28.10.10

Sumber Inspirasi

Sumber Inspirasi“Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan, akan mengatakan: "Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apa pun". Demikian pulalah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah: "Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada Kami?" Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanya berdusta” (QS. al-An’am:148).

Ayat di atas menjelaskan kedunguan orang-orang musyrik terhadap keadaan dirinya yang menyangka perkataannya benar padahal alasan yang dibuat-buat untuk tidak mau merendah di hadapan Allah. Anda mengetahui bahwa Allah Maha Mengetahui daripada makhluk-Nya tentang keadaan jiwanya. Allah menanggalkan pengetahuan dari dalam hatinya mengenai keluasan Allah Azza wa Jalla dalam menguasai apa pun yang berada di alam dunia dan alam keabadian.

Begitulah Allah menyesatkan mereka yang menyekutukan-Nya atas keesaan Allah. Anda bayangkan bagaimana tidak disebut bodoh bagi orang-orang yang mengatakan bahwa Allah Azza wa Jalla bersekutu atau bekerja sama dengan makhluk-Nya? Mustahil bagi Allah bergantung kepada makhluk-Nya dalam mengatur semua urusan-Nya. Allah memperingatkan agar jangan mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah dalam hal penciptaan alam semesta.

Allah tidak pernah mengadakan perjanjian dengan para thagut (setan) mengadakan kerja sama dalam menurunkan air hujan, rezeki, buah-buahan untuk manusia atau makhluk lainnya, selain setan mengaku-aku sebagai utusan-Nya ikut andil dalam hal penciptaan seakan alam pun tunduk kepadanya. Allah berfirman:

Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui” (QS. al-Baqarah:22).

Menanggalkan pengetahuan dari dalam hati bermakna bahwa Allah menghilangkan pemahaman personal atau pribadi seseorang yang ada di dalam dirinya (hati). Anda mengetahui arti pribadi dan perorangan. Allah mengunci mati hati seseorang apabila dia menyembunyikan kebenaran. Akan tetapi, berbeda dengan batu, sekalipun keras, dia dapat pecah dan mengeluarkan air dari sekitarnya untuk memberi kehidupan bagi yang lain.

Sekiranya ada hati pakaiannya syirik, maka adanya kebenaran tetap tidak akan bergeming dan, bahkan, meninggalkannya. Allah tidak akan membuka hatinya selama dia tidak bertobat atas sikap dan perbuatannya dalam menuju kepada kesesatan (jalan setan). Namun, apabila dia tidak menyembunyikan kebenaran, sesungguhnya Allah tidak mengunci mati hatinya, asalkan apa yang telah diperbuatnya mulai ditinggalkan. Allah berfirman:

“Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat” (al-Baqarah:7). Allah Azza wa Jalla menggambarkan hati yang telah dikunci mati sebagaimana firman-Nya, “Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan” (QS. al-Baqarah:74).

Begitulah Allah Azza wa Jalla memberi perumpamaan bagi orang-orang yang suka menyekutukan-Nya. Perumpamaan Allah dimaksudkan agar menjadi pelajaran bagi kaum beriman. Allah lebih keras penyiksaan-Nya kepada orang-orang yang telah ingkar dari kebenaran. Siapa pun pantas memperoleh siksa apabila dia ingkar dan menyekutukan Allah. Allah Azza wa Jalla, sebaliknya, sangat menyayangi hamba-hamba-Nya apabila dia selalu berada di jalan-Nya.

Allah Azza wa Jalla akan memberi petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa kepada-Nya! Kepribadian seseorang sebagai perajut kebenaran sangat berpengaruh terhadap kualitas jiwanya. Manusia sebagai seorang pribadi akan sadar bila menghadapi persoalan yang sangat membutuhkan bantuan. Sekalipun Allah Azza wa Jalla akan membantu apabila ada yang memohon bantuan kepada-Nya, tetapi Dia tidak akan menjadikannya sebagai orang yang patuh dan ta’at, sepanjang dia tetap tidak bergeming. Andaikan ada orang yang tersesat karena mengikuti ajakan setan, maka apabila dia memohon petunjuk kepada Allah, Dia pasti menunjukinya bila orang tersebut mampu melawan kebatilan di dalam dirinya. Allah Azza wa Jalla paling benar akan janji-Nya!

Sudahkah anda berjuang mengejar kemuliaan hakiki? Tanyakanlah kepada hatimu, jangan bertanya kepada pikiranmu! Pulau seribu berlabuh perahu kayu, mana aku tahu! Kilau dunia lupakan diri, tak mungkin mati temui hati berseri. Andai aku tahu perisai hati, maka itu lebih sejati. Syair ini saya petik dari kedalaman hati! Bagaimana anda petik laskar melati, jika kuda kurus berkaki duri. Apakah ada yang dapat berseri, bila hati selalu dipungkiri?

Sudahkah ‘pakaian’ hati polakan jiwa dalam melangkah ke setiap pikiran? Peradaban umat manusia bukan sebagai pangkal keburukan perangai manusia, selain karena ulah pikiran yang tidak baik hati. Jika mengetahui bahwa pikiran pasti mengajak kepada yang tak pasti, mengapa anda mengabaikan hati yang semakin pasti?

