27.2.12

Kalimat Allah

Kalimat AllahAlhamdulillah! Ini adalah contoh kalimat Allah. Arti atau terjemahannya adalah segala puji milik Allah. Kalimat Allah adalah suatu ungkapan Allah atas kehendak-Nya sendiri untuk menjelaskan tentang segala sesuatu terkait dengan petunjuk bagi kaum yang mengimani-Nya dalam Al-Qur’anul Karim.

Setiap kalimat Allah pasti mengandung makna di dalamnya. Kalimat alhamdulilah, misalnya, ada kandungan makna di dalamnya. Al-Qur’an menjelaskan kalimat Allah dengan tujuan agar dapat diperoleh apa yang dimaksud dari perkataan-Nya tersebut. Itulah yang disebut makna kalimat, bukan terjemahan. Juga bukan tafsir.

Menafsirkan berbeda dengan memaknai. Pekerjaan memberi tafsir atas kalimat-kalimat Allah dibutuhkan suatu pemahaman atas teruraikannya suatu kalimat yang didukung dengan keahlian untuk menafsirkannya. Seorang ahli tafsir harus menguasai banyak keilmuan: Bahasa Arab, Nahwu, Shorof, Al-Qur’an, Hadits, Tarikh (sejarah atau konteks kesejarahan), Mantiq (ilmu logika berpikir) dan lain-lain.

Ketika seseorang belum mencapai keilmuan yang mendukung keahlian menafsirkan, maka kalimat Allah tidak boleh ditafsirkan dengan akalnya yang sangat terbatas. Adalah neraka tempat duduknya bagi orang yang sangat berani berbuat untuk menafsirkan tanpa didukung oleh keluasan pengetahuan yang dimilikinya. Ini sebagaimana yang pernah disinggung oleh Nabi Saaw.

Sedangkan memaknai suatu kalimat sangat boleh jadi dapat dilakukan oleh seseorang sekiranya Allah Yang Maha Bijaksana memberinya pengetahuan mendalam di dalam jiwanya (Al-Hikmah), sekalipun dia tidak pernah belajar keilmuan lahiriah persis sebagaimana disebut di atas!

Musykilkah itu? Itulah pertanyaan akal. Kecerdasan akal tak akan dapat melebihi kecerdasaan hati atau jiwa atau diri atau ruh yang telah dianugerahi karunia pengetahuan mendalam (Al-Hikmah) oleh Allah Yang Maha Luas Ilmu-Nya. Adalah Allah Azza wa Jalla Sang Maha Pemberi karunia.

Kalimat Allah bukan perkataan makhluk-Nya, melainkan setiap yang difirmankan-Nya “…sangat banyak mengandung Al-Hikmah” (lihat QS. Az-Zukhruf : 4). Firman Allah disampaikan untuk menjadi pedoman atau petunjuk bagi umat manusia, kaum mukmin dan kaum muttaqin.

Al-Qur’an tidak diajarkan kepada semua umat, melainkan hanya kepada orang-orang yang bertakwa. Umat manusia ada yang mengimani Al-Qur’an, dan itulah orang-orang yang beriman kepada kalimat-Nya: “La Ilaha illallah.” Akan tetapi, di antara mereka (orang-orang beriman), masih ada yang mendustakannya, dan itulah sebutan orang-orang yang ada keragu-keraguan di dalam hatinya. Kebanyakan mereka adalah kaum musyrik, kaum munafik dan kaum fasik.

Kepada seluruh manusia dari semua umat, Allah Yang Maha Mulia mengajak melalui Rasul-Nya Saaw untuk mengimani perkataan-Nya. Tetapi, tidak semua umat manusia mengindahkan sebagaimana yang dikehendaki Allah, melainkan mengikuti hawa nafsunya. Itulah sebabnya, Allah mengisahkan cara-cara mereka berperikehidupan di dalam kehidupan di alam dunia.

