18.2.11

Kemuliaan Diri

“Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas” (al-Baqarah:212).

Allah Azza wa Jalla berada dalam kekuasaan-Nya! Segala sesuatu yang merupakan ciptaan-Nya juga tidak keluar dari genggaman tangan kekuasaan-Nya! Perbuatan Allah menjadi kehendak-Nya! Apa pun yang diperbuat oleh Allah dalam penciptaan seluruh makhluk-Nya merupakan ketetapan yang telah dikehendaki-Nya.

Ayat di atas menjelaskan bahwa Allah Azza wa Jalla sesungguhnya mengangkat derajat orang-orang bertakwa lebih mulia di sisi Allah dibandingkan dengan orang-orang kafir yang menghinanya! Allah SWT menyatakan dengan tegas bahwa orang-orang kafir hanya melihat indah sebatas apa yang dapat dipandang oleh penglihatan lahir! Allah Azza wa Jalla Maha Bijaksana menunjukkan kepada umat manusia bahwa pandangan mereka menganggap orang-orang beriman rendah adalah salah! Sebaliknya, Allah SWT mengklarifikasi bahwa orang-orang berimanlah yang lebih mulia dari mereka! Kelak di akhirat, Allah SWT akan menunjukkan kepada mereka yang ingkar kepada-Nya atas kemuliaan orang-orang bertakwa! Allah Azza wa Jalla sebagai Pemberi Rezeki akan memberikan rezeki-Nya tanpa perhitungan (batas) kepada orang-orang bertakwa!

Beriman dan bertakwa adalah dua kedudukan yang berbeda dari kafir atau ingkar kepada Allah! Allah Azza wa Jalla membedakan keduanya dari orang-orang kafir agar umat manusia tidak salah mengatakan tanpa petunjuk-Nya!

Petunjuk adalah pegangan yang dijadikan sebagai penguat atas apa yang difirmankan oleh Allah sehingga mengetahui maksud dari ayat-ayat Allah! Al-Qur’an adalah petunjuk bagi umat manusia, orang-orang beriman dan orang-orang bertakwa! Maka, al-Qur’an dapat dijadikan pegangan untuk mengetahui apa yang difirmankan oleh Allah Azza wa Jalla atas yang dikeluhkan oleh umat manusia yang masih meragukan-Nya! Bagi yang beriman, al-Qur’an bukan lagi diragukan atas kebenarannya! Beriman (yakin) atas kebenaran Allah memperkuat keimanan seseorang! Apa pun yang difirmankan oleh Allah dijalankannya tanpa ada keraguan!

Orang-orang yang meyakini kebenaran firman Allah SWT lagi mengamalkannya dengan tanpa ada keraguan, maka inilah ciri-ciri orang bertakwa! Al-Qur’an menjadi petunjuk bagi orang-orang bertakwa; al-Qur’an yang di dalamnya ada firman-firman Allah pasti benar dan tak ada keraguan sedikit pun! Allah Azza wa Jalla berfirman, “Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa” (al-Baqarah:2).

Allah Azza wa Jalla menguatkan siapakah orang-orang bertakwa itu dalam ayat-ayat berikutnya (al-Baqarah:3-5). “(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka,” “dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur'an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.” “Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.”

Orang-orang bertakwa itu adalah mereka yang meyakini adanya kehidupan goib! Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Goib! Al-Qur’an adalah firman-Nya, maka bila mengimani al-Qur’an berarti harus meyakini keberadaan Allah Yang Maha Goib! Batal keimanan seseorang bila tidak meyakini ada-Nya Yang Maha Goib! Allah berada di hadirat-Nya yang tidak dapat dijangkau oleh penglihatan mata (lahir)! Orang-orang kafir tidak mengimani Allah SWT karena mereka hanya menyandarkan pada penglihatan yang lahir! Mereka tidak yakin ada-Nya Yang Maha Goib!

Pengetahuan goib tidaklah diartikan tiadanya kehidupan yang tampak sehingga menjalani kehidupan di dunia yang tak tampak! Kehidupan di dunia yang tampak bersamaan adanya kehidupan yang tak tampak! Adanya manusia dalam kehidupan di dunia yang tampak tidak boleh meniadakan yang tak tampak! Allah Azza wa Jalla menegaskan agar orang-orang beriman meyakini adanya kehidupan di wilayah yang tak terjangkau oleh penglihatan mata (lahir)! Pengetahuan goib adalah sebuah keyakinan yang ada di dalam jiwa seseorang melihat dengan mata (hati) adanya kehidupan goib (tak tampak)!

Orang-orang bertakwa meyakini ada-Nya Yang Maha Goib, yaitu keberadaan Allah Azza wa Jalla di hadirat-Nya benar-benar ada tanpa sedikit pun meragukan-Nya! Mereka juga mendirikan solat, menunaikan zakat (mengeluarkan sebagian rezekinya dari pemberian Allah), mengimani al-Qur’an dan Kitab-Kitab Allah yang diturunkan sebelumnya serta meyakini adanya Hari Akhir.

