Agama, Hati, dan Ilahi

Kajian Tasawuf Atas Ayat-ayat Allah

2 Syarat Dapat Berjumpa dengan Allah

Berjumpa dengan Allah, Musykilkah?

Sulit Anda memaklumi judul artikel di atas. Dapat berjumpa dengan Allah? Sementara ini, sangat jarang muslim yang meyakini janji Allah di dalam al-quran. 

Anda diajak, bahkan bukan sekedar tak mungkin, oleh Allah azza wa jalla agar dapat berjumpa dengan-Nya. Sudah sangat jelas, silakan simak ayat di bawah ini, bahwa Allah memberi kualifikasi bagaimana dapat memandang wajah-Nya. Anda hanya mengerjakan amal saleh dan tidak syirik atas apa pun selain hanya Allah yang patut Anda sembah (ibadah)

“Katakanlah: "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa". Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya" (QS. Al-Kahfi:110).

Syarat itu tidak banyak, hanya dua: beramal saleh dan jangan syirik. 

Bagaimanakah Amal Saleh Itu?


Secara bahasa, saleh (baik) adalah suatu perbuatan yang tidak buruk dengan tidak melampaui kemampuan yang dimiliki. Anda sedang berbuat saleh apabila perbuatan Anda didukung dengan kemampuan untuk mengerjakannya. 

Tentu saja, perbuatan Anda adalah perbuatan baik secara syar’i maupun dalam pandangan manusia. Akan tetapi, "baik" secara syar’i belum tentu "baik" dalam pandangan manusia.

Misalnya, Anda berbuat untuk mengerjakan suatu tugas menyiasati musuh Islam yang akan menyusup ke wilayah Anda dengan berpura-pura Anda menjadi seorang intel. Anda sendiri sebetulnya hanya bekerja sebagai seorang buruh tani. Karena ajakan seorang ustadz, Anda memaksakan diri untuk patuh dan taat menjalankan perintah. 

Anda dibekali secara kilat materi cara-cara melakukan pengintaian musuh. Anda menerima segala resiko bila tertangkap. Secara syar’i, Anda meyakini bahwa musuh Islam itu harus diperlakukan seimbang dengan perbuatannya. Mereka sering menghasut kaum muslim untuk beralih agama. Anda betul-betul terkesima dengan ceramah pak ustadz. 

Perbuatan Anda secara syar’i membenci mereka tidak salah. Akan tetapi, pengintaian musuh seperti yang dilakukan oleh anggota BIN (Badan Intelejen Nasional) bukan tugas Anda. Dalam kasus seperti ini, Anda tidak berbuat saleh. Tugas anggota BIN lah yang berwenang melakukannya.

Semenetara ini, banyak orang salah memaknai ajakan jihad. Padahal, jihad yang diusung oleh Nabi suci saw adalah jihad fin nafs (berjuang melawan serangan setan di dalam jiwa Anda.). Saya meyakini bahwa sabda Nabi mulia saw adalah benar. Anda diajak untuk beramal saleh berarti juga Anda diajak untuk berjihad. 

Allah Azza wa Jalla memerintahkan Anda untuk berlomba-lomba mengerjakan amal saleh. Allah SWT akan memberi Anda derajat yang patut diterima bila Anda beramal saleh. Al-Quran menyebutnya sebagai salah satu syarat ditemui oleh Allah. La ilaha illallah, masya Allah, la quwwata illa billah.

Namun demikian, Anda tak mudah berbuat saleh bila tidak ditolong oleh Allah azza wa jalla. Sekiranya beramal saleh dapat dijalankan semata-mata oleh manusia, mengapa masih banyak muslim yang tidak berbuat baik (saleh)? 

Allah azza wa jalla bukan tidak membebaskan kepada manusia untuk berbuat baik. Akan tetapi, Allah SWT sangat mengetahui bahwa setan selalu menggoda Anda. Maka, apabila Allah Azza wa Jalla tidak melindungi Anda dari godaan setan, mustahil Anda dapat mengerjakannya. 

Jika tiada keburukan, mustahil kebaikan tiada. Akan tetapi, setan memohon kepada Allah penangguhan balasan kepadanya sampai kiamat. Allah azza wa jalla memenuhi permohonan setan. Ajakan setan untuk tidak patuh kepada Allah akan secara terus dilakukan sampai kiamat tiba kepada anak cucu Adam as.

Keburukan lahir karena setan ada, maka bukan tak mungkin bila ada manusia yang berperilaku buruk karena mengikuti ajakannya. Anda solat pun, setan terus saja menggoda Anda. Anda yang tak dapat melihat iblis, karuan saja sulit mengetahui perbuatannya selain hati Anda yang menjelaskan tentang perbuatan itu baik atau buruk dan salah.

Anda sesungguhnya mengetahui tentang ayat-ayat Allah yang menjelaskan adanya ajakan keburukan dan kejahatan dari setan laknatullah ‘alaih. Tetapi, sayangnya, Anda acuh saja ketika hati Anda memberitahukan bahwa perbuatan Anda itu bertentangan dengan ajaran kebenaran dari Allah Azza wa Jalla. 

Anda mendengar suara hati, yang selalu mengajak kepada kebaikan, tetapi Anda tak mampu mengikuti ajakannya. Sebaliknya, ajakan setan menguasai diri Anda, yang dialihkan kepada kemampuan berpikir Anda. Akal sehat Anda cenderung berargumentasi secara lahir saja. 

Semua informasi yang masuk ke memori otak Anda disimpan. Suatu ketika Anda perlu, Anda membukanya untuk dijadikan rujukan. Informasi itu menjadi bahan Anda dalam menganalisis suatu pemikiran yang tertangkap oleh otak Anda. 

Anda berupaya menerjemahkan informasi Anda dengan daya pikir yang sudah Anda kuasai. Bila tidak seperti rujukan yang pernah Anda terima, maka pemikiran yang belum Anda kenal dicocokkan terlebih dahulu dengan arsip pemikiran di otak Anda. 

Kesimpulan akan disampaikan oleh Anda sekiranya sudah dipandang cukup memadai. Anda dengan mudah mengatakan (menyimpulkan), ‘Pemikiran seperti itu tak masuk di akal.’ Anda berargumentasi bahwa mustahil dapat berjumpa dengan Allah (Allah itu dapat dilihat).

Anda secara kebetulan termasuk yang tidak memperoleh informasi bahwa Allah itu dapat didekati dengan berjihad di jalan-Nya sampai Dia berkenan menemui Anda. Atau, boleh jadi, Anda tidak meyakini adanya ayat 110 surat Al-Kahfi tersebut di atas, yang sangat dengan jelas mengajak untuk menjumpai Allah. 

Atau, Anda tahu tetapi Anda memaknainya secara berbeda. Anda secara keras berupaya menafsirkan ayat tersebut hanya untuk mereka yang sudah meninggal dunia. Allah SWT, menurut penafsiran Anda, mustahil dapat ditemui apabila Anda masih hidup di alam dunia.

Penafsiran Anda adalah pemikiran Anda. Anda menafsirkan sesuai dengan rujukan Anda. Hati Anda diabaikan, otak cerdas Anda digunakan untuk berpikir sejalan dengan informasi yang Anda peroleh.

Petunjuk Datang ke Hati yang Suci


Sekiranya Anda menyadari pesan-pesan petunjuk yang datangnya dari hati Anda, sebenarnya sangat membantu Anda menemukan kesesuaian antara informasi lahiriah dengan petunjuk kebenaran. Allah azza wa jalla menghampiri Anda melalui hati yang suci. Adakah selama ini hati Anda digunakan untuk mengingat Allah? 
Hati yang suci disebabkan karena Anda senantiasa menyeru nama-Nya. Secara fitrah, hati memang sudah suci. Akan tetapi, seandainya Anda lengah, maka setan akan menguasai hati Anda. 

Dengan menyeru nama-Nya, maka Allah pun akan mengingat orang yang menyeru asma-Nya yang agung. Allah azza wa jalla akan menurunkan karunia dalam bentuk cahaya-Nya untuk menyinari kegelapan yang melingkup diri Anda. 

Anda secara ruhani akan merasakan sesuatu yang belum pernah Anda rasakan sebelumnya. Ada pesan-pesan yang mengajarkan kebaikan di dalam jiwa Anda. Ajakan kepada kebenaran begitu kuat. 

