20.10.10

Asal Usul Manusia Suci

“Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (al-Baqarah:32).

Adakah yang memahami bagaimana Allah SWT menciptakan manusia asal mulanya? Anda sudah mengetahui bahwa Adam as. adalah manusia pertama yang diciptakan Allah Yang Maha Suci sesudah ada makhluk lain yang diciptakan-Nya, yaitu ‘makhluk langka’ yang berada di alam dunia sebagai penghuninya. Ketika para malaikat menyangsikan Adam as. ditunjuk sebagai khalifah pertama di muka bumi, Allah Azza wa Jalla menegaskan bahwa Dia lebih tahu dari apa yang tidak diketahui malaikat mengenai tujuan Allah berbuat sebagaimana kehendak-Nya. Ayat tentang kedudukan manusia sebagai khalifah adalah sangat masyhur sebagaimana difirmankan oleh Allah pada surat al-Baqarah ayat 30, “Dan Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".

Bahkan Allah berfirman kepada Adam mengenalkan apapun yang berada di alam dunia asal-usul adanya benda-benda di bumi, para malaikat pun tidak mengetahuinya. Allah Azza wa Jalla adalah Tuhan Yang Maha Mengetahui segala sesuatu baik yang ada di dunia maupun yang berada di wilayah yang tak terlihat oleh pandangan mata lahir. Allah secara langsung memperkenalkannya kepada Adam as. lalu memberitahukan kepada para malaikat tentang nama-nama benda yang masih asing. Malaikat akhirnya berkata kepada Allah bahwa Allah mengetahui apa yang diajarkan kepada Adam dan kepada mereka, sebagaimana firman-Nya, “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!" (al-Baqarah:31). Maka, berkatalah para malaikat sebagaimana ayat 32 surat al-Baqarah tersebut di atas.

Adakah manusia, selain nabi Adam as. dan para nabi lainnya termasuk Rasulullah Saaw., mengetahui sesuatu yang belum diperkenalkan oleh Allah, sedangkan malaikat saja sebagai hamba yang patuh dan ta’at kepada-Nya berkata tidak tahu? Ketika saya mengatakan bahwa manusia suci adalah manusia yang disebabkan oleh perbuataanya sendiri, adakah yang menyangkal sebelum anda mengetahuinya langsung yang dikabarkan di dalam hati? Sebagaimana nabi Allah Adam as. yang adalah juga manusia tidak mengetahui kalau bukan karena Allah mengajarkannya, adakah manusia selain nabi tidak diajarkan oleh Allah sesuatu yang belum diketahuinya? Saya dan anda adalah juga manusia, adakah keragu-raguan bahwa Allah sangat mungkin mengajarkan langsung kepada manusia selain nabi? Anda boleh jadi bertanya, tidak cukupkah kita memiliki al-Qur’an dan hadits nabi Saaw? Anda benar, bahwa keduanya memang sudah sangat cukup sebagai pedoman kaum bertakwa yang meyakini (beriman) kepada yang goib, menunaikan solat dan mengeluarkan sebagian rezeki yang diterimanya dari Allah (al-Baqarah:2-3). Manusia justru dilahirkan sebagai makhluk untuk mengetahui bagaimana Allah Azza wa Jalla menjelaskan semua persoalan hidup di dunia dan akhirat agar menjadi pedoman atau pegangan hidup orang-orang yang beriman.

Anda sebagai umat nabi Muhammad Saaw. pastinya sangat yakin bahwa Allah SWT mengajari kepada umat Rasulullah Saaw yang selalu khidmat menunaikan apapun yang diperintahkan dan dilarang Allah. Anda mengetahui bahwa rasul Allah pasti senantiasa memohon kepada Allah untuk umatnya agar menjadi umat yang bertakwa. Gairah anda menemui rasul Allah seharusnya seperti beliau kepada umatnya. Adakah anda yakin bahwa ketika anda menyampaikan salam langsung kepada beliau pada tahiyat akhir adalah menyampaikan kepada beliau sebagaimana beliau masih hidup? Bukankah ruh suci beliau masih hidup dan dapat berhubungan dengan umatnya? Atau, anda memang tidak meyakini tentang hal demikian? Jika anda mengucapkan salam langsung kepada beliau, apakah rasul Allah diam tidak menjawab? Bagaimana dengan adanya ayat al-Qur’an yang disebutkan di dalam surat Ali Imron ayat 169, seperti yang pernah saya sampaikan terdahulu? “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki.”

