Selasa, 11 Januari 2011

Makna Surat Al-Ikhlas

1. Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa,
2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
3. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan,
4. dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia".

Ayat 1 (kesatu) surat al-Ikhlas mengajarkan kepada manusia, juga jin, bahwa Allah itu Esa. Ada yang ingin ditunjukkan oleh Allah kepada ilah (Tuhan)-nya para penyembah berhala, yaitu patung (batu) yang telah disusupi oleh Thagut (iblis laknatullah ‘alaih), bahwa Dia akan membuka rahasia kedurhakaan iblis kepada Allah Yang Maha Pencipta di balik benda-benda yang disusupinya itu. Kepada patung dan benda-benda yang disusupi iblis itu, Allah berkata: “Aku adalah Tuhan Yang Menciptakanmu. Sekalipun kamu Aku jadikan tanpa kehidupan atasmu, tetapi Aku perintahkan kepadamu untuk bertasbih kepada-Ku.”

Allah membongkar kedok iblis di balik patung dan benda-benda yang dengan itu manusia, bahkan jin, disesatkan. Allah Swt menciptakan semua yang ada di langit dan bumi untuk bertasbih kepada-Nya. Halilintar dan guruh serta benda-benda yang berada di dalam langit dan bumi menyucikan Allah (bertasbih). Bagaimana mereka bertasbih tidak dipahami oleh manusia, juga jin. Allah Swt berfirman,

تسبح له السماوات السبع والأرض ومن فيهن وإن من شيء إلا يسبح بحمده ولكن لا تفقهون تسبيحهم إنه كان حليما غفورا

“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun” (QS. Al-Isra : 44).

Allah Azza wa Jalla sengaja membuka kedurhakaan iblis beserta anak cucunya agar semua benda-benda itu tidak terperdaya oleh mereka! Kilat yang menakutkan manusia dan jin sering diperalat oleh iblis atas seizin Allah. Namun demikian, kilat tetap bertasbih kepada Allah. Ajakan iblis untuk melemahkan keimanan manusia dan jin sering mengaku-aku bahwa dirinya memiliki kemampuan untuk menundukkan semua benda-benda ciptaan Allah.

Kejahatan yang mereka lakukan agar manusia menyekutukan Allah. Padahal iblis adalah juga makhluk Allah. Mustahil mereka memiliki kemampuan tanpa seizin-Nya. Para thagut tidak dapat berbuat apa-apa di dalam kekuasaan Allah. Adakah mereka dapat menjadikan sesuatu ciptaannya sama seperti ciptaan Allah? Padahal mereka sesungguhnya sangat lemah. Allah Swt berfirman,

قل من رب السماوات والأرض قل الله قل أفاتخذتم من دونه أولياء لا يملكون لأنفسهم نفعا ولا ضرا قل هل يستوي الأعمى والبصير أم هل تستوي الظلمات والنور أم جعلوا لله شركاء خلقوا كخلقه فتشابه الخلق عليهم قل الله خالق كل شيء وهو الواحد القهار

"Katakanlah: "Siapakah Tuhan langit dan bumi?" Jawabnya: "Allah." Katakanlah: "Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudaratan bagi diri mereka sendiri?". Katakanlah: "Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang; apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?" Katakanlah: "Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa" (QS. Ar-Ra’du : 16).

Allah Azza wa Jalla menunjukkan kepada benda-benda ciptaan-Nya akan kemahabesaran-Nya. Allah Maha Pencipta bukan mustahil Dia berkata-kata kepada ciptaan-Nya sendiri. Allah Azza wa Jalla mengajari manusia, juga jin, bahwa Allah Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Ditunjukkannya semua ciptaan-Nya, baik yang ada di langit maupun di bumi serta yang berada di antara keduanya, adalah sebagai pelajaran untuk manusia, juga jin. Allah Swt menyampaikan kepada Rasul-Nya untuk diberitakan kepada munusia dan jin agar hanya menyembah kepada Allah. Tidak ada Tuhan kecuali Allah.

Allah Azza wa Jalla adalah Tuhan Yang Maha Esa, tak ada yang dapat mempersekutukan-Nya selain mengaku-aku. Jika iblis mengajak manusia dan jin untuk beribadah selain kepada-Nya, maka itu adalah jeratan iblis. Orang-orang kafir dan kaum musyrik tidak beriman kepada-Nya disebabkan oleh hasutan iblis laknatullah ‘alaih. Jika kemudian orang-orang yang beriman kepada Allah masih ada yang mengikuti jalan setan, maka sesungguhnya mereka tidak memohon perlindungan kepada Allah.