Hati Anda seperti ada seseorang yang mengajak Anda berbicara tentang kebenaran. Inilah yang dimaksud tersingkapnya tabir goib yang menutupi jiwa Anda selama ini. Subhanallah, Maha Suci Allah dari perbuatan setan yang terkutuk!

Petunjuk Di Atas Petunjuk


Maka, amal saleh tidak terlepas dari kebenaran yang bersumber dari petunjuk Allah. Petunjuk Allah di dalam al-quran dapat dipahami kandungannya dengan petunjuk Allah yang datangnya dari hati yang senantiasa berdzikir kepada-Nya. Saya menyebutnya Petunjuk di atas Petunjuk.
Allah azza wa jalla akan menunjuki Anda tentang firman-Nya apabila Anda mengikuti apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi apa yang dilarang-Nya. Singkat kata, Anda bertakwa kepada Allah azza wa jalla, maka Dia akan menunjuki Anda melalui cahaya-Nya ke dalam hati Anda yang suci yang tidak pernah melupakan-Nya.

Alasan mengapa orang bertakwa diberi karunia oleh Allah petunjuk untuk menguasai atau mendalami isi yang dikandung al-quran karena Dia dengan jelas menyatakan bahwa Allah azza wa jalla sangat memuliakan dia di sisi-Nya. 

Kemuliaan orang bertakwa adalah suatu syarat yang seharusnya diikuti oleh orang-orang beriman apabila ingin berjumpa dengan Allah. Untuk itu, orang beriman tidak dapat melewati ketundukan dan kepatuhan (takwa) kepada Allah azza wa jalla sekiranya berharap perjumpaan dengan-Nya. Maka, apabila seseorang bertakwa, dia pasti hanya beribadah kepada-Nya. Ini berarti dia tidak melakukan syirik kepada Allah.

Persoalan tentang berjumpa dengan Allah bagi orang-orang beriman yang mengerjakan amal saleh serta tidak berbuat syirik, maka Allah azza wa jalla memberi kebijaksanaan atas kekuasaan-Nya sebagai janji yang ditawarkan kepadanya. Allah azza wa jalla sangat menepati janji-Nya. Pintu keberkahan pasti dibuka oleh Allah bagi orang-orang beriman yang telah menunaikan segala bentuk perintah dan menaati-Nya tidak melakukan apa pun yang dilarang-Nya.

Persyaratan yang ditawarkan oleh Allah sesungguhnya bukan memberatkan bagi orang-orang beriman, selain mengajaknya agar tidak tercela dalam berbuat apa pun ketika mereka mengaku beriman kepada-Nya..

Allah Maha Suci atas apa pun. Oleh karena itu, mustahil bagi-Nya berada bersama makhluk-Nya yang kotor. Kesucian jiwa tidak terbantahkan bagi orang beriman apabila berkeinginan berada di sisi-Nya. 

Pijakan Anda sebagai orang-orang beriman seharusnya adalah kesucian. Maka, segala perbuatan setan tidak boleh diikuti. Setan menjadi sumber ketidaksucian karena perbuatannya selalu berada di dalam ketercelaan, keburukan dan kehinaan. 

Allah Azza wa Jalla berfirman: 

“sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya” (QS. Asy-Syamsi: 9-10).

Kedudukan orang-orang yang menyucikan jiwanya berada di 'arasy Allah sebagai jiwa yang malakuti. Allah azza wa jalla berada di mana pun bersama orang-orang yang tidak mengotori jiwanya. Allah azza wa jalla menciptakan malaikat sebagai makhluk yang mulia karena kesucian dirinya. Maka, sekiranya Allah menjadikan orang-orang bertakwa mulia berada di sisi-Nya sangat memungkinkan ruhnya yang suci akan di tempatkan berada bersama di arasy-Nya. 

Saya berpendapat demikian sama sekali bukan melebihkan dari hal yang mengada-ada. Allah Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya yang senantiasa tunduk dan patuh kepada-Nya.

Jiwa Anda akan ditempatkan dalam kedudukan mulia di sisi-Nya bermakna bahwa Allah sangat ridha kepada Anda sebagai hamba-Nya. Manusia suci seolah tiadanya sesuatu yang merintangi dirinya dengan Tuhannya, sangat terbuka (lepasnya hijab) antara dia dengan Allah Yang Maha Pencipta. 

Anda bukan lagi sekedar sebagai manusia biasa, tetapi menjadi perantara Diri-Nya kepada setiap orang yang mengharap akan pertolongan-Nya. Anda diridhai oleh Allah azza wa jalla sebagai wasilah dalam mengajak seseorang yang berharap menempuh perjalanan menuju kepada-Nya.

Dalam kedudukan anda sebagai manusia suci karena kedekatan Anda dengan Allah azza wa jalla, maka sekiranya Allah menghendaki anda dapat menjadi wali-Nya di muka bumi. Adakah yang beranggapan bahwa Rasulullah saw dari golongan malaikat? 

Sudah jelas bahwa Rasulullah saw adalah manusia seperti Anda. Kedudukan beliau sangat mulia di sisi-Nya. Beliau diutus oleh Allah untuk memberikan kabar gembira dan menyampaikan peringatan. 

Saya mengatakan demikian karena Allah azza wa jalla Maha Berkuasa atas semua kehendak-Nya yang tidak ada seorang makhluk pun dapat menghalangi-Nya. Allah azza wa jalla memilih wali-Nya dari golongan orang-orang yang sangat mulia atau bertakwa, dan mustahil dari manusia yang jiwanya sangat kotor.

Anda bukanlah sekedar sebagai manusia, melainkan seorang makhluk Allah yang harus mengikuti setiap perintah yang disampaikan-Nya, juga menghindar dari segala bentuk larangan-Nya. Adakah Allah meminta selain untuk beribadah kepada-Nya bagi manusia dan jin? Allah azza wa jalla tidak akan menciptakan jin dan manusia selain karena tujuan untuk itu (beribadah kepada-Nya). 

Anda sudah mengerti tentang apa yang menjadi tujuan penciptaan, akan tetapi Anda membiarkan begitu saja tanpa dengan sungguh-sungguh mengabdikan diri hanya untuk-Nya. Inilah kelemahan manusia ketika menyandarkan kepada apa yang tampak dilihat dan didengar dalam wilayah lahir semata. 

Ketiadaan Anda untuk menemui Allah di 'arsy-Nya melemahkan posisi Anda sebagai hamba Allah yang sangat mulia di sisi-Nya. Sudahkah Anda memiliki harapan untuk berjumpa dengan Allah saat Anda masih berada di alam dunia?

Mengetahui Alam Gaib Saat Berada di Alam yang Tampak

Mengenal Alam Gaib

Kekeliruan orang dalam mengenal alam gaib sepatutnya dijelaskan bagaimana sesungguhnya alam gaib itu? Kita sering mendengar istilah ini, tetapi tidak mengetahuinya dengan pasti. Hidup kita saat ini berada di alam syahadah (tampak). Mungkinkah kita dapat mengetahui alam gaib dalam kedudukan kita berada di alam yang tampak?

Sebutan alam yang tidak tampak (secara kasat mata) disebut alam gaib. Akan tetapi, dalam bahasa Arab, sebutan gaib digunakan juga untuk menunjuk seseorang yang masih berada di alam dunia, sedangkan dia (orang itu) tidak dilihat oleh mata lahir kita. Misalnya si A yang saat kita berada di suatu tempat, dia berada di tempat lainnya. Maka, ketidakhadirannya bersama kita, dia disebut gaib dalam pandangan mata kita.

Saya memetakan keberadaan gaib dalam dua keberadaan, yaitu antara yang tampak dengan yang tak tampak. Mengenai kehadiran seseorang yang masih hidup dan tidak bersama kita, dalam pembicaraan ini tidak kita fokuskan. Yang kita bicarakan adalah perbedaan antara alam yang tampak dalam pandangan kasat mata dengan alam yang tidak tampak dalam penglihatan (mata lahir).

Kita telah membaca ayat Allah di dalam Al-Qur’an, bahwa Allah itu adalah Maha Gaib (Maha Mengetahui yang gaib). Keberadaan-Nya, tentu saja, tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata (lahir atau dhohir) (QS. Al-An’am : 103). Adakah Allah Yang Maha Mulia memiliki alam-Nya sendiri? Naudzu billahi min dzalik. Dia (Allah) bukanlah makhluk, maka bagi-Nya tidak berada di suatu alam.