Ayat di atas menjelaskan bahwa orang-orang yang gugur sedang mereka masih berada di jalan Allah, diangkat oleh Allah ruhnya ke dalam kelompok orang-orang yang mendapatkan rezeki atau surga di alam barzakh. Bila seseorang yang sedang berada di jalan Allah saja adalah orang yang dijamin masuk surga, apalagi beliau rasul Allah. Lalu, adakah di antara beliau hadir di dalam hati (ruh) anda? Adakah hati kita sesungguhnya telah mati atau hidup? Anda pasti menjawab bahwa hati tidak akan pernah mati, selain bahwa setiap manusia ada yang di dalam hatinya ada penyakit dan ada yang selalu berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla. Andaikan hati anda tidak pernah berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla, adakah yang dapat menjamin anda tidak diganggu oleh setan laknatullah ‘alaih? Semua hati yang kosong dari mengingat Allah Azza wa Jalla pasti dijamin akan sering gelisah bila dihadapkan dengan persoalan hidup. Hati menjadi ukuran kejiwaan seseorang merasakan bahagia dan gelisah dalam melakoni hidup di dunia. Dari hati pula orang akan dihadapkan kepada perbuatannya sendiri. Anda akan menjadi manusia yang tenang hatinya bila selalu mengingat Allah dan, insya Allah, anda akan diajak oleh ruh-ruh suci mengarungi kehidupan di alam keabadian. Sulit anda akan meyakini apa yang saya sebutkan bahwa hati atau ruh anda akan berada di dunia yang tak dapat dijangkau oleh pandangan mata lahir.

Sekiranya anda mengoptimalkan hati sebagai sandaran dalam berpikir, maka otak tidak merasakan pusing dan merasa terbebani. ‘Dunia lain’ yang berada jauh dari dunia lahir bukan berarti tiada dari hati anda. Justru di sanalah ‘dunia lain’ itu berada. Anda dapat merasakan bagaimana rasa bahagia selalu berada di hati (ruh) anda, bukan di akal anda yang berada di dunia lahir? Berulang saya menyebut tentang keberadaan otak disebabkan oleh banyaknya orang yang sering menggunakan akal tapi tak dapat mengobati hati yang luka. Mengapa demikian? Kalau anda yakin, otak sebenarnya adalah produk hati yang berada di balik realitas yang karenanya akal menjadi hidup. Maka, bila anda menggunakan akal, tak lebih hanya sebatas menggunakannya di wilayah lahir saja. Akal tak mampu menjangkau apa yang tak tampak; apa ada akal mampu menembus ‘dunia lain’? Karena itu, lebih baik anda mengurangi kebiasaan mengandalkan akal. Segeralah beralih ke hati anda.

