Rabu, 16 November 2011

Ahli Dzikir, Ahli Hikmah dan Ahli Tasawuf

Ketiga istilah ini, ahli dzikir, ahli hikmah dan ahli tasawuf, adalah julukan bagi orang-orang yang sangat mendambakan perjumpaan dengan Tuhannya. Allah Azza wa Jalla pun sangat mencintai mereka. Adakah di antara mereka akan menemukan kesulitan dengan ketiga julukan yang dimilikinya tersebut?

Ahli dzikir, memang bukan ahli hikmah, demikian juga berbeda dengan ahli tasawuf. Akan tetapi, saya mendapati ketiga julukan tersebut dapat berada pada satu orang. Ahli dzikir yang ahli hikmah sangat istiqamah menempuh perjalanan menuju kepada Allah Azza wa Jalla (thariqah).

Ahli dzikir disebut dalam Al-Qur’an surat Al-Anbiya ayat 7 sebagai orang yang dijadikan rujukan orang lain untuk bertanya tentang sesuatu yang tidak diketahuinya. Kedudukan ahli dzikir ditempatkan sebagai seorang ahli (berpengetahuan).

وما أرسلنا قبلك إلا رجالا نوحي إليهم فاسألوا أهل الذكر إن كنتم لا تعلمون

“Kami tiada mengutus rasul-rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada ahli dzikir (orang-orang yang berilmu), jika kamu tiada mengetahui” (Q.S. Al-Anbiya : 7).

Allah Azza wa Jalla memerintahkan Nabi-Nya untuk bertanya kepada ahli dzikir bila tidak mengetahui perkara goib. Pada ayat tersebut, Rasulullah Saaw dikabarkan tentang adanya rasul-rasul sebelum beliau. Sedangkan beliau tidak hadir di zamannya. Perkara yang disebut ayat tersebut termasuk masalah goib.

Dari ayat itu, betapa tinggi derajat ahli dzikir. Tentu saja, maksud dari ayat tersebut bukan bermakna bahwa ahli dzikir berpengetahuan melebihi dari beliau Saaw. Ayat ini hanya untuk mempertegas bahwa para ahli dzikir adalah orang-orang yang telah diberi pengetahuan (Al-Hikmah) oleh Allah tentang hal-hal yang tidak terjangkau oleh akal.

Allah Yang Maha Pencipta sudah menyampaikan perkataan-Nya di hadapan orang-orang kafir lewat perantaraan Rasul-Nya Saaw. Akankah ketetapan Allah mendatangkan Rasul-Nya Saaw dapat diterima oleh umat manusia sebagai tanda-tanda kebesaran-Nya? Bukankah telah datang para utusan Allah jauh sebelum hadirnya Baginda Nabi Muhammad Saaw yang menuturkan akan hadirnya seorang manusia pilihan di antara umat manusia?

Allah Yang Maha Pencipta menurunkan ayat-ayat-Nya kepada umat manusia melalui Rasulullah Saaw untuk dijadikan kitab pedoman (petunjuk). Ayat-ayat-Nya telah menceritakan mengenai kehidupan para Nabi dan Rasul-Nya sebelum ayat-ayat-Nya diturunkan melalui beliau yang mulia Saaw. Juga ditegaskan tentang kehidupan umat Rasulullah Saaw baik satu zaman dengan beliau maupun sesudahnya.

Kisah kehidupan sebelum hadirnya Rasulullah Saaw dan sesudahnya adalah perkara goib yang tidak dapat dijangkau oleh akal manusia, melainkan dengan keimanan. Orang-orang yang beriman lagi meyakini kebenaran firman Allah, maka tak ada keraguan apa yang telah dikisahkan Al-Qur’an tentang keberadaan mereka (sebelum dan sesudah kehadiran beliau Saaw).

Ayat di atas menunjuk ahli dzikir sebagai orang yang telah dikaruniai oleh Allah pengetahuan goib (perkara-perkara yang sulit ditangkap oleh akal) karena ketulusannya untuk mencintai Allah (dengan berdzikir menyebut asma Allah). Mereka telah ada di saat beliau hadir menjadi Rasulullah dan sesudahnya. Mereka adalah para sahabat Nabi dan umat beliau sesudahnya hingga sekarang.

Allah Azza wa Jalla telah menganugerahkan pengetahuan yang mendalam kepada ahli dzikir. Ahli dzikir yang dianugerahi pengetahuan oleh Allah disebut ahli dzikir yang ahli hikmah.

