Rabu, 14 Desember 2011

Mulia Bicara Kaum Soleh

Bicara bukan sekedar membunyikan suara yang keluar dari mulut, melainkan menyuarakan kata-kata yang memiliki makna. Setiap kata yang keluar melalui mulut, jika tidak mengandung makna hanyalah kesia-siaan. Maka, sekiranya diam menjadi lebih baik, memilih untuk tidak berbicara berarti menghindarkan diri dari aktivitas yang tidak bermakna.

Andaikan setiap kaum mukmin tidak terlalu banyak bicara yang tidak bermakna, maka kecenderungan berbuah keburukan dapat terhindar. Minimal kita berbicara sejalan dengan yang dapat dipahami apa yang menjadi tujuan kita berbicara.

Orang berbicara pasti memiliki tujuan. Ada yang bertujuan menjadikan orang yang menerima pesan (kata-kata) mengetahui kata-kata kita. Misalnya, kita berbicara mengenai keyakinan; adakah orang lain mengetahui apa yang disebut dengan keyakinan yang kita bicarakan?

Keyakinan berbeda dengan keimanan! Bila kita berbicara mengenai keyakinan, tetapi yang dibicarakan tentang keimanan, maka pembicaraan kita tidak akan menghasilkan apa yang kita harapkan (tujuan kita). Karena itu, berbicaralah apa yang kita ketahui. Jangan berbicara mengenai sesuatu yang tidak kita ketahui.

Kaum soleh adalah tipikal orang-orang yang tidak asal bicara, melainkan apa yang dibicarakan bermanfaat untuk dirinya dan orang lain. Jika apa yang dibicarakan menyangkut perintah dan larangan Allah, orang soleh tidak asal bicara, melainkan dia telah menjalankan perintah dan larangan tersebut secara proporsional.

Cobalah perhatikan firman Allah berikut:

إذ قال له ربه أسلم قال أسلمت لرب العالمين

“Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: "Tunduk patuhlah!" Ibrahim menjawab: "Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam" (QS. Al-Baqarah : 131).

ووصى بها إبراهيم بنيه ويعقوب يا بني إن الله اصطفى لكم الدين فلا تموتن إلا وأنتم مسلمون

“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yakub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan berserah diri (muslim)" (QS. Al-Baqarah : 132).

Kedua ayat ini memperlihatkan konsistensi ucapan Nabi Ibrahim, mewasiatkan atau berbicara tentang ketundukan dan kepatuhannya kepada Allah Yang Maha Pencipta. Beliau telah menjalankan apa yang telah diperintahkan oleh Allah untuk tunduk dan patuh kepada-Nya. Setelah itu, beliau mewasiatkannya kepada anak-anaknya.

Tanpa berdusta beliau menyampaikan apa yang sudah dilakukannya (tunduk dan patuh); beliau pun mengetahui bagaimana tunduk dan patuh itu kepada Allah. Beliau berwasiat agar “janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan berserah diri (muslim).” Menjadi seorang muslim, dalam pengertian yang sesungguhnya, termasuk menjadi orang yang menyerahkan diri sepenuhnya mengikuti apa yang menjadi kehendak Allah. Dalam hal ini, tunduk dan patuh adalah kepasrahan diri kepada apa yang telah dikehendaki oleh Allah Swt.

Berbicara, dengan demikian, merupakan wujud dari apa yang telah kita lakukan, bukan yang belum kita lakukan atau perbuat. Tampaknya kita menemukan kesulitan, adakah setiap yang kita bicarakan adalah telah benar-benar kita lakukan?

Saya sebenarnya ingin mengatakan, bahwa berbicara tentang nilai-nilai kebenaran tanpa dilandasi oleh keimanan dan keyakinan, maka hanyalah sebuah isapan jempol. Banyak orang berbicara tentang keimanan adanya Hari Kemudian, namun dalam prakteknya dia masih suka berbuat yang tidak sejalan dengan kehendak Allah Azza wa Jalla. Apa yang diucapkan tidak sesuai dengan yang diperbuatnya.

