27.7.13

Akidah Ahli Hikmah

https://agamahatidanilahi.blogspot.co.id/Akidah kaum muslim tentu saja sama, bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya. Ikrar kaum muslim atas keesaan Allah sebagai Tuhan Yang Maha Pencipta memperlihatkan akan pengakuan ada-Nya Dia (Allah) sebagai satu-satunya Tuhan, dan tentu tak mungkin ada Tuhan lain selain Allah. Pengakuan akan kedudukan Allah sebagai Tuhan merupakan derajat keyakinan pertama atas seorang hamba di dalam kekuasaan Allah.

Adakah seorang hamba di dalam kekuasaan Allah, dengan berbagai alasan, menolak keyakinan seperti tersebut di atas? Atau, karena perbedaan mazhab pemikiran, lantas ada seorang hamba berkata tak sama keyakinannya dengan orang-orang yang berada di luar kelompoknya? Saya memastikan tak ada seorang muslim pun menolak bahwa semua yang berikrar dengan kalimat syahadat tersebut sama akidahnya satu muslim dengan muslim lainnya. 

Sudah lama Islam mengajarkan akan kedudukan seorang hamba yang setia kepada Tuhannya akan dibalas oleh Allah dengan keluasan kasih sayang-Nya (rahmat-Nya). Akankah seseorang mendapatkan kebaikan atas apa yang diperbuatnya jika perbuatan tersebut berbeda dari kebanyakan kaum mukmin? Ambil contoh seperti orang yang memperoleh al-hikmah. Adakah karena dia diberi keutamaan oleh Allah lantas dapat disebut sebagai tak patut untuk mendapatkannya. Adakah sesuai syar'i orang yang memperoleh al-hikmah dianggap batal memperoleh pahala disebabkan adanya perbedaan pandangan tentang kepatutan Allah membalas harapan perjumpaan dengan diri-Nya? 

Sungguh sangat disayangkan jika hanya karena perbedaan pandangan, maka semua orang yang tak sama pemahamannya dianggap menyimpang dari akidah. Aneh! Atas ketidakpahamannya kerap kali orang-orang semacam itu menunjuk orang lain yang tidak sejalan dengan pikirannya selalu saja dimentahkan dan, lalu, dianggap sebagai orang salah. Spontan menganggap dirinya paling benar, dan tak patut dipersalahkan. Aneh bukan? 

Saatnya saya tak perlu meneruskan pembicaraan tentang perbedaan pandangan, yang dianggapnya sebagai yang 'menyimpang' dari pandangan dirinya tersebut. Insya Allah saya hanya akan menunjukkan sesuatu yang sangat jarang ditemui mengenai kedalaman keyakinan seseorang yang memperoleh al-hikmah dari Allah azza wa jalla. Kekuasaan Allah sesungguhnya karena meliputi semua makhluk-Nya, maka apabila saya menunjukkan sesuatu itu tak terlepas dari kekuasaan Allah atas segala sesuatu. 

Apakah akidah itu? Anda akan mendapati kesulitan jika Anda menunjuk akidah atau keyakinan itu adalah keimanan yang selalu sama antara seseorang dengan yang lainnya dalam keluasan ilmu Allah. Akan tetapi, Anda akan mudah memaklumi bila keyakinan adalah keimanan bagi semua muslim yang mengakui bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya. Adakah hal semacam ini akan membantu Anda menempatkan akidah itu tentu tak sama bila yang dimaksud sebagaimana yang disebut pertama, yakni ketika kekuatan iman seseorang telah berada pada keluasan ilmu Allah? 

Anda akan memaklumi bila keyakinan akan kekuasaan Allah selalu tidak sama dalam setiap pandangan masing-masing orang. Dalam menyebut istilah 'keyakinan,' kerap kali digunakan untuk menunjuk sebagai 'akidah keislaman'! Apa pun mazhab pemikiran Anda, jika akidah keislaman adalah sama untuk semua kaum muslim. Anda bisa saja berbeda bila yang dimaksud adalah tingkat keyakinan yang tak sama atas kemahabesaran Allah dalam penciptaan langit dan bumi. Adanya perbedaan semacam ini tidak dapat diklaim sebagai tak satu akidah dengan orang yang berbeda dengan Anda. 