Cobalah sejenak anda sadar akan predikat pikiran yang tak tahu kepastian akan kebenaran. Ajaklah hati untuk menunjukkan anda ke wilayah kepastian. Sekali pun anda semula tak mengerti, maka jika sungguh-sungguh diamati, maka hati itu pasti berada dalam wilayah sejati. Lebih baik mencoba untuk mengerti daripada berpura-pura mengerti tapi tak berani menghargai diri sendiri! Anda sesungguhnya mulai pasti akan wujud-Nya yang Pasti sebagai ‘Pangkalan Manusia Sejati.’

Selama belum pasti, maka hati selalu berada di dalam kegalauan yang tak jelas penyebabnya. Itulah bila anda meniadakan kepastian hati di wilayah kehidupan abadi. Akan lebih menyedihkan lagi bila sudah mengerti tapi tidak mau peduli untuk diikuti. Pertolongan Allah hanya akan turun apabila hamba-Nya sudah meyakini ada-Nya kebenaran yang difirmankan oleh Allah, baik di dalam al-Qur’an maupun sabda nabi-Nya.

Anda tidak mungkin ditolong oleh Allah apabila tidak mengindahkan ada-Nya kebenaran! Setiap ayat Allah itu pasti memiliki nilai kebenaran! Oleh karena itu, anda seharusnya dapat mendalami al-Qur’an sebagai pedoman hidup anda. Ayat-ayat yang berada di dalam al-Qur’an yang belum dapat dipahami hendaknya tidak dimaknai sendiri, kecuali anda benar-benar sudah menguasai ilmu-ilmu keislaman yang mendukung untuk memberi arti atau makna ayat-ayat-Nya.

Allah Azza wa Jalla berfirman akan segala hal sebagai petunjuk bagi manusia sehingga dia dapat terangkat derajatnya menjadi orang yang bertakwa kepada-Nya. The Holy Qur’an consist prays for human among plural men or women perhaps to pay attention from Allah Azza wa Jalla. There is no an ayat of al-Qur’an insert something wrong from a human life. Anda seharusnya tidak meragukan apa pun yang ada di dalam al-Qur’an. Allah SWT sangat marah apabila ada di antara manusia menghina al-Qur’an. Anda pasti diancam Allah bila menghinakannya. Naudzu billahi min dzalik.

Allah SWT sangat mengharapkan semua manusia meyakini ada-Nya ayat-ayat suci lebih dari sebatas mengetahui bacaannya. Saya adalah seperti mereka yang hanya dapat mengetahui bacaannya saja, akan tetapi, alhamdulillah, sekalipun demikian saya masih meyakini kebenaran ayat-ayat-Nya. Alangkah bagusnya bila sudah mengetahui bacaannya ditambah meyakini ayat-ayat-Nya sampai ayat-ayat-Nya dipraktekkan dalam kehidupan.

Andaikan seperti itu, maka insya Allah, anda berada di dalam cahaya-Nya. Banyak orang, khusunya kaum muslim, yang membaca ayat-ayat al-Qur’an sebatas dibaca tanpa direnungkan ayat demi ayat-Nya untuk dimaknai apa yang sesungguhnya terkandung di dalamnya. Saya adalah termasuk di dalamnya. Hanya saja, saya adalah seorang yang tidak ada sedikitpun ragu akan kebenaran-Nya. Apa pun yang difirmankan di dalam al-Qur’an pasti sudah dipolakan oleh Allah untuk kepentingan manusia hidup di dunia sebagai pegangan menuju kepada-Nya.

Pola al-Qur’an adalah pola yang mengikuti kodrat makhluk-Nya. Dengan pola yang disesuaikan itu, maka al-Qur’an akan lebih mudah dimaknai oleh manusia sebagai salah satu makhluk-Nya yang telah dipenuhi dengan amanat untuk beribadah kepada-Nya. Allah Azza wa Jalla tidak akan mengubah cara manusia ‘berpakaian’ dalam menghadapi berbagai ujian yang diberikan kepadanya.

Allah Azza wa Jalla sesungguhnya pintar melakukan pujian kepada hamba-Nya yang ta’at dan patuh kepada-Nya. Allah Azza wa Jalla akan mengecam pola pikir manusia yang tidak mengindahkan hatinya sendiri. Anda lebih dari sekedar seorang manusia di hadapan Allah apabila anda memahami apa yang dikehendaki Allah. Akan tetapi, apakah anda tahu bagaimana Allah berkehendak?

Salah satu pakaian yang menutup penglihatan manusia akan kebenaran Allah adalah pakaian syirik kepada-Nya. Anda akan tertutup mata hatinya bila tidak mengesakan Allah. Allah Azza wa Jalla tidak akan pernah mengampuni dosa orang-orang yang menyekutukan-Nya.

Akan tetapi, Allah SWT dalam beberapa asma-Nya yang baik, yakni ya ghoffar, ya rahman, ya rahim, mengikuti pola pikir manusia yang menginginkan agar Allah lebih bersifat pengampun, pengasih dan penyayang. Manusia mengakui akan kelemahan dirinya dalam menghadapi ujian yang diberikan kepadanya untuk diamanati dengan penuh kesabaran. Sebagai salah satu bentuk ketidakberdayaannya itulah Allah Azza wa Jalla memahami alur pikiran  manusia sampai akhirnya Dia memberi kesempatan terakhir kepada manusia untuk segera bertobat sebelum ajal menjemputnya.

