Agama, Hati, dan Ilahi

Kajian Tasawuf Atas Ayat-ayat Allah

Wali Allah di Era Revolusi Industri

Wali Allah di Era Revolusi Industri

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati” “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (QS. Yunus:62-63).

Wali Allah Tidak Ada Kekhawatiran dan Bersedih Hati

Allah telah berfirman akan keberadaan seorang wali-Nya di muka bumi dari orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa. Dia (Allah) menetapkan sebuah kriteria untuk wali-Nya adalah tidak ada kekhawatiran dan tidak bersedih hati.

Seseorang disebut sebagai wali Allah apabila dia sudah bertakwa dan terus bertakwa (sebenar-benar bertakwa) serta di dalam hidupnya tidak pernah merasa khawatir atas apa pun menyangkut keberadaan dirinya terkait pemenuhan kebutuhan hidupnya. Baginya, cukuplah hanya Allah yang memenuhinya. Allah menjadi sandarannya.

Allah menjamin dirinya atas semua keperluannya. Ini tidak berarti bahwa dia tidak mencari nafkah. Ia bekerja untuk memenuhi kewajibannya sebagai seorang suami, ayah atau anak dari orang tuanya.

Anda pasti membenarkan apabila wali Allah itu sebagaimana Anda sebagai manusia. Ia berada di tengah-tengah umat Rasulullah saw. Sebagai manusia biasa (wujud fisiknya), maka dia juga merasakan lapar bila tidak makan. Semua kebutuhan dasar manusia juga dimilikinya.

Berteman, berkeluarga, beraktivitas, berinteraksi dengan anggota masyarakat, sesekali berkelakar secara patut, sumringah (perasaan senang yang bahagia), makan, minum, berusaha, membantu orang yang membutuhkan pertolongan, memenuhi hak dan kewajiban dalam keluarga, dan berbagai bentuk kebutuhan manusia yang lainnya.

Hanya saja, yang membedakan dengan manusia lainnya adalah dia tidak pernah berkeluh kesah; berserah diri kepada apa pun yang menjadi kehendak Allah. Semua keinginannya hanya sepatutnya dalam koridor sebagai manusia yang membutuhkan untuk dapat hidup bagi dirinya dan anggota keluarga. Apa pun yang sudah ditetapkan oleh Allah adalah yang terbaik.

Anda memiliki anak keturunan, maka Anda berupaya agar dapat mendidik anak-anaknya menjadi anak yang saleh. Pendidikan anak juga menjadi sangat diperhatikan. Dunia di saat ini, era revolusi industri, sudah sangat jauh berbeda dengan dunia di waktu-waktu terdahulu. Baginya, perkembangan teknologi juga tidak dapat diabaikan begitu saja.

Anda pasti juga merasakan bahwa saat ini sudah tidak dapat terhindar bagi siapa pun atas peradaban umat manusia. Rasa dan keinginan sebagai manusia sangat dipertimbangkan dalam batas-batas tidak melampaui kehendak Allah. Inilah citra dirinya sebagai seorang wali Allah yang disebut tidak merasakan adanya kekhawatiran.

Istilah tidak merasa khawatir juga dapat dimaknai sebagai tiadanya rasa was-was. Sementara kebanyakan manusia sangat merasakan kebingungan ketika tidak memiliki uang, dia tidak ada rasa bimbang dan pusing untuk memikirkannya. Was-was adalah suatu penyakit jiwa yang dialami oleh orang-orang yang sangat tipis imannya.

Was-was merupakan bisikan setan yang dihembuskan di dalam dada manusia. Bimbang, ragu dan tidak percaya diri adalah akibat dari lemahnya keyakinan bahwa Allah SWT sesungguhnya sudah menyiapkan segala keperluan manusia. Anda minta atau tidak Anda minta, Allah Maha Pengasih dan Penyayang. Allah pasti sudah menyiapkan untuk Anda.

Demikian kuat keyakinannya atas kasih sayang Allah bagi dirinya. Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Bijaksana telah menanamkan ketenangan di dalam hatinya. Maka, bertambahlah keyakinannya. Jadi, tidak adanya was-was berarti imanya kuat.

Allah-lah yang menambah kekuatan imannya menjadikan dia bertakwa; semakin takut untuk mengabaikan perintah-Nya dan takut apabila melakukan apa yang dilarang-Nya. Ia benar-benar hanya menyandarkan kepada-Nya.

“Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar “ (QS. Yunus:64).

Ayat ini menegaskan keberadaan mereka atas sikap dan ketabahannya dalam menjalani kehidupan di dunia. Maka, mereka tidak ada kekhawatiran akan janji Allah. Beliau, sebagai salah satu dari mereka, dengan menyandarkan kepada firman Allah SWT merasakan kegembiraan yang sesungguhnya dalam kehidupan di dunia karena ternyata janji Allah itu benar ada-Nya.

Wali Allah benar-benar telah berjumpa dengan-Nya dan memperoleh kabar gembira sebagaimana firman-Nya yang sudah disampaikan jauh sebelum dia lahir di alam dunia. Sungguh bahwa berita gembira itu menjadikan dia semakin yakin, bahwa kegembiraannya juga akan mengantarkannya adanya kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Masya Allah, apabila Allah berkehendak pasti terjadi.

Anda pasti kagum bila menemui orang seperti itu. Sulit rasanya ditemukan orang yang tidak ada kekhawatiran di dalam dirinya saat perubahan zaman yang mengakibatkan banyak muslim tertipu oleh keindahan dunia yang fatamorgana. Bahkan, dia tidak saja tiadanya kekhawatiran, juga dia tidak bersedih hati.

