1.5.12

Orang-Orang yang Berserah Diri

Pemahaman mengenai hidup di dunia masih banyak didekati oleh keinginan diri daripada mendahulukan kehendak Allah. Apa pun yang dihadapi di dalam kehidupan, kebanyakan manusia cenderung mendahulukan kepentingan diri daripada berserah kepada apa yang menjadi ketetapan Allah atas dirinya (manusia). Perbedaan yang terjadi antara kehendak Allah dengan kecenderungan nafsu (diri) sesungguhnya akan berdampak lahirnya kerugian bagi manusia.

Sebagai makhluk yang diciptakan oleh Allah dalam kedudukan-Nya sebagai Tuhan Yang Maha Pencipta, maka manusia tak dapat berkuasa mengatur Allah Azza wa Jalla. Sebaliknya, sebagai Tuhan Yang Maha Pencipta di dalam kemahakuasaan-Nya atas seluruh makhluk ciptaan-Nya, maka Allah memiliki Hak Mutlak atas ketundukan dan ketidakberdayaan manusia saat berhadapan dengan Dia Yang Maha Berkuasa.

Keluasan ilmu Allah meliputi segala sesuatu, sedangkan keluasan ilmu yang dipelajari manusia hanya setetes embun di pagi hari di dalam keluasan ilmu-Nya. Tak ada ukuran dan bandingannya bila dipersandingkan di antara keduanya (Ilmu Allah dan ilmu manusia). Sudah pasti!

Sekiranya diasumsikan bahwa manusia berlepas diri dari Allah, maka keputusannya pasti hanya menjangkau pada apa yang dimiliki di dalam keterbatasan dan kekurangan dirinya. Keadaan demikian pasti tidak dapat mendukung asumsi bahwa manusia dapat berlepas secara bebas dari kekuasaan Allah Yang Maha Mulia.

Adakah yang mendasari manusia begitu berani untuk mengutamakan kecerdasan akalnya dibandingkan dengan ketergantungan kepada apa yang menjadi kehendak Allah? Tak ada sesungguhnya yang menjadikan manusia begitu angkuh terhadap Allah sebagai Tuhannya, melainkan karena dia (manusia) tak pandai bersyukur.

Keingkaran manusia atas seluruh nikmat Allah yang telah dianugerahkannya karena segala pemberian-Nya dilupakan oleh manusia begitu saja. Hal demikian sesungguhnya sama saja melalaikan akan kedudukan Allah sebagai Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Pemberi kepada seluruh makhluk-Nya.

Diakui atau tidak, kelemahan manusia mengabaikan akan Hak Mutlak Allah untuk dipatuhi dan diikuti dengan penuh ketundukan, sesungguhnya telah menjauhkan manusia dari Allah Yang Maha Sempurna dalam penciptaan langit dan bumi beserta seisinya.

Bagaimanakah dengan kaum mukmin? Adakah di antara mereka yang telah mengakui Allah sebagai Tuhan yang patut untuk disembah dan Muhammad sebagai Utusan-Nya berbuat sebagaimana kebanyakan manusia yang tidak beriman kepada-Nya? Jawabnya: Seharusnya tidak ada. Akan tetapi, kenyataannya tidak sebagaimana seharusnya.

Jika demikian adanya, maka patutkah orang beriman telah mengakui dirinya telah benar-benar beriman kepada Allah? Inilah yang menjadi permasalahan terbesar dalam kehidupan kaum mukmin yang tidak dilandaskan pada keyakinan yang kuat, melainkan hanya sebatas pengakuan keimanannya.


Ketakwaan Kaum Mukmin

Asumsi bahwa setiap mukmin pasti tunduk dan patuh, ternyata tidak ada jaminan. Sebaliknya, asumsi bahwa dengan ketundukan dan kepatuhan, maka akan diperoleh kualitas keimanan kaum mukmin, adalah bukan termasuk yang dapat diragukan kebenarannya. Bukan karena sebagai mukmin seseorang lantas patuh kepada apa yang telah dikehendaki oleh Allah, melainkan disebabkan karena keikhlasan hati untuk mematuhi apa yang menjadi kehendak Allah, kaum mukmin menjadi semakin meyakini ada-Nya kehendak Allah atas dirinya.

