13.10.10

Menuju Jalan Allah SWT

Menuju Jalan Allah SWT
“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya” (QS. Al-Baqarah: 154).

Manusia dan jin diciptakan Allah untuk beribadah kepada-Nya tanpa kecuali. Allah SWT mengajak manusia dan jin dalam beribadah kepada-Nya agar diberikan petunjuk menuju jalan Allah Azza wa Jalla. Apa bedanya antara Allah SWT dengan Allah Azza wa Jalla?

Dalam hal mendekati Allah, manusia dibimbing untuk dapat menemui Tuhannya di hadirat-Nya. Allah, alam dunia, dan makhluk-Nya berada di dunia yang berbeda. Allah berada di hadirat-Nya, manusia dan makhluk lainnya berada di alam dunia. Allah adalah Tuhan Sang Pencipta, sedangkan manusia adalah makhluk-Nya. Hubungan antara keduanya, yaitu Allah sebagai Pencipta dan manusia sebagai yang diciptakan, sangat dekat.

Kedekatan hubungan inilah yang menyebabkan kedudukan manusia sebagai makhluk harus menuju kepada-Nya. Lalu bagaimana cara mereka berhubungan? Allah SWT telah mewahyukan kepada rasul-Nya melalui perantaraan malaikat Jibril dengan cara solat dan zikir kepada-Nya. Allah SWT adalah ismu dzat yang memiliki kewenangan meminta makhluk-Nya menghadap kepada-Nya agar dipertemukan dengan Dia yang berada di hadirat-Nya. Dia yang berada di hadirat Allah adalah Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah azza wa jalla sebutan-Nya.

Jadi, Allah SWT adalah Tuhan Yang Memiliki kewenangan mengajak manusia dan jin di alam dunia untuk beribadah kepada-Nya sebagai Tuhan Yang Maha Suci dan Maha Tinggi kedudukan-Nya. Sementara Allah azza wa jalla adalah Tuhan Yang Menguasai seluruh makhluk-Nya di dunia, baik dunia lahir maupun dunia tak tampak. Ini hanya menjelaskan kedudukan Allah dalam mengatur hamba-Nya. Baik Allah SWT maupun Allah azza wa jalla, tetap Dia adalah Tuhan Yang Mahaesa, yaitu Allah. Allah berfirman, “Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa” (al-Ikhlas:1). Allah juga berfirman kepada nabi-Nya di hadapan Ahli Kitab tentang keberadaan Allah sebagai Tuhan Yang Esa, “Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)" (QS. Ali Imron: 64).

Kedudukan hamba di hadapan Allah SWT adalah seperti anak dan orang tua (awas ini hanya sebuah perumpaan!). Anak semestinya dekat dengan orang tua. Setiap ada keperluan selalu menemuinya untuk diberikan restu dan dido’akan agar berhasil apapun yang menjadi hajatnya. Sebagai orang tua, tentu saja dia akan berupaya agar anaknya bahagia. Tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya celaka. Selanjutnya, orang tua dan anak akan berada di dalam keluarga yang bahagia. Luar biasa! Adakah hubungan hamba dengan Allah seperti itu?

Anda, saya, dan siapapun seharusnya seperti itulah cara berhubungan dengan Allah. Jika dilakukan sebagaimana hubungan mesra antara anak dan orang tua, maka Anda akan mendapati Allah benar-benar sayang kepada hamba-Nya. Subhanallah. Dia sangat sayang melebihi sayangnya orang tua kepada anaknya. Allahu Akbar. Adakah Anda meragukan pernyataan saya ini?

Saya adalah manusia biasa seperti Anda, tetapi keyakinan saya sangat kuat akan kebenaran Allah sebagaimana yang difirmankan-Nya di dalam Al-Quran, bahwa Dia Maha Sayang kepada hamba-Nya yang berbakti kepada-Nya! Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda ragu dengan firman Allah yang menyebutkan bahwa Dia menetapkan atas diri-Nya kasih sayang? “Katakanlah: "Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi? "Katakanlah: "Kepunyaan Allah". Dia telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang. Dia sungguh-sungguh akan menghimpun kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan terhadapnya. Orang-orang yang merugikan dirinya, mereka itu tidak beriman” (QS. Al-An’am:12).