Allah Swt mengajari manusia dan jin melalui perantaraan Rasul-Nya, sebagaimana firman-Nya di dalam Al-Qur’an, agar mengetahui bahwa Allah itu Esa. Tunggal, tak berserikat dengan apa pun. Batu, sapi betina, matahari, pohon, kilat, pikiran cerdas dan semua benda lainnya adalah ciptaan Allah. Tidak ada Tuhan kecuali Allah. Dia adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Allah menegaskan akan kedudukan-Nya di hadapan seluruh makhluk-Nya pada ayat 2 (kedua) surat Al-Ikhlas.

Ayat kedua tersebut menegaskan bahwa Allah adalah Tuhan yang semua makhluk-Nya bergantung kepada-Nya. Apa pun dan siapa pun hanya menyandarkan kepada-Nya. Allah adalah Maha Pencipta Yang Tunggal tanpa dibantu oleh apa pun dan siapa pun. Malaikat, manusia, jin dan semua makhluk lainnya, yang bernyawa maupun tidak bernyawa adalah ciptaan-Nya. Allah adalah Tuhan Yang Menciptakan sedangkan makhluk adalah yang diciptakan-Nya. Masing-masing diciptakan oleh Allah dengan tugas dan kewajibannya sendiri-sendiri. Jika Malaikat muqarrabin menjalankan perintah tanpa membangkang, Allah berkehendak menciptakannya memang demikian. Apabila manusia dan jin diciptakan untuk beribadah kepada Allah, maka Dia memang berkehendak demikian. Apa pun yang menjadi kehendak-Nya karena Allah Maha Kuasa. Jika Allah berkehendak, Dia hanya berkata: “Kun,” “fayakun”. “Terjadilah,” “maka Terjadilah.” Maha Suci Allah dari orang-orang yang menyekutukan-Nya.

Allah Azza wa Jalla berkehendak agar semua makhluk-Nya menggantungkan segala kebutuhannya hanya kepada-Nya. Bermohonlah bila ada yang menginginkan segala sesuatu yang tidak dapat dijangkau oleh kemampuan dirinya. Allah Azza wa Jalla Maha Kuasa atas segala sesuatu, maka di tangan-Nya merunduk segala sesuatu. Allah tundukkan air, angin, matahari, bumi, langit dan semua makhluk-Nya dalam kekuasaan-Nya. Dialah Yang Maha Perkasa. Allah Azza wa Jalla menjadi rujukan semua makhluk-Nya. Bagi-Nya sangat mudah untuk memenuhi keinginan manusia. Allah Azza wa Jalla menyatakan diri-Nya sebagai Tuhan  yang segala sesuatu bergantung  kepada-Nya.

Allah Swt mengajarkan demikian kepada manusia dan jin agar diyakini kebenaran-Nya. Allah Azza wa Jalla berfirman pasti benar ada-Nya. Firman Allah menjadi petunjuk bagi manusia dan jin dalam menjalani kehidupan di dunia. Allah Azza wa Jalla sangat menghendaki agar manusia, juga jin, tidak mengikuti jalan yang ditunjuki oleh setan. Jalan setan sangat menyesatkan. Mohonkanlah hanya kepada Allah segala kebutuhannya. Dia Maha Pemurah.

Pernyataan-Nya mengenai diri-Nya sebagai Tuhan yang segala sesuatu bergantung kepada-Nya  menunjukkan kemahakuasaan-Nya atas segala sesuatu. Maka, apabila ada manusia, juga jin, berkeinginan atas sesuatu yang tak dapat diusahakannya, Allah lah yang hanya dapat memenuhinya.

Ayat kedua ini mengajarkan kepada manusia dan jin bahwa Dialah Allah Yang Maha Berkuasa. Di tangan-Nya, Dia memenuhi segala sesuatu yang dibutuhkan oleh makhluk-Nya. Iblis adalah makhluk-Nya. Mustahil baginya dapat menyesatkan manusia dan jin bila Allah Swt tidak memberinya izin! Akan tetapi, Allah Maha adil. Dia mustahil tidak mengajari manusia dan jin akan kebencian iblis kepada anak cucu Adam a.s.. Allah Azza wa Jalla mengajarinya agar dapat diyakini dan diikuti. Tidak cukup apabila beriman tetapi tidak berbuat baik (amal saleh).