Allah SWT berfirman:


“Janganlah kamu sedih oleh perkataan mereka. Sesungguhnya kekuasaan itu seluruhnya adalah kepunyaan Allah. Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. Yunus: 65). 

Apa yang dapat kita pahami dari firman Allah ini? Anda boleh jadi sulit memaknainya. Andaikan saya boleh memaknainya, saya berharap dan memohon pertolongan Allah, ayat ini bermakna sebagai berikut:

“Kesedihan yang ditimbulkan akibat perkataan orang-orang yang masih ada keraguan di dalam jiwanya akan kebenaran firman Allah, bukanlah sesuatu yang semestinya diperhatikan. Apa pun perkataan mereka tentang kebenaran Allah, jika masih diragukan, maka Allah meminta kepada wali-Nya untuk tidak perlu bersedih hati. Allah Azza wa Jalla cukup baginya menjadi sumber kebenaran yang terpatri di dalam jiwanya. Bagi wali-Nya, perjumpaan dengan Allah dalam kemahabesaran-Nya menyebabkan tiadanya keraguan atas apa pun yang difirmankan-Nya. Perkataan-perkataan mereka sama sekali tidak mengubah apa yang sudah menjadi ketetapan Allah. Petunjuk-petunjuk Allah yang dia terima sebagai jalan yang lurus menjadikan dia berada dalam kebenaran Allah. Anda, apabila termasuk salah seorang dari mereka yang meragukan kebenaran Allah, bagi dia tak menjadi masalah. Ia tidak bersedih hati.”

Allah, sekali lagi, bagi wali-Nya adalah satu-satunya sandaran dalam segala hal. Allah adalah Tuhan Yang Maha Kuasa, maka mustahil Allah tak memiliki kemampuan untuk memenuhi semua kebutuhannya apabila dia membutuhkan.

Akan tetapi, seorang wali Allah bukanlah tipikal orang yang melampaui batas. Baginya nilai-nilai zuhud melandasi kehidupan di dunia. Anda semakin sulit untuk menerima kenyataan akan hidup sederhana. Pemahamannya adalah bahwa ketika Anda berlimpah harta kekayaan yang diberikan oleh Allah, tetapi Anda tidak bergantung dari kekayaan itu.

Kekayaan yang Anda miliki bukanlah yang menyebabkan Anda bahagia, selain hanya untuk kebutuhan yang sangat diperlukan dalam rangka berjihad kepada-Nya. Anda zuhud sekiranya Anda keluarkan harta Anda untuk membantu para penempuh di jalan Allah (jihad fi sabilillah – berjuang melawan kebatilan yang dihembuskan iblis di dalam jiwa).

Sebagian dari harta kekayaan yang Anda miliki disalurkan untuk kebutuhan menjemput ridha dari Allah. Anda tetap kaya. Allah akan menggantikan harta yang sudah Anda keluarkan sepuluh kali lipat. Anda tidak merasa ragu dan rugi. Inilah yang dimaksud Anda berzuhud sekali pun Anda kaya.

Anda tetap tawadhu tidak pamer kekayaan, walau pun Anda memang kaya secara materi. Orang yang berzuhud hatinyalah yang kaya. Sekali pun tidak memiliki kekayaan, wali Allah tidak pernah bersedih hati.

Ajakan untuk hidup sederhana bukan berarti Anda harus meninggalkan segala kebendaan duniawi yang dibutuhkan. Ada bagian yang disediakan oleh Allah untuk manusia di dunia. Wali Allah adalah manusia yang juga berhak mengambil bagian tersebut secara baik-baik.

Akan tetapi, Allah meminta kepada wali-Nya agar berbuat yang dapat mengantarkan kepada kebahagian akhirat sebagai anugerah yang sudah dipersiapkan untuknya. Allah menegaskan hal demikian dalam firman-Nya:


“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan” (QS. Al-Qashash: 77).

Allah Azza wa Jalla secara terus menerus membimbing wali-Nya. Allah SWT senantiasa mengabarkan berita-berita kepada-Nya agar disampaikan kepada orang-orang yang beriman. Ia adalah wasilah bagi Allah dalam menyampaikan segala hal yang dapat menuntun manusia untuk mengikuti perintah dan larangan-Nya.

Pemahamannya bukan berarti seorang wali adalah nabi. Akan tetapi, wali Allah adalah pelanjut Rasulullah saw yang terpilih sebagai bagian dari risalah yang tidak terputus sampai datangnya yaumil akhir. Ia merupakan penerima amanat dari Allah sebagai wakil-Nya melanjutkan risalah yang diemban oleh Rasulullah yang mulia saw.

Untuk itu, tidak ada seorang pun yang mengetahui siapakah wali Allah sekiranya tidak diizinkan oleh Allah. Wali dipilih oleh Allah. Ia tidak menerima Surat Keputusan dari manusia di bumi. Anda mustahil tahu bila belum diberitahu oleh Allah. Anda hanya menduga-duga berdasarkan kemungkinan-kemungkinan yang ada.

Wali Allah tidak seperti manusia kebanyakan. Anda tidak akan dapat menemukan bila Allah tidak memberi Anda petunjuk. Anda sudah saatnya memohon petunjuk kepada Allah bila ingin mengetahui wali-Nya. Petunjuk sangat dibutuhkan agar tidak menjadi fitnah.