Perkataan Allah adalah pernyataan-Nya untuk diikuti bagi seluruh umat manusia tanpa terkecuali. Sayang, bahwa mereka lebih mengikuti iblis daripada Dia Yang Maha Pencipta. Iblis adalah setan dari golongan jin yang telah ingkar kepada perintah Allah. Iblis (beserta pasukannya) menjadi musuh yang nyata bagi umat manusia. Mereka (umat manusia) yang telah mengikutinya termasuk setan dari golongan manusia. Di antara mereka ada yang mengikuti hawa nafsunya dan mempertentangkan ayat -ayat Allah tanpa petunjuk.

Pertentangan orang-orang yang belum mendapati petunjuk dari Allah tentang ayat-ayat-Nya, yang adalah kalimat-kalimat-Nya, disebabkan tiadanya pengatahuan yang mendalam di dalam hatinya. Kalimat-kalimat Allah tidak sebagaimana ucapan makhluk-Nya yang tidak dapat mendatangkan rahmat dan karunia kepada dirinya, juga orang lain, kecuali dengan kehendak Allah. Maka, siapa pun takkan mampu memberi makna yang sesungguhnya dari kalimat-kalimat Allah sekiranya belum mendapati karunia yang banyak (Al-Hikmah).

Al-Qur’an telah diturunkan untuk diyakini kebenarannya, bukan untuk dipertentangkan. Orang-orang yang mempertentangkan Al-Qur’an karena di dalam hatinya ada kecondongan kepada kesesatan, kemudian diambil ayat-ayat atau kalimat-kalimat Allah untuk menimbulkan fitnah. Pikirannya yang lebih menonjol, sementara hatinya tiada petunjuk. Allah Yang Maha Mulia telah berfirman:

هو الذي أنزل عليك الكتاب منه آيات محكمات هن أم الكتاب وأخر متشابهات فأما الذين في قلوبهم زيغ فيتبعون ما تشابه منه ابتغاء الفتنة وابتغاء تأويله وما يعلم تأويله إلا الله والراسخون في العلم يقولون آمنا به كل من عند ربنا وما يذكر إلا أولوا الألباب

“Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur'an) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al Qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal” (QS. Ali Imron : 7).


Pelajaran yang Dapat Dipetik

Ayat-ayat Allah diwahyukan kepada Rasul-Nya agar dapat diambil menjadi pelajaran sebagai pedoman atau pegangan hidup kaum mukmin. Pelajaran berharga orang-orang terdahulu yang disebut di dalam Al-Qur’an sebenarnya merupakan cermin yang dapat digunakan untuk orang-orang yang hidup sesudahnya.

Kalimat-kalimat Allah tersaji dengan bahasa yang disesuaikan dengan bahasa Rasul-Nya Saaw, yaitu bahasa Arab, agar mudah dipahami. Kisah-kisah di sekitar kehidupan umat manusia saat Rasul-Nya Saaw hadir di dunia, juga orang-orang sebelum beliau, termasuk para nabi dan utusan, diungkap dalam Al-Qur’an. Iklim kehidupan dan adat jahiliah yang melingkup saat itu benar-benar telah diungkap akan kedengkian, kekufuran dan kebiadaban bangsa Arab.

Kehidupan sejarah bangsa Arab saat itu benar-benar telah disingkap untuk menjadi bahan pelajaran umat manusia. Kondisi umat Islam, di sisi lain, yang terus mengakui dan mengikuti beliau Saaw menunjukkan kepintaran jiwa dalam menghadapi situasi semacam itu.

Bahkan Nabi yang mulia berupaya mengamankan seluruh anggota keluarganya untuk tidak keluar dari rumah dan mengenakan perhiasan seperti orang-orang jahiliyah dahulu. Perintahnya telah ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla di dalam kitab-Nya.

وقرن في بيوتكن ولا تبرجن تبرج الجاهلية الأولى وأقمن الصلاة وآتين الزكاة وأطعن الله ورسوله إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا

“dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya” (QS. Al-Ahzab : 33).

