30.9.10

Budi Pekerti

Pelajaran mengenai etika mulai disampaikan sejak masih kecil, pada dasarnya adalah untuk mendidik kebiasaan yang baik. Perilaku manusia sangat menentukan baik dan buruk kepribadian lahirnya. Puluhan bahkan ribuan sekolah dahulu ada mata pelajaran budi pekerti. Alasannya sangat baik, bahwa pendidikan tidak hanya menyampaikan materi pelajaran, tetapi mendidik anak untuk pintar berakhlak mulia. Allah SWT sangat menyukai kepribadian dengan akhlak yang mulia. Allah SWT sangat keras dalam menyampaikan akhlah mulia kepada umat manusia agar menjadi orang yang menghargai para orang tuanya. Allah SWT berfirman, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia” (al-Isra’:23). Apakah Allah SWT akan ambil alih pahala orang yang durhaka kepada orang tua? Sama sekali tidak. Akan tetapi, adakah orang-orang yang berbuat baik akan agamanya bersikap sebaliknya kepada kedua orang tuanya? Asal diketahui, Allah SWT tidak mengutus Rasulullah Saaw selain agar menjadi teladan dalam berakhlak mulia.

Anda adalah salah seorang yang ditunjuk dalam ayat al-Qur’an tersebut tanpa kecuali. Setiap orang yang beriman dalam ‘asuhan’ Allah Azza wa Jalla, adalah orang yang mengutamakan kemuliaan. Para nabi, para wali, orang-orang bertakwa adalah orang-orang yang selalu mengikuti ajakan Allah Azza wa Jalla. Kemanapun mereka berada selalu menunjukkan kepribadian luhur. Sikap saling menghargai dengan sesama teman, menghormati orang yang lebih atas, baik usia maupun kedudukan, melampaui dari akalnya sendiri. Sikap adalah dunia yang berada di luar realitas, sementara akal berada di alam realitas. Anda sendiri merasa aneh ketika merunduk di hadapan atasan anda. Padahal akal anda mengatakan, ‘ah itu kan sama-sama manusia.’ Tetapi, tetap saja anda merunduk. Lalu, mengapa kepada kedua orang tua anda tidak merunduk? Apakah juga anda merunduk kepada Allah SWT ketika menunaikan solat? Jika ya, berarti anda berakhlak mulia.

Malaikat adalah makhluk mulia. Tetapi, mereka tidak sombong dalam melaksanakan tugasnya. Ketika Allah SWT memerintahkan malaikat untuk sujud kepada Adam, mereka sujud. “Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: "Bersujudlah kamu kepada Adam"; maka mereka pun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud” (al-A’raf:11). Hanya iblis yang tidak sujud, adakah Allah SWT lalu menghukum langsung iblis? Allah SWT belum menghukum mereka sampai waktu yang ditangguhkan. Allah Azza wa Jalla memerintahkan iblis untuk turun dari surga. “Allah berfirman: "Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina" (al-A’raf:13). Orang-orang yang tidak mengikuti perintah Allah SWT termasuk orang-orang yang sombong. Iblis selalu menyuarakan dengan sombong akan dirinya dengan berkata kepada Allah. “Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?" Menjawab iblis: "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah" (al-A’raf:12). Maka, iblis menangis, dan memohon kepada Allah Azza wa Jalla agar ditangguhkan. Saat Allah menyuruh iblis turun dari surga, “Iblis menjawab: "Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan" (al-A’raf:13). “Allah berfirman: "Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh" (al-A’raf:15).