Allah Azza wa Jalla mengajari manusia dan jin untuk kebaikan mereka. Maka, bila difirmankan kepada manusia dan jin bahwa Dia adalah Tuhan yang segala sesuatu bergantung kepada-Nya, maknanya adalah bermohonlah segala sesuatu yang baik-baik. Jangan bermohon kepada-Nya tentang segala sesuatu yang mencelakakan dirinya! Allah Swt tidak menghendaki apabila manusia berbuat melampaui batas. Allah Swt sama sekali tidak membatasi kebebasan selain Dia adalah Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang kepada yang diciptakan-Nya. Allah tidak menghendaki kenistaan bagi manusia dalam kehidupan di dunia.

Dengan demikian, Allah Swt mengajari manusia agar memohonlah segala keperluan untuk mendukung bagi kemulian dirinya, baik di dunia maupun di akhirat. Pada satu sisi, Allah menyatakan bahwa diri-Nya menjadi  'Sandaran' bagi manusia dalam bermu’amalah di dunia, tetapi di sisi lain, Allah mengajarkan agar bermu’amalah dengan memperhatikan ketentuan-ketentuan Allah. Allah memberi rezeki kepada manusia tanpa pamrih, melainkan Allah mengajarinya agar pandai bersyukur kepada-Nya supaya ditambah nikmat oleh Allah.

Ayat selanjutnya (ayat 3) surat Al-Ikhlas mengajari manusia, juga jin, bahwa Allah itu Esa, maka tak mungkin Allah itu memiliki anak. Allah juga tak mungkin diperanakkan oleh Tuhan lain sebagai orang tua-Nya. Allah Azza wa Jalla mengajari manusia, juga jin, bahwa pengakuan orang-orang Nasrani terhadap ‘Isa putra Maryam adalah anak dari hasil hubungan ibunya dengan Allah adalah tidak benar. Mustahil Allah berbuat seperti makhluk-Nya yang memiliki nafsu syahwat. Allah Azza wa Jalla Maha Berkuasa sebagai Tuhan Yang Menciptakan, maka ketika Dia berkehendak apa pun pasti terjadi. Allah, sekali lagi, hanya dengan berkata: “Kun,” “fayakun.” “Terjadilah,” “maka Terjadilah.”

Dalam penciptaan langit dan bumi beserta seisinya, Dia tidak dibantu oleh apa pun dan siapa pun. Tunggal tak berserikat. Tidak ada Tuhan kecuali Allah. Dialah satu-satunya Tuhan semua makhluk-Nya. Tidak ada Tuhan Bapak dan Tuhan Ibu. Kemusykilan tersebut karena bila Tuhan lebih dari satu pasti terjadilah kehencuran alam semesta ini! Bila Tuhan yang satu memiliki nafsu syahwat, pasti Dia akan berbuat seperti makhluk. Dia dengan kekuasaan-Nya pasti dapat ‘menghamili’ ciptaan-Nya. Ketika anak Tuhan berkeinginan dengan nafsu syahwatnya, Dia juga dapat melakukan seperti Tuhan Bapak. Maka, terjadilah Tuhan beranak pianak. Musykil! Tak dapat diterima oleh keyakinan manusia yang mengimani akan keesaan-Nya.

Allah Azza wa Jalla berfirman,

يا أهل الكتاب لا تغلوا في دينكم ولا تقولوا على الله إلا الحق إنما المسيح عيسى ابن مريم رسول الله وكلمته ألقاها إلى مريم وروح منه فآمنوا بالله ورسله ولا تقولوا ثلاثة انتهوا خيرا لكم إنما الله إله واحد سبحانه أن يكون له ولد له ما في السماوات وما في الأرض وكفى بالله وكيلا

"Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putra Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: "(Tuhan itu) tiga", berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara" (QS. An-Nisa : 171).

Allah Azza wa Jalla pasti berkecenderungan memihak kepada makhluk-Nya yang hanya mengikuti perintah-Nya. Bila terjadi keberpihakan, maka tidak ada keadilan. Jika Allah Azza wa Jalla tidak dapat berbuat adil, pasti Dia juga akan mengabaikan kasih sayang-Nya kecuali hanya kepada makhluk tertentu saja. Allah Azza wa Jalla pasti akan menghancurkan tanpa kasih sayang-Nya. Jadi, musykil bila Allah beranak dan diperanakkan.