Anda adalah orang bertakwa bila meyakini Allah Yang Maha Goib pasti ada (wujud) di dalam kekuasaan-Nya yang sulit anda memandang-Nya dengan penglihatan (lahir)! Akan tetapi, anda meyakini-Nya dengan sangat kuat bahwa Dia benar-benar ada di hadirat-Nya. Keyakinan anda begitu kuat sehingga apa yang difirmankan-Nya dijalankan dengan sepenuh hati (tidak ragu). Walaupun Allah SWT tidak dijangkau oleh mata lahir anda, tetapi jiwa anda merasakan kehadiran-Nya! Jiwa anda yang hanya dapat merasakan kehadiran-Nya, bukan mata anda yang melihat-Nya!

Anda tidaklah beriman kepada al-Qur’an al-Karim bila masih ada keraguan tentang alam goib! Allah Azza wa Jalla dengan sangat tegas berfirman bahwa orang-orang bertakwa adalah orang-orang yang meyakini adanya yang goib! Allah SWT menciptakan selain manusia juga jin. Kehidupan jin tidak dapat dilihat oleh penglihatan mata (lahir)

Allah Azza wa Jalla berkehendak menciptakan manusia dan jin dalam dunia yang berbeda! Manusia hidup di alam yang tampak dipandang mata (lahir), sedangkan jin sulit untuk dijangkau oleh penglihatan (lahir). Dia adalah Tuhan Yang Maha Goib! Kehendak-Nya Menciptakan jin di dunia goib agar menjadi pelajaran bagi manusia untuk meyakini adanya yang goib! Jika makhluk goib yang diciptakan Allah Azza wa Jalla tidak diyakini keberadaannya, apalagi Allah Yang Maha Goib.

Anda sulit untuk memahami kehidupan goib apabila belum diberi al-Hikmah oleh Allah Yang Maha Bijaksana! Tidak setiap orang dianugerahi karunia oleh Allah al-Hikmah, selain karena kehendak-Nya. Manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya hanya dilengkapi dengan panca indera dalam menjalani kehidupan di dunia yang tampak. Akal, sebagai salah satu karunia terbesar yang dianugerahkan Allah SWT kepada umat manusia, dimaksudkan agar manusia mau berpikir atas semua kejadian luar biasa dalam kehidupan di alam dunia.

Kejadian-kejadian yang sulit dijangkau oleh akal, seharusnya menjadi bahan perenungan bagi akal di balik peristiwa yang berlangsung di alam dunia. Keajaiban atau hal-hal yang menakjubkan bagi pemikiran akal, seharusnya diambil pelajaran. Bila akal tak pernah diajak untuk bertafakur, maka akal sangat angkuh untuk merendahkan diri di dalam kekuasaan Allah!

Allah Yang Maha Kuasa telah menjelaskan di dalam al-Qur’an tentang orang-orang yang kurang akalnya dalam melihat kejadian yang sulit diterimanya! Allah SWT berfirman, “Orang-orang yang kurang akalnya di antara manusia akan berkata: "Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitulmakdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?" Katakanlah: "Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus” (al-Baqarah:142).

Ayat ini menunjuk kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani yang memandang aneh ketika nabi Muhammad saaw memerintahkan umat Islam berpindah arah (kiblat) dari Baitulmakdis ke Masjidilharam (Mekah)! Allah Azza wa Jalla sebagai Tuhan mereka diabaikan! Mereka tidak memperoleh petunjuk dari Allah menganggap Ibrahim a.s. adalah nabi orang-orang Yahudi. Padahal, al-Qur’an sudah sangat jelas menegaskan bahwa beliau adalah nabi Allah Yang Maha Pencipta. Bukan nabi umat Yahudi. Allah Azza wa Jalla berfirman, “ataukah kamu (hai orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakqub dan anak cucunya, adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani? Katakanlah: "Apakah kamu yang lebih mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang lebih dzalim daripada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya?" Dan Allah sekali-kali tiada lengah dari apa yang kamu kerjakan” (al-Baqarah:140).

Keangkuhan akal orang-orang Yahudi, juga Nasrani, sangat kuat. Mereka tidak beriman mengakui bahwa Ibrahim a.s. adalah datuknya nabi Islam, agama yang telah diridoi oleh Allah Azza wa Jalla. Allah SWT berkehendak menjadikan pelajaran kepada kaum beriman agar jangan memiliki akal cerdas tetapi melupakan Allah SWT sebagai Tuhan Yang Maha Pencipta!

Pemahaman akal tentang perkara goib hanya mampu dilakukan apabila telah beriman kepada Allah. Ini adalah syarat bagi mereka yang berkeinginan untuk memperoleh al-Hikmah (kebijaksanaan) dari Allah Yang Maha Mengetahui yang goib dan nyata!