Saya merasa yakin bahwa hati memiliki peran yang sangat mempengaruhi kebiasaan anda dalam menghadapi permasalahan. Hati yang tenang tidak akan melahirkan kegelisahan. Hati atau ruh suci yang saat ini sedang berada di alam barzakh, yang sedang menikmati kebahagiaan di surga alam barzakh, lebih dapat memahami apa yang ada di dunia lahir ketimbang mereka yang sekarang masih berada di dunia. Ruh suci sesungguhnya adalah ruh orang-orang bertakwa, seperti halnya rasul Allah Saaw. Adakah, sekali lagi, anda menyangsikan bahwa rasul Allah tidak hidup ruhnya sehingga tidak dapat berhubungan dengan umatnya yang masih hidup di dunia? Adanya pemikiran yang mengatakan bahwa tak mungkin ruh yang sudah di alam barzakh itu dapat berhubungan dengan yang masih hidup, tiada lain karena dia belum mampu menjangkaunya. Lalu mengapa Allah menurunkan malaikat dan ruh suci pada malam al-Qadar? Siapakah ruh suci itu? Adakah dia malaikat? Atau ruh suci itu adalah bukan ruh orang-orang yang bertakwa dari kalangan rasul, nabi, wali, dan apa kalau begitu? Adakah yang mengatakan bahwa anda adalah manusia biasa sehingga ruh anda tidak mungkin dihampiri oleh ruh suci? Malaikatkah ruh suci itu yang sementara ini anda mengetahuinya dari seorang ahli tafsir? Jika Jibril adalah malaikat, mengapa disebut ada ruh suci? Anda begitu teraniaya oleh tafsir yang tidak mendasarkan kepada pemaknaan ayat suci tersebut. Asal diketahui saja, bahwa ruh suci itu bukan malaikat Jibril, melainkan para rasul, para nabi, dan para wali Allah yang saat ini berada di surga alam barzakh. Jika anda merasa ragu akan pernyataan saya, apa yang dapat anda buktikan bahwa ruh suci itu malaikat Jibril? Anda tidak perlu menyebut tafsir siapa pun, kecuali anda mendapatinya dari pemaknaan anda sendiri. Jika menyandarkan kepada tafsir seseorang, maka anda saya anggap tidak mampu menunjukkan bukti-bukti yang kuat. Adakah anda mendapati dari anehnya penafsiran bahwa ruh suci sebagai malaikat Jibril? Sekiranya anda merasa aneh, maka anda sama seperti saya. Akan tetapi, bila sebaliknya, anda merasa bahwa tafsir itu benar, saya menganggap anda aneh. Saya tidak menganggap takjub kepada anda bila anda mengagumi ahli tafsir tersebut, sebaliknya saya merasa anda harus menghadap kepada Allah untuk diberi petunjuk, betulkah ruh suci itu malaikat Jibril? Anda ada karena Allah mengadakannya. Adanya anda di dunia lahir dapat hidup karena adanya ruh yang menjadikannya anda dapat bergerak. Jika ruh anda tidak bersama dengan fisik anda, maka tiada pula gerak fisik anda. Jadi, yang dapat menghidupkan anda apakah fisik atau ruh anda? Anda pasti tahu jawabannya! Akan tetapi, seandainya ruh anda ada yang menemui anda dari kalangan ruh suci, adakah anda mengetahui bahwa itu tidak mungkin? Tidak mungkin itu menurut akal anda, tetapi menurut ruh anda pasti dapat. Akal berfungsi karena ruh, maka bila akal berkata tidak, sedangkan hati menjawab benar, maka apakah anda akan mengikuti akal atau hati?