Pelajaran yang dapat dipetik dari kisah Al-Qur’an mengenai kasih sayang Nabi Saaw kepada ahlul baitnya adalah Allah Yang Maha Suci hendak menyucikan hati dari kekufuran terhadap kasih sayang Allah sekiranya mengikuti dengan ketundukan dan kepatuhan terhadap apa yang menjadi kehendak-Nya.

Dalam sejarah umat Islam, ahlul bait adalah keluarga Nabi Saaw yang sangat dihormati dan dikagumi atas keluhuran budi pekertinya, keluasan ilmunya, prinsip-prinsip keadilannya, ketakwaannya, kesungguhannya dalam berbakti kepada Allah dan Rasul-Nya Saaw dan lain-lain kemuliaan yang ada pada keluarga Nabi Muhammad Al-Musthafa Saaw. Solawat serta salam semoga tercurahkan kepada beliau dan ahlul baitnya beserta mereka yang mengikuti keteladanannya.

Kita sulit untuk memahami kalimat-kalimat Allah jika tidak dianugerahi karunia dari Allah akan pengetahuan yang mendalam mengenai apa yang dikehendaki oleh Allah atas kalimat-kalimat-Nya itu. Al-Qur’an demikian luhur dalam mengungkap suatu peristiwa atau kejadian masa lalu, yang dijadikan sebagai bahan pelajaran, untuk orang-orang yang hadir sesudahnya.

Kisah di dalam Al-Qur’an bukan sebuah dongeng atau cerita untuk dijadikan sebagai pengantar tidur anak-anak, melainkan menjadi bahan pelajaran yang harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh oleh kaum mukmin dewasa. Orang-orang lebih suka memilih cerita di dalam Al-Qur’an hanya untuk konsumsi anak-anaknya, sedangkan para orang tua hanya cukup menghapalnya, dan setelah itu…melupakannya untuk tidak dipetik menjadi bahan pelajaran di dalam kehidupan. La Quwwata illa billah – Tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Aku berlindung kepada Allah dari perbuatan-perbuatan para orang tua semacam itu.

Keluarbiasaan akan kalimat-kalimat Allah dalam mengungkapkan apa yang menjadi kehendak-Nya tak ada yang dapat menandinginya. Allah Yang Maha Mulia telah menantang kepada kaum yang merendahkan Al-Qur’an untuk membuat satu surat semisal Al-Qur’an. Hingga kini dan sampai kapan pun tak mungkin dapat, dan pasti tidak dapat, membuat satu surat semisal Al-Qur’an.

وإن كنتم في ريب مما نزلنا على عبدنا فأتوا بسورة من مثله وادعوا شهداءكم من دون الله إن كنتم صادقين

“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur'an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Qur'an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar” (QS. Al-Baqarah : 23).


Pengetahuan Keilahian

Pemahaman akan ayat-ayat Allah membutuhkan kesungguhan dan kecintaan terhadap Yang Memilikinya. Jika ada kaum mukmin merindukan kepada Dia Yang Memiliki kalimat-kalimat-Nya, maka Allah Yang Maha Bijaksana pasti akan mengajarinya. Mengapa demikian? Sudah pasti, karena Dia Yang Memiliki kalimat-kalimat tersebut.

Tiap urusan manusia, Allah lah Yang Maha Mengetahui bagaimana urusan manusia tersebut dapat dipenuhi. Jika urusan tersebut hanya terfokus pada yang bersifat materi, Allah penuhi keinginannya (urusannya). Tetapi, jika urusannya berada pada apa yang menjadi kehendak Allah, maka berarti dia telah menempatkan urusannya pada kemuliaan dirinya.

Kemuliaan diri terletak pada kepatuhan dan ketundukan kepada apa yang menjadi kehendak Allah. Karena itu, jika urusan manusia ditempatkan pada apa yang menjadi kehendak-Nya, Allah pasti menempatkannya pada derajat terpuji di samping diri-Nya (berada di sisi-Nya).