Allah berkehendak atas setiap kaum mukmin untuk takut kepada Allah apabila tidak mengikuti apa yang telah diperintahkan kepadanya. Demikian juga Allah berkehendak agar apa yang telah menjadi larangan-Nya jangan dilakukan. Jadi, ketakwaan muncul di dalam diri kaum mukmin sekiranya ikhlas melandasi keyakinan dalam menghambakan diri di hadapan kemahabesaran-Nya.

Pentingkah menanamkan keikhlasan dalam diri bagi kaum mukmin pada seluruh perintah dan larangan Allah? Sudah menjadi kepastian akan pentingnya kedudukan ikhlas dalam diri setiap mukmin.

Allah Yang Maha Mulia telah menciptakan manusia di dalam kasih sayang-Nya dan bukan sekedar mencipta tanpa tujuan. Manusia, juga jin, telah ditetapkan dalam penciptaan keduanya hanya untuk beribadah (penghambaan diri) kepada Allah.

Penetapan akan tugas yang diemban oleh jin dan manusia tidak dapat dirubah. Itu adalah fitrah Allah dalam penciptaan. Karena itu, apabila jin dan manusia melenceng dari ketetapan Allah, maka hukuman akan diberlakukan kepada keduanya.

Pola pikir manusia yang mengarahkan akan kedudukannya sebagai calon kholifah di muka bumi tidak dapat dimaknai bahwa dirinya telah patut untuk mewakili makhluk lainnya tanpa kekeliruan mewujudkannya. Kedudukan sebagai kholifah akan terwujud apabila manusia telah benar-benar bertakwa (haqqo tuqotih).

Kesungguhan dalam bertakwa kepada Allah tidak dapat ditawar. Kaum mukmin telah diperintahkan oleh Allah agar bertakwa dengan sebenar-benar bertakwa. Ketakwaan adalah perintah Allah di dalam kesempurnaan kedudukan-Nya sebagai Tuhan Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi.

Ketidakpedulian sebagian besar kaum mukmin untuk mengikuti perintah Allah disebabkan lemahnya ketulushatian jiwanya dalam beribadah. Ikhlas merupakan Hak Allah atas seorang hamba dalam mengikuti apa yang telah ditetapkan sebagai perintah dan larangan-Nya. Ubudiyah seorang mukmin tidak boleh dipersatukan dalam ketidakkonsistenan. Artinya, ketetapan Allah untuk memisahkan antara yang hak dan yang batil harus dijalankan dengan penuh keikhlasan tanpa merasa berat dan memandang lemah dirinya dalam mengikuti ketetapan Allah tersebut.

Keikhlasan menempatkan seorang mukmin pada kedudukannya menjadi seorang hamba Allah yang dimuliakan oleh Dia Yang Maha Mulia. Keterpaksaan menjadi sebaliknya dalam kedudukan sebagai seorang mukmin yang tidak beroleh keberuntungan.

Pintu keberkahan akan dibukakan apabila keikhlasan mendasari setiap peribadatan kepada Allah Yang Maha Pencipta. Allah rido jika seorang hamba memperkuat keyakinan di dalam jiwa bahwa apa yang difirmankan oleh Allah tidak ada keraguan di dalamnya dan pengamalannya (dalam beribadah) diyakini dengan sepenuh hati tanpa keraguan.

Kesulitan yang dihadapi kaum mukmin dalam menghambakan diri bukan karena ketidakmengertiannya, melainkan lemahnya ketulusan hati untuk mengamalkannya. Pudarnya hati dari suatu keharusan untuk ikhlas dalam menyembah kepada Allah sudah sepatutnya untuk diluruskan dan diarahkan kepada satu keyakinan yang utuh, bahwa Allah sudah pasti Ada dan Maha Melihat apa pun yang diperbuat oleh hamba-Nya.