Anda akan ditemui oleh Allah, insya Allah, jika Anda berprasangka baik kepada-Nya. Jangan ragu. Ketika Anda ragu, maka mustahil Anda mendapati keyakinan bahwa Allah azza wa jalla menemui Anda. Haruskah Anda mengalami mati lebih dahulu (mati suri) untuk menemui-Nya atau ditemui oleh Dia Yang Maha Bijaksana? Kalau demikian, maka Anda tidak akan dapat merasakan nikmatnya berhubungan dengan Allah secara sadar. Anda pasti dapat berhubungan dengan Allah secara langsung di hadirat-Nya bila benar-benar meyakini. Anda takut? Mengapa takut kepada Allah bila Anda tidak berbuat jahat. Takutlah kepada Allah bila memang Anda banyak berbuat dosa. Tetapi, sesungguhnya Allah adalah Tuhan Yang Maha Pengampun. Maka, bila Anda memohon ampunan kepada-Nya, Allah pasti mengampuninya!

Menghadap kepada Allah seharusnya dilakukan secara khidmat sehingga Anda benar-benar menjadi seorang hamba yang sangat mendambakan perjumpaan dengan-Nya ketika Anda masih berada di dunia. Singkirkan jauh-jauh dari persepsi Anda, bahwa Allah hanya dapat dihubungi atau menemui atau melihat Anda, atau Anda melihat Allah, apabila sudah meninggal. Tidak ada jaminan dapat ditemui Allah bila Anda menunggu sampai ajal menjemput anda. Apa kriterianya sehingga Anda beranggapan seperti itu? Apakah Allah itu hanya berada di saat manusia sudah meninggal? Bagaimana dengan pernyataan bahwa Allah itu Maha Mengetahui yang goib dan yang nyata? Allah SWT berfirman, “Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan: "Jadilah, lalu terjadilah", dan di tangan-Nyalah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang gaib dan yang nampak. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui” (QS. Al-An’am:73).

Adakah yang meyakini bahwa Allah juga dapat menghampiri Anda di alam dunia dalam keadaan Dia sebagai Allah Yang Maha Goib? Bukankah Nabi Besar Muhammad saw adalah sama seperti Anda sebagai manusia, yang saat beliau masih hidup menerima firman dari Allah? Allah menyampaikan langsung kepada beliau tanpa perantaraan malaikat Jibril apabila ada yang akan disampaikan. Firman Allah yang disampaikan langsung dalam hatinya kepada beliau dikenal sebagai hadits qudsi.

Allah azza wa jalla memilih beliau sebagai nabi dan sekaligus rasul adalah keimanan yang harus kita pegang teguh. Anda jangan berpikiran bahwa karena beliau nabi dan rasul-Nya, maka manusia selain beliau tidak mungkin dapat ditemui-Nya. Lalu bagaimana dengan para wali-Nya yang hidup sesudahnya, apakah mereka tidak ditemui Allah azza wa jalla karena mereka bukan nabi? Allah itu adalah Tuhan Yang Maha Bijaksana. Dengan kebijaksanaan-Nya, maka Dia berhak berbuat sebagaimana kehendak-Nya. Adakah Anda meyakini bahwa Allah itu dapat berbuat sesuai kehendak-Nya?

Bagaimana jika Allah berkehendak untuk menemui hamba-Nya, adakah seorang makhluk dapat menghalangi-Nya? Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Jika kita menyandarkan kepada keyakinan seperti itu, maka tidak mustahil bagi-Nya berbuat sebagaimana kehendak-Nya. Anda tidak akan ditemui oleh Allah baik di dunia maupun di akhirat bila tidak memiliki keyakinan adanya kehendak Allah. Bila Anda memiliki keyakinan, mengapa Anda ragu? Saya yakin Anda dihasut oleh pemikiran cerdas Anda yang tanpa disadari Anda terkena godaan setan yang terkutuk! Anda berdalih dengan cara pandang Anda yang hanya lahir saja, tidak mengacu kepada suara hati Anda. Keliru sekiranya ada yang mengatakan bahwa Anda adalah manusia yang tidak ada hak sebagai hamba Allah, sehingga Anda beranggapan bahwa diri Anda tak patut ditemui-Nya.

