21.10.10

Aku, Engkau, dan Dia

Allah adalah nama dzat (ismu dzat) Tuhan Yang Maha Pencipta memiliki beberapa sebutan atau nama-nama yang baik (asmaul husna) sebanyak 99. Nama-nama tersebut digunakan oleh Allah SWT untuk mengagungkan Dia. Aku sebenarnya adalah Dia, Allah Azza wa Jalla. Allah ada kalau Dia senantiasa bersama Engkau. Allah itu bukan Allah Yang tidak ada Aku kecuali Dia, tetapi Allah itu adalah Allah Yang tidak ada Tuhan selain Dia. Anda tahu di mana Aku? Pasti tidak tahu. Di mana keberadaan-Nya bukan persoalan buat insan yang tak ada Aku di dalam dirinya. Anda bukanlah orang yang disayang oleh Allah kalau tidak ada Dia menjadi Engkau Yang senantiasa mengagungkan Aku. Anda pasti bingung menangkap semua kalimat ini. Mengapa? Karena anda bukanlah Dia Yang senantiasa memuji Engkau sebagai Aku. Akal bagaimana engkau menangkap-Ku? Aku tidak bersamamu, akal!

Anda sebenarnya pusing jika semata-mata mengandalkan akal, tidak mencoba memahaminya lewat perantaraan hati. Akal itu hanya mengerti dengan kata-kata yang ril. Kata-kata atau kalimat abstrak sangat sulit ditangkap. Padahal sesuatu yang abstrak menjadikan yang ril mudah dipahami. Bila selalu ril dan mengabaikan yang abstrak, justru di situlah akal tak mampu melampaui semuanya. Maka, bahwa akal sesungguhnya hanya mampu sebatas yang ril memang benar ada-Nya. Anda pasti belum memahami kata ‘ada-Nya’ dalam kalimat tersebut. Anda sementara ini selalu mengatakan: ‘benar, memang begitu ada-Nya’. Kalimat yang anda pakai tidak disadari bahwa adanya adalah ada-Nya. Ada menunjuk kepada Allah SWT. Semua yang ada tak mungkin ada bila tidak ada Dia, Allah Yang Maha Ada. Dia adalah kedudukan Allah yang diganti dengan ‘Nya’. Kata ganti Dia adalah ‘Nya’ mengisyaratkan bahwa Dia benar-benar ada dalam kalimat tersebut.

Subhanallah, anda mulai bertambah pusing! Sekali lagi, cobalah menggunakan hati, jangan terus menerus menggunakan akal ketika membaca kalimat-kalimat seperti di atas! Sekalipun akal anda cerdas, bila memahami perkataan Allah jangan selalu mengabaikan hati. Menemukan pemahaman atas kalimat-kalimat Allah harus dengan hati yang tenang, tidak dengan dalam keadaan hati yang gelisah. Lama akan memahaminya bila dalam hati yang kosong dari mengingat nama-Nya. Anda bukan tidak mengerti, akan tetapi tidak memahami secara mendalam apa yang sesungguhnya dari semua itu (kalimat-kalimat Allah). 'Anda diam, Allah ada. Anda ada, Dia diam.' Kalimat ini sulit dipahami! Anda akan mudah memahami bila bertanya kepada hati. ‘Hai hati, aku tak memahami apa makna dari kalimat tersebut, beritahukan aku!’ Maka, insya Allah, anda akan mendapati apa yang anda inginkan. Secara hati, kalimat tadi memiliki makna (bukan tafsir) sebagai berikut: ‘Anda diam bermakna anda tak pernah berbuat sesuatu tentang yang diperintahkan oleh Allah SWT. Sementara Allah adalah Tuhan Yang senantiasa ada di manapun. Allah Azza wa Jalla tidak akan diam bila anda berbuat sesuai dengan perintah-Nya. Maka, anda ada apabila Ada-Nya Allah yang berdiam di hatimu. Sangat mudah bagi Allah untuk berbuat sebagaimana kehendak-Nya.’