Apa pun yang berada di sisi Allah, pasti yang terbaik. Orang yang berada di sisi-Nya berarti dia bersama-Nya. Pengetahuan Ilahiah berada pada sisi-Nya. Bila berharap akan keluasan ilmu-Nya, maka siapa pun harus bersama-Nya di mana pun dia berada.

وله من في السماوات والأرض ومن عنده لا يستكبرون عن عبادته ولا يستحسرون

“Dan kepunyaan-Nyalah segala yang di langit dan di bumi. Dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) merasa letih” (QS. Al-Anbiya : 19).

Al-Qur’an telah menuliskan bagaimana Allah Yang Maha Berkuasa di langit dan di bumi telah menempatkan para malaikat-Nya berada di sisi Allah. Kemuliaan malaikat Allah menyebabkan ketundukan dan kepatuhan terhadap perintah Allah tanpa adanya keangkuhan dan keletihan. Oleh karena itu, malaikat yang mulia senantiasa bersama-Nya dalam ketundukan dan kepatuhan terhadap apa pun yang menjadi kehendak Allah.

Syarat untuk dicurahkan rahmat oleh Allah, apa pun rahmat-Nya, haruslah terlebih dahulu menjadi hamba yang tunduk dan berserah diri kepada Allah tanpa membantah. Kebersamaan dengan Dia Yang Maha Kuasa takkan dapat dicapai bila kaum mukmin masih terselip di dalam dirinya keangkuhan, kecongkakan, kesombongan, keputusasaan, kedurhakaan, kebanggaan diri (riya), kedengkian, kemunafikan, kefasikan, kemusyrikan, kekafiran (mendustakan ayat-ayat Allah), kenistaan, kehinaan, keujuban, kelalaian, kemalasan untuk berjihad (berjuang di jalan Allah), ketamakan, kejahilan, kebobrokan moral, ketidaksabaran, kecintaan kepada dunia, kemewahan (berpesta pora), dan lain-lain penyakit hati atau diri atau jiwa atau ruh.

Pengetahuan keilahian merupakan keluasan ilmu yang di dalamnya menyibak keluasan ilmu-Nya Yang Maha Mengetahui. Jika keluasan ilmu manusia yang tidak dicurahi rahmat dari Allah sekedar apa yang diketahuinya melalui proses inderawi, maka keluasan ilmu manusia yang telah memperoleh rahmat dari Allah, menjangkau di luar apa yang tidak diketahuinya melalui proses inderawi.

Jadi, untuk meraih pengetahuan keilahian hanya dapat diperoleh apabila seseorang telah mengakui akan keluasan ilmu-Nya dan pasrah terhadap apa pun yang dikehendaki Allah disertai berjuang untuk mendekati-Nya tanpa merasa lelah. Kepasrahan diri tidak bermakna nrimo namun belum memahami apa dan bagaimana seharusnya nrimo dalam keimanan kepada Allah.

Keluasan ilmu Allah tidak sebagaimana yang ada di dalam keterbatasan keluasan ilmu manusia, melainkan terletak pada bagaimana Allah menghendaki keluasan ilmu-Nya dicurahkan kepada siapa yang Dia kehendaki sehingga dia tidak mengetahui, kecuali yang diberitahukan oleh Allah Yang Maha Melihat lagi Maha Mendengar di seluruh keberadaan kekuasaan-Nya, di dunia dan di akhirat, di alam syahadah maupun alam goib, yang tampak dan yang tidak tampak, yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi.

Allah sebagai Tuhan Yang Maha Menguasai seluruh makhluk ciptaan-Nya, maka Dia memiliki hak untuk dipatuhi dan diikuti apa pun yang menjadi kehendak-Nya. Jika tidak diindahkan hak-hak-Nya, maka Dia akan memberikan balasan sesuai dengan amal yang telah dilakukannya. Hari Pembalasan sudah pasti ada-Nya. Allah pasti berada di saat Yaumil Hisab berlangsung. Dia lah Yang Menguasai Hari Pembalasan.