Anda memiliki kesempatan untuk ditemui Allah azza wa jalla saat Anda masih di alam dunia, bukan di alam keabadian. Allah akan menemui Anda di wilayah tak tampak dari pandangan mata lahir. Apakah benar demikian? Saya, insya Allah, dengan pertolongan Allah SWT akan menjelaskan kepada Anda secara detil di sini.

Saya pertama-tama akan mengajukan pertanyaan kepada Anda. Adakah Anda sebagai muslim beriman kepada Allah? Saya menjamin Anda pasti yakin bahwa Allah itu Ada bila Anda seorang muslim. Beriman kepada Allah adalah salah satu rukun iman. Batal kemusliman seseorang bila dia tidak meyakini ada-Nya Allah Sang Maha Pencipta. Anda akan dihadapkan dengan pertanyaan selanjutnya tentang bagaimana Anda berhubungan dengan Allah? Anda lebih memilih solat dan zikir ketimbang praktek ibadah yang lainnya. Atau, apakah Anda memiliki pendapat yang lain? Puasa, zakat, atau ibadah haji? Apabila anda memilih selain solat dan dzikir, bagaimana cara anda melaksanakan hubungan dengan Allah?

Puasa, misalnya, kapan Anda dapat berhubungan dengan Allah? Apakah saat Anda sedang menyatakan niat atau saat Anda berbuka puasa? Saya meyakini bahwa cara Anda berhubungan dengan Allah melalui puasa sangat sulit dilakukan, sekalipun bisa saja saat Anda niat atau berbuka. Tetapi, adakah Anda merasakan sedang berhubungan dengan Allah saat Anda berbuka, padahal perut Anda sedang menunggu hidangan? Patutkah Anda berhubungan dengan Allah saat Anda menanti nikmatnya perut yang sudah lama ingin berbuka? Saya anggap Anda pasti tidak mungkin dapat menjelaskan bahwa Allah patut diperlakukan dalam keadaan Anda sedang berbuka puasa. Demikian juga dalam keadaan Anda menyatakan niat berpuasa, saya sudah dapat menganalisa pasti sangat sulit Anda dapat berhubungan dengan Allah.

Sekiranya Anda memilih praktek mengeluarkan zakat, pertanyaan saya sama dengan praktek berbuka dan menyatakan niat puasa. Saya sama mengalisanya, yaitu pasti sulit dapat berhubungan dengan Allah. Andaikan Anda memilih praktek ibadah haji, adakah bacaan dan rukun-rukun yang dilaksanakan sangat mudah berhubungan dengan Allah, kecuali membaca kalimat-kalimat toyyibah (zikir lisan) dan solat? Jawabannya sama. Anda pasti akan menjawab sama dengan saya, bahwa solat dan zikir merupakan cara yang paling wara’ (hati-hati) dalam berhubungan dengan Allah SWT.

Salah satu keyakinan akan solat dan zikir dapat mengantarkan anda menuju Allah azza wa jalla adalah solat dan zikir itu sarana atau cara Anda mengingat Allah SWT setiap waktu. Dalam satu hari, solat dilakukan sebanyak lima waktu (17 raka’at) asal Anda benar-benar menjalankannya sebagaimana hakikatnya. Salah satu aslinya solat adalah zikir (ingat) kepada Allah SWT. Salah bila Anda solat sama sekali tidak mengingat Allah azza wa jalla. Solat akan terasa aslinya solat bila Anda mengingat Allah azza wa jalla sedang melihat Anda. Lalu, Anda merasakan bahwa Anda juga melihat Allah azza wa jalla di dalam solat. Saya menyebut dengan kata ‘merasakan’, maknanya adalah seolah-olah. Pemahaman seolah-olah itu karena Anda belum sampai diperkenankan oleh Allah dapat melihat-Nya secara langsung dengan mata hati.

