21.8.10

Diriku si Faqir

Diriku si Faqir
Sejak terlahir di dunia, saya bukan berasal dari keluarga yang merasakan gairah beragama sangat mengedepankan hati sebagai pijakan. Rasa keberagamaan yang saya awali seperti kebanyakan umat Islam, yaitu menjalankan syari’at sesuai tuntunan Kanjeng Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam. Allah Azza wa Jalla mulai menunjukkan saya memiliki rasa bergairah yang sangat mendalam hingga ke hati, yaitu tatkala beranjak aqil baligh. Semula saya tidak memahami apa yang sesungguhnya terjadi sejak saat itu. Perasaan yang ada di hati adalah saya menemukan keyakinan yang kuat akan pertolongan Allah. Kebetulan saya berasal dari keluarga biasa yang tak dimanjakan dengan harta. Tetapi, semangat untuk meraih kedamaian lewat pendidikan begitu kuat. Maka, alhamdulillah, saya berhasil menempuh pendidikan hingga ke Perguruan Tinggi (UNPAD) tahun 1992.

Rasa percaya diri terbangun, dan merasakan adanya keyakinan yang begitu membekas dalam setiap langkah yang harus dilalui sebagai makhluk Allah. Kemudian, suasana jiwa semakin memuncak setelah usia bertambah. Dari sebatas dzikir apa adanya hingga berdo’a secara istiqamah setiap menghadap Robbul ‘izzati. Kedamaian hati mulai tertanam bila mengingat nama-Nya. ‘Ya Robbi, sungguh aku tak mengerti mengapa kehidupan yang sedemikian membuatku tak tergerak untuk mengagungkannya, justru hatiku senantiasa damai bila kusebut nama-Mu.’

Setelah mengalami kondisi jiwa seperti itu, saya semakin asyik dengan kegiatan yang mengarah kepada Kebesaran-Nya. Sungguh tak kusangka bahwa ghirah untuk lebih mendekati-Nya bertambah meningkat sesudah berkeluarga. Bagaimanapun saya mengakui adanya perbedaan yang jauh antara sebelum dan sesudah menikah. Suasana jiwa setelah berkeluarga jauh lebih mantap mendekati-Nya. Saya menjadi ada karena Ada-Nya memberikan semua yang dibutuhkan secara manusiawi. Sebagai seorang suami, seorang ayah, dan saya pun menjadi seorang anak dari ibuku (ayah telah meninggal dunia). Pengaruhnya terhadap kedamaian di hati ketika berdzikir sangat terasa.

Menjelang usiaku 40 tahun, subhanallah, saya mendengar suara Hati yang menyampaikan salam kepadaku. Keadaan jiwaku berada dalam suasana antara percaya dan tidak. Suara itu sangat jelas. Tetapi siapa? Saya akhirnya membiarkan begitu saja. Dua tahun berlalu, saya semakin menikmati dzikir. Dzikirku dan do’aku membuahkan hasil adanya suara Hati bertambah lebih jelas. “Hai hamba-Ku, Aku Yang Menjadikanmu ada.” La ilaha illa Allah, la ilaha illa Allah, la ilaha illa Allah secara tiba-tiba mulutku melafadzkannya. Padahal dzikir harianku bukan kalimat toyyibah. Saya tidak mengikuti suatu aliran thariqah tertentu. Pikirku, bukankah itu dzikirnya para sufi. Saya bukan seorang sufi. Saya hanya mencintai dzikir kepada Allah melalui pengijazahan seorang kiai di daerahku. Sejak peristiwa itu, dzikir saya hanya kalimat toyyibah.

Masalah peribadatan, saya hanya sebatas mencoba untuk menghambakan diri di hadapan Kebesaran-Nya. Saya adalah makhluk Allah yang hina. Tidak ada satu bagian tubuhku adalah milikku. Semua milik Allah. Maka, solatku menghadap Allah Azza wa Jalla dalam rangka menghambakan diri di hadapan-Nya. Saya merasakan menjadi seorang hamba ketika diriku berada di dalam Kekuasaan-Nya. Betul-betul menjadi seorang hamba. Nol…tak mampu apa-apa, tak memiliki apa-apa, yang dapat dilakukan hanya berterimakasih. Inipun diajarkan oleh-Nya. Jadi, dalam posisi sebagai hamba, diriku ini adalah faqir. Lemah tak berdaya.