Namun demikian, Allah Maha Penyayang terhadap kaum yang mengimani-Nya dengan penuh kecintaan dalam menjalankan setiap perintah dan larangan-Nya. Tiada dusta dalam jiwanya atau hatinya atau dirinya atau ruhnya, melainkan penuh kerinduan dan pengharapan akan perjumpaan dengan-Nya.

Al-Qur’an yang mulia menegaskan derajat yang mulia bagi kaum mukmin yang mencapai ketakwaan pada dirinya. Kaum muttaqin adalah orang-orang yang senantiasa berkhidmat terhadap segala yang menjadi perintah Allah dan larangan -Nya. Mereka begitu takut apabila tidak mengikuti apa yang menjadi kehendak-Nya.

Allah lah yang mengilhamkan ke dalam jiwanya ketakwaan. Keberuntungan yang diperoleh bagi mereka yang telah diilhamkan ketakwaan karena Allah rido atas perjuangannya untuk membersihkan kekotoran dari dalam dirinya atau jiwanya atau hatinya atau ruhnya.


Amal-Amal Keikhlasan

Amal yang ikhlas adalah amal yang dilakukan tanpa dilandasi adanya keterpaksaan, melainkan ketulusan hati sebagai wujud syukur atas segala karunia Allah yang diterimanya. Apabila seorang hamba mendirikan solat, maka solatnya tidak berdasarkan hanya sebatas sebagai perintah, melainkan ditunaikannya karena menjadi kebutuhan dirinya untuk berhubungan dengan Allah Yang Maha Pencipta lagi Maha Hidup.

Penetapan solat di dalam hatinya menjadi kebutuhan dalam berhubungan dengan Allah merupakan suatu proses membangun kesadaran akan kedudukan dirinya sebagai seorang hamba yang patut merendahkan diri di hadapan Dia Yang Maha Kuasa. Maka, ketika kesadaran tersebut terbangun, dia tak lagi menjadikan solatnya sebagai beban kewajiban, melainkan menyadari bahwa perintah Allah ditujukan agar seorang hamba mengenal akan kehadiran Allah di dalam solatnya.

Kesadaran semacam itu menjadikan seorang hamba merasa takut apabila dia tak lagi mengikuti kehendak Allah atas seluruh perintah dan larangan-Nya. Seorang hamba telah mengetahui dan menyadari bahwa Allah Ada lagi Maha Mendengarkan apa yang telah diucapkannya dari bacaan-bacaan solat. Setiap bacaan solat bukanlah pesan-pesan pelaku solat, melainkan kalimat-kalimat Allah yang telah diajarkan melalui Rasul-Nya Saaw untuk diikuti dan dilakukan sehingga dia menyadari bahwa kalimat-kalimat Allah itu bermakna sebagai pesan-pesan yang disampaikan kepada Tuhannya dengan penuh khidmat dan khusyu’.

Kekhusyu’an solat menyadarkan pelaku solat akan kedudukannya dengan siapa dia berhubungan?! Ketika menyadari bahwa dia sedang berhubungan dengan Allah, maka pelaku solat mustahil berlaku tidak patut dan tidak mengindahkan keniscayaan bahwa dia sedang diperhatikan oleh Allah.

Jika kenyataannya tidak demikian, maka kesadaran pelaku solat sesungguhnya belum terbangun. “Sadar” bukanlah sebuah kata yang hanya dapat terucap, melainkan adanya kekuatan jiwa terhadap keyakinan bahwa Dia (Allah) memang Ada, bukan sebatas percaya Ada yang terucap di mulutnya. Inilah kesadaran mendirikan solat, bukan sadar untuk melaksanakan solat.

Kesadaran untuk melaksanakan solat belum dapat disebut telah menyadari akan hakikat solat. Hakikat solat menunjukkan gigihnya pelaku solat untuk tidak menggabungkan yang hak dan yang batil di dalam kehidupannya di dunia. Kesadaran ber-akhlaqul karimah adalah kesadaran mengimplemetasikan hakikat solat yang didirikan dengan penuh khidmat dan khusyu’.