Andaikan ada seorang yang musyrik kepada Allah, lalu dia bertobat sebelum ajal tiba, maka dengan pola pikir manusia yang berharap akan kasih saying Allah Yang Maha Pengampun, Allah masih memberi toleransi dengan mengampuni dosa-dosanya. Akan tetapi, sanggupkah manusia berubah di dalam kesesatan apabila bukan karena rahmat Allah? Allah Maha Mengetahui hamba-hamba-Nya melebihi dari seluruh alam semesta ciptaan-Nya sendiri.

Anda sebagai pribadi manusia memiliki pandangan dan pendengaran hati. Dengan mata hati, anda mampu melihat suatu pakta atau perjanjian antara Allah dengan diri anda sendiri saat pertama kali ruh anda ditiup oleh Allah di dalam rahim ibu. Anda sebagai apa yang anda kenali di dalam akal anda, perjanjian itu sama sekali tidak dapat diketahui.

Akan tetapi, Allah Azza wa Jalla menuntun anda dengan petunjuk (al-Qur’an), hadirnya beberapa rasul Allah, peringatan yang ditimpakan sebagai pelajaran dan agar dapat dipetik hikmahnya, dan berbagai petunjuk-Nya yang lain untuk menyelamatkan anda dari ajakan setan yang menyengsarakan anda di dunia dan akhirat. Allah masih menangguhkan anda sampai anda bertobat setelah menyadari akan perbuatan anda yang telah melanggar janji dengan-Nya.

Anda bukan tidak mengerti bahwa hati atau ruh anda mengajak kepada anda untuk senantiasa merendah di hadapan kebesaran Allah, tetapi hati anda telah dikuasai oleh bisikan setan di dalam dada anda. Anda bukan tidak ingin melepaskan diri dari belenggu setan yang mengikat jiwa anda. Akan tetapi, rayuan setan begitu mempesona penglihatan mata lahir anda, sampai anda tunduk dan takluk menjadi budak setan. Naudzu billahi min dzlik.

Anda lupa akan perjanjian dengan Allah! Allah masih memberi batas waktu sampai anda diberi peringatan untuk menyadari akan perbuatannya. Allah masih sayang kepada anda! Padahal, sekiranya Allah berkehendak untuk membiarkan anda berada di dalam kesesatan, maka bukan tidak mungkin anda termasuk orang-orang yang merugi. Lihatlah bagaimana orang-orang sebelum anda yang telah mendustkan agama, berbohong, menipu, merugikan banyak orang, koruptor, pengkhianat, pembunuh, penjilat, perampok, pemabok, pezina, pesihir (tukang sihir), paranormal alias dukun (wali setan), pemuja harta, dan lain-lain sifat kepribadian manusia yang dikuasai setan tak ada satu pun yang merasakan kebahagiaan lahir dan batin.

Sepertinya bahagia, padahal sebatas kesenangan sesaat! Allah pasti membalas dengan siksa yang sangat pedih di alam keabadian. Pantaskah anda tidak mengakui kebenaran Allah terhadap perbuatan manusia sebagaimana telah difirmakan-Nya di dalam al-Qur’an? Haruskah anda perlu membuktikan terlebih dahulu akan siksa Allah ditimpakan sampai anda betul-betul yakin? Sangat bodoh bila memiliki pandangan sesat seperti itu!

Anda sesungguhnya sudah diberi peringatan oleh Allah supaya menyadari bahwa selama ini anda telah berbuat menyimpang dari ajaran-Nya yang disampaikan melalui nabi-Nya, manusia pilihan yang sangat agung kedudukannya di sisi Allah Azza wa Jalla, suri teladan atas umat manusia, baginda rasulullah Muhammad Saaw. Semoga Allah Azza wa Jalla mencurahkan rahmat dan solawat untuk beliau dan keluarganya yang suci. Amin.

Ajakan Allah melalui rasulullah Saaw sudah banyak dipelajari, didiskusikan, bahkan diperdebatkan tentang sohih tidaknya, mursal tidaknya, dhoif tidaknya, dan bahkan banyak yang menghinanya karena bukan hadits pilihan kelompoknya sendiri, dan sebagainya sampai tidak pantas seorang muslim menghina saudaranya sendiri lantaran perbedaan mazhab. Orang cerdas awas bisikan setan!

Baca: Akal Cerdas Awas Bisikan Setan

Anda dijebak! Adakah anda mampu meredam nafsu? Sesungguhnya nafsu mengajak anda selalu ke dalam keburukan, kecuali nafsu anda sebagai pribadi yang telah menjadi orang bertakwa! Sepanjang anda masih sebagai hamba yang beriman belum mencapai tingkat takwa, maka setan mampu menguasai hati anda! Sudahkah anda menjadi bertakwa?

Takwa atau takut kepada Allah karena meyakini akan kebenaran firman-Nya, sehingga tangan, mata, telinga, kaki, perut, alat kelamin, mulut selalu takut bila berbuat tidak sebagaimana yang diperintahkan-Nya. Anda pun takut karena tidak menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim, atau anda benar-benar takut bila tidak bersikap wara’ (hati-hati). Awas, takut tidak dapat disamakan sebagai penakut (phobia), yang lebih karena gangguan kejiwaan tanpa disebabkan oleh sandaran ayat-ayat Allah! Takut pada ketinggian tidak sama dengan takut karena Allah. Aneh bila orang menyebut perumpamaan seperti itu disamakan dengan takut sebagai takwa!