Untuk menanamkan kondisi jiwa atau hati atau diri atau ruh yang demikian membutuhkan perjuangan yang tidak pernah merasa letih dan lelah. Pijakan yang harus diperkuat terletak pada keutamaan menjunjung nilai-nilai kebenaran yang bersumber dari Allah Azza wa Jalla. Ketetapan-ketetapan Allah harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh tanpa sebatas mengenalinya, melainkan diupayakan untuk dilaksanakan dengan melandaskan pada pertolongan-Nya.

Keikhlasan akan sulit ditanamkan ke dalam jiwa tanpa perjuangan dengan sungguh-sungguh dan tanpa pertolongan Allah. Kepastian untuk mencapai kedudukan mukhlis demikianlah adanya.



Orang Ikhlas Pasti Berserah Diri

Kepastian orang yang sudah mencapai tingkat ikhlas (mukhlis) adalah adanya keyakinan yang kuat di dalam jiwanya tanpa ada keraguan terhadap perintah Allah yang lahir dari dalam jiwanya. Apa pun yang diberitakan di dalam jiwanya diikuti tanpa membantah. Jiwanya telah diliputi cahaya yang terang benderang.

Allah Yang Maha Mulia telah mengilhamkan ke dalam jiwanya ketakwaan karena keikhlasannya. Ke dalam jiwa diajarkan keluasan ilmu-Nya dengan keridoan-Nya. Maka, pada perkataan dan perbuatannya, orang yang sudah ikhlas (mukhlis) mengikuti petunjuk yang ada di dalam hatinya atau jiwanya atau dirinya atau ruhnya.

Pelajaran jiwa sungguh berbeda dengan pelajaran yang ada di alam realitas. Kemusykilan akal tidak terjadi di dalam jiwa. Keluarbiasaan yang dialami jiwa menumpulkan akal cerdasnya. Allah mengajarkan yang tidak pernah diperoleh di alam realitas, melainkan akal hanya mampu mendengar dan menyaksikan ketidakpercayaannya atas apa yang terjadi pada jiwanya.

Pelajaran jiwa membenarkan kelemahan akal cerdas. Allah telah mengilhamkan keluasan ilmu-Nya yang tak dapat dijangkau oleh kejeniusan akalnya. Seorang yang telah mencapai tingkat mukhlis diberi petunjuk oleh Allah sehingga memudahkan berkata-kata dan berbuat dengan seluruh anggota tubuhnya. Ketidakpahaman akal atas anugerah karunia Allah tidak menyurutkan kekuatan jiwa dan raganya mengikuti petunjuk Allah Yang Maha Luas Pemberian-Nya.

Ketidakberdayaan dirinya telah ditolong oleh Allah dengan kekuatan-Nya sehingga mampu mengalahkan tipu daya iblis laknatullah ‘alaih. Kehendak Allah didahulukan daripada keinginan nafsu (diri)-nya. Kesanggupan untuk mengikuti kehendak Allah secara istiqamah karena di dalam jiwanya telah diliputi Nurullah (Cahaya Allah) yang menerangi kegelapan jiwa. Orang yang telah mencapai tingkat mukhlis telah berhijrah dari kegelapan menuju Cahaya Terang Benderang (Minadh dhulumati ilan nuur).

Kedekatan dengan Allah pun tak terbantahkan. Hubungan seorang hamba dengan Tuhannya benar-benar terjadi tanpa penghalang. Kian “mesra” dalam berhubungan dengan Allah Yang Maha Mulia (hablum minallah). Dekat bermakna tiada jarak yang memisahkan diri (nya) dengan diri (Nya). Seolah tiada duanya; sang hamba yang sedemikian takut kepada Tuhannya telah diridoi oleh kasih sayang-Nya dengan balasan kemahabijaksanan-Nya. Dia seolah adalah dia dalam pandangan kemampuan pemberian karunia-Nya.

Begitu terpesona ketika dalam pandangan keluasan ilmu-Nya seluruh ketidakpercayaan akalnya menghadap di dalam kemahakuasaan-Nya. Dia tidak jauh dari sejengkal pun dalam mencintai sang hamba-Nya. Begitu pun sebaliknya, dia (sang hamba) yang lemah tak berdaya sedemikian dimabuk cinta untuk menemui-Nya. Kedekatan telah terjalin antara Yang Maha Berkuasa dengan hamba-Nya. Dalam Singgasana-Nya bertimpuh sang hamba penuh kerendahan diri dan ketakutan.