Al-Hikmah telah ditegaskan oleh Allah Azza wa Jalla di dalam Al-Qur’an sebagai anugerah karunia yang banyak (QS. Al-Baqarah : 269). Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Bijaksana menganugerahkan Al-Hikmah kepada orang-orang yang telah mengikuti kehendak-Nya. Apa yang dikehendaki oleh Allah untuk orang-orang berakal?

Al-Qur’an ayat 190 – 191 surat Ali Imron menyatakan adanya kehendak Allah Azza wa Jalla dengan mempertegas pemahaman akan tujuan penciptaan langit dan bumi bagi orang-orang berakal. Ditegaskan dalam ayat tersebut mengenai siapakah orang-orang berakal (yang telah menggunakan akalnya) itu?

Allah Yang Maha Bijaksana menyatakan orang-orang berakal (QS. Ali Imron : 190 - 191) adalah orang-orang yang senantiasa berdzikir (di dalam hatinya, QS. Al-A’raaf : 205, menyebut asma Allah dengan dzikir sebanyak-banyaknya, QS. Al-Ahzab : 41) sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan (merenungkan) tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata di dalam hatinya): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

Al-Qur’an telah mengabarkan ahli dzikir sebagai orang beriman yang hatinya tentram (QS. Ar-Ra’du : 28). Allah Yang Maha Melihat lagi Maha Mengetahui menentramkan hati ahli dzikir sebagai bukti akan kemahabijaksanaan-Nya. Apa yang telah ditetapkan di dalam ayat-ayat-Nya, maka pasti tidak dapat dirubah. Allah Azza wa Jalla berketetapan demikian untuk menjadi bahan perenungan bagi orang-orang yang berakal.

Pijakan kaum mukmin adalah ayat-ayat-Nya dan juga sabda Nabi-Nya. Bila ada di dalam Al-Qur’an disebutkan berbagai ajakan Allah Yang Maha Mulia, baik ajakan untuk dijalankan terkait dengan perintah-Nya maupun ajakan untuk dijauhkan terkait dengan larangan-Nya, adalah tak terbantahkan untuk diikuti dengan ketundukan dan kepatuhan.

Allah Yang Maha Mulia di beberapa ayat-Nya telah memerintah kaum mukmin untuk berdzikir dengan menyebut asma-Nya (Allah) atau nama mana saja yang diseru (QS. Al-Isra’ : 110), seharusnya tidaklah ditafsirkan dengan berbagai dalih akal untuk mengabaikannya. Allah Maha Mengetahui isi hati orang-orang yang berdalih untuk tidak berdzikir secara istiqamah di dalam hatinya dengan menafsirkan ayat-ayat yang mengajak untuk berdzikir atau mengingat Allah (dengan menyebut Allah) sebagai perintah Allah dalam pengertian yang luas.

Ajakan Allah yang sudah sangat jelas, “Sebutlah nama Tuhanmu di hatimu…” (QS. Al-A’raf : 205), perlukah ditafsirkan dengan ungkapan yang lain selain kalimat Allah yang sudah sangat jelas itu? Sudah tidak patut kaum mukmin berdalih dengan kecerdasan akal menafsirkan untuk tujuan tidak berdzikir di hatinya (menyebut asma Allah).

Karena itu, kaum mukmin yang terlampau pandai berargumentasi dengan akalnya sendiri termasuk kaum mukmin yang tidak diberi petunjuk oleh Allah. Mereka terombang ambing di dalam keangkuhan akalnya sendiri.

Ahli dzikir bukanlah tipikal orang-orang seperti itu. Mereka sangat tunduk dan patuh untuk mengikuti perintah Allah tanpa membantah. Berdalih adalah cara-cara iblis membantah untuk tidak tunduk dan patuh kepada Allah. Ajakan disanggah dengan logika, yang seakan-akan benar persangkaannya, padahal terjebak oleh kecerdikan iblis yang menguasai dirinya. Adakah yang mengetahui kecerdikan iblis dalam berargumentasi terhadap ayat-ayat Allah? Tidak ada yang mengetahui selain karena Allah yang telah mengajarkanya.

