23.8.10

Allah Melihat Kita

Manusia ditakdirkan menjadi makhluk Allah di bumi sebagai khalifah. Kedudukan yang sungguh tak terhindar oleh manusia manapun. Penunjukan Allah kepada manusia bukan tak beralasan. Allah telah melengkapi manusia dengan berbagai kelebihan yang dimiliki. Akal adalah kelebihan yang tidak dimiliki oleh makhluk lainnya, bahkan malaikat sekalipun. Allah Azza wa Jalla sengaja menguji manusia dengan akalnya. Kecenderungan akal selalu mengikuti bagaimana dirinya. Akal yang menjerat diri biasanya selalu menjadikan dada sebagai panutan. Padahal, Allah Azza wa Jalla menciptakan manusia bersamaan dengan ruhnya. Ruh atau arwah adalah hatinya. Kelebihan yang selalu dibanggakan ternyata tidak menjadikan manusia mengenali ruhnya atau hatinya. Inilah kelemahan manusia di balik kelebihannya.

Allah Azza wa Jalla menciptakan manusia pertama, yaitu Nabi Adam a.s., berada di surga. Secara kebetulan dia menghampiri sebuah pohon yang dilarang Allah untuk mendatanginya. Sebab ketidaktahuannya, Adam terpaksa diturunkan Allah ke bumi. Adam menyesali perbuatannya, lalu Allah memberitakan kepada Nabi-Nya Saaw. bahwa beliau menyesal lalu berduka dengan do’anya yang terkenal, “Robbana dholamna anfusana wa in lam taghfirlana wa tarhamna lanaku nanna minal khosirin.” Allah Azza wa Jalla menurunkan Adam bukan menyiksa, tetapi sebagai pelajaran bagi anak keturunannya. Begitulah sejarah singkat manusia pertama, datuk dari seluruh umat manusia. Apa yang dapat kita petik dari pelajaran tersebut?

Pertama, manusia sesungguhnya adalah makhluk yang sering lupa meskipun sudah diberitahu. Adam a.s. bukanlah manusia yang berdosa, tetapi lupa akan peringatan Allah Azza wa Jalla. Namun demikian, Adam a.s. menyesali akan kezaliman dirinya dari apa yang dilakukannya. Penyesalan adalah bentuk kesadaran diri atas apa yang sudah diperbuatnya. Meskipun tidak melakukan dosa, hanya lupa atas perintah Allah Azza wa Jalla, Nabi Adam a.s. tetap menyesali atas tidak peduli terhadap peringatan Allah. Maka, Allah pun menunjukkan kepadanya jalan yang dapat membawa anak keturunannya mengikuti jalan yang terbaik. Beliau senantiasa berdo’a agar kelak anak keturunannya dapat mengikutinya sebagai hamba Allah yang patuh dan merendahkan diri di hadapan Allah Azza wa Jalla.

Kedua, manusia adalah makhluk yang merugi atau selalu rugi bila tidak memperoleh ampunan dari Allah Azza wa Jalla. Salah atau tidak salah, apalagi sudah jelas-jelas lalai, Allah Azza wa Jalla mengajak manusia agar mengakui dirinya senantiasa lemah di hadapan Allah. Lemah merupakan keadaan manusia yang sesungguhnya sesuai dari kodratnya sebagai makhluk. Allah Azza wa Jalla Maha Perkasa karena Dia Sang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Merendah di hadapan Allah adalah bukti sebagai hamba-Nya. Anda, saya, semua yang ada di alam semesta adalah makhluk Allah tanpa dibedakan. Allah Azza wa Jalla memberi kemurahatian kepada makhluk-Nya yang mau bertobat, menyesali perbuatan yang dilakukannya adalah dosa. Allah Azza wa Jalla berkenan mengampuni dosa seseorang yang mengajukan penangguhan siksa. Penangguhan tidak berarti perbuatan dosa seseorang hilang, tetapi tetap disiksa. Maksudnya, apabila Allah mengabulkan penangguhan siksa adalah menghilangkan dosa sekaligus meniadakan siksa bagi dirinya. Subhanallah.