Seandainya Anda sudah sampai diperkenankan, maka Anda tidak dapat bergerak melakukan solat kecuali seluruh anggota tubuh merunduk ketakutan. Solat seperti itu dinamakan solat khusyuk. Anda tidak lagi memperhatikan (terlintas di akal memikirkan) apa pun walau terdengar suara di sekitar anda, kecuali Allah SWT. Anda benar-benar sedang berdialog dengan Allah azza wa jalla seperti layaknya seorang rakyat jelata di hadapan Sang Raja. Anda begitu takut, walaupun Allah azza wa jalla sama sekali tidak menampakkan kekurangakraban dengan Anda. Dia akan menjawab apa pun yang anda sampaikan di dalam solat, tentu saja bukan di bibir melainkan di hati. Masya Allah. Allah azza wa jalla adalah Tuhan Anda, mustahil mengabaikan Anda. Dia adalah yang menciptakan Anda. Allah azza wa jalla sangat menyayangi Anda.

Solat akan menjadi nikmat bila sudah merasakan kehadiran Allah saat Anda menghadap-Nya. Kalaupun belum sampai diperkenankan ditemui oleh Allah azza wa jalla, anda tetap merasakan nikmat dengan suasana hati bahagia. Luar biasa! Apalagi bila sampai Anda melihat-Nya langsung dengan mata hati Anda. Subhanallah, nikmatnya tiada dapat terlukiskan dengan suatu kata, kata-kata atau kalimat. Bukan hayal atau fiksi. Sangat keliru, bahkan salah bila menganggap bahwa Allah azza wa jalla tidak dapat dilihat. Saya menyatakan pahala yang paling nikmat dari seluruh peribadatan adalah ketika Anda dapat memandang wajah-Nya.

Melihat dengan mata hati sangat berbeda dengan menghayal dengan pandangan otak dalam memori. Berhayal itu tiadanya sesuatu pada realitas yang sesungguhnya. Berhayal juga berbeda dengan membayangkan. Membayangkan dapat terjadi sebagaimana realitas, tetapi hanya sebatas di wilayah otak. Objek yang dibayangkan sudah tidak lagi terjadi saat Anda membayangkan. Akan tetapi, pandangan hati itu benar-benar terjadi secara sesungguhnya, bukan dibayangkan dan, apalagi, dihayalkan. Orang yang berhayal atau membayangkan pasti dia akan mendapati seluruh urat-urat syaraf kepalanya menegang kesakitan.

Anda dapat bertanya kepada para pecandu narkotik, bagaimana dia menghayal. Atau, Anda tanyakan kepada para penulis cerpen atau novel, ketika mereka membayangkan suatu peristiwa realitas yang dicoba untuk dimunculkan kembali di dalam otaknya, atau tokoh-tokoh tertentu yang fiktif sambil dibayangkan. Atau Anda sendiri dapat melakukan hayalan tentang sesuatu? Saya akan mencoba meminta Anda untuk menghayalkan wajah Anda tanpa terlebih dahulu melihatnya di cermin, seperti apa Anda dapat menangkapnya? Sulit atau mudah? Coba Anda ulangi pada saat Anda solat. Anda akan merasakan bagaimana sulitnya Anda membayangkan, apalagi menghayalkan, wajah Anda pada saat Anda menunaikan solat. Saya memastikan bahwa solat anda sudah tidak lagi khusyuk mengingat Allah, tetapi memikirkan wajah Anda. Solatnya pasti tidak nikmat. Sebaliknya, kepala anda menjadi pusing.