Allah itu Esa, Tunggal, Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Berbuat Adil, Tidak dibantu selain dengan kekuasaan-Nya sendiri, Tidak seperti sesuatu pun, Tidak Membutuhkan makhluk-Nya, Yang Awal dan Yang Akhir. Allah ada sebagaimana kehendak-Nya ada, Kehendak-Nya menjangkau segala sesuatu, Hanya dengan berkata: “Kun,” “fayakun,” Pasti janji-Nya, Benar firman-Nya, Maha Berkuasa, Maha Segalanya, Maha Halus tak dapat dijangkau oleh penglihatan mata (lahir), Maha Berkehendak, Maha Pengampun, Dapat berbuat sebagaimana kehendak-Nya, Tidak dapat dihalangi oleh satu makhluk pun kehendak-Nya, Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, Maha Hidup lagi Maha Berdiri sendiri, Kekal, Maha Mengetahui, Maha Melihat, Maha Mendengar, Maha Hidup, Tidak pernah tidur, Rajanya manusia, Tuhannya manusia, Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, Maha Pemberi rezeki kepada semua makhluk-Nya, Maha Kuat, Maha Pemaksa segala yang ada di dunia dan di akhirat, Maha Pencipta Yang Terbaik, Tidak ada sekutu bagi-Nya dalam mengatur makhluk-Nya, Maha Memiliki Siasat, Maha Mampu Melakukan Tipu Daya kepada iblis laknatullah ‘alaih, Maha Yang Menghidupkan dan Mematikan semua ciptaan-Nya, Pasti Bukti-Nya dalam memperlihatkan kemahakuasaan-Nya, Penguasa alam semesta, Maha Suci lagi Maha Tinggi, Maha Agung, Maha Pemilik Asma Yang Paling Baik, Maha Terpuji, Alam semesta adalah ciptaan-Nya yang selalu bertasbih kepada-Nya, Gagah lagi Mengalahkan makhluk-Nya, Wujud-Nya dapat disaksikan dengan semua yang ada di dunia! Kalau sewaktu saya membutuhkan-Nya, cukuplah Dia disebut di dalam hati, maka Pasti bersedia dengan penuh sayang Mendengarkan permohonanku. Dengan keyakinan yang kuat (Haqqul yaqin), setiap permohonan hamba-Nya pasti didengarkan apa yang disampaikan kepada-Nya. Begitulah Dia Allah Yang Maha Esa, Pasti janji-Nya kepada siapa pun yang tunduk dan patuh kepada-Nya.

Jadi, mustahil Allah Yang Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman (Maryam binti Imran) menjadikan-Nya berbuat seperti makhluk-Nya, bahwa Maryam binti Imran adalah ‘istri-Nya’. Darinya lahirlah ‘Isa a.s, yang adalah nabi-Nya sendiri. Naudzu billahi min dzalik. Jika Allah Azza wa Jalla dianggap seperti itu, seharusnya berlaku kepada semua orang beriman yang perempuan. Allah Azza wa Jalla, dengan demikian, berjenis kelamin. Nantinya, di dunia ini ada keturunan Allah. Sekali lagi, itu musykil.

Allah Azza wa Jalla berfirman,

وإذ قالت الملائكة يا مريم إن الله اصطفاك وطهرك واصطفاك على نساء العالمين
يا مريم اقنتي لربك واسجدي واركعي مع الراكعين
ذلك من أنباء الغيب نوحيه إليك وما كنت لديهم إذ يلقون أقلامهم أيهم يكفل مريم وما كنت لديهم إذ يختصمون

"Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu)." Hai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu, sujud dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk. Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita gaib yang Kami wahyukan kepada kamu (ya Muhammad); padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa" (QS. Ali Imran : 42-44).

Perkara Maryam mengandung seorang anak, Malaikat Jibril menyampaikan berita itu kepadanya sebagaimana firman Allah berikut:

إذ قالت الملآئكة يا مريم إن الله يبشرك بكلمة منه اسمه المسيح عيسى ابن مريم وجيها في الدنيا والآخرة ومن المقربين

"(Ingatlah), ketika Malaikat berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah)" (QS. Ali Imran : 45).