Sepanjang anda belum dapat takut di hadapan Allah, maka anda masih berada dalam kungkungan jeratan setan. Anda seorang mubaligh yang pandai berceramah ke berbagai lokasi dengan dibayar ‘lumayan’, jika belum takut akan janji anda di hadapan Allah, mustahil anda dapat mengelak dari bujukan setan.

Anda seorang pemimpin redaksi sebuah Koran atau majalah ternama, sekiranya masih melihat dari sisi profit semata, maka anda persis berada dalam lingkaran setan menutup kebebasan mengambil nilai-nilai kebenaran hakiki sejalan dengan motto perusahaan anda. Perusahaan mengagendakan keuntungan ketimbang menyebarluaskan hakikat kebenaran yang sesungguhnya!

Anda professor sebuah perguruan tinggi, bila belum ada rasa takut di hati, maka anda masih dalam incaran jebakan setan ke akal anda! Anda seorang mahasiswa, bila cara anda memberdayakan akal melampaui suara hati anda, maka setan sangat menyukainya. Nilai-nilai kebenaran hanya dapat dirasakan melalui hati yang suci, bukan akal yang pandai, cerdas, brilian, excellent, jenius, luar biasa, top, hebat, mumpuni, dan sandangan untuk keluarbiasaan akal secara umum. IQ-nya tinggi, otaknya encer, kualitas berpikirnya cemerlang, full bright, pola pikir yang selalu lahir mengikuti jalan akal yang pintar, dan sebagainya.

Dunia lahir lebih unggul ketimbang dunia yang tak kelihatan oleh pandangan mata lahir. Alam dunia lebih diperhatikan ketimbang alam kelanggengan. Sedikit dosa tidak masalah, yang penting anda harus beristighfar. Anda memolakan diri sebagai bagian yang tidak dapat menghindar dari kemajuan zaman, seolah Hari Kemudian bagaimana nanti! Allahu Akbar! Anda sudah dijerat oleh setan yang tidak dapat anda lihat, tetapi pikiran anda sudah dikungkung oleh gaya setan mengibuli anda dengan kecerdasannya juga.

Anda cerdas, setan lebih cerdas dari anda dalam menggoda. Tetapi, bila anda adalah manusia bertakwa, maka setan tetap ingkar untuk menyiapkan diri dalam dunia kesombongan dan kehinaan. Allah Azza wa Jalla Maha Mengetahui bagaimana cara setan merayu anak cucu Adam as. Masya Allah. Semuanya berada di dalam ketetapan-Nya, maka pasti Dia lebih Mengetahui apa pun yang ada di dalam diri makhluk-Nya. La ilaha illallahu Allahu Akbar la haula wa la quwwata illa billahil ‘aliyyil adhim. Bergantunglah kepada kekuasaan Allah semua makhluk-Nya. Tidak ada daya dan kekuatan mana pun yang dapat menandingi-Nya. Dialah Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Allah Azza wa Jalla akan memberi anda kekuatan yang luar biasa sekiranya anda mau merendahkan diri di hadapan-Nya dan anda akan diberi karunia yang banyak bila anda menjadi orang-orang bertakwa! Insya Allah anda akan digolongkan oleh Allah sebagai seorang hamba yang mulia di sisi-Nya. Allah pasti akan mendudukkan anda pada derajat (maqam) yang melebihi dari para malaikat mulia. Anda bukanlah malaikat, dan juga bukan setan. Anda berada pada posisi di antara keduanya, sangat mulia dari malaikat atau sangat buruk dari setan.

Anda tak mungkin menjadi hamba sangat mulia bila belum mencapai tingkat takwa. Allah Azza wa Jalla akan memuliakan anda bila anda bertakwa. Begitu anda sebagai orang yang bertakwa, maka kedudukan anda sangat mulia di sisi Allah dibandingkan malaikat. Mengapa? Anda adalah makhluk yang hina pada mulanya, tetapi jihad atau perjuangan anda melawan kebatilan sangat dihargai oleh Allah.

Maka, anda pun berhak mendapat pahala yang sangat tinggi di alam malakut (para malaikat). Luar biasa. Inilah buah yang dapat dipetik bila anda senantiasa menjadikan hati sebagai imam anda dalam diri yang keberadaan anda sesungguhnya di dua dunia: lahir dan batin, nyata dan tak nyata, kelihatan dan tak tampak, ada di dunia lahir dan ada di dunia tersembunyi, alam nyata (syahadah) dan alam goib, akal dan hati (ruh), sementara dan abadi, wadag (kasar) dan halus, bagaikan dan sejati, sepertinya asli dan asli yang hakiki, dan lain-lain perbandingan antara dunia lahir dan dunia tak tampak.

Allah Azza wa Jalla akan menghargai anda apabila anda berusaha dengan sepenuh hati, bukan secerdas akal membohongi diri. Anda menjadi diri anda sendiri bila hati anda diasah dengan dzikrullah bukan sebatas dzikir sampai di lisan. Anda akan tampak seperti biasa-biasa saja dalam pandangan orang lain bila dzikir anda di wilayah yang tak tampak orang melihat. Anda akan dirayu oleh setan bila anda berdzikir baru sampai di lisan.