Atas seluruh perintah dan larangan-Nya dipenuhi sang hamba dengan keluasan ilmu-Nya. Ketika sebelumnya tak mengetahui, dengan keluasan ilmu-Nya, kini sang hamba menjadi tahu dan memahami apa yang menjadi kehendak-Nya. Seluruh anggota badannya memenuhi kehendak-Nya. Suara hatinya demikian merdu menyampaikan akan kemahaluasan ilmu Allah.

Rendah hati di hadapan seluruh makhluk-Nya menunjukkan akan ketidakberdayaan di hadapan kemahakuasaan Tuhannya. Pemaknaan menghambakan diri tercipta di dalam jiwa dan keluasan budi pekertinya. Ada Dia di dalam jiwanya. Allah pun rido bersemayam di dalam hatinya, seakan apa yang ada di dalam apa pun perkataan dan perbuatannya adalah perkataan dan perbuatan Allah. Subhanallah.

Keutamaan orang yang berserah diri benar-benar akan menjunjung derajat-nya pada ketinggian kedudukan seorang hamba yang dimuliakan Allah. Oleh karena itu, kemuliaan orang yang berserah diri akan menjamin dirinya dalam keluasan kasih sayang-Nya.

Rahmat Allah dicurahkan kepada seorang hamba yang telah berserah diri karena jiwanya atau dirinya atau hatinya atau ruhnya bersih dari hasutan, rayuan, jebakan, kefasikan, kemunafikan, kemusyrikan, kekufuran dan lain-lain penyakit hati. Orang yang berserah diri adalah orang yang benar-benar mengikuti kehendak Allah daripada mengikuti hawa nafsunya.

Jiwanya tenang, bahagia, damai, lapang dada dan tak ada kesumpekan yang menyebabkan lahirnya ketidakikhlasan dalam beribadah kepada Allah Yang Maha Pencipta. Ahli ibadah seharusnya demikian. Keikhlasan tak dapat ditukar dengan hawa nafsu.

Istilah ahli ibadah bukan ditujukan kepada seseorang yang pandai menunaikan ibadah dalam pengertian yang sempit. Ketundukan dan kepatuhan kepada apa yang diperintah dan dilarang Allah disertai dengan ketulusan hati dalam menjalankannya merupakan ukuran yang dapat ditetapkan untuk menilai seseorang menjadi ahli ibadah.

Beribadah kepada Allah bermakna merendahkan diri dengan rasa takut di hadapan kemahabesaran Allah di setiap keadaan dan waktu dalam menjalankan perintah dan larangan-Nya seraya hatinya secara ikhlas tak pernah melupakan Allah sebagai Tuhannya.

Silakan dibaca Artikel Terkait di bawah ini

7 comments:

  1. Assalamu Alaikum..Wr..Wb

    amat menarik apa yang saudara sampaikan, akan tetapi arti dari penyerahan diri yang bapak sampaikan sangatlah jauh dari pengertian dan pengamalan yag sesungguhnya, atau dapat dikatakan pengertian dari penyerahan diri yang bapak sampaikan hanyalah mengacu pada kepasrahan dan tawakkal..
    penyerahan diri yang sesunguhnya adalah mengetahui tubuh bathin ,tubuh bathin yang diserahkan kepada Allah bukan hanya mengacu pada perasaan tetapi ia adaah wujud oleh karena itu dikatakan barang siapa yang tidak mengenal dirinya bagaimana mungkin ia akan mengetahui Tuhannya, tubuh bathin disini yang saya katakan ialah yang menjadi Hamba sedangkan Tubuh Lahir hanyalah sebagai kendaraan dari tubuh bathin untuk mencapai maksudnya, sedangkan perasaan hanyalah penopang dari tubuh bathin tersebut...
    apa yang bapak sampakan mengacu pada perasaan
    penyerahan diri adalah betul2 menyerahkan tubuh bathin(bagi yang telah mengetahui) secara ikhlas keada Allah sesuai dengan ketentuan yang diajarkan kepada Hamba2nya yang telah dikehendaki,,penyerahan diri ialah menyatunya Allah dan Hambanya Menyembah kepada kemaha Esaannya...ini adalah pengamalan dengan wujuddnya bukan hanya perasaan saja. disini Hatilah yang menjadi saksi..yakni hati yang telah dibukakan hijab untuk melihat dan mengetahuix
    penyerahan diri dan tawakkal atau pasrah itu hampir serupa dalam bahasa akan tetapi berbeda dalam pengamalanya..
    sekian wassalam