Allah Azza wa Jalla mengajarkan kepada manusia untuk lebih mengimani firman-firman-Nya yang telah menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi saat berhadapan dengan kenyataan yang ada. Keimanan anda ditentukan dari keyakinan terhadap firman Allah yang anda tidak hadir saat beliau yang mulia Saaw menerima wahyu. Maka, anda dan siapa pun hanya mendapati firman Allah sebagai yang anda ketahui selama ini! Apabila Allah tidak memberi anda petunjuk, yang dapat anda lakukan adalah berupaya mempelajari, memahami dan mengkajinya dengan pengetahuan yang anda geluti.

Al-Qur’anul Karim mengajarkan pengetahuan yang tidak diketahui oleh ilmu pengetahuan manusia, selain karena Allah mengajarkan pengetahuan yang mendalam atas firman-firman-Nya. Dengan pengetahuan Allah, maka siapa pun mengetahui peristiwa di balik yang tidak dapat dijangkau oleh akalnya. Begitulah orang-orang Nasrani yang tidak beroleh pengetahuan dari Allah berkata-kata seenaknya sendiri. Mereka mengangap ‘Isa putra Maryam adalah anak Allah! Benar-benar persangkaan yang tidak didukung oleh petunjuk dari Allah! Asal bunyi.

Allah Azza wa Jalla sangat murka atas kedurhakaan para iblis yang telah mengajak kekafiran kaum Nasrani. Dia akan mengazabnya pada alam keabadian. Andaikan Kiamat sudah dekat, maka iblis beserta anak cucunya akan menghadap kepada Allah Azza wa Jalla untuk memohon ditunda beberapa waktu. Akan tetapi, Allah Azza wa Jalla telah berketetapan. Apa pun yang menjadi ketetapan-Nya, maka tak akan dapat dipengaruhi oleh siapa pun.

Allah Azza wa Jalla sangat menyayangi kepada orang-orang beriman. Andaikan orang-orang beriman diganggu oleh iblis, Dia akan melindunginya. Allah mengajari manusia dan jin yang beriman kepada-Nya agar memohon perlindungan kepada-Nya dari gangguan setan yang terkutuk. Keimanan seseorang adalah harta yang paling berharga dalam menjemput kebahagiaan di Kampung Akhirat. Anda tidak akan dibiarkan oleh Allah Azza wa Jalla apabila anda selalu menjadi orang-orang yang beriman kepada-Nya.

Setan laknatullah ‘alaih selalu berupaya agar orang-orang beriman disesatkan ke jalannya. Akan tetapi, Allah Azza wa Jalla berbuat adil terhadap manusia-manusia yang beriman kepada-Nya. Dia mengajari manusia agar jangan mengikuti jalan-jalan yang menyesatkan. Allah Azza wa Jalla menunjukinya jalan-jalan-Nya yang paling baik.

Anda pasti akan mendapati kesulitan dalam beribadah kepada Allah jika sekiranya tanpa pertolongan Allah. Memohon pertolongan Allah mutlak bagi orang-orang beriman. Dengan pertolongan Allah, anda akan dibimbing menjadi mulia di sisi-Nya. Tauhid atau mengimani keesaan Allah merupakan syarat yang harus tetap dijaga untuk memperoleh keberuntungan.

Ayat berikutnya (ayat 4) surat Al-Ikhlas menegaskan bahwa tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya. Apa maknanya? Anda atau siapa pun manusianya, juga para jin, mustahil dapat menyetarakan (serupa) dengan Allah. Anda adalah seorang manusia. Allah Azza wa Jalla adalah Sang Khalik. Anda dan Dia adalah dua kedudukan yang berbeda. Maka, sekiranya anda adalah seorang makhluk yang tidak pernah tunduk dan patuh kepada-Nya, kedudukan anda adalah tetap pada posisi sebagai makhluk-Nya. Iblis, tumbuh-tumbuhan, hewan dan lain-lain yang berada di langit dan di bumi serta yang berada di antara keduanya adalah juga makhluk-Nya. Kedudukannya sama di hadapan Allah, yaitu sebagai makhluk ciptaan-Nya.