Dia-lah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Dhohir dan Yang Bathin. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS. Al-Hadid : 3).

Masalah alam gaib masih banyak dipertanyakan keberadaannya oleh orang-orang yang tersimpan keraguan di dalam hatinya. Kualitas keimanan seseorang sangat menentukan keyakinan akan adanya alam gaib, termasuk keberadaan makhluk gaib di dalamnya.

Allah Yang Maha Mulia menegaskan bahwa iman kepada yang gaib menjadi syarat bagi ketakwaan kaum mukmin (QS. Al-Baqarah : 3). Malaikat yang mulia juga gaib keberadaannya. Jin, angin dan mikrobiologi (makhluk hidup yang sangat kecil) tidak dapat dijangkau oleh penglihatan mata dhohir (kasat mata). Kalau mereka tidak dapat dilihat oleh kasat mata, mereka juga dapat dikelompokkan sebagai makhluk gaib.

Bagaimanakah Alam Gaib Itu?


Pertanyaannya sekarang adalah apakah keberadaan mereka dalam satu alam, yaitu alam gaib? Ada istilah di dalam Al-Qur’an dengan sebutan Hari Kemudian, apakah juga gaib? Di manakah alamnya? Hari Pembalasan, apakah juga gaib? Adakah alamnya sebagaimana dikenal sebagai alam gaib?

Alam barzakh, apakah juga alam gaib, bukankah tidak dapat dijangkau oleh penglihatan (dhohir)? Adakah setiap yang tidak dapat dijangkau berada di alam gaib dengan pemahaman yang sama?

Akankah yang berada di alam gaib tidak dapat dijangkau oleh mata hati? Bukankah Allah telah memperlihatkan tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada yang memiliki mata hati? (QS. Ali Imron : 13). Agama Islam adalah agama keyakinan, adakah bahwa alam gaib itu tergantung bagaimana keyakinan para pemeluknya? Adakah mata hati itu dikelompokkan sebagai mata keyakinan?

Sulit ternyata untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan semacam itu sekiranya kita tidak memiliki petunjuk dari Allah Yang Maha Mengetahui yang gaib.

Kita sebenarnya bukanlah umat manusia yang tidak diajarkan hakikat kebenaran dari kebatilan. Nilai-nilai kebenaran (haq) sangat jauh berbeda dengan nilai-nilai keburukan. Ilmu pengetahuan, petunjuk dan wahyu merupakan unsur-unsur yang memperkuat tentang keberadaan sebuah hakikat dari yang sekedarnya.

Jika kita mengenal apa yang disebut hakikat (inti atau yang sesungguhnya) dan apa yang dikenal dengan sebutan “hanya sekedarnya,” maka kesulitan kita adalah berada pada ketidakpahaman akan keduanya. Karena itu, jika mengenal maka tak sulit untuk memahaminya.

Kehidupan di alam realitas bukanlah bagian dari kehidupan di luar realitas. Kelihatannya seperti tampak diketahui oleh penglihatan (mata dhohir), padahal tidak begitu. Fenomena ini dilalui ketika seseorang melihat makhluk gaib (jin dan sejenisnya) yang terdeteksi keberadaannya. Padahal, di dalam ketetapan Allah, mereka mustahil dapat dicapai oleh penglihatan mata (lahir). Mengapa fenomena semacam itu dapat diperlihatkan akan keberadaannya (jin dan sejenisnya)? Bukankah keberadaan mereka tidak di alam yang tampak?

Di dunia tampak, penglihatan dhohir mendominasi apa yang terjangkau oleh penglihatan mata lahir, bukan oleh penglihatan mata hati atau mata keyakinan (sebutan oleh penulis). Jika ada seseorang “dapat” menjangkau alam yang tak tampak (gaib) apakah telah menyimpang dari ketetapan Allah?

Ketetapan Allah mengenai keberadaan alam gaib hanya diperuntukan bagi penglihatan lahir, tidak dengan penglihatan mata hati. Keyakinan merupakan unsur keimanan seseorang terkait dengan kepekaan jiwa (hati). Pada orang-orang yang yakin, Allah Yang Maha Mulia menjelaskan kekuasaan-Nya (QS. Al-Baqarah : 118).

Untuk mengetahui tentang kepekaan jiwa Anda, silakan baca: Anda dan kepekaan jiwa

Allah Yang Maha Mengetahui yang gaib akan menjelaskan keberadaan para makhluk-Nya kepada kaum yang yakin. Jin, malaikat, ruh (yang di alam barzakh), surga dan neraka dan semua yang tak dijangkau oleh penglihatan lahir, dengan seizin Allah, dapat “dilihat” oleh mata hati, bukan mata lahir (dhohir).

Al-Qur’an menjelaskan banyak hal, termasuk keberadaan makhluk-Nya di alam yang tidak tampak. Para malaikat di alam malakut, jin dan iblis di alam khayali, surga dan neraka di alam akhir (juga sebelum kiamat, ada di alam barzakh).

Kita masih sering disibukan dengan pengetahuan alam gaib tanpa dilandasi dengan keyakinan akan keberadaannya. Bukan tidak boleh mengenal lingkungan setiap makhluk Allah di mana pun adanya karena hal itu dapat menambah keimanan kita akan keberadaannya. Akan tetapi, setelah mengetahui keberadaannya, kita tidak sepatutnya masih meragukannya.

Adanya mereka karena Ada-Nya (Allah). Maka, mustahil ada jika Allah tiada. Keimanan semacam ini menjadi rukun bagi kaum muslim. Jika tiada keimanan akan keberadaannya, berarti dia (muslim) tidaklah disebut beriman.

Alam gaib banyak sebutannya. Siapa pun boleh saja memberi nama yang berbeda, dengan tujuan untuk memperkuat keyakinan akan keberadaannya. Jika jin dan sejenisnya berada di alam khayali, artinya alam yang dijadikan tempat mereka berada penuh dengan fantasi atau khayal. Khayal itu tidak nyata! Kipas angin tampak terlihat, tetapi anginnya hanya dapat dirasakan sekalipun wujudnya tak terlihat. Jin, malaikat, iblis nyata ada tetapi tidak tampak dari jangkauan penglihatan mata (dhohir). Ini unsur zat mereka, bukan alam (lingkungan)-nya.

Alam jin, yang dipenuhi dengan tipu daya, maka lingkungannya khayali. Keberadaan jin di alamnya mengikuti khayalan surgawi yang penuh kenikmatan; padahal sesungguhnya lingkungan (alam)-nya sangat khayali. Seolah nyata, padahal hanya angan-angan semata.

Tampak dan tidak tampak tidak berarti sama pengertiannya dengan nyata dan tidak nyata; di alam (lingkungan) nyata ada yang tampak dan tidak tampak. Pengertian nyata adalah terwujud dalam dua kemungkinan, yaitu yang tampak dan yang tidak tampak. Allah itu nyata Ada, sekalipun tidak dapat dilihat oleh penglihatan mata dhohir (tak tampak).

Allah Yang Maha Pencipta menjadikan setiap makhluk-Nya dengan kehendak-Nya. Pemahamannya adalah Allah Azza wa Jalla menghendaki bagi setiap yang diciptakan-Nya berada di dalam genggaman tangan-Nya. Karena itu, tidak ada makhluk-Nya dapat berbuat dengan sendirinya, melainkan pilihan perbuatannya sejalan dengan kodrat atau ketentuan yang sudah ditetapkan oleh keluasan ilmu-Nya.

Ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan oleh fitrah Allah tak dapat dirubah selain hanya Allah sendiri yang dapat merubahnya. Akal manusia pasti telah ditetapkan oleh Allah mustahil dapat menjangkau ke alam gaib, tetapi melalui keyakinan kualitas imannya seorang hamba telah diperlihatkan keberadaannya (alam gaib) dengan penglihatan mata hatinya.

Keberadaan alam gaib dengan makhluk gaib mengikuti ketentuan yang tidak sama dalam penglihatan akal (mata lahir). Akal yang dengan keterbatasannya melihat makhluk gaib (khususnya jin) dapat diperantarai dengan dua kemungkinan. Pertama, kekuatan keyakinan yang telah diridoi oleh Allah mampu menangkap keberadaan mereka di dunianya dengan penglihatan mata hati. Dalam kedudukan yang demikian, penglihataan mata hati akan dialihkan ke wilayah lahir melalui sel-sel saraf penglihatan mata lahir sehingga seolah-olah penglihatan mata (lahir atau dhohir) dapat melihatnya dengan mata telanjang. Kejadian seperti ini, orang sering menyebutnya dengan istilah penampakan.