Keberadaan seorang wali di era revolusi industri sangat dibutuhkan karena kebanyakan manusia sudah melupakan apa yang seharusnya dipenuhi sebagai makhluk ciptaan Allah. Anda seorang muslim apabila masih memprioritaskan urusan dunia tanpa menyiapkan apa yang seharusnya Anda perbuat untuk akhirat, tak lebih Anda baru sebatas makhluk Allah yang tidak beda dengan yang selalu mengandalkan instink. Hati Anda bila sama sekali tidak diberdayakan dengan mengingat Allah akan selalu dalam keadaan terlena oleh racun yang menghembus ke wilayah tampak dari jasad anda. Naudzu billahi min dzalik.

Anda sudah tidak dapat menjauh dari petunjuk Allah. Anda, sebagaimana kebanyakan manusia lainnya, sangat membanggakan dengan otak anda. Padahal, otak Anda, mohon maaf tidak sejenius Einstein. Anda hanya terlalu bangga.

Sebagai muslim, Anda salah memaknai karunia berpikir. Allah mengajak Anda untuk berpikir dengan menggunakan pola hati. Bukan berpikir dengan pola pikir lahiriah semata tanpa melibatkan hati. Latihlah akal Anda untuk mendengar apa kata hati.

Agar lebih jernih pikiran Anda, maka jernihkan pula hati Anda dengan menyeru nama-Nya. Anda solat untuk mengingat Allah. Akan tetapi, mengingat Allah tidak sepatutnya hanya saat Anda solat. Belum lagi solat Anda tidak mengingat Allah, selain mengingat yang lain.

Mengingat Allah selain saat Anda solat, juga ketika Anda duduk, berdiri dan berbaring. Pasti Allah pun akan mengingat Anda. Dengan mengingat Allah, hati Anda menjadi tenang. Allah akan menambah ketenangan di dalam hati Anda. Dan, tentu saja, keimanan Anda akan meningkat. Mustahil, keimanan Anda meningkat bila hati Anda tidak tenang.

Pilar utama bagi seorang wali adalah takwa kepada Allah azza wa jalla. Maka, baginya takwa akan mengarahkan kepada jalan Allah berada di dalam kekuasan-Nya. Artinya, bahwa seorang wali Allah tidak dapat keluar dari jalan Allah Yang Maha Kuasa. Allah-lah yang memandu wali-Nya sebagaimana yang dikehendaki-Nya. Anda juga seharusnya demikian. Seorang wali Allah sudah berada di dalam naungan Allah SWT. Oleh karena itu, dia tidak merasa khawatir dan bersedih hati.

Keadaan jiwa manusia tidak lepas dari adanya rasa khawatir dan rasa kesedihan. Anda juga memiliki hal yang sama bila dihadapkan dengan situasi yang mengakibatkan rasa khawatir dan sedih. Tetapi, kondisi jiwa seorang wali Allah telah terbebas dari rasa yang sulit dilepas oleh manusia biasa tersebut. Mengapa?

Sesungguhnya dia adalah manusia pilihan yang sudah mencapai maqam yang disucikan hatinya dari kekotoran jiwa karena pengaruh setan laknutallah ‘alaih. Andaikan Anda telah disucikan hatinya oleh Allah azza wa jalla, maka Anda pun boleh jadi dipilih oleh Allah Yang Maha Suci sebagai wali-Nya.

Anda sudah siap dipilih oleh Allah SWT menjadi wali di muka bumi? Anda sudah bertakwa sebenar-benar bertakwa? Allah SWT telah berfirman, dan firman-Nya pasti benar. Sudahkah Anda meyakininya dan mematuhi ketentuan-ketentuan-Nya? Bergegaslah menuju kepada-Nya. Sekali pun Anda tidak terpilih, maka maqam makrifatullah sudah luar biasa. Allah Azza wa Jalla ridha mendudukkan Anda mulia di sisi-Nya.

Pahala Amal Soleh

Pahala Amal Soleh

Al-Qur’an yang mulia telah menegaskan pahala amal soleh yang dilakukan oleh seseorang dalam kehidupan di dunia. Kesungguhan seseorang dalam berbuat bajik tidak akan berdampak negatif bagi dirinya dan orang lain. Maka, sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, beramal soleh menuai kemuliaan.

Alasan yang paling mendasar untuk perolehan pahala amal soleh dengan kemuliaan adalah pertama, ajakan untuk berbuat bajik termasuk sunatullah bagi segenap umat manusia. Amal soleh berbuah akhlak mulia untuk setiap orang yang menjalankannya.

Kemuliaan sangat terkait dengan upaya-upaya yang dilakukan seseorang dalam beraktivitas di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Apabila perbuatan-perbuatan seseorang tidak mencerminkan adanya nilai-nilai kebajikan saat berada di tengah-tengah kehidupan umat manusia, maka kebobrokan akan mengganti kebajikan.

Dengan demikian, beramal soleh dapat mempengaruhi suasana kepribadian seseorang dalam kedudukannya sebagai seseorang yang sudah ditetapkan oleh Allah menjadi calon kholifah di muka bumi. Adakah seseorang yang sudah dipersiapkan sebagai calon kholifah dapat menjadi mulia bila setiap perbuatannya dihiasi dengan kebejatan moral?

Kedua, amal soleh adalah amal yang mendasarkan kepada apa yang diperintah dan dilarang oleh Allah. Perbuatan yang mengacu kepada perintah Allah akan berbuah pahala kebajikan jika tidak tercampur dengan apa yang dilarang-Nya. Apabila solat, misalnya, tidak menjadikan pelaku solat dapat menghindar dari perbuatan keji dan mungkar, maka solatnya belum disebut soleh atau berbuah kebajikan bagi dirinya.