Adakah yang mampu memahami ayat-ayat Allah dengan akalnya bila tidak diberinya petunjuk? Akal tidak seperti hati yang telah memperoleh petunjuk. Akal orang-orang Yahudi telah diberi kelebihan oleh Allah Azza wa Jalla, tetapi hatinya terkunci mati. Adakah hati kaum mukmin, setelah diberi petunjuk karena keislamannya (QS Ali Imron : 20), sama seperti hati mereka? Haruskah akalnya yang diunggulkan ketimbang hatinya?

Berbeda dengan ahli dzikir yang meyakininya, para pendusta ayat-ayat Allah (julukan untuk orang-orang yang selalu membantah ayat-ayat Allah) diliputi hatinya oleh rasa was-was, plintat-plintut dalam berbicara, kebimbangan, berbicara tapi hanya lipstik, seperti tahu padahal tidak tahu, suka menghasut, hatinya tidak tenang, suka berpura-pura, sok suci dan lain-lain ketidakkonsistenan antara hatinya dengan perkataan dan perbuatannya.

Ahli dzikir adalah orang-orang yang telah dikaruniai oleh Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Bijaksana pemahaman yang mendalam (Al-Hikmah) sehingga hatinya kasyaf (tersingkapnya tabir goib dari hatinya atau jiwanya atau dirinya atau ruhnya). Mereka telah diberikan penjelasan tanda-tanda kekuasaan Allah (QS. Al-Baqarah : 118).

Oleh karena itu, ahli dzikir termasuk orang-orang yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya (QS. Al-Maidah : 54). Ahli dzikir yang ahli hikmah telah menerima penjelasan-penjelasan akan kekuasaan Allah untuk dipakai sebagai pegangan dalam perjalanan menuju kepada-Nya.

Kualitas jiwa sangat dipengaruhi oleh keberadaan jiwa itu sendiri. Sekiranya jiwanya kosong dari kerinduan akan perjumpaan dengan Tuhannya, maka si pemilik jiwa tentu tak ada gairah untuk bertemu menjumpai-Nya.

Sebagai rahmat Allah yang tercurahkan ke dalam jiwanya, para ahli dzikr yang ahli hikmah sangat bergairah untuk berjumpa dengan Tuhannya. Mereka begitu yakin akan kebenaran firman-Nya, bahwa Allah hendak menerangkan dan menunjuki jalan-jalan orang sebelumnya (jalan para Nabi dan kaum soleh) dan hendak menerima tobatnya (QS. An-Nisa : 26). Mereka diajak oleh Allah untuk berthariqah.

Ajakan Allah kepada orang-orang yang senantiasa merindukan-Nya (ahli dzikir) menempuh perjalanan menuju kepada-Nya sangat mengundang gairah jiwa untuk melakukannya. Allah pun telah menurunkan pertolongan-Nya melalui pengajaran Al-Hikmah. Ahli dzikir yang ahli hikmah sangat antusias bersegera melakukan perjalanan spiritual menyambut tawaran Allah di dalam Al-Qur’an surat Al-Kahfi ayat 110.

Seorang ahli dzikir yang ahli hikmah tidak menyia-nyiakan tawaran yang mulia tersebut. Ada semangat jiwa yang begitu menentramkan seorang ahli dzikir yang ahli hikmah ketika perjalanan tersebut harus segera dimulai. Hanya Dia yang menjadi tujuan yang hendak dituju. Dengan bekal keyakinan akan kasih sayang Allah, mereka pun sangat khidmat melakukan perjalanan tersebut. Ahli dzikir yang ahli hikmah kini telah menjadi seorang ahli tasawuf (para penempuh jalan menuju perjumpaan dengan Tuhannya Azza wa Jalla). 

11 komentar:

  1. Penjelasan nya cukup jelas pingin rasanya mengamalkan tapi kemanakah mencari guru mursid yang ahli dzikir,ahli hikmah sekaligus ahli tasawuf

    BalasHapus
    Balasan
    1. Assalamualaikum
      Jika anda sangat menginginkan mencari guru mursyid, saya berikan informasi , bahwa ada beberapa thoriqoh muktabaroh di Indonesia, diantaranya, Qodiriah wanahsabandiah,syadziliah,siddiqiyah,satariyah dst, yg InsyaALLAH ada silsilahnya secara jelas.Yang saya tahu persis mursyid yg masih hidup ada dibeberapa daerah:
      1. Habib Lutfi di Pekalongan
      2. KH. Sofyan di Situbondo
      3. KH. Mokhtar di Jombang
      4.KH. Fadhol di Banyuwangi
      5. KH. Ali Hanafiah (bukan mursyid, tapi di beri amanah baiat oleh Alm. Abah Anom Tasik malaya) di jl benteng Surabaya; Pesantren Inabah (Narkoba)

      info lebih lanjut : uswah telp 031 34596323

      Hapus
  2. Pak Fatkhur, saya sampaikan salam jumpa lebih dulu di blogku ini. Semoga Allah Yang Mulia lagi Maha Bijaksana berkenan hadir ke dalam hati pak Fatkhur.