Allah azza wa jalla pasti tidak mungkin menemui hamba-Nya yang solatnya berpaling dari-Nya. Solatnya adalah solat guyon. Bagaimana Anda berbuat seperti itu di hadapan Allah? Anda sendiri pasti dapat merasakan bagaimana sikap Anda ketika ada seseorang menemui Anda, lalu ketika Anda sedang berbicara, dia tidak memperhatikan Anda. Wajahnya tidak melihat Anda, padahal Anda sendiri sedang serius menghadap dia. Bahkan dia menghadapkan wajahnya membelakangi Anda. Anda pasti jengkel. Dalam hati, Anda berkata, ‘ada apa orang ini, menemui saya dan bertanya tentang sesuatu tapi wajahnya tidak menghadap?’ Kalau Allah azza wa jalla Anda perlakukan seperti itu, Dia pun marah. Allah juga pasti menanyakan kepada Anda, “Hai fulan apa maksudmu mengahadap-Ku tapi hatimu berpaling dari-Ku?” Anda sayangnya tidak mendengarkan Allah azza wa jalla sangat marah kepada Anda. Saya meyakini, Allah pasti meninggalkan Anda. Lalu solat anda? Anda hanya mengerjakan solat, tetapi solat Anda hanya sekedar menunaikan kewajiban. Atau sunah. Allah azza wa jalla adalah Tuhan Yang Maha Kasih dan Maha Sayang, maka sekalipun solat Anda berpaling dari-Nya, Dia tetap memberi pahala sepadan dengan perbuatan (amal) Anda. Anda berbuat seperti itu, Allah pun berbuat seperti itu.

Anda berada dalam kehidupan yang tidak ada kebahagiaan bila Anda melakukannya seperti itu. Menuju jalan Allah azza wa jalla tidak dapat ditemukan tanpa ada keyakinan yang kuat. Betapapun Anda rajin solat, tetapi solat Anda tidak dapat mengantarkan Anda menuju kepada-Nya. Solat memang merupakan salah satu jalan yang dapat digunakan sebagai cara untuk menemui Allah azza wa jalla. Akan tetapi, bila solat yang Anda tunaikan sebatas memenuhi kewajiban, maka solat Anda tidak dapat dijadikan  untuk menggapai hadirat Allah azza wa jalla. Dia hanya berkenan menemui hamba-Nya yang secara terus menerus (istiqamah) mengharapkan perjumpaan dengan-Nya tanpa mengenal lelah. Allah azza wa jalla akan menemuinya di saat sedang solat dengan penuh khusyu’. Dia senantiasa mengajak berdialog dengan penuh kasih sayang. Adakah solat anda sampai ditemui Allah seperti itu?

Anda lebih mengerti daripada saya dalam pelaksanaan solat pribadi Anda. Anda pun lebih tahu apakah solat Anda sudah dapat merasakan kenikmatan? Anda patut mendapat kebahagiaan apabila sudah menemukan jalan Allah (sabilillah). Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 154 di atas, bahwa orang-orang yang berada di jalan Allah itu apabila meninggal dunia, maka tidak mati melainkan hidup dengan kebahagiaan di alam barzakh. Anda lebih merasakan pada saat bahagianya solat yang merendah di hadapan Allah SWT. Solat lebih patut menjadi jalan bagi seorang hamba melakukan riyadhoh atau berjuang menemui Allah daripada perjuangan di medan pertempuran.

Saya menyarankan demikian karena Anda berada di Indonesia sebagai negara yang damai, tidak ada peperangan. Kalau, misalnya, Anda berada di negara yang sedang mempertahankan agama Allah dari penjajah asing (kafir), maka itu lebih baik atau lebih diprioritaskan. Jadilah pahlawan Islam apabila negara membutuhkan, bukan atas dasar kemauan pribadi atau kelompok. Untuk mereka yang gugur di jalan Allah karena membela agama-Nya, maka ia gugur dengan mendapati kebahagiaan di alam keabadian, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah, “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki” (QS. Ali Imron: 169).

Allah azza wa jalla akan membantu Anda apabila Anda berniat dengan tulus menghadap kepada-Nya agar diberikan jalan yang lurus. Allah SWT berfirman, “Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang kepada (agama)-Nya, niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya” (QS. An-Nisa: 175).

Allah azza wa jalla menghadiahkan karunia kepada hamba-hamba-Nya yang berjihad (saat ini lebih diartikan sebagai jihad fin nafsi) kepada-Nya jalan-jalan yang terbaik supaya dapat sampai kepada-Nya. Allah SWT berfirman adakah yang memohon kepada-Nya jalan-jalan itu, maka pasti akan ditunjukki jalan-Nya, “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al-Ankabut: 69).