Kedua, jika tidak terbukanya mata hati seorang hamba, maka terdeteksinya makhluk gaib (khususnya jin) dapat diperantarai dengan kekuatan cahaya infra merah yang mampu menembus kegelapan dalam kapasitasnya menembus kegelapan. Cahaya infra merah adalah produk atau ciptaan Allah yang telah tersedia secara alami. Penampakan melalui sinar infra merah merupakan pelajaran bagi orang-orang berakal akan kemahabesaran Allah.

Adanya penampakan makhluk halus (khususnya jin) dilalui dengan dua kemungkinan tersebut. Hal demikian akan berlaku bagi setiap manusia, apakah dalam kedudukan sebagai seorang hamba di hadapan kemahabesaran Allah Swt atau selaku hamba yang karena kualitas keimanannya sangat dekat dengan Dia Yang Maha Mulia lagi Maha Bijaksana. Inilah tanda-tanda yang diperlihatkan oleh Allah agar dapat direnungkan atau dipikirkan sehingga tak patut lagi meragukan akan keberadaan Allah Yang Maha Gaib sebagai Tuhan Yang Maha Pencipta dalam kedudukan-Nya menjadi Tuhan seru sekalian alam.

Untuk para malaikat yang mulia dan arwah (yang berada di alam barzakh) mustahil dapat terjangkau oleh penglihatan yang sudah digambarkan sebelumnya tanpa batas. Artinya, kemungkinan dapat dicapainya tidak untuk berlaku secara umum, melainkan hanya untuk orang-orang yang Allah Swt rido memperlihatkannya. Untuk yang dimaksud terakhir ini, mereka adalah orang-orang yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya.

Allah Swt hanya rido kepada mereka atas ketulusan menjadi seorang hamba sebagaimana yang dikehendaki-Nya. Allah pun rido menunjukkan gambaran kekuasan-Nya tentang keberadaan alam gaib yang tidak semua hamba-Nya diperkenankan untuk melihatnya. Masya Allah la quwwata illa billah (Apa pun yang dikehendaki Allah pasti terjadi. Tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). ***

Akhir Kehidupan Umat Manusia

Akhir Kehidupan Umat Manusia

Puncak dari segala keinginan umat manusia di alam dunia berakhir dengan kematian. Itulah yang disebut akhir kehidupan umat manusia. Apa pun keinginannya, maka tak ada seorang pun yang dapat menghindar dari kematian.

Akhir kehidupan adalah sunatullah. Allah Yang Maha Pencipta telah berketetapan bahwa hidup di dunia bukanlah tempat akhir persinggahan umat manusia selain hanya merupakan persinggahan sementara. Kehidupan yang sesungguhnya adalah di akhirat. Sambil menanti datangnya Hari Kiamat, alam barzakh adalah tempat persinggahan antar waktu bagi arwah manusia!

Perjalanan hidup umat manusia di alam dunia telah ditetapkan ajalnya. Maka, apabila telah datang ajal menghampirinya, tak ada satu pun yang dapat mengundurkannya sesaat pun dan tidak pula mendahulukannya. Allah Swt telah berfirman:

قل لا أملك لنفسي ضرا ولا نفعا إلا ما شاء الله لكل أمة أجل إذا جاء أجلهم فلا يستأخرون ساعة ولا يستقدمون

“Katakanlah: "Aku tidak berkuasa mendatangkan kemudaratan dan tidak (pula) kemanfaatan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah." Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukan (nya)” (QS. Yunus : 49).

Ajal adalah batas waktu kehidupan umat manusia yang telah ditetapkan oleh Allah Yang Maha Berkuasa. Karena itu, tak ada seorang pun yang berkuasa menolak batas waktu tersebut. Bahkan dengan kemudaratan dan kemanfaatan pun umat manusia tidak memiliki kekuasaan untuk mendatangkannya kepada dirinya sendiri, melainkan apa yang dikehendaki Allah.

Manusia Tidak Berkuasa


Sudah sangat jelas, dari ayat di atas, umat manusia takkan mampu mendatangkan kemudaratan dan kemanfaatan apabila tidak dengan kehendak Allah Yang Maha Berkuasa. Mengapa? Allah Yang Maha Pencipta telah menghadirkan umat manusia atas kehendak-Nya bukan atas keinginan umat manusia sendiri. Karena itu, apa pun yang dikehendaki Allah pasti terjadi, sedangkan apa yang diinginkan umat manusia akan dapat terjadi apabila Allah menghendakinya.

Itulah sebabnya umat manusia tak memiliki kekuasaan untuk mendatangkan kemudaratan dan kemanfaatan selain dengan kehendak-Nya. Hanya dengan kehendak-Nya, keinginan umat manusia dapat terpenuhi. Artinya, apabila mendahulukan kehendak Allah, Dia (Allah) pasti mampu memenuhi keinginan umat manusia yang bermanfaat bagi dirinya.

Sebaliknya, jika umat manusia mendahulukan keinginannya, maka mustahil umat manusia dapat memenuhi kehendak Allah melainkan akan menghasilkan sejalan dengan kecenderungan nafsunya. Sedangkan nafsu yang tidak dirahmati oleh Allah selalu mengajak kepada kejahatan. Allah Yang Maha Mulia dengan tegas berfirman:

وما أبرئ نفسي إن النفس لأمارة بالسوء إلا ما رحم ربي إن ربي غفور رحيم

“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Yusuf : 53).

Adakah kini kaum mukmin yang mengklaim bahwa dirinya dapat mendatangkan kemanfaatan atas seluruh keinginan berbuat kebaikan sedangkan dia tidak memahami apa yang dikehendaki Allah pada dirinya? Sekiranya ada, klaim semacam itu bukanlah cermin dari dirinya yang sejati, akan tetapi refleksi hawa nafsunya.

Banyaknya keinginan yang datang dari dirinya, sekali pun sepertinya baik, tanpa dirahmati Allah (tanpa mengikuti kehendak-Nya) selalu menyuruh kepada kejahatan (kemudaratan). Jadi, bukan karena keinginan manusia untuk berbuat baik akan menjamin datangnya kemanfaatan kepada dirinya, melainkan Allah-lah yang menghendakinya. Demikian juga dengan keinginan untuk berbuat jahat, jika Allah tidak menghendaki, maka kejahatan itu tidak akan terjadi.

Sedangkan kehendak Allah, di sisi yang lain, pasti mengandung kemanfaatan (naf’an) atas diri-Nya. Maka, apabila keinginan diri (manusia) sebagai makhluk Allah tidak sejalan dengan kehendak-Nya (Allah), pasti selalu diakhiri dengan kemudaratan (dhorron). Mengapa dapat terjadi seperti itu? Karena manusia tidak berkuasa mendatangkan kemanfaatan kepada dirinya.

Dengan demikian, mengabaikan kehendak Allah dapat melahirkan kemudaratan dan mengikuti-Nya dapat memunculkan nilai-nilai keberkahan (kemanfaatan) baik bagi dirinya maupun orang lain.

Tetapi, bagaimanakah jika keinginan itu telah disesuaian dengan perintah Allah di dalam Al-Qur’an dan Hadits Nabi Saaw? Bukankah perintah Allah itu merupakan kehendak Allah? Pertanyaan seperti ini seolah-olah telah dianggap menjadi alasan yang tepat untuk membenarkan munculnya keinginan diri (nafs) manusia karena telah dianggap sejalan dengan kehendak Allah. Padahal, sesungguhnya pertanyaan semacam itu tidak benar. Berikut ini saya akan menjelaskan kekeliruan dari berpikir manusia yang telah berbuat pembenaran diri (justifikasi) dengan alasan logisnya.

Keinginan diri (nafs) jelas berbeda dengan kehendak Allah Yang Maha Mulia. Manusia yang diri (nafs)-nya belum diberi rahmat oleh Allah pasti selalu mengajak kejahatan. Ini statement (pernyataan) Allah yang pasti benar-Nya (Allah benar-benar benar atau Allah itu adalah Tuhan Yang Maha Benar dari setiap perkataan-Nya). Karena itu, berlakulah kepastian kebenaran firman-Nya.

Dengan keterangan ini, maka apabila ada seseorang memiliki keinginan untuk berbuat baik, berdakwah misalnya, sedangkan dia belum diberi rahmat oleh Allah di dalam dirinya (jiwanya atau hatinya atau ruhnya) pastilah kemudaratan hasilnya, bukan kemanfaatan.