Oleh karena itu, keikhlasan di dalam amal soleh menjadi syarat bagi terpenuhinya capaian pahala kesolehan. Kitabullah berisi banyak pesan keilahian yang menjelaskan akan kehendak-Nya terhadap umat manusia yang mengimani-Nya. Kepada mereka, perintah dan larangan Allah diungkap dengan kalimat-kalimat-Nya yang mengandung banyak keberkahan dan Al-Hikmah supaya diperjuangkan untuk meraihnya.

Itu adalah penjelasan akan pentingnya mengenal apa, mengapa, di mana, kapan dan bagaimana kaum mukmin mendudukkan dirinya menjadi seorang hamba Allah di hadapan kemahabesaran Allah Azza wa Jalla. Kenyataan menunjukkan bahwa kalimat-kalimat Allah yang telah diturunkan ke dalam hati Nabi-Nya Saaw, yang kemudian dibukukan menjadi kitab-Nya, telah dikembalikan lagi ke dalam hati umatnya saat solat, berdiri, duduk dan berbaring.

Perhatian akan nilai-nilai yang terkandung di dalam kalimat-kalimat-Nya yang telah diucapkan oleh kaum mukmin, selanjutnya harus diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari sebagaimana telah dicontohkan oleh Nabi-Nya Saaw. Dengan kata lain, keikhlasan umat Rasulullah Saaw dalam beramal soleh terletak pada bagaimana hatinya menerima dengan penuh kesadaran untuk meyakini akan kasih sayang Allah dalam memberi petunjuk kepada dirinya, bukan sebatas hanya diketahui oleh akalnya. Ucapannya menunjukkan keikhlasan hati dalam menerima kedudukannya sebagai hamba Allah Swt. Demikian juga, tindak-tanduknya dalam berbuat (beramal) kebajikan mencerminkan keluhuran jiwanya sebagai hamba Allah yang telah tunduk dan patuh kepada kalimat-kalimat-Nya, yang adalah berarti tunduk dan patuh kepada Dia (Allah) Yang Maha Kuasa lagi Maha Penyayang kepada dirinya (hamba-Nya).


Kearifan dalam Tutur Kata

Kalimat-kalimat Allah mengandung nilai-nilai yang sangat moralis, lawan dari kebobrokan, keburukan, kejahilan, kenistaan, kepalsuan, keangkuhan, kebiadaban, kejelekan, ketidaksopan-santunan, kedengkian, fitnah, ugal-ugalan, kebohongan, kedangkalan, kejumudan, kekeliruan, kesalahan, keputusasaan, ketidaksempurnaan, kealpaan, kelalaian, kegelisahan, ketidakjujuran, kegelapan, kefasikan, kemunafikan, kemusyrikan, kekufuran, dan lain-lain nilai-nilai amoralis.

Oleh karena itu, Allah Azza wa Jalla berkehendak agar kaum mukmin beriman dan beramal soleh sejalan dengan apa yang menjadi kehendak-Nya. Apa maknanya ini? Kehendak Allah atas kaum mukmin adalah memerintahkan untuk meningkatkan keimanan dari keimanan yang sudah ada sebelumnya.

Upaya untuk meningkatkan keimanan kepada Allah memerlukan perjuangan (jihad) yang sebenar-benarnya jihad. Perjuangan semacam ini tidak serta merta akan mampu dilakukan oleh kaum mukmin sekiranya tidak ditolong oleh Allah. Oleh karena itu, hanya dengan pertolongan Allah lah perjuangan untuk meningkatkan keimanan itu dapat dilaksanakan dengan mudah dan dilindungi oleh Allah.

Akal kaum mukmin boleh saja cerdas, tetapi jika Allah tidak menolong untuk melaksanakan perjuangannya, maka mustahil dapat mencapai tujuan yang diinginkannya. Keimanan kaum mukmin meningkat karena Allah yang menganugerahkannya.

هو الذي أنزل السكينة في قلوب المؤمنين ليزدادوا إيمانا مع إيمانهم ولله جنود السماوات والأرض وكان الله عليما حكيما

“Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (QS. Al-Fath : 4).