Setan sering menggoda untuk khidmat berdzikir menggunakan tasbih sambil berdiri, duduk, dan berjalan di tengah keramaian daripada menggoda orang yang berdzikir di mana pun di dalam hati. Awas setan pandai menjebak.

Anda belum bertakwa? Adakah anda sudah merasa bertakwa kalau anda berdzikir ingin dilihat orang lain? Adakah anda sudah merasa bertakwa sekiranya sikap dan perbuatan anda tidak sebagaimana yang anda ucapkan atau tuliskan di buku-buku anda? Adakah anda sudah merasa bertakwa bila anda belum tersungkur dan menangis di dalam solat, lalu anda mendengar di hati anda Allah berfirman? Adakah anda sudah merasa bertakwa sekiranya anda baru disanjung karena anda hebat sebagai seorang ‘alim ‘ulama yang memimpin sebuah pondok pesantren? Adakah anda sudah merasa bertakwa karena anda telah berjuang untuk kepentingan umat, sementara anda masih bergelut dengan bisnis yang penting menguntungkan? Adakah anda sudah merasa bertakwa karena anda sudah berbagi dengan orang-orang miskin, sementara hati anda ingin dimuliakan oleh orang lain?

Patutkah dengan bukan karena Allah anda berbuat, tetapi memohon kepada-Nya untuk ditempatkan pada derajat yang mulia? Lihatlah diri anda pada cermin, lalu tanyakan: ‘betulkah hai kamu yang selama ini telah menunjukkan mukaku, sementara wajahku sendiri yang sejati aku belum mengetahuinya, telah mengajari aku untuk berbuat sebagaimana yang diajarkan Allah Azza wa Jalla melalui bagida junjungan manusia nabi Muhammad rasulullah Saaw?’ Pujilah diri anda di hadapan cermin dengan berkata: ‘patutkah aku memujimu bila ibadahku kepada Allah bukan untuk Allah?’ Allah Azza wa Jalla sangat menghargai anda bila anda menyadari akan kepalsuan diri selama ini!

Anda sudah sepatutnya bercermin dengan cahaya yang ada di hati, insya Allah anda akan melihat wajah anda yang sesungguhnya, bukan palsu seperti muka anda yang ada di cermin. Jadikan hati anda sebagai sumber inspirasi diri dalam menguak kebenaran sejati.



Silakan dibaca Artikel Terkait di bawah ini

10 comments:

  1. bagaimana cara mengatas lalai?
    hati yang lalai..

    ReplyDelete
  2. Menarik untuk menjadi bahan kajian diri semua mukmin mengenai persoalan ini.

    Lalai sangat berbeda dengan lupa! Kelalaian dan kelupaan adalah dua hal yang seakan serupa padahal tak sama. Kelalaian datang akibat tak adanya keseriusan untuk mengendalikan segala sesuatu yang sudah diketahuinya! Anda termasuk telah berbuat lalai terhadap hati anda sekiranya sudah pernah mengetahui perihal keutamaan hati dalam mempengaruhi keimanan, tetapi tidak bergegas mendudukannya dalam peribadatan kepada Allah!

    Sedangkan lupa tidak diakibatkan oleh adanya kesadaran diri! Anda lupa ketika ada yang harus dikerjakan nanti sore lalu anda teringat besok harinya! Kelupaan anda tidak dalam situasi disadari oleh akal anda.

    Maka, hati yang lalai adalah hati yang oleh anda tidak pernah diajak untuk mengikuti ajakan kebenaran Allah dalam jiwa! Persoalan hidup sebagai orang yang beriman kepada ada-Nya Allah sebagai Tuhan Yang Maha Kuasa tidak dirujuk berdasarkan ayat-ayat-Nya, selain menurut pemikiran akal semata-mata. Hak-hak hati untuk menerima kebenaran tidak diperlakukan sebagaimana fitrahnya.

    Anda termasuk melalaikan hati bila ada pesan-pesan kebenaran dari dalam hati dibiarkan tidak diikuti untuk memperoleh keuntungan dari Allah bila diikutinya! Kelalaian disebabkan anda mengabaikan kebenaran! Keinginan akal lebih menguasai hati sehingga hati, yang membawa pesan-pesan kebenaran, diabaikan begitu saja!

    Untuk mengatasinya, tentu saja, anda secara sadar jangan melulu mengikuti akal pikiran yang belum jelas benar dan tidaknya! Kompromikan dengan hati anda! Misalnya, akal cerdas anda mengajak untuk berbohong atas perbuatan anda karena takut ditegur dan dimarahi oleh pimpinan anda. Sementara itu, sebenarnya anda sudah mengetahui adanya ajakan hati anda agar berkata-kata jujur! Tetapi, sayangnya, akal lebih dihormati ketimbang hati! Anda tidak jujur sebagaimana ajakan hati anda, justru kebohongan yang anda perbuat sebagaimana ajakan akal. Maka, bila ingin hati tidak menjadi lalai, setiap ajakan akal jangan dulu dipraktekkan sebelum disepadankan atau dimaklumi oleh hati! Jaga setiap yang muncul dari akal anda agar mengikuti apa kata hati.

    Pemakluman oleh hati atas ajakan akal akan menundukkan tipuan iblis yang menghasut akal melalui pola pikir logis. Iblis pandai menipu daya manusia menggunakan logika berpikir logis- realistis! Pokoknya sepanjang diterima di akal, maka itu pasti dapat dipertanggungjawabkan. Jadi, bila tidak dapat diterima oleh akal, apa pun pesannya, maka dianggap tidak perlu diikuti!