    Dalam jiwa yang dipenuhi kerinduan, Allah Azza wa Jalla sesungguhnya telah rido menyelipkan rahmat-Nya dalam wujud kerinduan ke dalam hati bapak. Mustahil jika bukan karena rahmat-Nya ada kerinduan untuk mendekati-Nya! Karena itu, bersyukurlah.

    Adakah sesudah itu Allah juga akan menunjukkan kepada Pak Fatkhur wasilah (jalan) untuk mendekati-Nya? Allah Azza wa Jalla telah berfirman agar mencari wasilah untuk mendekati-Nya.

    "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan" (QS. Al-Maidah : 35).

    Berwasilah berarti juga berperantara. Inilah yang dipertanyakan Pak Fatkhur: "Kemanakah mencari Guru Mursyid?" Adakah Guru Mursyid saat ini? Andaikan saya tahu alamat para Guru Mursyid, insya Allah saya beritahukan. Sayang saya tidak memilikinya.

    Akan tetapi, Pak Fatkhur tidak perlu berputus asa. Saya hanya ingin menunjukkan bagaimana memohon petunjuk kepada Allah agar diberi jalan untuk menemui Guru Mursyid dengan sebuah do'a.

    Sekiranya Pak Fatkhur berkenan menerimanya, saya akan buatkan do'a untuk dibaca sesudah solat lail (tahajud). Inilah do'a-nya (saya tulis dalam bahasa Indonesia karena kebetulan saya tidak menguasai bahasa Arab):

    Dengan menyebut asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

    Duhai Allah,
    Hatiku sudah tak tahan akan kerinduan kepada-Mu.
    Sedangkan diriku tak mengerti bagaimana seharusnya aku berbuat untuk merindukan-Mu.

    Ya Karim.
    Aku tahu bahwa diri-Mu Maha Mulia.
    Sedangkan diriku sungguh sangat hina lagi lemah tak berdaya.
    Adakah untukku Engkau beri kesempatan untuk mengagungkan asma-Mu di dalam hatiku?
    Dapatkah hatiku Engkau ajarkan cara merindu kepada-Mu?

    Duhai Yang Maha Bijaksana,
    Sebetulnya aku malu kepada-Mu terlambat merindukan-Mu di hatiku.
    Tetapi, Ya Allah,
    Kapan lagi jika tidak saat ini aku harus memulai, sedangkan hatiku telah Engkau curahkan rahmat untuk merindukan-Mu?

    Sungguh merugilah diriku jika tidak Engkau beri aku petunjuk kemanakah aku harus mencari wasilah untuk mendekati-Mu!

    Duhai Allah,
    Aku tidak tahu, sedangkan Engkau Maha Mengetahui.
    Aku hanyalah seorang manusia yang telah Engkau ciptakan bukan atas keinginanku, melainkan karena kehendak-Mu!

    Maka, bagaimana mungkin aku harus mengabaikan kehendak-Mu?
    Padahal Engkau telah berkehendak: "Sebutlah nama Tuhanmu di hatimu."
    Akan tetapi, Ya Robbi, aku tetap tidak tahu cara aku harus berdzikir sekiranya tidak Engkau bimbing aku!

    Untuk itulah, Duhai Allah aku bermunajat kepada-Mu:
    Agar Engkau menunjukkan kepada siapakah aku harus memperoleh bimbingan-Mu.
    Di manakah dia berada sehingga aku dapat menemuinya?
    Adakah dia masih hidup di alam dunia ini?

    Ya Allah, kabulkanlah do'a-ku ini. Amiin.



    Demikian Pak Fatkhur. Semoga dapat dijalankan dengan penuh kesungguhan.


    Salam dari jauh.


    Ahmad

    BalasHapus
  3. Assalaamu alaikum warrahmatullaahi wa barakaatuh..