Pikiran orang yang hatinya tenang melampaui pikiran orang-orang yang jiwanya dilingkupi oleh ketidaknyamanan. Ketika berbicara, pembicaraannya lebih mengedepankan apa yang dipikirkannya, bukan apa yang meluncur dari dalam hatinya. Kesulitan yang diperoleh apabila hatinya tidak tenteram, maka penuturannya mencerminkan kelemahan jiwanya atau hatinya atau dirinya atau ruhnya.

Kecerdasan akal dalam berbicara tidak menjamin kecerdasan dalam meluncurkan kebijaksanaan kalimat-kalimat yang dilahirkannya melalui mulutnya. Kearifan tutur kata dilandasi oleh kelembutan hati atau jiwa atau diri atau ruhnya. Ketidakkonsistenan dalam berbicara lebih cenderung terungkap ketika hatinya tidak tenang,

Oleh karena itu, kaum mukmin yang masih meragukan akan keluasan ilmu Allah, selain lebih mengunggulkan kepiawaian akalnya, tampak dalam perkataannya sulit menunjukkan keluhuran perbendaharaan kata-katanya. Hal demikian disebabkan karena akalnya berupaya menemukan perkataan-perkataan yang diliputi oleh persangkaan menganggap benar keluasan berpikirnya. Padahal, bukanlah keluhuran perkataannya yang lahir dari akalnya, melainkan lebih mengungkapkan kecermatan memilih kata-kata.

Sebaliknya, pola pengungkapan kata-kata orang yang menyandarkan kepada keluasan ilmu Allah yang bersumber dari suara hatinya, maka tutur katanya mencerminkan keluhuran kalimat-kalimatnya. Keadaan demikian lebih disebabkan tiadanya pengakuan akan dirinya sebagai yang memiliki pengetahuan, melainkan karena diajarkan oleh Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Mengetahui.

Keluasan ilmu Allah akan menjamin orang yang dirahmati-Nya mendapati kemudahan dan pemahaman yang mendalam tanpa berpikir dengan menggunakan akalnya untuk mengolah, menganalisa dan menyimpulkan. Cukuplah baginya hanya mengandalkan dari dalam hatinya yang menyuarakan pesan-pesan keilahian. Dan, inilah kemahakuasaan Allah diperlihatkan.

Pelajaran yang sangat berharga dari pengakuan atas kemahaluasan ilmu Allah tidak diperjualbelikan dengan harga yang murah, melainkan mendapatinya dengan penuh perjuangan yang melelahkan tetapi tidak pernah berhenti selain menyandarkan kepada pertolongan Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Perhatian-Nya kepada seorang hamba yang demikian menunjukkan dengan sungguh-sungguh ketundukan dan kepatuhan terhadap kekuasaan-Nya sebagai Tuhan Yang Maha Memiliki segala kesempurnaan sangat besar tanpa batas (tidak membedakan dari keturunan siapa dia berasal). Sesungguhnya bagi Allah Yang Maha Pencipta sangat mudah memenuhi kehendak-Nya sendiri. Bagi-Nya cukup hanya dengan berkata: “Jadilah,” “Maka Terjadilah.” Adakah kaum mukmin yang masih meragukan kalimat-kalimat-Nya?

Silakan dibaca Artikel Terkait di bawah ini

1 comment:

  1. Smga p' ustadz dan keluarga senantiasa selalu memperoleh perlindungan dan pertolongan-Nya. Amiin.
    Jika ada waktu, bkali p' ustadz berkenan memberi komentar atas artikel sy ttg "Allah dan ‘Arsy-Nya berada dalam ‘hati-nurani’ tiap makhluk" (pd http://islamagamauniversal.wordpress.com/2012/02/08/allah-dan-arsy-nya-berada-dalam-hati-nurani/) ataupun artikel2 lainnya pd blog itu.

    ReplyDelete

Artikel Populer 7 Hari Terakhir