Alasannya sudah sangat jelas, bahwa Yusuf as, yang adalah seorang Nabi Allah sekali pun, beliau mengatakan tidak dapat melepaskan kesalahan atas dirinya sendiri jika tidak karena Allah Yang Maha Mulia telah mencurahkan rahmat ke dalam dirinya. Ini adalah ayat yang mengisahkan beliau (Nabi Yusuf as.) saat digoda oleh seorang istri orang lain (Siti Zulaeha), namun karena Allah Yang Maha Suci telah menyucikan jiwanya (dirinya atau hatinya atau ruhnya), rayuan iblis melalui Zulaeha tidak ditanggapi.

Pertanyaan saya sekarang adalah adakah seorang da’i yang menyampaikan nilai-nilai kebenaran telah terbebas dari kesalahan atas dirinya jika tidak ditolong oleh Allah? Kepastian jawaban atas pertanyaan ini adalah mustahil dapat melepaskan kesalahan atas dirinya jika ceramahnya mengikuti keinginannya, tidak menyandarkan kepada kehendak Allah.

Akan tetapi, boleh jadi ada sebuah penyangkalan, bagaimana nilai-nilai kebenaran dapat tersebar jika tidak ada yang berdakwah (dari para da’i)? Klaim ini tentu boleh-boleh saja mengemuka. Namun, saya akan balik bertanya, siapakah yang menetapkan seseorang telah diperkenankan untuk berdakwah? Dewan juri dari suatu lomba dakwah? Atau klaim diri yang menganggap telah ‘mampu’ menyuarakan nilai-nilai kebenaran? Sesederhana itukah nilai-nilai kebenaran diusung ke permukaan, sedangkan yang mengusung belum mencapai derajat yang diperkenankan oleh Allah? Adakah setiap orang yang sudah beriman dan capable dalam keilmuan lahiriah (yang disandarkan dari apa yang telah dipelajari oleh otaknya) dianggap oleh dirinya atau orang lain sudah dianggap telah diperkenankan oleh Allah?

Memperhatikan Diri Mengenal Kehendak Allah


Sebetulnya itulah permasalahan besar yang muncul di abad ini. Banyak orang yang mengklaim dirinya telah dipandang ‘mampu’ berbuat atas dasar keinginannya sendiri, bukan atas kehendak Allah Yang Maha Berkuasa. Kebanyakan kaum mukmin belum mengetahui kehendak Allah yang ada pada dirinya (jiwanya atau hatinya atau ruhnya). Bagaimana kaum mukmin akan mengenal Allah sedangkan dia belum mengenal dirinya sendiri?

Pengabaian akan diri (jiwa atau hati atau ruh) menyebabkan kaum mukmin tidak mengenal kehendak Allah atas dirinya sebagai seorang hamba Allah. Perhatian kepada keinginan akalnya jauh lebih diperhatikan.

Diri atau jiwa atau hati atau ruh sesungguhnya adalah perwujudan manusia di dunia yang tak tampak. Sedangkan perwujudan di dunia tampak diwakilkan oleh jasmaninya (jasad manusia). Akal manusia ada bersama di dalam otaknya, yang adalah bagian dari organ-organ jasad atau tubuh manusia yang mendominasi keberadaan manusia di dunia tampak (lahir).

Keduanya (jasmani dan ruhani) diciptakan Allah berpadu dalam keberadaan manusia di dunia lahir. Artinya, Allah sesungguhnya telah menjadikan keduanya untuk saling bersinergi. Akal digunakan untuk berpikir (analitis dan kontemplatif), sedangkan ruh atau diri atau hati atau jiwa telah diikat perjanjian oleh Allah untuk beriman kepada-Nya. “Kami dengar dan kami taati.”

Allah Yang Maha Pencipta telah menjelaskan keduanya di dalam Al-Qur’an. Diturunkan Al-Qur’an ke dunia tampak (lahir) dimaksudkan agar dapat diketahui oleh akal manusia, khususnya kaum mukmin, mengenai perkataan-perkataan Allah (kalimat-kalimat-Nya). Apa yang telah diketahui oleh akal, selanjutnya diserahkan kepada hati untuk menjalankan apa yang telah diperintahkan Allah kepadanya.

Konsekuensi dari apa yang telah diketahuinya tidak boleh diabaikan. Jika hati atau diri atau jiwa atau ruh diperintahkan untuk menyebut atau mengingat Allah, maka akal (yang mengetahui perintah itu di dalam Al-Qur’an) tidak boleh membiarkan hati melalaikan tugasnya tersebut. Kepada kaum mukmin, Allah berfirman di dalam Al-Qur’an:

واذكر ربك في نفسك تضرعا وخيفة ودون الجهر من القول بالغدو والآصال ولا تكن من الغافلين

“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai” (QS. Al-A’raaf : 205).

Jika akal telah mengetahui perintah Allah yang disebut pada ayat di atas tidak segera mengajari hatinya untuk memenuhi ketaatan kepada Allah, maka akal telah membiarkan (melalaikan) hati atau diri atau jiwa atau ruh dari perjanjian yang telah diikat kuat oleh Allah.

واذكروا نعمة الله عليكم وميثاقه الذي واثقكم به إذ قلتم سمعنا وأطعنا واتقوا الله إن الله عليم بذات الصدور

“Dan ingatlah karunia Allah kepadamu dan perjanjian-Nya yang telah diikat-Nya dengan kamu, ketika kamu mengatakan: "Kami dengar dan kami taati". Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui isi hati (mu)” (QS. Al-Maidah : 7).

Hati atau diri atau jiwa atau ruh yang melalaikan perintah Allah untuk menyebut asma-Nya karena akal mengabaikan perintah-Nya, maka hati atau diri atau jiwa atau ruh akan dibisiki oleh kejahatan setan yang biasa bersembunyi ke dalam dada manusia dari golongan jin dan manusia (lihat QS. An-Nas : 4 – 6).

Kepada kaum mukmin yang akalnya cerdas tetapi tidak mengajari hati untuk berdzikir, iblis membuktikan kebenaran persangkaan (dugaan-dugaannya). Allah Yang Maha Mengetahui berfirman:

ولقد صدق عليهم إبليس ظنه فاتبعوه إلا فريقا من المؤمنين

“Dan sesungguhnya iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka lalu mereka mengikutinya, kecuali sebahagian orang-orang yang beriman” (QS. Saba’ : 20).

Orang-orang beriman yang dimaksud ayat di atas adalah mereka yang telah dengan sungguh-sungguh berketetapan hati mengikuti perintah dan larangan Allah sebagaimana yang dikehendaki-Nya. Karena itu, betapa pun seseorang telah mengaku beriman, apabila hanya sebatas pengakuan disertai tidak bersungguh-sungguh penuh khidmat dalam menjalankan perintah dan larangan-Nya, maka kualitas keimanannya baru sampai pada apa yang telah dipelajari secara syar’i. Belum mencapai derajat menurut hakikatnya.

Allah Azza wa Jalla menghendaki kaum mukmin menjadi orang bertakwa sebenar-benar bertakwa kepada-Nya. Tidak ada satu ayat pun di dalam Al-Qur’an Allah Yang Maha Mulia memerintahkan kaum mukmin hanya sebatas beriman, melainkan harus beramal soleh. Orang beriman harus berbuat kebajikan atau beramal soleh. Orang yang beriman lagi beramal soleh, dia adalah orang takwa.

Ciri orang beriman yang telah mencapai derajat takwa setidaknya telah dapat menjalankan solat dengan khusyu’, tidak malas ketika berdiri menghadap Allah, solatnya tidak dijalankan untuk pamer kepada orang lain (riya) dan bila berdzikir tidak sedikit. Orang takwa berbeda dengan orang munafik.

Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

إن المنافقين يخادعون الله وهو خادعهم وإذا قاموا إلى الصلاة قاموا كسالى يرآؤون الناس ولا يذكرون الله إلا قليلا

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali” (QS. An-Nisa : 142).

Apa yang dijelaskan Allah pada ayat di atas, sesungguhnya Dia (Allah) menghendaki kesempurnaan dalam beribadah kepada-Nya, bukan asal-asalan, melainkan dengan sungguh-sungguh penuh khidmat. Jika tidak mau dibalas oleh Allah sebagai orang munafik, maka seharusnya seorang muslim memperhatikan ayat ini:

يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan berserah diri (muslim)” (QS. Ali Imron : 102).