Silakan dibaca Artikel Terkait di bawah ini

10 comments:

  1. dalam waktuku 24 tahun aku masih menapaki jalan, jalan yang masih samar dalam perantauan. sehingga akupun hanya mengharap kepada Allah yang memberi petunjuk kehidupan...

    ReplyDelete
  2. subhanalloh,,barokalloh ya pak,,,membaca kisah pendek yang bapak sampaikan begitu dalam.
    hm,,sy juga pernah merasakan yang namanya "disapa" hidayah
    sungguh bahagia.
    semoga Alloh tidak mencabut hidayah yang sudah diberikan ini
    aamiin
    mampir blog saya pak
    jalanfirdaus.wordpress.com

    ReplyDelete
  3. Di usia mendekati 40 thn saya juga pernah d sapa salam kejadiannya d bln romadhon sehabis shalat subuh terus tidur antara sadar dn tdk sadar kalau kata orang jawa bilang kaya di rep repi, alhamdulillah di bln Romadhon itu spiritual saya pada puncaknya semua amalan insyaallah d amalkan.

    Pertanyaan saya siapakah yang memberikan salam pada saya, apakah cuma syetan saja yang mau menggoda ataukah malaikat.
    Waalahu a'lam

    ReplyDelete
  4. Pak husainahmad, bila tidur selalu berlindung kepada Allah, insya Allah Dia akan melindungi anda. Bila sebaliknya, maka boleh jadi adalah bisikan setan! Ketika ada suara dalam keadaan terjaga, maka insya Allah bila terdengarnya di dalam hati, maka itu adalah calon pembimbing anda yang dipersiapkan Allah untuk memberi anda petunjuk! Tetapi, bila seperti ada suara di telinga anda, maka itu adalah jin!

    Allah Azza wa Jalla akan membantu anda sekiranya mau berdzikir khofi!

    ReplyDelete
  5. ASsalamualaikium..........
    diusiaku yang tidak muda lagi ini baru terasa dan bertanya dalam hati yang selalu berkecambuk ..APA YANG KU CARI DI DUNIA INI ?,,,,,,,,,,,sampai2 ku dapat saran dari Saudara cobalah perdekat dengang hati dan bicaralah dengan hatimu , Apa arti dari saran Sudaraku itu .mohan petunjuk dan saran Terimakasih

    ReplyDelete
  6. Wa 'alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh,


    Sekiranya saya diminta untuk menjelaskan apa yang dimaksud pak Alan, sebagaimana saran Saudaranya, tentang perkara hati, saya mohon diberikan kebebasan untuk beradu ajaran, bukan beradu pendapat!

    Ajaran yang saya maksudkan adalah segala sesuatu yang bermuara pada ayat-ayat Allah. Sedangkan pendapat lebih merupakan cara-cara akal dalam mengendalikan segala informasi yang masuk ke dalam otak! Akal cenderung berpikir bagaimana informasi yang diterima dapat diolah, dianalisa dan disimpulkan!

    Maka, pendapat kerap kali berakhir dengan perbedaan yang ujung-ujungnya bersitegang antar orang yang saling mengemukakan pendapatnya. Mengapa dapat terjadi seperti itu?

    Perbedaan pendapat dapat terjadi karena setiap orang memuat informasi yang berbeda di dalam otaknya! Perbedaan muatan itulah yang sesungguhnya dapat melahirkan perbedaan pendapat! Jadi, setiap orang, dengan otaknya (intelegensinya) pasti berbeda dalam menangkap setiap informasi (problema kehidupan). Kenyataan menunjukkan bahwa masing-masing orang berbeda kecerdasan intelegensinya (IQ).

    Anda akan kebingungan ketika akal tak mampu menjawab semua permasalahan hidup yang dihadapi. Akal sangat terbatas menampung segala informasi yang dapat memecahkan permasalahan hidup!

    Bagaimana mungkin Allah menjadikan akal melebihi dari kapasitasnya sebagai makhluk ciptaan-Nya, yang lemah tak berdaya! Akal hanyalah satu dari sekian anugerah Allah yang diberikan kepada manusia! Masih banyak anugerah lain yang sebenarnya dapat diberikan kepada manusia! Hanya saja, manusia lebih memilih jalannya sendiri dengan menyandarkan akalnya!