Bagaimana menurut anda? Perhatikan pemaknaan kalimat tersebut ketika hati memberitahu apa yang sebenarnya dari kandungan kalimat tersebut. Anda tak akan pernah memahami bila selalu menggunakan akal untuk menjangkaunya! Akal anda tak lebih mengikuti bagaimana yang mengajak. Bila ‘petunjuk’ yang mengajak, maka akal menjadi cerdas dengan tunduk kepada Allah Azza wa Jalla. Tetapi, sebaliknya, bila setan yang mengajak, maka akal akan menjelaskan dengan penuh tipu daya. Akal tidak mengakui apa yang datangnya dari hati apabila setan sudah menguasainya. Sebaliknya, bila hati menjadi imam dalam diri, maka akal mengimaninya dengan segenap hati yang menjadi imamnya dalam jiwa. Allah Azza wa Jalla akan senantiasa membimbing akal yang patuh kepada perintah-Nya dan yang menjauhi larangan-Nya. Allah Azza wa Jalla menunjukkan jalan terbaik bagi akal apabila dia mau mengikuti hati yang telah diberi petunjuk. Anda takkan mampu mengetahui sesuatu pun bila tiadanya pentunjuk dari Allah yang dipancarkan ke hati anda. Mengetahui sesuatu sama sekali bukan pekerjaan mudah. Terkadang anda dapat mengetahui sesuatu karena ada yang memberi tahu. Tetapi, anda sendiri jarang mengetahuinya secara langsung. Sebagai contoh, suatu ketika anda menulis tentang ilmu fisika. Anda sedang menggeluti bidang tersebut di kampus, sementara ilmu fisika yang anda pelajari berasal dari teori newton. Kemungkinan besar, anda pasti tidak akan mengetahui bila bukan karena dosen anda yang memberi tahu atau penulis buku yang menjelaskan teori newton tersebut. Sebab anda pasti tidak mungkin menemui newton yang sudah meninggal. Saya juga tidak mungkin mengetahui apa yang saya tulis bila bukan karena adanya pesan-pesan yang muncul dari dalam hati, karena saya sudah tidak pernah membaca buku agama. Saya hanya menuliskan apapun yang ada dari dalam hati. Saya mengetahui karena ada yang memberi tahu, bukan produk saya (akal). Akal saya sudah tak mampu mengurai kalimat yang isinya berkaitan dengan petunjuk Allah. Demi Allah, saya menyampaikan ini dengan sesungguhnya. Kalau saja ada di antara pembaca ingin mengetahui bagaimana saya menulis secara langsung, anda mungkin takjub dan heran. Sebab ketika saya menulis tak ada satu pun buku-buku di meja yang bertelekan. Saya hanya menyandarkan dari dalam hati dan digital al-Qur’an yang membantu saya dapat menuangkan ilmu Allah ini. Jadi, saya sendiri betul-betul dari sudut pandang akal tidak dapat mengerti mengapa terjadi. Artinya, saya hanya tahu setelah semua tertulis di notebook atau komputer. Tulisan ini bukan hasil karangan akal, tetapi menyandarkan kepada petunjuk dari dalam hati. Believe it or not, I don’t care. Whatever I take from my heart, I have to write it. This is what someone says the giving from Allah about something which I don’t know. Alhamdulillah, saya mensyukuri karunia ini.