Akan tetapi, manusia sesungguhnya diciptakan oleh Allah dengan kedudukan sebagai makhluk yang dikaruniai akal. Maka, dengan akalnya, sesungguhnya Allah menghendaki agar manusia dapat berpikir dan berakal. Karunia ini tidak dimiliki oleh makhluk Allah lainnya. Karunia yang sangat berharga ini tentu saja ditujukan untuk mengajak manusia agar menjadi mulia di sisi-Nya. Sekali pun hina pada mulanya, manusia yang berakal akan menggunakan akalnya untuk berpikir (merenung) atas segala yang diciptakan oleh Allah sebagai bahan perenungan untuk meningkatkan derajat mulia di sisi-Nya.

Dengan akalnya, manusia diajarkan oleh Allah melalui perantaraan kalam (Al-Qur’an)! Tahap demi tahap, manusia diajarkan agar memahami firman-Nya Yang Mulia. Manusia berakal seharusnya menjadi mulia apabila mereka meyakini dan menjalankan apa yang diajarkan oleh Allah melalui firman-Nya tersebut. Inilah yang sebenarnya dikehendaki oleh Allah bagi manusia berakal! Allah Azza wa Jalla membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki. Anda boleh jadi bertanya, siapakah yang Dia kehendaki itu? (Yaitu) manusia berakal yang meyakini dan menjalankan apa yang terdapat di dalam Al-Qur’an.

Allah Swt adalah Dia Yang Sangat Menyayangi manusia-manusia yang beriman. Dia menghendaki agar manusia-manusia yang beriman menjadi orang-orang bertakwa. Dengan ketakwaannya itu, maka Allah pun rido mendudukan dia sebagai seorang hamba mulia di sisi-Nya. Allah Azza wa Jalla sangat tidak menghendaki manusia hanya sebagai makhluk-Nya saja. Apa jadinya bila manusia yang sudah diberi akal tetapi kedudukannya tidak beranjak dari kedudukan sebagai seorang makhluk? Seperti disebutkan terdahulu, iblis, hewan, tumbuh-tumbuhan dan lain-lain adalah juga makhluk-Nya.

Derajat takwalah yang mengantarkan manusia menjadi mulia di sisi-Nya. Bila mulia di sisi-Nya, maka Dia pasti akan menganugerahkan kedudukan yang setara dalam wilayah malakuti. Apabila setara (serupa) dalam kedudukan seperti itu, Allah Yang Maha Mulia juga tidak segan untuk menghampirinya yang wajahnya mirip (serupa) dengan Dia. Penyerupaan dengan seorang hamba yang mulia di sisi-Nya tidak berarti bahwa dia adalah Allah.

Akan tetapi, kebijaksanaan Allah (Hakim) lah yang menetapkan demikian. Siapa yang mengenal dirinya, maka akan mengenal Tuhannya. Dialah Allah Yang Maha Mulia. Orang-orang bertakwa berkedudukan mulia juga di sisi-Nya. Bila Allah tidak menampakkan bagaimanakah Dia, pasti hamba-Nya menemukan kesulitan untuk mengenal-Nya. Memperkenalkan diri-Nya sebagai diri-nya adalah kebijaksanaan-Nya.

Ayat keempat ini merupakan ayat mutasyabihat. Allah lah yang hanya mengetahui takwilnya. Ayat ini tidak dapat terungkap dengan akal. Allah lah yang memilih siapa yang Dia kehendaki menerangkan ayat-Nya sendiri. Allah Maha Bijaksana. Atas dasar kemahabijaksanaan-Nya, Dia mengajari seorang hamba yang mendapati cahaya-Nya mengetahui sesuatu yang tersembunyi di balik apa yang tampak di lahir.

Bila saya memaknai hal demikian, itu bukan atas penafsiran akal. Naudzu billahi min dzalik. Saya memaknai sesuai yang saya dapati dari suara hati. Anda boleh jadi sejalan dengan apa yang terungkap di balik yang lahir. Apa maknanya? Anda akan menerima bila hati anda sudah diberi Al-Hikmah oleh Allah. Apa buktinya?

Allah sangat menghendaki agar orang-orang beriman mengingat Allah. Apabila anda mengingat Allah, maka Dia pun mengingat anda. Jika Dia mengingat anda seakan anda sedang diperhatikan oleh-Nya. Perhatian-Nya menyejukkan hati anda. Allah Azza wa Jalla berkenan mendudukkan hati anda sebagai 'wadah' yang sudah patut diisi dengan penuh cahaya-Nya. Cahaya Allah Azza wa Jalla berlapis-lapis (nurun ‘ala nur). Allah Azza wa Jalla pun rido menunjuki hamba-Nya di dalam kekuasaan-Nya. Allah Azza wa Jalla pasti janji-Nya.