Bagaimana pun perintah Allah SWT, malaikat senantiasa menunaikannya. Karena itulah, malaikat termasuk makhluk yang mulia. Malaikat tidak pernah menolak sekalipun akan perintah Allah. Allah SWT ‘angkat topi’ sebagaimana firman-Nya, “Sesungguhnya malaikat-malaikat yang ada di sisi Tuhanmu tidaklah merasa enggan menyembah Allah dan mereka mentasbihkan-Nya dan hanya kepada-Nya lah mereka bersujud” (al-A’raf:206). Anda sangat berakhlak mulia bila tidak pernah membangkang perintah Allah Azza wa Jalla. Apakah anda sudah menunaikan perintah Allah sebagaimana malaikat? ‘Wah ya tak mungkin, aku kan hanya manusia biasa!’ Kerapkali manusia mengungkapkan keputusasaan atas dirinya. Padahal, Allah SWT memuliakan manusia juga. Allah berfirman, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya yang memuliakan kamu di sisi Allah ialah yang mau bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (al-Hujurat:13). Adakah yang belum pernah membaca ayat ini? Bila belum pernah atau belum sama sekali pernah, bahkan dari ceramah seorang kiai sekalipun, maka dianggap wajar. Sebaliknya, bila sudah mengetahui sendiri maupun melalui orang lain, maka mengapa masih belum mengimaninya? Kalau sekiranya sulit untuk meyakini akan kebenaran firman Allah SWT, mengapa anda mau beragama Islam? Bukankah Islam adalah agama keyakinan? Islam tidak mengajak kepada manusia melainkan untuk mengimani Allah yang tidak dilihat oleh orang yang belum diperkenankan, para malaikat yang goib, para nabi yang hanya dibaca dalam buku sejarah kenabian, kitab-kitab Allah yang hanya al-Qur’an anda dapat membaca ayat-ayatnya, adanya qadho dan qodar yang baru merasakan bila sudah terjadi, yaumil akhir yang juga belum ada baru berita disampaikan dalam al-Qura’an. Bagaimana? Belum cukupkah ayat-ayat Allah Azza wa Jalla akan menambah keyakinan anda kepada kebenaran Allah? Saya menganggap anda belum cukup beriman. Jika anda mengaku beriman, maka tidak cukup hanya sebatas pengakuan di lisan atau di akal. Akan tetapi, adanya keyakinan hanya dapat dirasakan di dalam hati.

Akhlak mulia atau budi pekerti adalah ajaran Allah Azza wa Jalla yang disampaikan kepada nabi-Nya untuk disampaikan kepada umatnya. Maka, sekiranya anda mengaku menjadi umat Rasulullah Saaw, mengapa tidak segera melakukan perintahnya? Atau anda masih ragu kepada ajaran Rasulullah Saaw? Naudzu billah min dzalik. Kalau saja Rasululullah Saaw masih hidup, apakah anda masih mengimaninya? Belum tentu. Bukankah pada zaman beliau ada banyak yang tidak beriman kepadanya? Sekali lagi, ukuran seseorang beriman atau tidak beriman bukan ditentukan hadir atau tidak hadirnya Rasululah Saaw, melainkan adanya keyakinan di hati.

Saya hanya meneruskan apa yang ada di dalam al-Qur’an, bukan untuk memerintah anda beriman atau meyakini ajaran Rasulullah Saaw. Jika saya tidak patut menyampaikan hal ini, saya meminta maaf. Saya hanyalah manusia seperti anda. Saya bukan malaikat, bukan juga nabi Allah, saya hanya ingin berbagi atau sharing dalam kebenaran dan kesabaran. “Wa tawa shoubil haq wa tawa shoubish shobri.” Saya akan menutup tulisan ini dengan sebuah syair.

Manusia ada Allah Ada

Anda yang ada di dunia adalah ada karena ada-Nya,
Sekiranya ada anda lalu Dia tak ada, maka adanya anda
           adalah ketiadaannya,
Bukan ada Dia lalu ada manusia, selain karena Dia ada
           untuk mengadakannya,
Ada manusia pasti Ada Allah.

Ada-Nya adalah ajakan-Nya,
Allah ada sama sekali bukan karena adanya manusia,
Allah ada karena kehendak-Nya,
Allah ada bukan keadaan yang memaksa ada,
         tetapi ada di bawah kekuasaan-Nya.

Silakan dibaca Artikel Terkait di bawah ini

1 comment:

  1. Pendidikan etika dan budi pekerti justru lebih efektif diajarkan dalam pendidikan agama. Mata pelajaran agama biasanya sangat menekankan yang satu ini.

    ReplyDelete

Artikel Populer 7 Hari Terakhir