Karena itu, perbuatan yang dapat mendatangkan kebajikan adalah perbuatan yang dapat menjadikan mulia bagi orang yang menjalankannya. Kemuliaannya disebabkan karena dia tidak berbuat mendua dalam bersikap, bertutur kata dan bertindak. Antara apa yang dipikirkan, dikatakan dan diperbuat sama, tidak saling bertolak belakang.

Ketidakkonsistenan, di sisi lain, bukanlah termasuk perbuatan yang dapat mendatangkan kemuliaan. Asal diperbuat tanpa berupaya sejalan dengan nilai-nilai kebenaran yang dikandung dari perbuatan tersebut, tidaklah disebut bajik. Dengan kata lain, amal soleh adalah amal yang apabila dilakukan benar-benar ajeg di setiap waktu menjalankannya sejalan dengan hakikat yang dikandung dari amal bersangkutan.

Saya akan menggambarkan keajegan suatu perbuatan bajik menurut hakikatnya. Jual beli barang dan jasa, misalnya, harus disandarkan pada hukum (syari’ah) jual beli. Dalam syari’ah disebutkan pentingnya konsistensi seorang penjual terhadap barang atau jasa yang ditawarkan kepada calon pembeli. Konsistensinya adalah penjual tidak boleh menyembunyikan barang jelek dari barang bermutu. Jika barang itu adalah tidak baik atau rusak, maka penjual dilarang menggabungkannya dengan barang yang berkualitas (baik mutunya).

Jelas di situ (jual beli) bukan sebuah transaksi yang didasarkan pada nilai-nilai kebohongan. Inilah hakikat dari jual beli. Karena itu, penjual yang berbohong tidak dapat beroleh pahala kebajikan dari apa yang telah diperbuatnya.

Keajegan dalam berbuat kebajikan harus disandarkan kepada syari’ah (hukum yang melandasi praktek peribadatan) disertai dengan ada terpenuhinya hakikat dari suatu perbuatan tersebut. Jika secara syari’ah suatu perbuatan telah dijalankan tetapi apa yang diperbuatnya tidak tercermin hakikatnya (berbuah kebajikan), maka perbuatannya tidak dikategorikan dalam amal soleh.

Gerakan spiritualitas dalam jiwa kaum mukmin seharusnya mencerminkan keduanya (syari’ah dan hakikat). Jika hanya syari’ah yang menonjol, maka ruh dari syari’ah tersebut akan sulit dicapai. Saya menyebut hakikat itu ibarat ruh dari jasad seseorang. Apabila ada jasadnya (sekali pun bagus), tapi ruhnya tidak diperhatikan, maka dia (seseorang) terlampau bangga akan jasadnya.

Ruhnya tidak mati meninggalkan jasadnya; dan memang ruh itu hidup. Hanya saja, ruh yang diperlakukan tidak sebagaimana fitrahnya, dia (ruh tersebut) tidak memiliki kesempatan untuk berkedudukan mulia di sisi Tuhannya.

Amal soleh itu dapat diperbuat sekiranya keduanya (syari’ah dan hakikat) bertumpu dalam satu kesatuan menjalankan apa yang diperintah dan yang dilarang Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Mengetahui.

Adakah yang dapat menggunakan sandal jepit hanya sebelah ketika berwudhu untuk bersuci? Secara dhohir, sandal jepit dapat saja digunakan untuk alas kaki sekalipun hanya sebelah. Tetapi, betapa tidak seimbangnya kaki ketika harus melangkah sesudah berwudhu agar kakinya tetap bersih. Pasti ada adegan engklek (berjalan dengan kaki sebelah diangkat) yang dilakukan oleh orang tersebut. Sungguh sangat berat!

Seandainya tempat bewudhu itu jauh dari tempat untuk bersujud, ditambah tiadanya kekuatan kaki untuk terjaga dari jatuh, bagaimanakah kemungkinan kaki sebelah tersebut tetap bersih?

Saya hanya memberi perumpamaan saja untuk menggambarkan adanya kesulitan seseorang yang tekun beribadah tanpa adanya keseimbangan jasmani dan ruhaninya. Apa pun perumpamaannya, keseimbangan tetap harus terjaga sekiranya berharap memperoleh kesempurnaan dalam beribadah.

Adakah yang dapat mengerjakan solat secara khusyu’ sekiranya hatinya dipenuhi dengan kebencian, dendam, permusuhan, justifikasi dan berbagai ghil (penyakit hati) lainnya? Amal soleh sangat sulit dicapai sekiranya di dalam hatinya tersimpan penyakit! Karena itu, seorang ahli ibadah tidak cukup mengetahui secara syar’i dalam pelaksanaannya bila tidak dibarengi dengan hakikat peribadatan tersebut.

Pahala amal soleh patut diberikan kepada orang-orang yang tidak hanya memperhatikan syari’ah saja, melainkan hakikatnya juga. Kemuliaan seseorang tercermin dari setting amal ibadahnya yang dengan sungguh-sungguh melaksanakan ibadah secara seimbang, jasmani dan ruhaninya.

Orang yang bersungguh-sungguh mendudukkan hati dan akalnya dalam kekuasaan Allah, maka baginya akan dianugerahi kebijaksanaan Allah dapat memahami apa yang menjadi kehendak-Nya. Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Bijaksana mengilhamkan ke dalam jiwanya ketakwaan.

Mengapa Allah Yang Maha Mulia mengilhamkan ketakwaan ke dalam jiwa orang-orang seperti itu? Ketakwaan terkait dengan kesucian jiwa. Itu adalah jawabannya.