Apa yang diimani seharusnya diyakini kebenarannya. Jika ada Hari Kemudian, maka ada Hari Pembalasan. Bagi yang telah beriman, maka keyakinan bahwa setiap amal, sekali pun sebesar zaroh, akan diperhitungkan seharusnya benar-benar meresap di dalam jiwanya. Kemudian semakin menjadi takut apabila ada amal yang berseberangan dengan apa yang diyakininya.

Konsistensi antara apa yang diucapkan dengan apa yang diperbuat tidak boleh dipermainkan. Jika A, maka seharusnya adalah A. Bukan A’. Jika terjadi sebaliknya, maka apa yang telah dibicarakannya hanyalah seolah-olah, bukan kenyataan! Jadi, jika ada orang yang berbicara mengenai nilai-nilai kebenaran, tetapi dalam kenyataannya tidak sebagaimana yang dibicarakan, maka seolah-olah dia orang benar, padahal kenyataannya tidak!

Karena itu, kesalehan seseorang sangat menentukan terwujudnya konsistensi tersebut. Seseorang disebut sebagai orang soleh bukan semata-mata karena pengetahuan yang dimilikinya, melainkan adanya konsistensi antara pengetahuan yang didapatkannya dengan amal ibadah kesehariannya. Jika pengetahuan seseorang mengenai syariah sudah sangat mumpuni, maka pengetahuan syariahnya seharusnya menghasilkan dampak positif terhadap diri dan orang lain yang ada di sekitarnya.

Sebagai contoh, pengetahuan syariah mengenai solat. Jika solat sejalan dengan syariah, maka pelaku solat tidak hanya pandai di dalam solatnya, melainkan dampak kesudahan solat juga seharusnya terpatri di dalam jiwanya, sehingga amal (perbuatan dan ucapan) secerdas solat syariahnya. Allah Swt berkehendak agar solat itu dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar (lihat QS. Al-Ankabut : 45)!

Jika pengetahuan syariah sudah sangat bagus, Allah Yang Maha Mulia berkehendak agar meyakini dengan sungguh-sungguh apa yang diketahuinya tidak dimentahkan oleh keragu-raguan. Jika syariah solat harus ditegakkan, maka jangan berhenti hanya sampai di situ. Orang yang dipandang soleh adalah jika dia melangkah maju untuk menemukan apa yang menjadi inti (hakikat) dari syariah tersebut.

Masih mengenai syariah solat. Solat secara praktis telah dijelaskan oleh yang mulia Rasulullah Saaw! Akan tetapi, di dalam Al-Qur’an Allah Yang Maha Mengetahui berfirman:

إنني أنا الله لا إله إلا أنا فاعبدني وأقم الصلاة لذكري

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku (QS. Thaha : 14).

Allah Yang Maha Mulia berkehendak untuk berdzikir (mengingat) Allah bagi para pelaku solat. Jika solat untuk mengingat Allah, maka pelaku solat yang tidak berdzikir (mengingat) Allah berarti dia tidak sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah.

Syariah solat yang bagus sebagaimana mengikuti Hadits Nabi Saaw belum menjamin solatnya sejalan dengan yang dikehendaki oleh Allah di dalam Al-Qur’an apabila solatnya tidak untuk mengingat Allah. Allah Yang Maha Mulia pun menghendaki agar sesudah solat tetap harus berdzikir (mengingat-Nya). Perhatikan ayat berikut:

فإذا قضيتم الصلاة فاذكروا الله قياما وقعودا وعلى جنوبكم فإذا اطمأننتم فأقيموا الصلاة إن الصلاة كانت على المؤمنين كتابا موقوتا

“Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat (mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman” (QS. An-Nisa : 103).