    Sesungguhnya bila manusia ini tahu bahwa hidup ini tugasnya hanyalah untuk beribadah pastilah manusia itu akan sibuk oleh "tasbih tahmid takbir dan tahlil", tetapi inilah alam dunia kita harus berperang melawan syaitan yang begitu dahsyatnya menghalangi manusia dari mengingat yang mahakuasa yaitu Allah SWT.

    Hanya sebagian kecil saja manusia yang bisa menikmati damainya berdzikir kepada Allah SWT, sekarang ini kaum muslimin hanya sibuk berdebat tentang mahjab dan saling membanggakan golongannya masing-masing hingga lupa kepada esensi dari ibadah itu sendiri, ibadah menjadi kosong tanpa ruh,kebersamaan hilang, majelis-majelis ilmu hanya diisi dengan ajaran-ajaran yang membuat umat semakin terpecah, menghilangkan kebersamaan sesama muslim lagi.

    Marilah kita sebagai umat muslim bersama-sama jadikan masjid-masjid menjadi masjelis dzikir lagi, jangan jadikan masjid kosong, hanya ramai waktu ramadhan saja.
    Sebenarnya sumber dari segala kebaikan adalah dzikir, semakin kita banyak mengingat Allah SWT, maka hati akan tenteram, semua kekacauan bangsa ini bersumber dari penyakit hati, yang selalu dibuat resah oleh angan-angan kosong tentang kenikmatan dunia yang fana ini, apabila hati diisi dengan dzikir maka hati menjadi bersih dari penyakit seperti: iri, curiga,hasad,ambisius,serakah dll.

    Wa sallam

    BalasHapus
  4. sungguh ALLAH adalah sesuatu yg amat luarbiasa (laisa kamislihi saiun)tiada seumpama apapun (walam yakulahu kufuan ahad)hidup mati hanya untuk ALLAH....itu harga mati..? by..jaka tuak. dijabalqat)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Persoalan keberadaan Allah di dalam kekuasaan-Nya sangat tergambar dari kalimat "Laisa Kamitslihi syaiun" (Tak sesuatu pun yang menyerupai-Nya) adalah benar. Itu adalah fitrah Allah yang tidak dapat dirubah.

      Karena itu adalah merendahkan Dia (Allah) sekiranya ada "sesuatu" yang dapat menyerupai-Nya. Allah bukan "sesuatu" yang luar biasa. Akan tetapi, Dia (Allah) adalah Tuhan yang tak ada satu makhluk pun yang dapat menyerupai-Nya (lam yakun lahu kufuan ahad).

      Saya dapat memaklumi pemahaman bang Jaka Tuak ketika bermaksud mengutarakan yang telah saya sebutkan di atas. Akan tetapi, pengungkapan yang tergopoh-gopoh dapat menimbulkan kekeliruan yang sangat fatal. Patutkah bahwa Allah adalah sesuatu yang amat luar biasa?

      Kalau saya diperkenankan untuk mengungkap kembali apa yang seharusnya dinyatakan oleh bang Jaka Tuak, kalimatnya dapat ditulis sebagai berikut: "Allah sungguh luar biasa. Dia (Allah) adalah Tuhan yang tak ada satu makhluk pun yang dapat menyerupai-Nya. Dia (Allah) Maha Suci lagi Maha Sempurna dari apa yang dibayangkan oleh makhluk-Nya. Al-Qur'an yang mulia telah menegaskan hal demikian sebagai fitrah yang tak dapat dirubah."

      Saya bersyukur bahwa banyak kaum mukmin yang mulai memperhatikan ayat-ayat Allah terkait dengan Keberadaan Allah di dalam kekuasaan-Nya. Tetapi, tidak sedikit kaum mukmin masih dijebak oleh kebingungan menangkap makna ayat-ayat Allah saat dirinya belum dianugerahi oleh Allah karunia yang banyak (Al-Hikmah).

      Alangkah bijaksana bila kebingungan mengetahui di balik apa yang tertulis atau terbaca di wilayah realitas (Al-Qur'anul Karim) tidak terlalu buru-buru ditafsirkan menurut kadar yang belum mencapai sepatutnya.

      Pengajaran Al-Hikmah akan sampai kepada kita apabila sudah waktunya. Artinya, Allah Yang Maha Mulia akan menganugerahkan Al-Hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki (lihat QS. Al-Baqarah: 269) sekiranya seorang hamba tak pernah putus (istiqamah) senantiasa mendahulukan kehendak Allah dari keinginan hawa nafsunya sendiri.