Kesucian jiwa, bukan kebersihan jasmani, adalah suatu kondisi jiwa seseorang yang terjaga dari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh Allah. Akal manusia dapat memikirkan apa yang ditangkap oleh panca inderanya, tetapi akal akan menemukan kesulitan ketika hatinya dibiarkan dari kedudukannya secara fitrah menerima kebenaran.

Hati yang dibiarkan lalai dari mengenal nilai-nilai kebenaran akan menemukan kesulitan sekiranya tidak diajak secara langsung oleh akalnya. Allah Yang Maha Pencipta menjadikan keduanya berpadu dalam keberadaan manusia di dunia. Akal yang bijaksana tidak akan mengedepankan setiap produk pemikirannya dari hatinya.

Allah Yang Maha Bijaksana mendudukkan hati, saya sering mengelompokkannya dengan jiwa atau diri atau ruh, dalam lingkup yang tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata (lahir). Kebijaksanaan Allah berbuat demikian karena hati sesungguhnya adalah aku yang sesungguhnya, bukan ‘saya’ yang hadir di wilayah tampak yang dapat dilihat.

Aku yang sesungguhnya tercipta di wilayah yang tak tampak untuk dikembalikan kepada Allah bersamaan dengan tugasnya dalam beribadah kepada-Nya. Ujung dari keberadaannya di dunia telah diserahkan kepada jasmani dengan kematiannya. Sedangkan ruh akan ditempatkan di “tempat”-nya sejalan dengan ketetapan-Nya, yaitu alam baqa.

Allah Yang Maha Pencipta mengingatkan umat manusia agar tidak melupakan jiwanya untuk hanya beribadah kepada-Nya bukan berarti mengabaikan akalnya. Justru firman Allah dilahirkan ke alam dunia agar dapat dipahami oleh akalnya, bahwa Allah bakal mengembalikan jiwanya kepada-Nya.

Orang-orang yang menggunakan akalnya pastilah memahami bahwa kehendak Allah memang begitu. Jiwalah yang akan dikembalikan dan dimintai pertanggungjawaban sesudah Allah menjelaskan melalui ayat-ayat-Nya yang telah disampaikan oleh Rasul-Nya saw. Beliau adalah utusan-Nya, yang terlahir dengan kedudukan yang mulia, telah mengemban amanat-Nya untuk disampaikan kepada umat manusia.

Allah Swt telah menjelaskan semuanya di Al-Qur’an. Kitab-Nya bukan sekedar berisi firman-firman yang tak bermakna, melainkan Allah menganugerahkan pemahaman yang mendalam kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Sinar-Nya telah memancar di setiap ayat-ayat-Nya, dan tak ada yang mengetahuinya kecuali yang telah dibuka mata hatinya.

Agung, mulia, bijaksana, luhur dan bersemangat adalah sifat-sifat terpuji. Al-Qur’an sebagai pedoman umat manusia telah mempertegas sifat-sifat semacam itu bagi orang-orang yang dicurahkan rahmat Allah ke dalam jiwanya. Itulah pahala amal soleh.

Semua Milik Allah

Semua Milik Allah

Segala puji bagi Allah yang memiliki apa yang ada di langit dan di bumi.

Allah berfirman:

Segala puji bagi Allah yang memiliki apa yang di langit dan apa yang di bumi dan bagi-Nya (pula) segala puji di akhirat. Dan Dia-lah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui” (QS. Saba: 1).

Allah SWT akan melakukan apa saja atas kepemilikan-Nya karena sesungguhnya itu hak Allah. Adakah manusia yang dapat menguasai milik Allah?

Tak seorang pun di antara manusia yang dapat menguasainya. Barang-barang yang ada pada manusia sesungguhnya hanya titipan, bukan miliknya.

Selama ini, orang menganggap apa yang dimilikinya adalah miliknya.

Padahal, dari harta mereka ada milik orang lain (pada masa nabi, mereka di antaranya adalah budak). Allah SWT memberi rezeki pada sebagian manusia melebihi dari sebagian yang lain.

Allah berfirman:


“Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebahagian yang lain dalam hal rezeki, tetapi orang-orang yang dilebihkan (rezekinya itu) tidak mau memberikan rezeki mereka kepada budak-budak yang mereka miliki, agar mereka sama (merasakan) rezeki itu. Maka mengapa mereka mengingkari nikmat Allah?” (QS. An-Nahl: 71).

Manusia yang merasa dirinya tidak ditolong oleh Allah SWT adalah orang yang lupa akan hakikatnya.

Pikirannya bahwa apa yang mereka miliki tidak diberi oleh Allah Yang Maha Kaya? Sungguh sangat naïf.

Mereka sama sekali tidak mengetahui apa pun jika Allah Yang Maha Mengetahui tidak memberinya pengetahuan.

Pasti siapa pun tidak dapat menguraikan pemahaman mengenai sesuatu tanpa ada-Nya Allah saat dia menulis. Seorang disebut ahli dalam ilmu pengetahuan, misalnya, sepertinya hasil olahan pikirannya sendiri.

Padahal, Allah-lah yang sesungguhnya memberikan dia mampu mengolah, menganalisa, dan menyimpulkan.

Manusia sebenarnya hanya melaksanakan perintah, jika dia seorang ahli, untuk menulis. Begitu juga bila dia seorang da’i, kepandaian dia menyampaikan pesan bukan lahir semata-mata dari hasil pandai berpidato.

Akan tetapi, Allah SWT telah menyiapkan jauh sebelumnya di dalam otaknya semacam alat perekam yang dengan mudah dia menghafal.