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wa 'alaikum salam wr. wb.

      Al-Qur'an telah menjelaskan akan kepasrahan atau berserah diri terhadap apa yang dikehendaki oleh Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Bijaksana. Allah Swt telah berfirman:

      "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan berserah diri (muslim)" (QS. Ali Imron: 102).

      Pasrah atau berserah memiliki pemahaman sebagai tunduk dan patuh kepada apa yang menjadi kehendak Allah Azza wa Jalla. Bagi kaum mukmin, berserah diri dipahami, bahwa diri (orang yang telah beriman kepada Allah) sudah tak terbantahkan untuk senantiasa mengikuti apa yang telah diperintahkan dan dilarang oleh Allah tanpa membantah.

      Sebaliknya, orang-orang yang tidak mengikuti perintah dan larangan Allah Swt dipahami sebagai orang-orang yang selalu mengikuti hawa nafsunya sendiri, tanpa disadari dirinya atau jiwanya atau hatinya atau ruhnya mengikuti bisikan iblis yang dihembuskan ke dadanya.

      Dengan kedua pemahaman ini, maka ajakan untuk Berserah Diri merupakan kewajiban yang sudah seharusnya dijalankan oleh kaum mukmin. Allah Azza wa Jalla sebagai Tuhan Yang Maha Berkuasa menghendaki agar orang-orang yang mengimani-Nya tidak mendahulukan keinginan hawa nafsunya di atas kehendak-Nya.

      Jika ada kaum mukmin yang dengan setulus hati mengikuti perintah, selama dia mengaku sebagai mukmin, disertai tiadanya melakukan apa pun yang dilarang Allah, artinya kaum mukmin tersebut telah menjalankan ajakan Berserah Diri.

      Usaha mengikuti perintah dan larangan Allah Yang Maha Mulia, tentu saja, tidak dengan perasaan, melainkan dengan perjuangan yang tak mengenal lelah dalam beribadah kepada-Nya. Jadi, orang yang telah berserah diri itu adalah orang yang telah berjihad di jalan Allah.

      Pak Anonim, siapa pun anda, pasti paham apa yang saya uraikan di atas. Andaikata anda mencoba berinteraksi dengan hati-ruhaniyah anda, maka anda akan mengerti bahwa kemampuan akal sangat terbatas ketika dihadapkan dengan pemahaman yang mendasarkan kepada analisa suatu kalimat (ayat-ayat Allah).

      Adakah Pak Anonim menyimpulkan dengan akal yang terbatas atau dengan mengenal suara hati? Jika anda menganalisa dengan pemahaman akal, maka pantaslah bahwa keterbatasan akal menyebabkan kekeliruan dalam mengambil kesimpulan terhadap apa yang saya tulis. Dalam ilmu logika berpikir, anda telah melakukan kekeliruan dalam penyimpulan atau dikenal dengan kesimpulan yang terburu-buru.

      Suara hati memiliki peran yang sangat mendasar ketika menjelaskan segala hal yang terkait dengan keberadaan hati-ruhaniyah. Apabila Pak Anonim hendak menjelaskan perkara goib, sepatutnya tidak menganalisa dengan keterbatasan akal-lahiriyah. Tetapi, dengarkanlah suara hati Pak Anonim. Sudahkah Pak Anonim mendengarkan suara hati sendiri, kemudian bapak luncurkan untuk menjelaskan apa hakikat dari mengenal diri itu?
      (Bersambung

      Delete
    2. (Sambungan)

      Akal kaum mukmin, betapa pun cerdasnya, bila belum menjangkau ke dunia tak tampak, akan sulit mengurai apa yang dialami oleh hati atau diri atau jiwa atau ruhnya sendiri. Mengenal diri bukanlah pekerjaan yang mudah. Secara konsep, anda boleh jadi sepertinya begitu. Akan tetapi, secara bathin, bila Allah Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi belum berkenan (rido), anda pasti mengalami kesulitan manakah diri kita itu.