Dua ayat ini sudah sangat jelas, bahwa Allah berkehendak agar mengingat Allah secara istiqamah, di saat solat maupun sesudahnya. Sekarang, adakah seseorang dianggap telah mengingat Allah apabila solat yang dilakukannya tidak berdampak bagi dirinya untuk berdzikir (mengingat) Allah? Syariah solatnya bagus, tetapi jika tidak berdzikir untuk mengingat Allah secara istiqamah, berarti solatnya belum berdampak positif bagi dirinya.

Dampak positif orang berdzikir adalah adanya ketenteraman jiwa (hati). Allah Yang Maha Bijaksana telah menegaskan hal demikian di dalam ayat-Nya:

الذين آمنوا وتطمئن قلوبهم بذكر الله ألا بذكر الله تطمئن القلوب

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram (QS. Ar-Ra’du : 28).

Solat, ternyata, tidak saja dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar, juga harus menjadikan pelaku solat berdzikir. Allah berketetapan demikian agar dalam mendirikan solat bukan sebatas mengetahui kaifiyah (tata cara solat), juga inti (hakikat) solat.

Itulah pembicaraan tentang solat. Jadi, berbicara mengenai solat harus mencakup pengetahuan syariah solat, juga hakikatnya. Maka, orang soleh tidaklah berbicara hanya sebatas bagaimana syariah solat, melainkan hakikatnya dia juga tidak berbuat dosa dan senantiasa berdzikir mengingat Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaringnya.

Inti atau hakikat sangat penting. Mengapa? Kiranya bukan tidak penting, maka hakikat bukanlah yang dapat dinilai menjadi suatu keharusan yang sangat berpengaruh terhadap apa yang berada di dasarnya. Jika, contoh solat, bukan merupakan kewajiban yang dapat berdampak positif, maka solat mustahil dapat menenteramkan jiwa!

Karena itu, mengapa banyak orang solat namun dia suka berdusta? Karena solatnya hanya sebatas menjadi dasar belum mencapai intinya. Lebih menekankan hanya karena merupakan suatu kewajiban belum menekankan pentingnya solat merupakan suatu inti dari berhubungan dengan Allah Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi.

Dampaknya, jika solat disertai dengan suka berdusta, maka pelaku solat mudah melupakan Allah dan hatinya mudah gelisah. Mengapa orang solat masih suka berdusta? Karena, sekali lagi, dia rajin solat hanya sebatas syariah tidak mencapai inti (hakikat) dari solat tersebut. Iblis sangat suka menggoda orang solat yang dilakukan hanya lebih menekankan syariah, sedangkan inti atau hakikatnya diabaikan.

Pelaku solat yang tidak memperhatikan hakikat solat, maka dia cenderung berbuat dosa dan jauh dari berdzikir kepada-Nya. Jika berdzikir, berdzikirnya hanya sedikit. Sangat malas dalam menghadap kepada-Nya. Solatnya dilakukan dengan sangat sebentar, malas berkhidmat menunaikan solat dengan merendahkan diri dan rasa takut.

Alhasil, mulia bicara sebenarnya bukan terletak dari keunggulan menguasai materi, melainkan adanya keterpaduan antara pengetahuannya dengan inti atau hakikat dari materi pengetahuan tersebut. Maka, berbicara yang sebatas hanya melandaskan pada sisi lahiriah belumlah menghasilkan dampak positif bila tidak disertai upaya untuk mengungkap inti atau hakikat yang dikandung dari aspek lahiriah tersebut. Dengan begitu, keluasan pengetahuannya tampak mendalam tidak mendatar, sangat tajam tidak untuk sekedar menyuarakan, hasilnya berdampak pada gairah untuk lebih mengkaji diri, dan berhasil menilai keutamaan jiwa dibanding lahiriahnya. Dan, yang terpenting dari semuanya, berbicara tidak sekedar menyuarakan, melainkan si pembicara telah mengamalkannya jauh sebelum disampaikan kepada orang lain!





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Artikel Populer 7 Hari Terakhir