Seluruh kemampuan manusia tidak mungkin berjalan dengan sendiri tanpa bantuan Allah Yang Maha Mengetahui.

Jika ada manusia yang menganggap bahwa karena dirinyalah yang menyebabkan dia dapat berbicara, menulis, dan berbagai keahlian lainnya, maka dia termasuk orang-orang congkak kepada Allah Azza wa Jalla.


Selama ini orang merasa bangga dengan apa yang dimilikinya. Padahal, mereka lupa bahwa dirinya bisa segala hal berkat ditolong oleh Allah SWT.

Sekiranya menyadari pakaian yang dimilikinya saat ini bukan pakaian yang sesungguhnya, dia akan mengakui bahwa pakaian yang ada adalah palsu. Pakaian yang sesungguhnya berada di dalam dirinya.

Bagaimana dia mengenal pakaiannya sendiri? Tak mungkin mampu menegenalnya karena dia terlampau membanggakan pakaian lahirnya.

Dalam kondisi jiwa yang melupakan mengenai hakikatnya, manusia kebanyakan lalai terhadap yang sesungguhnya.

Sama halnya apabila Anda menjadi seorang yang menyewa rumah. Posisi Anda hanya memakai rumah itu, tetapi tidak mempunyai hak memilikinya.

Apa saja fasilitas yang ada di rumah tersebut, bukan milik Anda. Kalau saja orang beriman menyadari bahwa Allah SWT memberikan fasilitas agar dipakai untuk mengakui kebesaran-Nya, bukan semata-mata diberi tanpa tujuan.

Seolah tak mengetahui, padahal dia tidak mau peduli. Masya Allah.

Oleh karena itu, manusia sering melupakan kepada hakikat dirinya. Manusia adalah makhluk yang lemah tak berdaya apa-apa.

2 Syarat Dapat Berjumpa dengan Allah

Berjumpa dengan Allah, Musykilkah?

Sulit Anda memaklumi judul artikel di atas. Dapat berjumpa dengan Allah? Sementara ini, sangat jarang muslim yang meyakini janji Allah di dalam al-quran. 

Anda diajak, bahkan bukan sekedar tak mungkin, oleh Allah azza wa jalla agar dapat berjumpa dengan-Nya. Sudah sangat jelas, silakan simak ayat di bawah ini, bahwa Allah memberi kualifikasi bagaimana dapat memandang wajah-Nya. Anda hanya mengerjakan amal saleh dan tidak syirik atas apa pun selain hanya Allah yang patut Anda sembah (ibadah)

“Katakanlah: "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa". Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya" (QS. Al-Kahfi:110).

Syarat itu tidak banyak, hanya dua: beramal saleh dan jangan syirik. 

Bagaimanakah Amal Saleh Itu?


Secara bahasa, saleh (baik) adalah suatu perbuatan yang tidak buruk dengan tidak melampaui kemampuan yang dimiliki. Anda sedang berbuat saleh apabila perbuatan Anda didukung dengan kemampuan untuk mengerjakannya. 

Tentu saja, perbuatan Anda adalah perbuatan baik secara syar’i maupun dalam pandangan manusia. Akan tetapi, "baik" secara syar’i belum tentu "baik" dalam pandangan manusia.

Misalnya, Anda berbuat untuk mengerjakan suatu tugas menyiasati musuh Islam yang akan menyusup ke wilayah Anda dengan berpura-pura Anda menjadi seorang intel. Anda sendiri sebetulnya hanya bekerja sebagai seorang buruh tani. Karena ajakan seorang ustadz, Anda memaksakan diri untuk patuh dan taat menjalankan perintah. 

Anda dibekali secara kilat materi cara-cara melakukan pengintaian musuh. Anda menerima segala resiko bila tertangkap. Secara syar’i, Anda meyakini bahwa musuh Islam itu harus diperlakukan seimbang dengan perbuatannya. Mereka sering menghasut kaum muslim untuk beralih agama. Anda betul-betul terkesima dengan ceramah pak ustadz. 

Perbuatan Anda secara syar’i membenci mereka tidak salah. Akan tetapi, pengintaian musuh seperti yang dilakukan oleh anggota BIN (Badan Intelejen Nasional) bukan tugas Anda. Dalam kasus seperti ini, Anda tidak berbuat saleh. Tugas anggota BIN lah yang berwenang melakukannya.

Semenetara ini, banyak orang salah memaknai ajakan jihad. Padahal, jihad yang diusung oleh Nabi suci saw adalah jihad fin nafs (berjuang melawan serangan setan di dalam jiwa Anda.). Saya meyakini bahwa sabda Nabi mulia saw adalah benar. Anda diajak untuk beramal saleh berarti juga Anda diajak untuk berjihad. 

Allah Azza wa Jalla memerintahkan Anda untuk berlomba-lomba mengerjakan amal saleh. Allah SWT akan memberi Anda derajat yang patut diterima bila Anda beramal saleh. Al-Quran menyebutnya sebagai salah satu syarat ditemui oleh Allah. La ilaha illallah, masya Allah, la quwwata illa billah.

Namun demikian, Anda tak mudah berbuat saleh bila tidak ditolong oleh Allah azza wa jalla. Sekiranya beramal saleh dapat dijalankan semata-mata oleh manusia, mengapa masih banyak muslim yang tidak berbuat baik (saleh)? 

Allah azza wa jalla bukan tidak membebaskan kepada manusia untuk berbuat baik. Akan tetapi, Allah SWT sangat mengetahui bahwa setan selalu menggoda Anda. Maka, apabila Allah Azza wa Jalla tidak melindungi Anda dari godaan setan, mustahil Anda dapat mengerjakannya. 