Allah azza wa jalla menunjukki kepada Anda agar menunaikan solat sebagaimana yang diwahyukan di dalam Al-Quran sebagai amal yang paling utama, adalah patut bagi anda untuk mengikuti-Nya. Allah SWT berfirman, “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur'an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Ankabut: 45).

Itulah solat yang mengingat Allah, dan pahalanya lebih utama dibandingkan dengan ibadah-ibadah lainnya. Akan tetapi, tidak cukup dengan solat saja mengingat Allah itu. Sesudah solat, Anda tetap harus mengingat-Nya sambil berdiri, duduk, berbaring atau dalam keadaan apapun di luar solat. Allah SWT berfirman, “Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat (mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman” (QS. An-Nisa: 103).

Ajakan Allah SWT kepada hamba-Nya yang beriman agar selalu berzikir sebanyak-banyaknya, tidak ada jumlah yang ditentukan. Anda apabila berdzikir, maka berzikirlah dengan sebanyak-banyaknya. Berapa pun Anda mampu apakah di saat pagi atau petang tidak ada masalah. Pakailah takaran perhitungan dengan kemampuan berzikir. Minimal seratus kali. Anda akan mendapatkan petunjuk bagaimana seharusnya berzikir. Jalan menuju kepada-Nya pasti akan ditunjukkan. Anda, insya Allah, saya tunjukkan bagaimana seharusnya berdzikir kepada Allah azza wa jalla sekiranya Anda menginginkan. Bukan berarti saya mengharapkan Anda pergi menemui saya, yang tak mungkin dilakukan karena jarak yang cukup jauh. Cukup Anda berkomentar di blog saya. Pada saat Anda berkomentar, cukup anda kenalkan diri Anda, bila memiliki website silakan tampilkan.

Allah azza wa jalla adalah Tuhan Anda dan saya. Dia, insya Allah, akan memberi petunjuk kepada kami apakah layak Anda sudah berdzikir atau tidak. Pada dasarnya, berzikir kepada-Nya harus dilakukan sesudah Anda menunaikan segala kewajiban Anda selaku muslim. Rukun Islam, apabila anda sudah beribadah haji itu lebih baik, patut Anda tunaikan lebih dahulu. Jangan Anda meminta diberikan zikir, tetapi Anda belum solat. Saya hanya akan memberikan zikir apabila Anda sudah benar-benar menjalankan solat, puasa ramadhan, mengeluarkan zakat (minimal zakat fitrah), syukur bila sudah haji (hanya wajib bagi yang mampu menunaikannya). Secara lahir, saya juga belum menunaikan ibadah haji. Maklum amat kurang materi. Saya adalah seorang PNS kelas rendah di daerah kabupaten Indramayu.

Adapun saya pandai menulis, insya Allah, bukan karena saya seorang PNS, akan tetapi andalan zikir saya yang sudah lama saya lakukan. Alhamdulillah, akal saya sudah tidak digunakan lagi. Seluruhnya bersumber dari hati. Apa iya? Anda pasti penasaran. Allah Azza wa Jalla, alhamdulillah, sudah mengabulkan do’a saya. Ada do’a yang saya panjatkan lebih dari dua puluh tahun sejak saya kuliah di UNPAD, berisi dengan munajat seperti ini, “Ya Allah, penuhilah hati kami dengan ilmu dan ma’rifat.” (wamla’ qulubana bil ‘ilmi wal ma’rifat). Salah satu bait dari do’a tersebut sangat berbekas di hati. Anda pasti akan sulit bila ditangkap dengan akal.