    Padahal hati (bukan akal) senantiasa memberitakan kebenaran, yang oleh akal terkadang sulit dapat diterima: apa betul? Seolah ada keragu-raguan bahwa itu adalah benar.

    ReplyDelete
  3. bagaimana mengatasi godaan dari dalam diri?

    ReplyDelete
  4. Subhanallah, masya Allah.

    Pertanyaan anda sangat sulit dijawab sekiranya anda belum mengomentari bagaimana anda mengenal hati atau ruh, nafsu, setan, gangguan dan ujian!

    Anda akan mengerti bila tahu godaan sesungguhnya karena hati anda lalai dari mengingat Allah! Godaan atau bujukan iblis lebih mengajak anda di dalam otak! Hati tidak dapat diajak oleh iblis untuk mengingkari kebenaran! Hati yang menyimpan nilai-nilai kebenaran hanya sebatas tahu tetapi tidak mampu mempengaruhi otak anda!

    Orang yang berakal selalu menggunakan otaknya! Sekiranya otak manusia penuh dengan informasi godaan, maka perbuatannya selalu didukung oleh akalnya melebihi dari ajakan kebenaran di dalam hatinya! Maka, ketika akal menguasai diri atau jiwa, hati tidak dapat berbuat apa-apa, selain menyesali sesudah terjadi.

    Jadi, adakah hati anda berlindung kepada Allah dari godaan iblis laknatullah 'alaih ketika akal mengajak untuk merencanakan tindakan godaan? Kesadaran akal sesungguhnya mampu mendengar suara hati! Akan tetapi, hati yang lalai melumpuhkan kemampuan akal untuk tunduk pada ajakan kebenaran.

    Oleh karena itu, jauhkan kebiasaan memandang, mendengarkan, merasakan tanpa mengingat Allah! Anda akan dilindungi dari godaan mata, telinga, mulut dan indera-indera lainnya sekiranya anda berdzikir di dalam hati (dzikir khofi) untuk memperkuat hati tidak lalai.

    Diri anda adalah hati atau ruh anda! Jika tidak pernah dikelola, maka hati atau ruh atau diri (nafs) anda akan terpuruk! Mengelola hati (manajemen qalbu) mengoptimalkan fungsi hati untuk berjalan mengikuti kebenaran! Tanpa diperlakukan sebagaimana fitrahnya, hati yang suci menjadi tak beradaya! Hati menjadi kotor penuh hasutan, rayuan, gangguan, tipuan dan kepalsuan iblis yang membisik-bisik di dada anda.

    Mengoptimalkan hati berarti menundukkan akal untuk tidak merasa sangat mampu menjawab permasalahan-permasalahan hidup yang penuh tipu daya setan. Dengan hati yang mengingat Allah, maka tenanglah jiwanya, berada di dalam akal yang tak sombong, tunduk dan patuh kepada Allah Yang Maha Pencipta dan, dengan begitu, anda mampu menangkal ajakan-ajakan iblis yang menggoda diri anda!

    Dengan cara seperti itu anda dapat menghindar dari godaan iblis di dalam diri. Iblis beserta pasukannya menerobos jiwa anda ketika anda mengabaikan hati dari berdzikir kepada Allah.

    ReplyDelete
  5. Subhanallah.. sungguh beruntung setiap manusia yg telah dikaruniai oleh Allah dgn kemampuan melihat dan membedakan antara godaan syetan terkutuk (yg mempengaruhi otak/akal) dengan kebenaran yg muncul dari hati yg jernih. Insya Allah zikir khofi sangat membantu kita utk selalu mengingat Allah n membantu mendengar isi hati, kemudian akal melakukan pengkajian dan penyesuaian thd situasi yg terjadi dgn tuntunan kebenaran Illahi. Sungguh luar biasa seorang Rasulullah Muhammad SAW yg mampu "meng-otomatis-kan" sambungan akal dgn hatinya dan terwujudkan langsung dgn amalan.. Subhanallah. Sungguh benar Allah telah memuliakan Muhammad dan sungguh akan kukuatkan imanku dgn LailahaillAllah Muhammadurrasulullah..!

    ReplyDelete
  6. bagaimana mengetahui sesuatu itu datangnya dari hati yang mendapat petunjuk, bukan dari hati yang mendapat bisikan setan, seperti yang bapak katakan bahwa hati terdiri dari dua ruang

    sebelumnya saya mohon maaf kalau semua pertanyaan kurang berkenan dan terima kasih atas semua jawabannya