Jika tiada keburukan, mustahil kebaikan tiada. Akan tetapi, setan memohon kepada Allah penangguhan balasan kepadanya sampai kiamat. Allah azza wa jalla memenuhi permohonan setan. Ajakan setan untuk tidak patuh kepada Allah akan secara terus dilakukan sampai kiamat tiba kepada anak cucu Adam as.

Keburukan lahir karena setan ada, maka bukan tak mungkin bila ada manusia yang berperilaku buruk karena mengikuti ajakannya. Anda solat pun, setan terus saja menggoda Anda. Anda yang tak dapat melihat iblis, karuan saja sulit mengetahui perbuatannya selain hati Anda yang menjelaskan tentang perbuatan itu baik atau buruk dan salah.

Anda sesungguhnya mengetahui tentang ayat-ayat Allah yang menjelaskan adanya ajakan keburukan dan kejahatan dari setan laknatullah ‘alaih. Tetapi, sayangnya, Anda acuh saja ketika hati Anda memberitahukan bahwa perbuatan Anda itu bertentangan dengan ajaran kebenaran dari Allah Azza wa Jalla. 

Anda mendengar suara hati, yang selalu mengajak kepada kebaikan, tetapi Anda tak mampu mengikuti ajakannya. Sebaliknya, ajakan setan menguasai diri Anda, yang dialihkan kepada kemampuan berpikir Anda. Akal sehat Anda cenderung berargumentasi secara lahir saja. 

Semua informasi yang masuk ke memori otak Anda disimpan. Suatu ketika Anda perlu, Anda membukanya untuk dijadikan rujukan. Informasi itu menjadi bahan Anda dalam menganalisis suatu pemikiran yang tertangkap oleh otak Anda. 

Anda berupaya menerjemahkan informasi Anda dengan daya pikir yang sudah Anda kuasai. Bila tidak seperti rujukan yang pernah Anda terima, maka pemikiran yang belum Anda kenal dicocokkan terlebih dahulu dengan arsip pemikiran di otak Anda. 

Kesimpulan akan disampaikan oleh Anda sekiranya sudah dipandang cukup memadai. Anda dengan mudah mengatakan (menyimpulkan), ‘Pemikiran seperti itu tak masuk di akal.’ Anda berargumentasi bahwa mustahil dapat berjumpa dengan Allah (Allah itu dapat dilihat).

Anda secara kebetulan termasuk yang tidak memperoleh informasi bahwa Allah itu dapat didekati dengan berjihad di jalan-Nya sampai Dia berkenan menemui Anda. Atau, boleh jadi, Anda tidak meyakini adanya ayat 110 surat Al-Kahfi tersebut di atas, yang sangat dengan jelas mengajak untuk menjumpai Allah. 

Atau, Anda tahu tetapi Anda memaknainya secara berbeda. Anda secara keras berupaya menafsirkan ayat tersebut hanya untuk mereka yang sudah meninggal dunia. Allah SWT, menurut penafsiran Anda, mustahil dapat ditemui apabila Anda masih hidup di alam dunia.

Penafsiran Anda adalah pemikiran Anda. Anda menafsirkan sesuai dengan rujukan Anda. Hati Anda diabaikan, otak cerdas Anda digunakan untuk berpikir sejalan dengan informasi yang Anda peroleh.

Petunjuk Datang ke Hati yang Suci


Sekiranya Anda menyadari pesan-pesan petunjuk yang datangnya dari hati Anda, sebenarnya sangat membantu Anda menemukan kesesuaian antara informasi lahiriah dengan petunjuk kebenaran. Allah azza wa jalla menghampiri Anda melalui hati yang suci. Adakah selama ini hati Anda digunakan untuk mengingat Allah? 
Hati yang suci disebabkan karena Anda senantiasa menyeru nama-Nya. Secara fitrah, hati memang sudah suci. Akan tetapi, seandainya Anda lengah, maka setan akan menguasai hati Anda. 

Dengan menyeru nama-Nya, maka Allah pun akan mengingat orang yang menyeru asma-Nya yang agung. Allah azza wa jalla akan menurunkan karunia dalam bentuk cahaya-Nya untuk menyinari kegelapan yang melingkup diri Anda. 

Anda secara ruhani akan merasakan sesuatu yang belum pernah Anda rasakan sebelumnya. Ada pesan-pesan yang mengajarkan kebaikan di dalam jiwa Anda. Ajakan kepada kebenaran begitu kuat. 

Hati Anda seperti ada seseorang yang mengajak Anda berbicara tentang kebenaran. Inilah yang dimaksud tersingkapnya tabir goib yang menutupi jiwa Anda selama ini. Subhanallah, Maha Suci Allah dari perbuatan setan yang terkutuk!

Petunjuk Di Atas Petunjuk


Maka, amal saleh tidak terlepas dari kebenaran yang bersumber dari petunjuk Allah. Petunjuk Allah di dalam al-quran dapat dipahami kandungannya dengan petunjuk Allah yang datangnya dari hati yang senantiasa berdzikir kepada-Nya. Saya menyebutnya Petunjuk di atas Petunjuk.
Allah azza wa jalla akan menunjuki Anda tentang firman-Nya apabila Anda mengikuti apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi apa yang dilarang-Nya. Singkat kata, Anda bertakwa kepada Allah azza wa jalla, maka Dia akan menunjuki Anda melalui cahaya-Nya ke dalam hati Anda yang suci yang tidak pernah melupakan-Nya.

