8.11.11

Syukron Lillah

Adakah sesungguhnya manusia dapat hidup akibat kemampuannya sendiri? Pasti tak mungkin dapat! Dari mana dia dilahirkan? Dari rahim ibunya. Siapakah ibunya itu? Ibunya juga manusia, dia pun dilahirkan dari rahim ibunya. Terus dan terus semua dilahirkan dari rahim ibunya hingga dari rahim Siti Hawa, seorang perempuan pertama yang diciptakan Allah mendampingi Adam a.s.

Adakah ibunda Siti Hawa hadir dengan sendirinya? Allah lah yang menghadirkannya. Itu sudah pasti. Artinya, tak ada seorang pun yang dapat hidup tanpa dikehendaki oleh Allah. Apa pun yang dikehendaki Allah, pasti terjadi. Adakah seorang manusia mampu melepaskan diri dari kehendak Allah?

Ada sebuah kisah di tengah kehidupan umat manusia saat ini (abad informasi). Seorang mantan pejabat berhasrat menjadi seorang pejabat lagi. Sebelumnya dia pernah menduduki jabatan yang posisinya lebih rendah dari jabatannya yang diinginkan dalam bursa pencalonan seorang pejabat sesudahnya. Angan-angan kosongnya berharap dapat menduduki jabatan tersebut.

Hasratnya begitu menggebu. Apa pun caranya dapat ditempuh. Terpenting baginya bagaimana dapat meraih jabatan tersebut. Apa pun yang dianggap dapat mendukung, sekalipun salah, tidak dibiarkan. Akalnya benar-benar tertutupi oleh hasrat yang menggebu.

Lebih baik memilih salah daripada tidak berhasil. Itu adalah salah satu nafsu syaiton yang telah merasuk di dadanya. Keinginannya, padahal, tak terukur dengan kenyataan yang dihadapinya. Artinya, sesungguhnya dia telah terperangkap oleh hayalannya sendiri.

Orang semacam ini termasuk orang yang telah melepaskan diri dari kehendak Allah. Al-Qur’an telah menjelaskan agar berserah diri kepada Allah, sedangkan dia mengandalkan kepada angan-angan demoralitas. Akalnya selalu membangkang dari apa yang seharusnya dikehendaki Allah. Tidak mau mengikuti apa yang telah ditetapkan oleh Allah untuk tunduk dan patuh kepada-Nya.

Dari contoh di atas, dapatkah dia merajalela sebagai manusia zalim? Kebanyakan tipe orang seperti itu akan berkuasa dengan sangat menyombongkan diri. Seolah perjuangannya telah diridoi oleh Allah. Sama sekali tidak benar. Sebaliknya, dia termasuk orang yang sangat dibenci oleh Allah. Naudzu billahi min dzalik.

Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Bijaksana memerintahkan manusia untuk mengingat-Nya di setiap keadaan dan waktu. Dia juga memerintahkan agar menjadi seorang hamba yang pandai bersyukur.

Allah Swt sesungguhnya Maha Bijaksana kepada kaum mukmin. Sekiranya Allah tidak bijaksana, maka tak ada seorang mukmin pun yang dapat lolos dari azab Allah yang sangat pedih. Allah Yang Maha Mulia masih memberi batas waktu sampai menyadari akan kesalahan dan dosa yang telah diperbuatnya.

Allah Swt tidak akan membiarkan kaum mukmin berbuat semena-mena, melainkan akan diturunkan peringatan atau teguran agar dapat berubah. Angkara murka dari anak cucu Adam a.s. akan melahirkan kejahatan yang sangat berbahaya sehingga berdampak buruk terhadap umat.

Ajakan Allah untuk bertobat yang disertai dengan beramal soleh memiliki nuansa kehidupan yang lebih moralis, bersaudara dan sejahtera. Sikap toleransi pun tetap terjaga sehingga melahirkan keberkahan bagi seluruh umat.

Allah Yang Maha Bijaksana akan menerima taubat hamba-hamba-Nya dari segala perbuatan dosa. Allah Yang Maha Mulia pun akan menyiapkan jalan-jalan yang terbaik-Nya, sebagaimana jalan-jalan orang-orang sebelumnya (para Nabi dan kaum soleh), untuk menemui-Nya.

Betapa bijaksananya Dia (Allah) dalam memandang kaum mukmin. Allah Swt sebagai Tuhan Yang Maha Pencipta tidak akan memperlakukan hamba-hamba-Nya melampaui batas kemampuannya. Allah Maha Mengetahui atas kelemahan umat manusia. Karena itu, Allah Yang Maha Mulia tidak langsung menghukumi hamba-hamba-Nya yang telah berbuat dosa, melainkan dengan mendatangkan peringatan dan teguran sebagai bahan pelajaran yang dapat dijadikan perenungan.

Adakah sesudahnya umat manusia menyadarinya? Kesibukan umat manusia mencari rezeki seolah telah melalaikannya dari menyadari akan perbuatannya. Peringatan demi peringatan tidak juga jera menghadapinya. Saat ditimpa kemalangan, mereka sadar akan keburukan amal yang telah dilaluinya. Akan tetapi, setelah Allah menjauhkan kemalangan itu dari dirinya, mereka pun kembali pada kebiasaan buruknya.

Adakah keyakinan bahwa Allah akan mengazab dengan siksa yang pedih di Hari Kemudian? Sebagian besar kaum mukmin meyakininya, akan tetapi karena terlampau mencintai dunia, maka akhirat terabaikan. Pikirannya disibukkan dengan perjuangan mendapatkan kenikmatan duniawi. Sedangkan kebahagiaan akhirat tidak diberi perhatian, kecuali sedikit sebatas mengerjakan apa yang menjadi kewajiban semata-mata.

Malas untuk mendekatkan diri kepada Allah menjadi penyebab utama melalaikan akan kehidupan sesudah matinya. Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang telah memberinya petunjuk agar diikuti. Akan tetapi, tidak juga petunjuk itu diikuti. Allah Yang Maha Bijaksana telah berfirman:


قلنا اهبطوا منها جميعا فإما يأتينكم مني هدى فمن تبع هداي فلا خوف عليهم ولا هم يحزنون


“Kami berfirman: "Turunlah kamu semua dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati" (Q.S. Al-Baqarah : 38).

Perkataan Allah Yang Maha Mulia tidak diindahkan, melainkan hanya merupakan sebuah bacaan yang tidak dijadikan landasan keimanan untuk segera diamalkan. Al-Qur’an bukan semata-mata kitab bacaan, melainkan berisi penuh dengan petunjuk bagi orang-orang beriman agar menjadi bertakwa.

Sudah sepatutnya, kaum mukmin bersyukur; berterima kasih hanya kepada-Nya (syukron lillah) atas segala rahmat dan kenikmatan yang telah dicurahkan kepada segenap kaum mukmin. Jika Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang telah menganugerahkan keimanan, sepatutnya jangan dibalas dengan kefasikan, kemunafikan dan kemusyrikan. Sambutlah petunjuk-Nya dengan ketundukan dan kepatuhan. Tidak ada pembangkangan kepada Allah kecuali orang-orang kafir.***

Silakan dibaca Artikel Terkait di bawah ini

No comments:

Post a Comment

Artikel Populer 7 Hari Terakhir