Itulah yang dikehendaki oleh Allah Yang Maha Mulia atas kaum mukmin. Kesungguhan, bukan main-main, yang dikehendaki Allah. Allah Azza wa Jalla memerintahkan kaum mukmin agar mencari jalan (wasilah) dalam mendekatkan diri kepada-Nya. Membutuhkan perjuangan tanpa merasa lelah dan putus asa dalam menjalankannya.

يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وابتغوا إليه الوسيلة وجاهدوا في سبيله لعلكم تفلحون

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan” (QS. Al-Maidah : 35).

Allah Azza wa Jalla telah menunjukkan jalan-jalan-Nya sebagai wasilah atau perantaraan untuk menuju kepada-Nya (menjadi dekat dengan Allah). Kedekatan diri tidak sama dengan kedekatan fisik jasmani. Mustahil kita dapat dekat dengan Allah secara lahiriah. Mendekatkan diri bermakna berjuang dengan perantaraan orang-orang yang telah menemukan jalan Allah dan mereka telah diberi nikmat, agar ruhani (bukan jasmani) kita tidak jauh dari Dia Yang Maha Mulia lagi Maha Bijaksana.

Adakah Allah Yang Maha Bijaksana akan membiarkan begitu saja orang-orang yang beriman tanpa diajarkan cara untuk mendekati-Nya? Allah sungguh Maha Penyayang kepada orang-orang yang telah beriman kepada-Nya disertai dengan beramal soleh!

Kaum soleh adalah mereka yang dengan sungguh-sungguh mendapati jalan Allah sebagaimana orang-orang terdahulu (salafush shalih) yang telah mendapatkannya. Siapakah salafush shalih itu? Mereka adalah para Nabi, waliullah, siddiqin pada setiap zaman (periode saat tidak ada lagi Nabi setelah Nabiuna yang mulia Muhammad Al-Musthafa Saaw)!

Adakah kaum soleh saat ini (di era informasi) yang kondisinya sangat jauh berbeda dengan zaman saat salafush shalih hidup? Kesolehan sangat terkait dengan kesungguhan dalam berjuang mendekatkan diri (jiwa atau hati atau ruh) kepada Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Bijaksana.

Nilai-nilai perjuangan yang diusung kaum soleh dilandaskan atas dasar kebutuhan untuk menjadi hamba Allah yang mencapai derajat ‘Allah rido kepada mereka.’ Ketulusan hati (jiwa atau diri atau ruh) kaum soleh mengemuka daripada kemampuan berpikirnya. Mereka lebih mengedepankan hati daripada akalnya.

Allah Azza wa Jalla telah berketetapan dengan kehendak-Nya sendiri menjunjung derajat kaum yang mencintai Allah dengan setulus hati tanpa merasa terpaksa atau terbebani karena sebuah kewajiban! Allah sangat dirindukan oleh mereka dan Allah pun rindu kepada mereka. Keduanya saling mencinta. Dengan kemahamuliaan-Nya, Allah rido menjumpai mereka. Inilah kaum yang disebut di dalam Al-Qur’an dengan penjelasan-Nya sebagai berikut:

يا أيها الذين آمنوا من يرتد منكم عن دينه فسوف يأتي الله بقوم يحبهم ويحبونه أذلة على المؤمنين أعزة على الكافرين يجاهدون في سبيل الله ولا يخافون لومة لآئم ذلك فضل الله يؤتيه من يشاء والله واسع عليم

“Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui” (QS. Al-Maidah : 54).

Itulah mereka yang di dalam hatinya terus menerus (istiqamah) mengingat Allah (dzikrullah) di waktu berdirinya, di waktu duduknya dan di waktu berbaringnya. Asma Allah senantiasa disebut-sebut dengan penuh ketulusan hati, merindu berharap Allah menjumpainya.

Ahli dzikir, begitulah sebutan mereka, tidak menghabiskan waktunya untuk berpikir sampai tahap analitis melainkan kontemplatif. Apa yang dilihat direnungkan dan takjub akan kemahabesaran Allah. Di dalam hatinya, mereka berkata: “Ya Tuhan kami sesungguhnya Engkau ciptakan semua ini tanpa sia-sia.” Mereka pun kemudian memuji Allah (bertasbih): “Maha Suci Engkau Ya Allah.” Tidak cukup hanya itu, mereka juga berdo’a memohon perlindungan kepada Allah dari siksa neraka akibat setan selalu menggodanya.

Karena ketulusan hatinya, ahli dzikir didudukkan derajatnya oleh Allah sebagai orang-orang yang berilmu (ulul ‘ilm) atau ulama! Al-Qur’an menjelaskan ahli dzikir sebagai berikut:

وما أرسلنا من قبلك إلا رجالا نوحي إليهم فاسألوا أهل الذكر إن كنتم لا تعلمون

“Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan (ahli dzikir) jika kamu tidak mengetahui” (QS. An-Nahl : 43).

Allah Azza wa Jalla sebagai Tuhan Yang Maha Berkuasa lagi Maha Penyayang tidak akan membiarkan kerinduan seorang hamba yang menyebut asma-Nya, memuji diri-Nya, takjub akan keluasan ilmu-Nya dan yang senantiasa bermohon perlindungan kepada-Nya di setiap waktu dan keadaan, melainkan menyambutnya dengan penuh keridoan.

Rido Allah Azza wa Jalla kepada seorang hamba yang seperti itu akan mencurahkan rahmat ke dalam dirinya (jiwanya atau hatinya atau ruhnya). Maka memancarlah cahaya Allah di dalam hatinya (dirinya atau jiwanya atau ruhnya). Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Bijaksana mengilhamkam ketakwaan ke dalam jiwa (diri atau hati atau ruh) hamba tadi. Hatinya (jiwanya atau dirinya atau ruhnya) dipenuhi dengan ilmu Allah dan ma’rifat.

Hati (diri atau jiwa atau ruh) seorang hamba yang telah dipenuhi ilmu dan ma’rifat akan mendengarkan suara yang ada, yang dipancarkan oleh Allah menerangkan nilai-nilai kebenaran. Begini dan begitu sehingga dia mengetahui apa yang seharusnya diucapkan (lewat mulutnya), diperbuat (oleh tangan dan kakinya). Itulah petunjuk Allah yang datang ke dalam jiwanya (hatinya atau dirinya atau ruhnya).

Umat Rasulullah Saaw yang seperti itu telah benar-benar mengetahui apa yang menjadi kehendak Allah Yang Maha Mulia. Dia (Allah) telah menganugerahkan Al-Hikmah (kemahabijaksaannya dengan pengetahuan yang mendalam) ke dalam jiwanya (dirinya atau hatinya atau ruhnya).

Allah Azza wa Jalla menurunkan wahyu kepada Rasul-Nya dengan seizin-Nya melalui perantaraan Jibril as ke dalam hati (diri atau jiwa atau ruh) beliau, maka umatnya diturunkan atau diilhamkan atau dipancarkan cahaya-Nya dengan diajarkan Al-Hikmah dari keluasan ilmu-Nya.

Renungan Menjemput Akhir Kehidupan


Gairah untuk berbuat baik merupakan fitrah Allah. Setiap orang yang telah menyatakan kesaksian bahwa tiada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya, di dalam dirinya (jiwanya atau hatinya atau ruhnya) mengakui kebenaran Allah untuk diamalkan.

Akan tetapi, betapa sulit ketika gairah itu dilakukan dalam hidup keseharian. Banyak yang menghalanginya. Kesibukan, ketidakmampuan untuk melakukannya, terlampau berat untuk dilakukan, belum ada waktu yang tepat untuk menjalankannya, tidak terjangkau dalam menjalankannya dan sebagainya. Diakhiri dengan ungkapan: “Terlampau berat bagiku untuk mengamalkannya.”

Ajakan kebaikan dari dalam hati terasa jauh untuk dilahirkan ke alam realitas. Sebaliknya, apa yang menurut akal sangat memungkinkan, maka diupayakan untuk diamalkannya. Hati diabaikan, akal diperhatikan. Dalam akalnya, mengakui yang benar ternyata berat untuk diterima ke dalam pikiran yang susah menjangkaunya. Serasa apa yang disampaikan dari dalam hati tidak akan ada yang mengetahuinya. Akal, ternyata, telah mengabaikan firman Allah, “Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui isi hati.”

