannya. Adakah berpikir liberal telah ditetapkan menjamin lahirnya kebenaran?

Orang yang berpikir secara bebas tanpa mengikuti norma-norma agama, dalam hal ini adalah Islam, dia cenderung tidak mengindahkan kesalahan. Jika dalam pandangan umumnya benar dapat diterima, maka tak perlu aturan-aturan agama selalu diperhatikan. Akal cerdas awas bisikan setan. 

Adanya kecerdasan dalam berpikir melahirkan kecemerlangan dalam mencari, menghitung-hitung, mengelompokkan, menyimpulkan dan lain-lain produk pemikiran. Berpikir cerdas seharusnya berbuah mentalitas positif, bukan sebaliknya. Kejahatan berpikir yang disandarkan kepada keserakahan, kejahilan, keji dan lain-lain penyakit hati akan melahirkan kezaliman sang pemikir. 

Karena itu, orang yang tidak membuat kerusakan adalah orang yang sangat berhati-hati dalam mengambil keputusan. Apa pun yang dihasilkan oleh produk pemikiran, tidak serta merta dijadikan sebuah keputusan final, melainkan diperhadapkan lebih dahulu dengan rencana kekuasaan Allah dalam penciptaan langit dan bumi. Manusia telah ditetapkan sebagai calon khalifah di muka bumi, maka manusia pula yang harus dapat memakmurkannya, bukan untuk merusaknya. Orang yang tidak membuat kerusakan akan memperhatikan nilai-nilai kemanfatan bagi semesta alam. 

Maka, orang yang tidak membuat kerusakan di muka bumi hatinya selalu cenderung ingin memakmurkan bumi. Hidupnya berupaya menata keberadaan lingkungannya. Ada rasa takut jika keputusan hasil pemikirannya tidak sejalan dengan kehendak Allah Yang Maha Pencipta alam semesta. 

Dari situlah lahir ghirah (semangat yang menggelora) dari dalam hatinya untuk mengikuti fitrah kesucian hatinya. Kekuatan jiwa orang yang tidak suka membuat kerusakan bertumpu pada rahmat (kasih sayang) Allah dalam setiap perkataan dan perbuatannya. []
Selengkapnya

Artikel Populer 7 Hari Terakhir