    Hati (ruh), sementara itu, disisihkan. Padahal, hati (ruh) adalah sebuah 'wadah' yang memuat nilai-nilai kebenaran. Allah Azza wa Jalla menciptakannya ketika manusia berada di dalam rahim ibunya untuk senantiasa tunduk dan patuh kepada-Nya. Pada ruh, diperintahkan untuk senantiasa menerima nilai-nilai kebenaran yang datangnya dari Pemilik Kebenaran, yaitu Allah. Sayangnya, akal yang diciptakan untuk tujuan bertafakur, dipakai untuk mengakali kebenaran! Tidak digunakan sebagaimana seharusnya. Ketika akal tidak digunakan dengan sepatutnya dan hati dibiarkan tidak sebagaimana fitrahnya, maka yang muncul adalah kegalauan, kebimbangan, kekalutan, kegelisahan dan berbagai penyakit hati lainnya.

    Adakah selanjutnya perlu untuk direview (ditinjau) dari kekeliruan dalam menyikapi anugerah Allah itu? Artinya, sepatutnya manusia memfungsikan akal sebagaimana Allah berkehendak menciptakannya, yaitu untuk merenungkan ciptaan-Nya! Dengan begitu, akal akan tunduk terhadap kemahabesaran Allah! Di sisi lain, hati (ruh) akan meresponnya dengan menyetujui bahwa manusia diciptakan oleh Allah untuk beribadah kepada-Nya! Akal sebenarnya mengetahui bila mengenali al-Qur'an sebagai petunjuk bagi kaum beriman.

    Dengan akalnya, manusia dapat belajar dari al-Qur'an, dan dengan hatinya manusia dapat meningkatkan keyakinan akan kebenaran Allah! Hati tidak dapat diajak untuk mendustai kebenaran! Akal yang mengikuti hawa nafsulah yang mengakali untuk tidak tunduk dan patuh kepada hati yang menyampaikan kebenaran!

    Jalinan kerja sama yang sangat baik antara akal dengan hati akan melahirkan keyakinan yang sangat kuat! Bila akal dicemooh oleh iblis laknatullah 'alaih, maka hati selalu berdzikir kepada-Nya! Jika hati berdzikir kepada Allah, akal akan memperkuat dengan mengkaji ayat-ayat Allah di dalam al-Qur'an dan hadits!

    Keduanya bersinergi! Insya Allah, kondisi jiwa menjadi stabil di dalam kekuasaan Allah! Ingatlah bahwa Allah lah Yang Maha Berkuasa atas semua ciptaan-Nya! Dengan mengingat Allah Azza wa Jalla (dzikrullah) sebagai Tuhan Yang Maha Pencipta, maka manusia sesungguhnya hanya bergantung kepada-Nya! Tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah!

    Jadikan hati menjadi imam bagi diri! Sedangkan akal lebih patut mengikuti apa kata hati yang senantiasa berdzikir kepada-Nya (Allah...Allah...Allah). Maka lahirlah jiwa yang mutmainnah (tenang lagi tenteram).

    Salam dari jauh.

    ReplyDelete
  7. Assalamulaiakum wr.wb,.

    Alhamdulillah telah dipertemukan dengan Kang Ahmad lewat tausiah2nya yang menyejukan hati. Mudah2an Kang Ahmad senantiasa diberikan kesehatan lahir dan bathin dan selalu berada dalam lindungan Allah SWT. Sehingga lewat penanya bisa terus memberikan bimbingan kepada hati-hati yang merindukan Allah dan Kangjeng Nabi Muhammad SAW.

    Selain itu mudah2an lewat mata bathin Kang Ahmad bisa memberikan dorongan doa kepada saya yang sedang galau karena berada di tempat jauh dari istri dan anak-anak yang tentu saja mereka memerlukan bimbingan saya sebagai ayahnya. Sementara saya di sini menghadapi persoalan tersendiri untuk diatasi.

    Diantos dorongan do'ana ti pangersa Kang Ahmad. Hatur nuhun sateuacana.

    Wassalamualaikum wr.wb.

    pribados

    ReplyDelete
  8. Wa 'alaikum salam wr. wb.

    Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah, Tuhan semua makhluk-Nya di mana pun adanya. Jangankan hanya di bumi, di wilayah yang tak dapat dijangkau oleh penglihatan mata (lahir)pun Allah Maha Mengetahui! Dan Dia lah Pemiliknya!