Allah Azza wa Jalla Maha Pengampun lagi Menyayangi hamba-Nya. Bila anda seorang makhluk, maka Allah hanya mengasihi anda, tidak dibedakan dengan siapapun. Tetapi, bila anda seorang hamba, maka anda akan mendapatkan Kasih dan Sayang Allah Azza wa Jalla. Apa maksudnya manusia sebagai makhluk dan sebagai hamba? Di sinilah kita mengetahui kedudukan manusia di sisi Allah Azza wa Jalla. Bagaimana Allah Azza wa Jalla memperlakukan demikian kepada manusia? Pertanyaan ini menggelitik. Namun, siapa sangka bahwa anda yang rajin solat tetapi di mata Allah Azza wa Jalla anda ternyata hanya seorang makhluk. Lantas apa bedanya bila anda adalah hamba Allah yang senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya?

Kendala yang dialami oleh manusia di dunia sebetulnya menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi orang-orang yang mau berpikir. Proses berpikir menggunakan akal berfungsi sesuai dengan perannya dalam menjalankan perintah Allah Azza wa Jalla. Andaikan anda diperintah Allah untuk berpikir, apa yang akan anda lakukan dengan akal anda? Orang berpikir berarti memanfaatkan seluruh daya intelegensi yang berada di otaknya, sedemikian sehingga bisa diketahui hasilnya (berpikirnya). Maka bila Allah memerintah manusia untuk berpikir berarti dia berupaya mengerahkan semua kemampuan otak untuk menjalankan fungsinya sebagaimana secara alami berpikir. Begitulah anda berpikir secara alami menurut pemahaman manusia lahir. Lebih dari itu, cara berpikir adalah cara seseorang meraih lambang-lambang dunia lahir, lantas diolah, setelah itu dianalisa sesuai dengan pendekatan yang digunakan. Selesai pekerjaan ini, baru anda menyimpulkan yang siap disampaikan secara lisan maupun tulisan.

Dari sinilah manusia akan mengantarkan dirinya menjadi makhluk atau hamba. Cara berpikir yang mendasarkan pada kehidupan realitas semata akan menjerat pribadinya hingga dibuai oleh impian setan yang selalu membisikkan di dada. Sebaliknya, cara berpikir yang menjadikan akal hanya berfungsi untuk menampung pesan-pesan dari hati, lantas akal memerintahkan mulut untuk bicara atau tangan untuk menulis. Akal sama sekali tidak melakukan pengolahan, penganalisaan, dan penyimpulan seperti cara berpikir lahiriah. Cara berpikir ini adalah cara berpikir hamba Allah. Sedangkan cara berpikir lahiriah cenderung mengajak manusia menjadi makhluk.

Selama anda menggunakan akal untuk berpikir mengikuti pola berpikir lahiriah, maka selama itu pula anda sering terjebak oleh bisiskan setan. Tetapi, bila anda mencoba memperadukan antara berpikir lahiriah dengan pesan-pesan yang berasal dari hati, maka anda insya Allah akan diselamatkan oleh Allah Azza wa Jalla. Manusia yang menjadikan hatinya sebagai sumber inspirasi dalam penyampaian pesan, baik lisan maupun tulisan, sesungguhnya dia adalah hamba Allah yang merasakan kehadiran Allah Azza wa Jalla di dalam hatinya. Anda adalah hamba Allah bila melakukan hal demikian. Secara psikis, manusia merasakan adanya sesuatu yang mengajak bicara di dalam hati. Sama sekali bukan anda sendiri, melainkan memang ada suara. Inilah suara hati. Suara dari Allah Azza wa Jalla yang disampaikan oleh saya yang berada di dalam hati, kemudian dialihkan ke akal, yang anda berada di dalamnya, dan akal memerintahkan mulut bicara atau tangan menulis.

Bagaimana anda berpikir sangat menentukan bagaimana berhubungan dengan Allah. Jika gaya berpikir anda secara lahir lebih dominan, maka ada kecenderungan anda jarang berhubungan dengan Allah. Tetapi, bila sebaliknya, berpikir anda lebih mengutamakan penerimaan pesan dari hati, maka anda lebih banyak berhubungan dengan Allah Azza wa Jalla. Kualitas berpikir menentukan kedudukan anda di sisi Allah Azza wa Jalla. Secara otomatis, bila hati menjadi sandaran dalam berpikir, maka anda selalu dilihat oleh Allah. Bahkan, jika anda sudah diperkenankan, anda pun dapat melihat-Nya. Semoga Allah mengabulkan kita menjadi hamba Allah yang diperkenankan melihat Wajah-Nya.

Silakan dibaca Artikel Terkait di bawah ini

No comments:

Post a Comment

Artikel Populer 7 Hari Terakhir