Anda, sekali lagi, hanya mengetahui setelah diberitahu. Anda tahu bukan karena akal anda. Akal berfungsi menampung informasi, mengolahnya, menganalisa, lalu menyimpulkan. Tetapi, awalnya, informasi itu bukan produk akal, melainkan berasal dari yang mempunyai informasi. Oleh karena itu, anda tidak semestinya bangga dengan semua produk akal anda. Karena akal kalau tidak ada informasi tak mungkin berfungsi sebagaimana seharusnya. Secara kebetulan, informasi yang anda peroleh selalu di wilayah lahir (alam dunia yang tampak). Anda sesungguhnya mendapati informasi itu sebagai karunia juga, meski datangnya bukan dari hati. Hanya saja, kewaspadaan terhadap informasi itu patut anda pertimbangkan. Sekali lagi, anda sesungguhnya tidak mengetahui apa-apa kalau tidak diberitahu atau mencari tahu tentang sesuatu yang anda perlukan itu. Jadi, peradaban umat manusia sesungguhnya bukan produk manusia saat ini, melainkan produk para pemikir terdahulu yang telah menghasilkannya. Saat ini, produk-produk itu dikembangkan lebih jauh mengikuti perubahan global yang sangat membutuhkan komunikasi lintas negara dan budaya. Ilmu matematika, ilmu elektronik, ilmu fisika, ilmu komunikasi, ilmu astronomi, ilmu peradaban, ilmu logika, ilmu metafisika, ilmu geologi, ilmu kedokteran, dan ilmu-ilmu lain, sesungguhnya telah ada jauh sebelum ada sekarang ini. Maka, sejalan dengan kebutuhan umat manusia, Allah Azza wa Jalla telah menyediakan seluruh keberadaan ciptaannya, baik di langit maupun di bumi, untuk menjadi bahan pemikiran bagi orang-orang yang berakal yang meyakini akan kebenaran Allah sebagai Yang Menjadikan semua ini terjadi. Are you sure whatever I ‘ve said about it all?

Aku adalah Engkau yang berada di wilayah-Ku. Apapun yang Aku kehendaki adalah itu kekuasaan-Ku, bukan milik makhluk-Ku. Aku bukan kamu, dan Dia juga bukan dirimu. Tetapi, aku adalah Diri-Ku bila Aku sayang kepadanya. Dia bukan engkau, tetapi aku adalah Dia sekiranya Allah berada di dalam dirinya. Allah bukan seperti dia, tetapi Dia adalah aku dalam pandangan-Nya. Allah Azza wa Jalla bukan Allah Yang Aku adalah dia, melainkan Dia adalah Allah Azza wa Jalla yang bersamanya. ‘Saya bukan kamu, tetapi dia adalah aku, maka aku pasti adalah dia yang bukan saya maupun kamu,’ bagaimana anda memaknainya? Apakah akal anda dapat memahami secara langsung semua uraian tersebut? Semua yang diungkapkan bukan produk akal, melainkan produk hati. Anda pasti mengerti apa yang diuraikan di atas apabila saya memberitahukannya. Anda yakin? Sekiranya tidak ada informasi, apakah akal anda dapat menangkapnya? Pertama, bisa saja anda mengerti kalau anda sudah pernah membaca tulisan para ahli tasawuf. Anda sesungguhnya mengetahui karena sudah ada informasi sebelumnya. Andaikan tidak ada informasi tentang ilmu tasawuf yang mengajari tentang kedudukan Aku, Engkau, dan Dia dalam kedudukan-Nya di antara Allah dan hamba-Nya, maka tak mungkin mengerti. Kedua, anda menjadi semakin pusing bila mencernanya dengan pandangan akal yang tidak ada informasi sebelumnya. Akal anda akan mudah memahami kalau sudah diberitahu! Saya akan menjelaskan kalimat yang tercetak miring dalam kutipan tunggal. Insya Allah, saya menangkapnya sesuai informasi yang disampaikan dari dalam hati sebagai berikut: ‘Saya pasti bukan kamu karena saya adalah aku, sedangkan kamu adalah engkau. Apabila dia sebagai aku, maka dia pun seperti aku sebagaimana aku saat ini. Untuk itu, aku dan dia pasti bukan saya apalagi kamu. Yang ada adalah dia itu aku, dan aku juga adalah dia dalam kedudukanku yang bila aku bagaikan dia.’


Silakan dibaca Artikel Terkait di bawah ini

No comments:

Post a Comment

Artikel Populer 7 Hari Terakhir