    ReplyDelete
  7. Rasulullah, shahabat dan org2 shaleh umumnya hidup dgn bersahaja dan kesederhanaan, seolah tidak memiliki nafsu utk menikmati keindahan dan kemewahan dunia. Bahkan kebanyakan kenyataan saat ini, para pendakwah shaleh cenderung terlupakan menafkahi keluarga yg juga hidup bersosialisasi dgn manusia lainnya. Mungkin karena rasa kedekatan Illahi dan "mempasrahkan" rezeki kepada Allah yg membuatnya "keasyikan" bahkan terkadang terlupa menjaga kebersihan diri dan rumah tinggalnya. Sungguh luar biasa, syetan laknatullah juga mampu masuk melalui kealpaan diri ini shg akhirnya bertindak kurang adil thd keluarga dan diri yg adalah titipan Allah. Apakah yg menyebabkannya demikian? Pertanyaannya: salahkah jika seorang shaleh juga bisa berupaya utk menjadi "kaya" secara spiritual, fisik dan materil agar dengannya diri dan keluarganya terlihat sejahtera, mampu membantu sesama secara materil. Dengannya ia tetap disegani oleh manusia yg hedonis agar menjadi teladan kemuliaan hidup di dunia pd pandangan manusia awam shg menjadi "dakwah tanpa kata" dan dgn kesalehannya menjadikan mulia juga di dunia dan akhirat dgn ridho Allah SWT? Sungguh memang syetan sangat senang bermain2 dgn godaan pada sisi cinta dunia ini, andai akhirat itu juga terlihat dgn kasat mata, mungkin akan lain ceritanya. Hanya keshalehan yg teguh-lah yg mampu menangkalnya dgn mudah, bahkan dunia kasat mata (manusia dan alam raya) maupun tidak kasat mata (jin dan malaikat) pun akan menghormatinya. Namun banyak juga yg berguguran karena telah "lupa diri" dgn mengikuti asyiknya "permainan" syetan ini. Godaan didatangkan dari segala penjuru: anak, istri, orang tua, keluarga, masyarakat, nafsu diri, mata, telinga... semua bertubi2 merasuki hati. Bahkan ada salah satu agama yg tidak membolehkan "orang shaleh"-nya tidak menikah. Mungkin utk mengurangi godaan dari keluarga..? Wallahu a'lam. Ternyata mereka sudah melupakn fitrah manusia.. dan segala yg menyangkal sunnatullah pasti akan binasa. Keteguhan hati mengingat dan mengharap ridha Allah akan sangat dibutuhkan utk membentengi diri... Pengakuan diri ini milik Allah n akan kembali kepada-Nya akan menyadarkan keangkuhan, yg merupakan sifat utama syetan. Kesadaran ini yg sering sulit utk dipertahankan... ujian keistiqomahan menjadi "makanan" sehari2 yg akan dihadapi oleh seorang salik... Semoga Allah selalu melindungi. Amin ya Robbal alamin.

    ReplyDelete
  8. Untuk Shaliq, saudaraku yang Allah Azza wa Jalla mengenal sebagai cerdas lagi berbudi, antum benar bahwa para penempuh jalan seharusnya menempatkan kebahagiaan di atas kesenangan!

    Hidup bahagia tidak dapat dimaknai tiadanya kesenangan dalam menjalankan kehidupan sebagai seorang yang berada di jalan Allah.

    Menikmati kehidupan dunia sama sekali tidak terlarang, bahkan Allah Azza wa Jalla memerintahkan untuk tidak melupakannya. Allah SWT berfirman, "Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan" (al-Qashash:77).

    Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Bijaksana. Dengan kebijaksanaan-Nya, segala hal yang tampak terlarang padahal tidak! Orang-orang yang sedang menempuh jalan menuju kepada-Nya dikesankan tidak dapat menikmati apa yang sudah disediakan oleh Allah, sedangkan Dia telah menjelaskan pada ayat di atas.

    Allah tidak sekadar memerintah untuk mendekati-Nya tanpa sama sekali mengabaikan kebutuhan hamba-Nya! Inilah makna kebahagiaan yang diberikan oleh Allah Azza wa Jalla. Di dalam kebahagiaan ada kesenangan, akan tetapi belum pasti ada kebahagiaan di dalam kesenangan.

    Allah Azza wa Jalla sangat menghendaki kaum mukmin untuk hidup bahagia, bukan hidup senang (hedonis). Allah Maha Mengetahui bahwa iblis menggoda mukmin dengan kenikmatan duniawi semata-mata. Kenikmatan duniawi cenderung sangat mengabaikan akhirat sekiranya tiadanya mengikuti petunjuk-Nya! Bagaimana seseorang yang melupakan Allah (tidak ada dzikir dalam hatinya) mampu menolak bujukan manis iblis?

    Orang yang diberi harta oleh Allah tidak secara otomatis harus meninggalkannya demi menempuh jalan menuju kepada-Nya! Sebaliknya, berkorbanlah dengan harta, jiwa dan keluarga sangat mendukung pertemuan dengan-Nya dengan harga yang sangat mahal. Allah SWT pasti akan membayar dengan kemudahan rezeki yang telah dikeluarkan untuk berjuang di jalan-Nya.

    Ada sebagian umat Islam yang sayang sekali belum tepat memaknainya untuk berjuang dengan harta sampai tidak bekerja! Sedangkan dia memiliki anggota keluarga yang wajib diberi nafkah!

    Desakan setan untuk mengartikan dengan ceroboh atas semua yang dialami oleh orang-orang yang berdakwah semacam itu adalah cara iblis menjerumuskannya. Padahal, Allah SWT sudah sangat jelas membedakan antara kesenangan dengan kebahagiaan!

    Pada surat al-Qashash ayat 60, Allah berfirman, "Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya?"