Tertumpuk banyak suara hati yang diabaikan untuk diamalkan. Lama kelamaan, suara itu tak lagi terdengar, yang muncul adalah dugaan-dugaan (sangkaan-sangkaan) iblis yang menguasai jiwanya (dirinya atau hatinya atau ruhnya). Dalam kondisi jiwa (hati atau diri atau ruh) seperti itu, serombongan iblis merasuk ke seluruh sel-sel saraf otaknya. Akal yang ada bersama otak tak menyadari iblis dengan cerdik menyuarakan bisikannya, seolah benar, padahal tak ada benar melainkan hanya tipuannya. Naudzu billahi min dzalik.

Hati yang diabaikan oleh akalnya karena ketidakmampuan akal untuk menjangkaunya, bertambah terpuruk ke dalam pelukan iblis sang penggoda. Angkara murka, keangkuhan, dusta dan kecerdikannya membius hatinya. Maka, akal terpaku mengikuti apa yang dapat diolah, dianalisa dan disimpulkan, yang telah bertengger iblis mengikutinya.

Terucaplah kata-katanya yang manis, membius, mempesona, menggoda setiap yang mendengarkannya. Allah Yang Maha Mengetahui telah menciptakan iblis dari api, zat halus yang memanaskan. Karena itu, terbakar hatinya seolah apa yang telah disuarakan di dalam otaknya harus dipenuhi. Ayat-ayat Allah dan Hadits Nabi yang mulia, yang telah dipelajari oleh otaknya, keluar dari mulutnya.

Begitulah hati kaum munafik. Hati tak pernah diajak untuk memuji Allah, mengagungkan-Nya dan bertasbih untuk-Nya. Justru akallah yang diandalkanya. Kecerdasannya, kemumpuniannya, kejeniusannya, kebrilianannya, dan kecemerlangannya disusupi oleh iblis menyelinap membisikkan kejahatannya.

Mereka tidak memohon perlindungan kepada Allah dari bisikan setan yang terkutuk, selain hanya di bibirnya, tidak sampai ke dalam hatinya. Hatinya gelap. Cahaya yang dulu telah dinyalakannya telah dihilangkan oleh Allah. Dalam Al-Qur’an, Allah Yang Maha Pencipta telah memberi perumpamaan orang-orang munafik sebagai berikut:

مثلهم كمثل الذي استوقد نارا فلما أضاءت ما حوله ذهب الله بنورهم وتركهم في ظلمات لا يبصرون

“Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat” (QS. Al-Baqarah : 17).

Keimanan orang-orang munafik tidak berkualitas, melainkan hanya menipu Allah. Tidaklah menipu Allah, melainkan menipu dirinya sendiri, sedangkan mereka tidak menyadarinya.

ومن الناس من يقول آمنا بالله وباليوم الآخر وما هم بمؤمنين

“Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian", padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman” (QS. Al-Baqarah : 8).

يخادعون الله والذين آمنوا وما يخدعون إلا أنفسهم وما يشعرون

“Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar” (QS. Al-Baqarah : 9).

Adakah kini kaum mukmin mengikuti mereka? Akhir kehidupan sudah jelas adanya. Allah Maha Mengetahui isi hati setiap yang mengaku beriman kepada-Nya. Adalah tidak patut jika telah mengaku beriman, tetapi keimanannya tidak sebagaimana dikehendaki oleh Allah. Hatinya kosong dari mengingat Allah Yang Maha Mulia di setiap waktu dan keadaan.

Jihad di Jalan Allah disandarkan ke dalam hatinya dengan mengingat Allah, bertafakur dan berdo’a tak dapat diabaikan oleh orang-orang yang mengaku beriman kepada-Nya. Ber-akhlaqul karimah akan sulit dicapai bila hatinya tidak dijaga dari berdzikir, memuji Allah atas kemahabesaran-Nya dan memohon perlindungan kepada Allah dari bisikan setan yang terkutuk.

Keimanan seseorang harus dilaksanakan dengan penuh keyakinan tanpa ada keraguan sedikit pun di dalam hatinya. Sebagai contoh, seseorang yang mengimani ayat 28 surat Ar-Ra’d, yang menegaskan bahwa orang-orang beriman hatinya menjadi tenteram karena mengingat Allah, maka orang yang yakin akan kebenaran firman Allah tidak mengabaikannya.

Dalam Al-Qur’an, lihat ayat 205 surat Al-A’raaf, berdzikir menyebut asma Allah dilakukan di hati, tidak di lisan. Mengapa diperintahkan langsung ke dalam hati, tidak di lisan? Hatilah yang dapat merasakan langsung ketenteramanya jika berdzikir, maka sekiranya dilakukan di lisan, ketenteraman hati sangat lama merasakannya. Itu adalah fitrah Allah. “Tidak ada perubahan pada fitrah Allah itu, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (lihat QS. Ar-Ruum : 30).

Dengan merasakan langsung ketenteraman di hati, maka orang yang berdzikir telah dibuktikan oleh Allah akan kebenaran firman-Nya. Dengan kemahabijaksanaan-Nya, Allah secara bertahap akan membimbing para pedzikir ke “Gerbang Kekuasaan-Nya” untuk menjumpai cahaya-Nya. “…Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki” (lihat QS. An-Nuur : 35).

Akhirilah kehidupan dengan terlebih dahulu menjumpai cahaya-Nya di dalam hati. Inilah yang dimaksud dari perintah Allah pada surat Ali Imron ayat 102 di atas, “…dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan berserah diri (muslim).” Sekiranya sampai pada ketetapan-Nya ajal menemui, maka cahaya-Nya itulah yang menerangi kegelapan di alam kubur. Subhanallah.

Hati adalah ruh atau jiwa atau diri seseorang dalam perwujudan di dunia tak tampak sebagaimana amalnya. Jika hatinya kosong tanpa cahaya-Nya, maka saat ajal menjemputnya, dia akan merasakan kegelapan dan berwujud dalam ketidaksempurnaan. Bukan sebagaimana dia (manusia) saat masih hidup di alam dunia. Malaikat penjaga kubur pun sangat geram dan marah menyaksikan kehadirannya! Naudzu billahi min dzalik.

Sedangkan Cahaya Allah akan menerangi perwujudan dirinya sebagaimana dia (manusia) sewaktu hidup di alam dunia. Senyum berseri para malaikat dan ruh-ruh suci menyambut kedatangannya.

Dalam Al-Qur’an surat Al-Fajr ayat 27-30, di akhir kehidupannya, ahli dzikir yang hatinya (jiwanya atau dirinya atau ruhnya) telah mencapai ketenteraman, Allah Yang Maha Mulia mengundangnya dengan firman-Nya:

يا أيتها النفس المطمئنة

“Hai jiwa yang tenang”

ارجعي إلى ربك راضية مرضية

“Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai-Nya”

فادخلي في عبادي

Maka masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku”

وادخلي جنتي

“dan masuklah ke dalam surga-Ku”


Itulah yang dikehendaki oleh Allah Azza wa Jalla, tidak sebagaimana yang diinginkan manusia. “Cukuplah Allah bagiku. Dia sebaik-baik pengurus, sebaik-baik penolong dan sebaik-baik pemberi pertolongan.”***

Suara Hati (Ruh atau Jiwa atau Diri)

Suara Hati (Jiwa atau Ruh atau Diri)

Apakah suara hati (ruh atau jiwa atau diri) itu? Bagaimanakah seseorang memahami suara hatinya (ruhnya atau jiwanya atau dirinya) sendiri?

Silakan Anda simak uraiannya di bawah ini melalui kajian atas ayat Allah berikut:


"Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai" (Al-A'raaf:205)

Anda dapat menyimak perintah Allah pada ayat di atas. Bagaimana menurut Anda? Saya menangkapnya adalah ayat tersebut mengandung perintah Allah untuk menyeru asma-Nya di dalam hati dengan aturan:
1) Merendahkan diri;
2) Ada rasa takut saat menyeru asma-Nya;
3) Tidak mengeraskan suara.
Dilakukan pada waktu pagi dan petang. Ditambah, selain ketiga aturan tersebut, adalah tidak boleh lalai.