      Alangkah bijaksananya bila akal kaum mukmin selalu memperhatikan hatinya untuk berdzikrullah mengikuti perintah Allah di dalam Kitab-Nya (lihat QS. Al-A'raaf: 205).


      Salam dari jauh,


      Ahmad

      Hapus
  5. Ass. Mohon ijin copas utk melengkapi koleksi tulisan tasawuf saya, matur suwun

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa 'alaikum salam wa rahmah

      Semoga bermanfaat, mangga dipersilakan.

      Salam dari jauh,

      Ahmad

      Hapus
  6. Assalamualaikum,kalau berdzikir laila haillallah terus dilanjutkan dgn kalimat muhammadurrasulullah gmn pak?mohon penjelasannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa 'alaikum salam wa rahmah

      Saudaraku Anonim yang disayangi Allah.

      Berzikir adalah perintah Allah. Karena itu, setiap mukmin wajib menjalankan perintah-Nya. Sekiranya tidak menjalankannya, maka sesungguhnya dia telah mengabaikan Hak Mutlak Allah.

      Al-Quran telah menjelaskan agar berzikir sebanyak-banyaknya. Pada surat Al-A'raaf ayat 205, Allah memerintahkan agar berzikir menyebut asma-Nya (Allah). Zikir tersebut harus dilakukan di hati dengan merendahkan diri dan rasa takut. Apa maknanya?

      Seorang mukmin jika menyandarkan kepada Al-Quran, maka terkait dengan berzikir dia harus menyebut asma Allah tidak dijaharkan (dikeraskan), melainkan harus menyembunyikannya di dalam hati. Inilah yang dikenal dengan zikir khafi.

      Ketika menyebut asma Allah dalam jumlah yang sebanyak-banyaknya (tanpa perhitungan) di dalam hati, maka seorang mukmin harus mengetahui bahwa yang disebut itu adalah Tuhan. Dia adalah Allah azza wa jalla.

      Tugas seorang hamba dalam menghambakan diri, sepatutnya dilakukan dengan merendahkan diri. Tujuan dari merendahkan diri adalah agar tidak ada perasaan menyombongkan diri di hadapan kemahabesaran-Nya. Allah adalah Tuhan, sedangkan kita adalah makhluk-Nya. Maka, tak patut kita menyombongkan diri dalam berzikir.

      Itulah sebabnya, saat Allah disebut di dalam hati sebaiknya hati kita dibersihkan lebih dahulu jauh sebelum zikir dengan menyebut asma-Nya dimulai. Awali dengan bertobat (solat tobat) disertai sesudahnya dengan beristigfar minimal 1000 kali. Tambahkan ada bacaan solawat setelah selesai istigfar.

      Jika solat tobat telah Anda lakukan, maka bersegeralah ditanamkan istigfar tersebut di dalam hati. Lakukan secara terus menerus (istiqamah) di setiap waktu dan keadaan, yakni di waktu berdiri atau di waktu duduk atau di waktu berbaring pada pagi, siang, sore dan malam hari.

      Apabila Anda benar-benar dapat melakukannya, insya Allah hati anda menjadi tenang. Kapan istigfar akan berhenti Anda lakukan? Maka, hati Andalah yang mengetahui kapan berhenti, kemudia akan berganti sendiri secara spontan tanpa Anda mencari-cari zikir apa yang harus dijadikan untuk disebut di dalam hati.

      Berzikir merupakan perwujudan akan kedudukan Anda sebagai seorang hamba yang sepatutnya tidak pernah melupakan Allah sebagai Tuhan Anda. Dia (Allah) sangat menyukai hamba-hamba-Nya yang tak pernah melupakan Tuhannya sendiri.

      Zikir dengan kalimat toyyibah (La ilaha illallah) bukan tidak boleh dilakukan, melainkan pada waktunya (tak dapat disebut kapan) akan keluar dengan sendirinya di dalam hati Anda. Sesungguhnya dalam hal ini hati Anda dan siapa pun kaum mukmin secara fitrah adalah bersih (suci). Kalimat toyyibah akan segera menyertai zikir yang Anda lakukan di dalam hati jika hati Anda telah benar-benar bersih.

      Demikian penjelasan dari saya. Semoga bermanfaat. Amin.

      Salam dari jauh,


      Ahmad

      Hapus

Artikel Populer 7 Hari Terakhir