Lingkungan anda sangat kuat membentuk cara anda berpikir. Anda awalnya tidak menyadari bahwa hal seperti itu dapat terjadi. Anda baru merasakan setelah lebih lama berinteraksi dengan lingkungan. Bila lingkungan anda adalah pondok pesantren, maka cara berpikir anda pasti diwarnai oleh lingkungan pondok pesantren. Bila anda orang gedongan, pasti berpikir anda mengikuti gaya orang gedongan. Andaikan anda dari kalangan oang kantoran (pemerintah atau perusahaan), maka anda pun terimbas oleh pergaulan lingkungan kantor anda. Jika anda seorang penulis, pikiran anda juga banyak dipengaruhi gaya berpikir seorang ahli yang menjadi rujukan anda. Lalu, cara anda berpikir sejalan dengan ruh anda seperti apa? Anda mengenal ruh anda? Mengapa anda tidak mengenal ruh anda sendiri yang akan membawa anda ke alam keabadian? Anda memiliki ruh, tapi tidak tahu ruh anda, bagaimana itu dapat terjadi? Jadi, selama ini anda memiliki mobil, tapi tidak tahu mobil anda? Atau, anda memiliki istri, tapi tidak tahu istri anda? Apa bedanya antara anda dengan aqua? Anda dapat menikmati aqua, tetapi aqua anda biarkan begitu saja tanpa menyimpannya dengan benar agar air mineral itu dapat dirasakan untuk kesegaran tubuh anda. Aqua mungkin anda buang, tak akan protes, tetapi anda kehilangan air yang menyegarkan. Anda membutuhkan air mineral pada saat anda haus. Anda memerlukan air menyegarkan ketika anda mendambakan sejuknya tenggorokan. Anda sangat menyukai air yang menyehatkan. Anda boleh jadi menanyakan apa yang dimaksud aqua dengan anda, bagaikan aqua hanya satu-satunya yang akan menolong anda di saat anda kehausan? Seperti itukah hubungan antara anda dengan ruh anda? Kalau anda sangat merasakan haus karena tidak ada air yang anda minum, maka air tidak mungkin membutuhkan anda karena anda haus. Maka, jika anda menyimpan aqua dengan baik, suatu saat anda haus dapat mengambilnya untuk anda minum. Kalau anda haus lalu tidak ada air, apa yang terjadi dengan anda? Anda beli? Beli di mana bila anda berada di padang pasir? Anda tidak mungkin menemukan warung di padang pasir! Ruh anda di alam keabadian sangat menolong anda di saat anda berada di padang mahsyar yang sangat lapang. Bila ruh anda tidak diabaikan selama anda di dunia, maka insya Allah anda akan ditolong oleh dia. Siapakah sebenarnya ruh anda itu? Ruh anda adalah anda sendiri. Allah Azza wa Jalla akan menghidupkan anda kembali untuk kedua kalinya, sebagaimana firman Allah berikut, “Hanya kepada-Nya-lah kamu semuanya akan kembali; sebagai janji yang benar daripada Allah, sesungguhnya Allah menciptakan makhluk pada permulaannya kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali, agar Dia memberi pembalasan kepada orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan amal shaleh dengan adil. Dan untuk orang-orang kafir disediakan minuman air yang panas dan adzab yang pedih disebabkan kekafiran mereka” (Yunus:4).

Asal usul manusia suci adalah anda berada di dunia dengan ruh suci, yaitu ruh yang digunakan sebagai teman abadi di wilayah tak tampak, sebagai anugerah dari Allah Azza wa Jalla karena kedekatannya dengan-Nya. Allah Azza wa Jalla akan menghidupkan ruh suci sebagai wujudnya yang asli sebagaimana anda di dunia. Anda adalah anda bila anda suci ruhnya di alam keabadian. Anda menjadi bukan anda apabila ruhnya tidak dijaga sejak masih bersama fisik anda. Anda adalah seadanya anda di penghujung dunia apabila ruh anda diajarkan nilai-nilai kebenaran Allah seadanya di dalam al-Qur’an dan hadits rasul-Nya. Anda masih belum tertarik?

Saya akan menulis sebuah syair untuk anda. Syair tentang anda dan ruh anda. Semoga anda akan berpikir bahwa hidup anda tidak sebagaimana yang anda saksikan, kecuali fatamorgana.

Anda Adalah Anda

Anda adalah anda sekiranya anda mau mengikuti-Nya,
Anda menjadi bukan anda apabila tidak meyakini-Nya,
Anda adalah bukan anda sesungguhnya apabila menjauh dari-Nya,
Anda pada akhirnya ditentukan bagaimana amal anda.

Siapakah anda?
Anda tak lebih makhluk yang hina,
Makhluk seperti apa anda?
Bergantung kepada hati anda.

Manusia awalnya,
Allah Sang Penciptanya,
Diingatkan agar sadar akan hakikatnya sebagaimana seharusnya,
Anda terbujuk rayu setan dengan nafsunya angan-angan aslinya.

Apakah ada anda di alam fana?
Anda hanya sementara asal usulnya,
Allah sudah menerangkan di dalam ayat suci-Nya,
Anda bercabang hatinya, ada dunia ingin akhirat, bagaimana jadinya?



Silakan dibaca Artikel Terkait di bawah ini

No comments:

Post a Comment

Artikel Populer 7 Hari Terakhir