Jadi, cahaya Allah adalah benar ada-Nya atas siapa yang Dia kehendaki. Ada-Nya bermakna Dia adalah Allah Yang Maha Mulia senantiasa bersama seorang hamba yang sudah menemukan cahaya-Nya di hati. Apabila anda belum menjumpai cahaya-Nya, maka pasti sulit mengungkap apa yang di balik yang tampak dalam pemahaman akal. Akal adalah suatu karunia Allah yang diberikan kepada manusia.

Namun demikian, sekiranya manusia tidak menggunakan akalnya untuk merenungkan ciptaan-Nya, sulitlah baginya untuk meyakini apa yang sudah dijelaskan oleh Allah di dalam Al-Qur’an. Akal yang sulit itu karena tidak pernah tawadhu atas kelemahan dirinya di hadapan kemahabesaran Allah. Akal yang sombong dan takabur adalah akal yang diakali oleh iblis laknatullah ‘alaih. Maka, pantaslah sekiranya neraka adalah tempat yang tepat bila menafsirkan ayat dengan akal (ra’yu) yang terbatas lagi menyombongkan diri di hadapan kemahabesaran-Nya. Inilah yang disinggung oleh Baginda Muhammad Rasul Allah yang mulia Saaw.

5 komentar:

  1. Benar ada sabda Nabi yang mengatakan bhwa apabila menafsirkan Alquran dengan akal fikiran maka siap2 tempat duduknya d Neraka.

    Kalau seseorang manusia sudah mencapai derajat taqwa dan mendapatkan kemulyaan di sisi-Nya kenapa ko hamba tadi di setarakan dan di serupakan dg Allah. Bukankah ayat ini tidak ada yang setara dengan-Nya juga ada firman lain yang berbunyi laysa kamitslihi syaiun / tdk ada yg serupa dengan-Nya.

    mohon penjelasannya. tks

    BalasHapus
  2. Allah Azza wa Jalla mampu berbuat sebagaimana yang dikehendaki-Nya! Bila Dia berkehendak menyerupakan dengan wajah hamba-Nya, maka bagi-Nya sangat mudah! Mengapa Allah Azza wa Jalla berbuat demikian? Allah SWT memperlakukan hal demikian hanya khusus untuk orang-orang yang sudah berkedudukan mulia di sisi-Nya (bersama di dalam kekuasaan-Nya). Allah Maha Bijaksana! Bila Dia tidak berbuat menyerupakan wajah-Nya sebagaimana wajah hamba-Nya yang mulia, maka sulit baginya mengenali Dia sebagaimana janji-Nya, bahwa Allah akan menjumpai hamba-Nya yang sangat mengharapkan perjumpaan dengan-Nya.

    Ayat keempat surat al-Ikhlas maupun ayat Laitsa kamitslihi syaiun menegaskan bahwa seorang makhluk atau manusia tak dapat berbuat untuk menyerupakan bagaimana Allah sebagaimana dalam pemahaman seorang manusia. Mustahil manusia dapat menyerupakan Allah SWT. Tetapi, bila Allah yang berbuat menyerupakan sebagaimana wajah hamba-Nya, bagi-Nya sangat mudah.

    "Allah tidak seperti sesuatu pun" maknanya secara tegas adalah manusia tak dapat memahami keberadaan Allah sebagaimana keberadaan makhluk-Nya yang dibatasi oleh arah dan tempat! Dia tidak seperti makhluk-Nya yang dibatasi oleh arah dan tempat!