      Secara jujur, sudahkah Pak Anonim mengenal, bahkan melihat diri sendiri, yang aplikasinya dapat disaksikan oleh mata hati Pak Anonim? Jika belum, pantaskah berbicara mengenai sesuatu hal yang belum dialami secara langsung?

      Pengetahuan lahiriyah tidak mewajibkan Pak Anonim menguraikan perkara yang belum terjangkau secara langsung. Pengetahuan yang baru diperoleh menurut perkiraan pasti berbeda dengan pengetahuan yang dianugerahi secara langsung dari Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Bijaksana (Al-Hikmah).

      Kebanyakan kaum mukmin, sepengetahuan saya menurut suara hati, terlalu ingin menyampaikan perkara yang secara apa adanya menguraikan pengetahuan yang belum diketahuinya secara spiritualitas-aplikatif. Berbicara tentang aspek spiritualitas (nilai-nilai kebenaran) yang tidak menyandarkan pada pengalaman ruhaniyah secara langsung akan membingungkan orang lain, bahkan diri sendiri.

      Atas dasar pertalian persaudaraan sesama muslim, saya mengharapkan balasan komentar ini dapat menyudahi perdebatan konsep berserah diri, mengenal diri, bertawakal, dan lain-lain yang sudah tak patut lagi dimunculkan.

      Mulailah dengan bersiap-siap menjalani apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah Saaw yang mulia secara sungguh-sungguh demi meraih rahmat Allah ke dalam jiwa atau diri atau hati atau ruh kita yang tak pernah putus selalu memuji Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Penyayang. Rahmat Allah lah yang kita butuhkan, bukan pengakuan diri yang merasa telah berbuat untuk Allah.


      Salam dari jauh,


      Ahmad

      Delete
  2. Subhanallah...

    Semoga kita semua dijauhkan dari sifat keangkuhan diri yg hanya dimiliki oleh Allah swt, sang pemilik keangkuhan dan alam semesta. Allah maha Agung yg membolak-balik hati utk dijadikan pelajaran bagi org yg beriman. Subhanallah.

    Shaliq - Samarinda.

    ReplyDelete
  3. Ass.bolehkah saya bergabung...
    krn sy tertarik untuk belajar tentang ilmu allah

    Ahmad.....Aceh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wa 'alaikum salam wa rahmah wa barakah

      Alhamdulillah, dengan kekuasaan Allah tak ada seorang pun yang dapat menghalangi niat baik Anda. Ketetapan hati demikian kuat karena keluasan kasih sayang-Nya. Jika Allah telah berketetapan demi kebaikan seorang hamba, maka akal cerdas sulit memakluminya, selain keimanan yang mengakui akan kemahabesaran-Nya.

      Saudaraku, rasa keimanan yang lahir dari dalam hati sangat berbeda apabila iman hadir karena keterpaksaan. Alhamdulillah Anda, saudaraku, telah dianugerahi oleh Allah untuk meingkatkan keimanan melalui keyakinan dari apa yang telah Anda baca atas tulisan-tulisan saya ini.

      Saya berharap kepada Allah semoga Anda, saudaraku, diberikan kekuatan iman dalam menetapkan hati untuk bergabung bersama kami. Silakan ikuti halaman Majelis Dzikir Tawashow di facebook (Silakan klik kolom yang ada di sudut kanan atas blog ini). Dapat juga Anda tambahkan saya di g+ https://plus.google.com/113010868743817713326

      Atas keinginan Anda bergabung dengan kami, saya sampaikan terima kasih.

      Salam dari jauh,

      Ahmad

      Delete

Artikel Populer 7 Hari Terakhir