Adakah Anda berdo’a selama lebih dari dua puluh tahun tak henti dilakukan setiap ba’da solat? Allah SWT Maha Mendengar do’a orang yang berdo’a. Pasti Dia mengabulkan do’a bagi hamba-hamba-Nya yang berharap dengan penuh cemas, tetapi merasa yakin akan kasih sayang-Nya. Anda belum apa-apa dalam berdo’a. Saya meyakini itu. Banyak orang berdo’a baru satu minggu, satu bulan, bahkan belum satu tahun sudah mengeluh. Lalu terbesit di hatinya, ‘apakah do’a saya tidak dikabulkan?’ Allah SWT menilai hamba-Nya dari prasangka hamba-Nya kepada-Nya. Allah azza wa jalla bukan tidak menerima setiap do’a hamba-Nya, akan tetapi Allah SWT lebih mengetahui yang terbaik buat hamba-Nya. Dikabulkan atau tidak dikabulkan, Allah SWT pasti menerimanya. Lalu, bagaimana do’a yang belum dikabulkan itu? Allah azza wa jalla akan menjadikan do’anya sebagai pahala untuk di alam keabadian. Patutkah Anda berprasangka buruk akan kebaikan-Nya.

Silakan dibaca Artikel Terkait di bawah ini

10 comments:

  1. Assalamualaikum...

    Sebuah pencerahan yang luar biasa..sebagai hamba Allah yang mencari jalan lurus jalan yang diridhoi-Nya, boleh saya mendapat pencerahan lebih lanjut dari saudaraku tentang zikir dan lainnya sehingga mendapat perjumpaan dengan Allah SWT dalam Sholat dan Zhikir sebagaimana uraian pencerahan di dalam artikel diatas.
    Atas Izin Allah SWT dan perantara saudaraku Allah mengabulkan-Nya. Amin

    Wassalamualaikum.

    email : allichaniago@yahoo.com

    ReplyDelete
  2. Syukron katsiron!

    Permintaan antum sudah saya kirim lewat email! Semoga dapat dijadikan sebagai suatu pegangan untuk mengharap rido-Nya!

    Salam dari jauh,

    ReplyDelete
  3. Assalaamu'alaikum...

    Pak Ahmad yang dimuliakan Allah, sudi kiranya mengajari saya berjumpa Allah dalam shalat dan dzikir saya....terimakasih.

    Wassalaamu'alaikum..

    email : kirana1970@gmail.com

    ReplyDelete
  4. Assalaamu'alaikum

    Mohon bimbingannya pak, saya sangat rindu berjumpa Allah dalam shalat dan dzikir saya terimakasih

    email : kirana1970@gmail.com

    ReplyDelete
  5. Assalaamu'alaikum

    Subhanallah...saya merasa sangat tergugah dengan artikel bapak. Kalo bapa berkenan saya mohon pencerahan cara dzikir dan shalat yang biasa bapa lakukan. terimakasih

    Email : kirana1970@gmail.com

    ReplyDelete
  6. asalamualaikom....ust mohon petunjuk solat brzikir biar bisa nyambung dan kusuk.

    email :hariwibowo6@gmail.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wa 'alaikum salam ww

      Mas Hari, salat yang dapat mengingat Allah (zikrullah) sangat sulit, tetapi tidak berarti susah diikuti. Tinggal perjuangannya. Cobalah untuk sementara simak terlebih dahulu tulisan-tulisan saya di https://www.facebook.com/majelisdzikirtawashow

      Demikian, agar dapat dimaklumi.

      Salam,

      Ahmad Yuli Yanto

      Delete
  7. Assalamualaikaum Wr. Wb

    Terimakasih atas pencerahannya. Mohon bimbingan Bapak dalam sholat dah zikir agar mudah berjumpa dengan Allah SWT.

    Email: wasonoj@gmail.com

    ReplyDelete
  8. Syukur Alhamdulillah Yaa ALLAH....sungguh sangat memberi motivasi....mas Ahmad...mohon ma'af sekitarnya tidak keberatan untuk memberi bimbingan untuk dzikir qalbu ini....email address saya bogihs63@gmail.com

    Sebelum dan sesudah nya saya ucapkan terima kasih....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wa 'alaikum salam ww

      Terkait dengan permintaan mas Bogi, saya sama sekali tidak keberatan. Namun demikian, jika saya boleh menyarankan, cobalah ikuti dahulu tulisan-tulisan saya di https://www.facebook.com/majelisdzikirtawashow

      Demikian agar dapat dimaklumi.

      Salam,

      Ahmad Yuli Yanto

      Delete

Artikel Populer 7 Hari Terakhir