    Ayat di atas ternyata tidak dimaknai sebagaimana ayat 77! Sedangkan maknanya justru Allah SWT memerintahkannya agar jangan dilupakan! Hanya saja, Allah juga memberitakan bahwa apa yang di sisi Allah lebih baik dan lebih kekal! Perintah untuk menjadi orang bertakwa ditujukan agar menjadi lebih mulia di sisi-Nya! Apa pun yang berada di sisi-Nya adalah lebih baik.

    Butuhnya pengorbanan dengan harta tidak berarti meninggalkan pekerjaan dan tidak menikmatinya. Allah meminta sebahagian, tidak semua! Sebahagiaan inilah yang dikeluarkan untuk berkorban di jalan-Nya! Dan, Allah pun akan menggantikannya dengan berlipatganda!

    Boleh kaya tetapi tidak mengandalkan pada kekayaannya selain untuk berjuang di jalan Allah (zuhud)! Istri yang mulia nabiuna Muhammad saaw sangat terkenal kaya! Dengan seizin Allah, Sayyidatul Kubro rela mengorbankan hartanya untuk menegakkan agama Allah yang diemban oleh suami tercintanya. Tetapi, beliau tetap menjadi saudagar kaya!

    ReplyDelete
  9. Buat mae-7, saya suka cara anda bertanya. Sulit untuk dijawab bila tidak dengan petunjuk-Nya.

    Alhamdulillah, yang hanya dengan mengandalkan kepada-Nya segala hal yang sulit dijangkau akal dapat dipahami, saya mendapati petunjuk dari dalam hati sangat jelas. Bedanya dengan bisikan iblis, petunjuk yang datang dari Allah sebagai Pemilik Kebenaran sangat ditentukan oleh tingkat kedekatan kita kepada-Nya.

    Dekat dapat dimaknai sebagai tidak mengabaikan akan perintah-Nya dan secara otomatis juga menjauhi larangan-Nya! Sebagai seorang mukmin, kita tidak dapat jauh dengan Allah!

    Untuk mendekati-Nya, maka seorang mukmin harus menunjukkan rasa kecintaan kepada-Nya dengan sangat mendalam. Cinta (hubb) adalah ungkapan kerinduan yang mendalam kepada objek yang dirindukannya. Bila Allah adalah tujuan kita, maka cinta kepada-Nya akan diungkapkan dengan penuh kerinduan. Mustahil orang cinta tanpa ada kerinduan.

    Allah akan mencintai kita bila kita juga mencintai-Nya! Apabila seorang mukmin mengingat Allah, maka Allah pun akan mengingat-Nya! Bagaimana anda akan diingat oleh Allah bila tidak pernah mengingat-Nya? Ada hubungan mutualis di antara hamba-Nya dengan Allah!

    Allah SWT berjanji pasti ditepati! Beda dengan manusia! Keyakinan atas firman Allah harus tertanam di dalam hati tanpa ada keraguan! Sekiranya masih ada sedikit saja keraguan, maka setan akan masuk ke dalam jiwa menghasut untuk tidak yakin! Jadi, menanamkan keyakinan di dalam diri sebagai kebenaran yang tidak ada keraguan atas ayat-ayat-Nya sangat mempengaruhi pemahaman petunjuk-Nya.

    Apa pun yang terdapat di dalam al-Qur'an jangan diragukan! Ini adalah petunjuk-Nya. Jika ragu, apalagi mengingkarinya, maka hati akan dikuasai oleh iblis dan pasukannya.

    Oleh karena itu, apabila difirmankan kepada orang-orang beriman agar berdzikir sebanyak-banyaknya agar hatinya menjadi tenang, sudah seharusnya tanpa ada pertanyaan yang meragukan. Lakukan sebagaimana perintah-Nya!

    Dengan terus menerus (istiqamah) berdzikir di dalam hati, maka mukmin akan memperoleh ketenteraman di dalam hatinya, bukan di akalnya. Akal tak bakal dapat merasakan ketenteraman bila hatinya gundah gulana, semrawut, kacau, galau dan sumpek. Akal yang tenang karena akibat hatinya tenang!

    Berada dengan jiwa yang tenang, maka turunlah petunjuk-petunjuk-Nya! Mustahil, petunjuk turun di kala hati tidak ada ketenangan. Sedangkan hati yang tenang terjadi karena adanya asma Allah di dalam jiwanya yang disenandungkan di dalam hatinya dalam keadaan duduk, berdiri dan berbaring.

    Bisikan iblis datang ke dada manusia saat mukmin melupakan Allah! Hatinya kosong tidak ada asma-Nya untuk diseru! Mengosongkan hati membiarkan iblis memasuki ruang dada!

    Sangat jelas perbedaannya! Ajakan iblis terkadang sangat halus, menipu mukmin yang tanpa berdzikir kepada-Nya! Seolah benar, padahal palsu. Sepertinya baik, padahal dusta. Seakan-akan benar ada-Nya padahal dialah yang menipunya.

    ReplyDelete
  10. Alhamdulillah.. subhanallah. Terima kasih Pak Ahmad, yg dengan karunia-Nya telah memberikan penjelasan dan mengingatkan kembali kepada kalam Allah. Tiada kata dan perbuatan yg diridhai oleh Allah selain karena tuntunan-Nya. Semoga kita semua selalu dilindungi Allah SWT dalam menjalani masa duniawi ini hingga kelak masa kita tiba, kembali kepada-Nya. Amin.

    ReplyDelete

Artikel Populer 7 Hari Terakhir