Alasan mengapa orang bertakwa diberi karunia oleh Allah petunjuk untuk menguasai atau mendalami isi yang dikandung al-quran karena Dia dengan jelas menyatakan bahwa Allah azza wa jalla sangat memuliakan dia di sisi-Nya. 

Kemuliaan orang bertakwa adalah suatu syarat yang seharusnya diikuti oleh orang-orang beriman apabila ingin berjumpa dengan Allah. Untuk itu, orang beriman tidak dapat melewati ketundukan dan kepatuhan (takwa) kepada Allah azza wa jalla sekiranya berharap perjumpaan dengan-Nya. Maka, apabila seseorang bertakwa, dia pasti hanya beribadah kepada-Nya. Ini berarti dia tidak melakukan syirik kepada Allah.

Persoalan tentang berjumpa dengan Allah bagi orang-orang beriman yang mengerjakan amal saleh serta tidak berbuat syirik, maka Allah azza wa jalla memberi kebijaksanaan atas kekuasaan-Nya sebagai janji yang ditawarkan kepadanya. Allah azza wa jalla sangat menepati janji-Nya. Pintu keberkahan pasti dibuka oleh Allah bagi orang-orang beriman yang telah menunaikan segala bentuk perintah dan menaati-Nya tidak melakukan apa pun yang dilarang-Nya.

Persyaratan yang ditawarkan oleh Allah sesungguhnya bukan memberatkan bagi orang-orang beriman, selain mengajaknya agar tidak tercela dalam berbuat apa pun ketika mereka mengaku beriman kepada-Nya..

Allah Maha Suci atas apa pun. Oleh karena itu, mustahil bagi-Nya berada bersama makhluk-Nya yang kotor. Kesucian jiwa tidak terbantahkan bagi orang beriman apabila berkeinginan berada di sisi-Nya. 

Pijakan Anda sebagai orang-orang beriman seharusnya adalah kesucian. Maka, segala perbuatan setan tidak boleh diikuti. Setan menjadi sumber ketidaksucian karena perbuatannya selalu berada di dalam ketercelaan, keburukan dan kehinaan. 

Allah Azza wa Jalla berfirman: 

“sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya” (QS. Asy-Syamsi: 9-10).

Kedudukan orang-orang yang menyucikan jiwanya berada di 'arasy Allah sebagai jiwa yang malakuti. Allah azza wa jalla berada di mana pun bersama orang-orang yang tidak mengotori jiwanya. Allah azza wa jalla menciptakan malaikat sebagai makhluk yang mulia karena kesucian dirinya. Maka, sekiranya Allah menjadikan orang-orang bertakwa mulia berada di sisi-Nya sangat memungkinkan ruhnya yang suci akan di tempatkan berada bersama di arasy-Nya. 

Saya berpendapat demikian sama sekali bukan melebihkan dari hal yang mengada-ada. Allah Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya yang senantiasa tunduk dan patuh kepada-Nya.

Jiwa Anda akan ditempatkan dalam kedudukan mulia di sisi-Nya bermakna bahwa Allah sangat ridha kepada Anda sebagai hamba-Nya. Manusia suci seolah tiadanya sesuatu yang merintangi dirinya dengan Tuhannya, sangat terbuka (lepasnya hijab) antara dia dengan Allah Yang Maha Pencipta. 

Anda bukan lagi sekedar sebagai manusia biasa, tetapi menjadi perantara Diri-Nya kepada setiap orang yang mengharap akan pertolongan-Nya. Anda diridhai oleh Allah azza wa jalla sebagai wasilah dalam mengajak seseorang yang berharap menempuh perjalanan menuju kepada-Nya.

Dalam kedudukan anda sebagai manusia suci karena kedekatan Anda dengan Allah azza wa jalla, maka sekiranya Allah menghendaki anda dapat menjadi wali-Nya di muka bumi. Adakah yang beranggapan bahwa Rasulullah saw dari golongan malaikat? 

Sudah jelas bahwa Rasulullah saw adalah manusia seperti Anda. Kedudukan beliau sangat mulia di sisi-Nya. Beliau diutus oleh Allah untuk memberikan kabar gembira dan menyampaikan peringatan. 

Saya mengatakan demikian karena Allah azza wa jalla Maha Berkuasa atas semua kehendak-Nya yang tidak ada seorang makhluk pun dapat menghalangi-Nya. Allah azza wa jalla memilih wali-Nya dari golongan orang-orang yang sangat mulia atau bertakwa, dan mustahil dari manusia yang jiwanya sangat kotor.

Anda bukanlah sekedar sebagai manusia, melainkan seorang makhluk Allah yang harus mengikuti setiap perintah yang disampaikan-Nya, juga menghindar dari segala bentuk larangan-Nya. Adakah Allah meminta selain untuk beribadah kepada-Nya bagi manusia dan jin? Allah azza wa jalla tidak akan menciptakan jin dan manusia selain karena tujuan untuk itu (beribadah kepada-Nya). 

Anda sudah mengerti tentang apa yang menjadi tujuan penciptaan, akan tetapi Anda membiarkan begitu saja tanpa dengan sungguh-sungguh mengabdikan diri hanya untuk-Nya. Inilah kelemahan manusia ketika menyandarkan kepada apa yang tampak dilihat dan didengar dalam wilayah lahir semata. 

Ketiadaan Anda untuk menemui Allah di 'arsy-Nya melemahkan posisi Anda sebagai hamba Allah yang sangat mulia di sisi-Nya. Sudahkah Anda memiliki harapan untuk berjumpa dengan Allah saat Anda masih berada di alam dunia?
Back To Top