    BalasHapus
  3. husainahmad mengatakan...
    Benar ada sabda Nabi yang mengatakan bhwa apabila menafsirkan Alquran dengan akal fikiran maka siap2 tempat duduknya d Neraka.
    >>>jika benar hadist itu ada pasti ada rujukan al-qurannya,bisa sebutkan?
    di al quran sendiri ada 13 menyatakan tentang "akal"
    lalu ada 2 menyatakan tentang "mempergunakan akal"

    cont: MUSA BERKATA :
    TUHAN YANG MENGUASAI TIMUR DAN BARAT DAN APA YANG ADA DI ANTARA KEDUANYA : ( ITULAH TUHANMU ) JIKA KAMU MEMPERGUNAKAN AKAL.
    Asy Syu'ara ayat 28

    Lalu juga kita terlalu mudah memvonis suatu ayat mutasyabihat hanya karena kita tidak tahu atau kurang referensi atau ayatnya sendiri belum dipahami dan dijalankan.

    trims

    BalasHapus
  4. Bismillah, alhamdulillah, subhanallah, masya Allah saya mengagumi adanya keterbukaan berpikir dalam merespon ayat-ayat Allah!

    Kecerdasan akal tak seunggul kecerdasan spiritual (hati)! Kekuatan akal sebatas yang dijangkau oleh penglihatan dan pendengaran! Sebaliknya, hati (spiritualitas) mampu menjangkau sampai akal tak sanggup memikirkannya!

    Bila akal tidak menyandarkan kepada petunjuk di hati, maka cenderung lebih mengakali bukan menghayati! Pemikiran akal jauh berbeda dengan penghayatan secara sepenuh hati. Bila mengungkap kedalaman, maka akal menggunakan cara berpikir menganalisa, sedangkan mengungkap kedalaman yang dilakukan berdasarkan petunjuk di hati akan menyerahkan bagaimana Dia Yang Maha Mengetahui.

    Bila sebuah ayat Allah dimaknai dengan akal, cenderung menganalisanya dengan referensi lahir. Sedangkan memaknai ayat berdasarkan petunjuk, mengungkapkannya melalui pesan yang dikabarkan oleh Dia Yang Ilmu-Nya tak habis untuk ditulis!

    Ayat-ayat Allah mengandung al-Hikmah! Maka ketika menyandarkan dengan al-Hikmah ketika memaknainya, pesan-pesan yang terkandung di dalamnya lebih sangat membekas di hati. Apabila ada yang di hatinya belum diberi al-Hikmah, cenderung menggunakan akalnya. Sekiranya akalnya sering mengikuti apa kata hati, maka dia lebih dapat meresapi, ketimbang sebaliknya, akalnya selalu merasa unggul sering sulit untuk menghayati.

    Anda benar bila ayat 28 surat asy-Syu'ara ditujukan untuk orang-orang berakal. Akal sesungguhnya dikaruniakan kepada manusia untuk tujuan itu, yaitu untuk berakal (merenungi ciptaan Allah). Tidak ada tujuan yang lain selain untuk merenungi ayat-ayat-Nya (Tanda-Tanda Kebesaran-Nya). Bila akal digunakan untuk itu, maka kedudukannya sebagai akal yang patuh sepenuh hati. Bila sebaliknya, maka akalnya hanya terkait apa yang dipikirkan saja!

    Anda pasti sulit mengungkap ayat yang mengandung kebijaksanaan Allah. Anda juga tidak mengetahui mana yang disebut ayat mutasyabihat! Dapatkah anda dengan akal anda memahaminya? Tanpa adanya kebijaksanaan Allah (al-Hikmah), saya menjamin anda tak bakal mampu memaknai satu ayat pun sehingga tidak berseberangan dengan kebenaran.

    Referensi lahir bukanlah jaminan mampu untuk mengungkap kebenaran ayat-ayat Allah sekiranya tidak dikaruniai oleh Allah al-Hikmah. Memaknai dengan petunjuk berbeda dengan menggunakan referensi semata. Jika tanpa referensi dapat mengungkap kebenaran, apalagi didukung referensi.

    Saya bukan penghapal al-Qur'an, bukan juga penghapal hadits. Saya hanya seorang manusia biasa yang mendapati pesan dari dalam hati tentang kebenaran ayat-ayat Allah. Pemikiranku adalah bukan produk akal! Apa yang ada dari dalam hati menunjukkan pesan-pesan kebenaran, saya hanya menuliskannya dengan tangan yang juga mengetahui bahasa hati. Sekiranya anda penghapal al-Qur'an maupun hadits akan lebih baik bila mengungkapkannya dengan hati yang jernih dari hasutan!

    BalasHapus
  5. ​​آَمِيّـٍـِـنْ... آمِيّنْ يَ رَ بَّلْ عَلَمِيّنْ

    BalasHapus

Artikel Populer 7 Hari Terakhir