Keimanan Ahli Hikmah 

Tak diragukan bahwa setiap yang difirmankan oleh Allah adalah pasti benar. Maka, bila ada seorang hamba senantiasa menyandarkan perkataan dan perbuatannya pada apa yang difirmankan oleh Allah, pastinya dia telah memiliki keteguhan iman atas semua perkataan Allah sebagai yang patut untuk diikuti. Iman yang teguh menunjukkan adanya tingkat keyakinan yang kuat menerima kebenaran Allah dalam perkataan-Nya (firman-Nya). Ambil contoh, jika Allah telah berfirman di dalam Al-Quran, "Sebutlah nama Tuhanmu di hatimu...," maka orang yang teguh imannya pasti melaksanakan perintah Allah tersebut tanpa membantah dengan banyak argumentasi yang menyesatkan. Dan, sebaliknya, orang yang imannya lemah, sekalipun dia pandai dalam berbicara atau menulis tentang kebenaran, tentu saja dia lebih banyak berargumentasi daripada segera menjalankan perintah-Nya. 

Adakah, setelah mengetahui kuat dan lemahnya iman seseorang, akan berkata tak patut dan patut memberikan penilaian untuk diberi pahala dan tak diberi pahala jika tak sekeyakinan? Tidak dapat. Itu bukan hak mutlak manusia untuk memberi penilaian kepada saudara seimannya sendiri. Terlampau angkuh orang yang semacam itu. 

Menyimpulkan sesuatu tidaklah dari faktor-faktor perbedaan, melainkan perbedaan itu sesungguhnya adalah rahmat bukan laknat. Jika suatu kesimpulan disandarkan atas ketidaksukaan dari cara pandang seseorang (karena karunia Allah atas dirinya) terhadap ayat-ayat Allah dan al-hadis, tentu sangat kerdil orang yang memberi kesimpulan tersebut. Kesimpulan yang membenarkan tidaklah muncul dari keberadaan kondisi jiwa seseorang karena kebencian dan kedengkian, melainkan karena kesucian jiwanya. 

Akal yang menyesatkan selalu menyimpulkan kehebatan cara berpikirnya yang menakjubkan orang mendengarnya atau membacanya sedangkan dia sendiri tak pernah memuji-muji Allah, mengingat-ingat Allah, tak banyak berdoa, tak banyak berlindung, jarang bertafakur, seolah telah menjadi 'dewa' atas dirinya karena saking hebatnya dalam berpikir jernih yang logis-sekuler-liberal! Anda akan dicap sebagai orang bodoh oleh orang-orang cerdas yang berpikirnya seperti itu, siapa pun Anda jika tidak sekeyakinan.

Akal sehat yang tercerahkan akan mengantarkan kepribadian seseorang menjadi rendah hati (tawadhu) di hadapan kemahabesaran Allah azza wa jalla. Rendah hati, bukan tinggi hati, adalah sifat kepribadian seseorang yang telah mencapai ketakutan akan keluasan ilmu Allah yang tak sebanding dengan kedangkalan ilmunya sedemikian hingga dia tak sungkan untuk merendah di hadapan kemahabesaran-Nya seraya hatinya senantiasa berzikir tak pernah melupakan Allah. Puji-pujian atas keagungan Allah, ketakjuban atas penciptaan langit dan bumi seraya hatinya berkata: "Ya Allah Engkau ciptakan semua ini tidak sia-sia," juga selalu berlindung kepada Allah atas godaan iblis lakanatullah 'alaih adalah tradisi yang tak pernah terabaikan dari kehidupannya. Subhanallah. 

Karena itu, jika ditanyakan bagaimanakah akidah Ahli Hikmah, maka jawabnya apa juga keyakinan seorang muslim terhadap Allah sebagai Tuhannya? Adakah Allah dianggap hanya sebuah wacana tanpa diiringi dengan kepatutan untuk menyembah (menghambakan diri) di hadapan kemahabesaran-Nya? Adakah Allah disembah dalam pemahaman akal yang tak mampu menjangkau bagaimana Allah berkehendak atas dirinya? Anda akan semakin terpuruk karena pikiran Anda sendiri jika Allah hanya lipstik terucap di bibir, tetapi bukan ekspresi jiwa yang terungkap keluar melalui lisannya. Anda baru mengucapkan Allah di lisan, tetapi belum ada kemampuan menyebut asma-Nya di hati.***

Silakan dibaca Artikel Terkait di bawah ini

No comments:

Post a Comment

Artikel Populer 7 Hari Terakhir