    Mugi-mugi Akang oge sami, insya Allah, berada di dalam lindungan Allah! Sebuah kepastian bagi kaum mukmin yang senantiasa rindu kepada-Nya, juga Nabi-Nya Saaw, akan diberi pertolongan dari arah yang tidak dapat diduga oleh akal intelektual manusia yang sangat terbatas lagi tak dapat mencapai Dia Yang Maha Goib oleh penglihatan (lahir) selain yang telah diperkenankan (ma'rifat)!

    Allah Swt pasti akan menurunkan pertolongan kepada orang-orang yang sedang menempuh perjalanan menuju kepada-Nya. Berpendidikan demi ilmu yang bermanfaat untuk diri dan umat akan mengantarkan sebagai jalan (wasilah) menuju kepada Dia (Allah) Yang Maha Mulia lagi Maha Mengetahui.

    Dalam perjalanan (berpendidikan) tanpa disertai anak dan istri merupakan salah satu jihad (perjuangan), yang dengan penuh ketabahan menjauhkan mereka, demi kehidupan yang lebih menyongsong teraihnya nilai-nilai keutamaan sebagai hamba-Nya!

    Hadapkan segala hal hanya kepada-Nya! Anak dan istri bukanlah milik Akang! Dialah yang memiliki-Nya! Mereka hanyalah amanat-Nya yang diserahkan seluruh pertanggungjawabannya kepada Akang sebagai sang pemimpin (imam).

    Maka, bila berpendidikan demi berubahnya kualitas keimanan, tentu menjadi lebih berharga ketimbang sebatas untuk prestasi duniawi! Allah Swt tidak mengabaikan hak-hak manusia untuk dapat menikmati sebahagian (kenikmatan duniawi). Akan tetapi, di sisi-Nya seluruhnya adalah yang terbaik!

    Persepsi sementara orang terhadap keseriusan mendekati Allah dipandang dapat menghalangi kehidupan duniawi sesungguhnya salah! Justru Allah Swt mengingatkan agar jangan melupakan bahagian kehidupan dunia sebagai salah satu wadah yang digunakan untuk menjemput akhirat! Tanpa melampaui kehidupan dunia, mustahil manusia akan dapat meraih kebahagiaan di akhirat!

    Akan tetapi, dunia (termasuk kenikmatan di dalamnya) tidaklah menjadikannya lupa akan kekuasaan Allah sebagai Sang Maha Pencipta. Dialah Tuhan kita, yang sekiranya tiada Dia, maka mustahil kita (manusia) ada!

    Untuk itu, keberadaan manusia di dunia sudah sepatutnya senantiasa mengingat Dia Yang Maha Pencipta!

    Untuk Akang, inilah do'a yang patut dipanjatkan kepada Allah Azza wa Jalla!


    Duhai Allah,
    Sekiranya diriku mengetahui yang goib,
    tentu saja, tak mesti jiwaku galau seperti ini!

    Akan tetapi, duhai Yang Maha Mengetahui,
    diriku hanyalah manusia yang masih mampu melihat yang tampak,
    belum Engkau anugerahi kepada jiwaku mengerti yang berada dalam ketidakmampuan mata (lahir)ku mengetahuinya!
    Hidupku hanya untuk-Mu!
    Namun hatiku masih untuk anak-anak dan istriku!

    Duhai Yang Maha Penyayang,
    Adakah diriku sepatutnya hanya merindukan-Mu?
    Agar Engkau tidak menjadikan hatiku tak tenteram apabila mengingat anak dan istriku?

    Jikalau demikian,
    aku memohon kepada-Mu ampunan
    dan tenangkanlah jiwaku!
    Berilah kepadaku kabar gembira bahwa keluargaku senantiasa berada dalam lindungan dan curahan kasih sayang-Mu, ya Allah!
    Ya Arhamar Rohimin!
    Duhai Allah Yang Maha Terkasih dari segala yang mengasihi!


    Semoga Akang tidak menganggap semua ini bermakma menggurui! Tidak, sama sekali tidak. Tidak patut saya mengaku-aku sebagai yang serba bisa! Ini hanyalah luncuran dari hatiku yang sangat mencintai Allah Azza wa Jalla! Tanpa Dia, saya hanyalah makhluk yang lemah tak berdaya!

    Salam dari Jauh!