Adakah yang dapat memaknai apa maksud Allah dengan perintah tersebut? Dengan pertolongan Allah, saya insya Allah memaknainya sebagai berikut:

Perintah Allah adalah suatu kewajiban yang harus diamalkan oleh kaum mukmin atas firman-Nya. Jika, dari ayat tersebut, perintah Allah Swt berupa ajakan untuk menyeru asma-Nya (asmaul husna), maka kewajiban yang harus dipatuhi adalah melaksanakan seruan (dzikir) kepada-Nya tanpa membantah.

Kemudian, seruan tersebut seharusnya dilakukan di dalam hati, bukan di lisan (fisik). Dzikir ini disebut dzikir fi nafs atau dzikir khofi. Pertanyaannya adalah mengapa Allah menyuruh untuk dzikir di dalam hati? Saya, alhamdulillah, mengetahui bahwa hati itu sesungguhnya adalah diri (nafs) kita, bukan siapa-siapa. Karena itu, apabila Allah meminta diri (hati) kita untuk menyeru asma-Nya, maka yang diwajibkan itu bukan selain diri kita yang bersifat peralihan (sementara), yaitu jasad kita. Lho? Anda pasti masih bingung: mengapa jasad itu bersifat sementara (peralihan) dari diri kita yang sesungguhnya?

Anda sesungguhnya sudah memahami bahwa yang ada di dunia ini hanya bersifat sementara, yang sebenarnya (hakiki) adalah yang berada di alam keabadian. Allah telah menciptakan manusia berada di dua dunia, yaitu dunia yang tampak (fisik atau jasadi) dan dunia yang tidak tampak (ruhani atau hati). Dunia yang tampak berbentuk kasar (wadag), sementara dunia yang tak tampak berwujud sangat halus (sebenarnya ruh itu sangat halus, karena itu, berbeda dengan makhluk halus -- jin muslim dan jin kafir atau iblis laknatullah 'alaih).

Anda bukan tidak mengenal apa yang saya maksudkan tersebut. Jasad, termasuk di dalamnya adalah otak, berwujud ada secara lahir karena Allah Swt telah berketetapan menjadikan ruh sebagai Anda, yang nanti akan dimintai pertanggungjawaban atas seluruh amal jasad Anda sewaktu hidup di dunia yang tampak. Untuk itu, jasad ketika ajal menjemput akan menjadi rusak dan tidak dialihkan ke alam keabdian. Ruhlah yang dipindahkan.

Sesudah Anda berada di alam barzakh (alam kubur), Allah Swt akan meminta malaikat-Nya yang ditugasi untuk menanyakan segala hal yang telah diperbuat (oleh jasad Anda) sewaktu di dunia. Allah akan memberikan balasan sepadan dengan amal perbuatan (jasad Anda). Penting untuk dicatat, bahwa persoalan ruh itu urusan Allah, bukan urusan manusia. Bagaimana Anda di alam barzakh, semuanya sudah ada 'aturan mainnya' yang hanya Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana Yang Maha Mengurusnya.

Jadi, jasad itu bersifat sementara. Artinya, setelah habis jatah hidup di dunia, dia tak digunakan lagi. Maka, jasad sebetulnya hanyalah 'pengganti antar waktu', bukan sebagai yang sesungguhnya.

Allah mengajarkan agar menyeru asma-Nya di dalam hati (diri) agar Anda sudah terbiasa mengingat Allah apabila saat ajal tiba untuk menemui-Nya di hadirat-Nya. Anda akan sulit bila tidak terbiasa berdzikir di dalam hati. Bila Anda asyik menyibukkan apa yang dilakukan oleh jasad, sedangkan hati Anda lalaikan, maka jiwa (diri atau hati atau ruh) akan dikuasai oleh iblis dan pasukannya. Naudzu billahi min dzalik.

Allah sesungguhnya Maha Penyayang kepada kaum mukmin. Sebagai Tuhan Yang Maha Pencipta, maka Dia berkedudukan sebagai Penguasa Tunggal yang seluruh peraturan diberlakukan sebagaimana yang dikehendaki-Nya. Pernyataan atau firman-Nya untuk diketahui dan diamalkan. Bagi siapa pun yang beriman lagi menjalankan apa yang diperintahkan-Nya, Allah pasti memberi pahala yang sepadan, bahkan dilipatgandakan. Persoalan ganjaran untuk kebaikan, Allah dapat memberi lebih dari yang ditunaikan oleh orang-orang yang beriman, sementara balasan atas kejahatan, Allah membalasnya sepadan.

Peringatan Allah untuk berdzikir dengan asma-Nya agar diseru di dalam hati (ruh atau jiwa atau diri) dengan cara-cara yang sepatutnya dilakukan oleh seorang pedzikir, yaitu rendah di hadapan Allah dengan ada rasa takut sehingga patut bila berdzikir di dalam hati (ruh atau jiwa atau diri) dilakukan dengan penuh kelembutan (tidak keras).

Allah itu adalah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Besar, maka Dia adalah Tuhan Yang Perbuatan-Nya harus diikuti oleh seluruh makhluk-Nya. Maka, seorang hamba yang ta'at akan memperlakukan dirinya (hatinya atau ruhnya atau jiwanya) di hadapan Allah Yang Maha Bijaksana sepatutnya merendah. Artinya, seorang hamba tidak patut membanggakan dirinya (hatinya atau ruhnya atau jiwanya) di hadapan Allah Yang Maha Besar. Rendah bermakna kecil, tak memiliki kekuasaan, dan hanya dapat menggantungkan segala sesuatu kepada-Nya. Dengan cara seperti itu, yang patut dilakukan saat merendah di hadapan kemahabesaran-Nya pasti dapat merasakan takut. Takut tak berarti menyeramkan ketika berhadapan dengan-Nya, selain seorang hamba tak patut bila tidak menunjukkan kelemahan dirinya (hatinya atau ruhnya atau jiwanya), ketakkuasaan dirinya (hatinya atau ruhnya atau jiwanya) dan kehinaan dirinya (hatinya atau ruhnya atau jiwanya). Dengan cara seperti itu pula, maka dia akan menyeru asma-Nya dengan sepenuh (jiwa atau hati, yang dia adalah ruh atau diri, yaitu aku yang lemah dan tak berdaya) melembutkan suaranya di dalam hati (diri atau jiwa atau ruh). Lembut artinya tiadanya kesulitan untuk memujinya dengan penuh kerinduan akan Dia Yang Maha Suci dalam kekuasaan-Nya.

Allah Swt mengajarkan agar terus (istiqamah) berdzikir kepada-Nya di dalam hati (ruh atau jiwa atau diri), di waktu senggang, apakah saat pagi, (siang), dan petang (dan malam) hari. Dengan cara seperti itu, maka Allah pun akan mengingatnya. Hati Anda pun tak lalai akan Dia Yang Maha Pencipta. Setan pasti takut, lari tunggang langgang dari diri (hati atau jiwa atau ruh) Anda. Tenteram, tenang, bahagia, senang, bersemangat hidup, senantiasa optimis, tidak lesu dan loyo, bersikap positif (tidak mudah putus asa), tidak congkak, tidak hasad, tidak 'ujub, tidak riya dan tawadhu.

Anda yang sesungguhnya (ruh atau jiwa atau diri atau hati) menjadi stabil (kuat) keimanannya. Anda (hati atau ruh atau diri atau jiwa) pun dapat bersuara dengan sangat jelas, memberitakan segala hal yang diperoleh dari Dia Yang Maha Luas Ilmu-Nya. Subhanallah wal hamdu lillah wa la ilaha illallah wallahu Akbar. Allah berkenan menjadikan hati (Anda) suci, bersih dari kekotoran (penyakit hati). Suara Hati (Anda) pun nyaring, berwibawa, berwawasan meluas, mendalam pembicaraannya (lisan dan tulisan), menggetarkan jiwa orang yang mendengarnya, berhati emas dan setia kepada Allah menjadi hamba-Nya sampai kapan pun di dunia dan di akhirat.

"Saya seolah telah berbicara dengan lisan (lahir) saya sendiri, tetapi ternyata aku (hatiku atau ruhku atau jiwaku atau diriku) yang sesungguhnya melisankan pesan-pesan ini. Tanganku (yang di wilayah lahir) sangat lincah memilih huruf-huruf di keyboard mendengarkan lisanku (yang tidak tampak itu) menyampaikan berita dari dalam hati atau ruh atau diri atau jiwa." Inilah suara hatiku (ruhku atau jiwaku atau diriku yang adalah aku itu) yang kulahirkan di dalam dunia yang akal sulit menjangkaunya.***
Back To Top