    ReplyDelete
  9. membaca kalimat-kalimat bapak saya menjadi sangat tidak berdaya, sungguh ada rasa penyesalan mendalam ketika hati sadar akan kebenaran tapi, pikiran mengoyakkan.

    saat ini saya benar-benar merindukan tausiah yang demikian. semoga Allah meridloi kalimat-kalimat bapak.

    mohon doanya pak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bangpek yang dimuliakan Allah. Setiap diri pasti memiliki rasa kerinduan pada kebenaran. Jiwa yang menjadi bagian dari keberadaan seorang hamba hidup di dunia ini secara sunatullah tercipta untuk mengabdi (menghambakan diri) di hadapan kemahabesaran Allah. Karena itu, jiwa atau diri atau hati atau ruh sesungguhnya tak dapat menolak membutuhkan bimbingan, pencerahan, kedamaian, ketenteraman atas karunia terbesar yang telah dianugerahkan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya.

      Bagaimanakah setelah mengetahui apa yang telah dianugerahkan oleh Allah tersebut? Inilah yang oleh kebanyakan manusia tidak memberikan perhatian yang penuh dan utuh sebagaimana yang dikehendaki Allah dalam penciptaan langit dan bumi, termasuk manusia dan jin di dalamnya, serta silih bergantinya malam dan siang. Dan inilah problema terbesar umat manusia dalam menempuh kehidupan di dunia ini.

      Tetapi, sebagai muslim, sepatutnya kita harus pandai bersyukur, bahwa Allah Maha Baik masih memberikan kemahabijaksanaan-Nya dengan hidayah.
      Banyak di antara yang lain, termasuk non muslim, masih belum menyadari akan keluasan pemberian-Nya selama hadir di muka bumi-Nya ini.

      Terbangunnya sebuah kesadaran akan kedudukan kita (manusia) sebagai hamba Allah sesungguhnya merupakan hidayah yang telah Allah pancarkan ke dalam hati kita. Kebanggaan diri di dalam kekuasaan Allah, sebaliknya, akan dapat mengantarkan kita pada kedzaliman terhadap diri sendiri, juga orang lain.

      Beribadah kepada Allah telah diperintahkan kepada segenap jin dan manusia. Maka, seorang hamba yang tunduk dan patuh takkan pernah mengabaikan perintah-Nya. Sebaliknya, sekali lagi, orang-orang yang selalu membangga-banggakan dirinya, mereka tidak pernah merasakan bahwa dirinya adalah makhluk ciptaan-Nya, melainkan seolah dirinya hadir tanpa kekuasaan Allah sebagai Tuhan Yang Maha Pencipta.

      Keberadaan manusia yang semacam itu, yang selalu membangga-banggakan diri, pasti telah terhasut oleh iblis yang menjadi musuhnya yang nyata ('aduwwum mubiin). Kedurhakaan, kekufuran, juga kemusyrikan, kemunafikan dan kefasikan adalah sebuah wujud pembangkangan kepada Allah Yang Maha Berkuasa. Iblis cerdik telah menghasut pikiran orang-orang semacam itu.

      Oleh karena itu, Allah Yang Maha Baik lagi Maha Bijaksana menjelaskan bahwa apabila setan selalu mengganggumu di dalam pikiran, maka berlindunglah kepada Allah.

      Iblis sesungguhnya tidak berakal, tetapi dia cerdik mampu menguasai pemikiran manusia untuk dihasut agar tidak menaati Allah. Kelihaiannya telah berhasil menjebak manusia sebagai pembangkang (tidak tunduk dan patuh) pada suara hatinya, melainkan mendominasikan kepada akalnya yang cerdas lagi tak peduli pada hal-hal yang bersifat tak logis (terjangkau akalnya).

      Padahal, Allah Yang Maha Mulia telah menerangkan bahwa salah satu ciri orang yang tunduk dan patuh (takwa) adalah beriman pada yang goib (bukan pada iblis yang goib) yang tak terjangkau oleh akalnya. Jiwa atau hati atau diri atau ruh kita juga goib. Dan Allah juga Maha Goib.

      Allah telah menjelaskan pada ayat-Nya, bahwa Dia lebih dekat ke hati (yang goib itu) daripada ke urat lehernya (otaknya).

      ولقد خلقنا الإنسان ونعلم ما توسوس به نفسه ونحن أقرب إليه من حبل الوريد

      "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya" (QS. Qaf: 16).

      Allahu Akbar wa lillahil hamdu.

      Salam dari jauh,


      Ahmad



      Delete

Artikel Populer 7 Hari Terakhir