Beriman kepada Allah SWT adalah mengakui keberadaan-Nya sebagai Tuhan Yang Maha Esa; tiada Tuhan kecuali Allah! Tauhid akan keberadaan Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa menggugurkan adanya Tuhan-Tuhan lain selain-Nya seperti diklaim oleh orang-orang kafir dan musyrik! Anda, sekali pun muslim, apabila menyekutukan Allah berarti menganggap Tuhan lebih dari satu! Padahal, Tuhan hanya ada satu, yaitu Allah SWT. Ketauhidan anda gugur sampai anda bertobat kepada Allah SWT.

Beriman kepada yang goib juga tidak berarti menyalahi ketauhidan akan keesaan Allah! Makhluk goib, jin dan malaikat, adalah ciptaan Allah! Banyak kaum muslim yang salah mengimani yang goib. Para jin dijadikan sebagai sekutu Allah! Naudzu billahi min dzalik! Mengimani yang goib adalah mengakui bahwa Allah sebagai Tuhan Yang Maha Goib menciptakan makhluk-makhluk selain manusia ada yang hidup di wilayah goib! Keberadaan mereka sulit dipandang dengan penglihatan (lahir)! Goib bukan berarti tak ada, tetapi tidak dapat dilihat secara kasat mata.

Di wilayah goib, keberadaannya terbagi ke dalam dua alam, yaitu goib yang masih berada di alam dunia (bangsa jin) dan yang berada di alam keabadian (arwah atau ruh-ruh, termasuk para malaikat)! Keberadaan mereka sangat berbeda.

Malaikat, dan para ruh yang berada di alam barzakh atau alam penantian sampai tibanya alam akhirat, keberadaan mereka sangat halus, lebih sulit dijangkau dengan pandangan mata (lahir) dibandingkan dengan makhluk halus (bangsa jin). Halus dan sangat halus, jelas berbeda. Dua keadaan yang sama-sama tidak dapat dilihat mata (lahir)! Anda akan bingung membedakan mana jin dan mana ruh!

Orang-orang bertakwa, dengan seizin Allah, dapat mengetahui mereka (jin dan ruh) melalui kebijaksanaan Allah Azza wa Jalla. Anda sangat sulit mengenal mereka bila tidak diberi al-Hikmah.

Pengetahuan goib yang dimiliki orang-orang bertakwa sebagai anugerah karunia dari Allah Azza wa Jalla. Keimanan mereka lah yang menjadikan Allah berkenan menganugerahkannya. Keimanan seseorang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya dari tingkat keyakinannya. Ada yang beriman tetapi masih ragu (iman standar), ada juga yang beriman tetapi sudah mulai yakin menerima kehadiran goib (sudah bertambah yakin) dan ada lagi yang beriman dengan keyakinan yang sangat kuat (sangat meyakini keberadaannya).

Anda akan semakin bertambah yakin apabila anda sudah merasakan hadirnya yang goib! Keyakinan anda terhadap makhluk goib karena keimanan anda tidak ada keraguan! Allah menambah keyakinan untuk lebih menyadarkan kepada anda agar diyakini bahwa yang goib itu benar-benar ada.


Mulia Karena Ketakwaannya

Sekiranya orang-orang beriman kepada Allah SWT sangat kuat keyakinannya sehingga tidak ada keraguan sedikit pun, lalu menunaikan seluruh ayat-ayat Allah, baik yang berisi perintah Allah SWT untuk dilaksanakan maupun larangan-Nya agar dihindari, maka dia berhak menjadi orang takwa. Dengan kata lain, seseorang disebut bertakwa apabila dia sudah tidak lagi ragu dalam dirinya sehingga menjalankan perintah Allah SWT dengan sepenuh hati dan meninggalkan larangan-Nya tanpa merasa kehilangan!

Takwa merupakan puncak tertinggi yang harus diraih orang-orang beriman! Anda muslim, tentu saja harus atau wajib menunaikan segala yang sudah ditetapkan (syari’ah), baik yang terdapat di dalam al-Qur’an maupun hadits rasul Allah saaw. Ketentuan-ketentuan yang sudah diajarkan nabi saaw wajib diikuti! Keimanan anda akan ditentukan dari keyakinan terhadap firman Allah maupun hadits nabi saaw. Sebagai muslim, anda wajib menunaikan rukun Islam dan menerima rukun iman dengan sepenuh hati!

Perintah dan larangan Allah Azza wa Jalla telah ditetapkan di dalam al-Qur’an dan hadits! Untuk melaksanakan perintah dan menjauhi larangan, Allah SWT menunjukki agar berlindung kepada-Nya. Allah SWT sebagai Tuhan Yang Maha Pencipta menegaskan demikian karena Dia Mengetahui bahwa untuk menunaikan perintah dan menghindari larangan membutuhkan perjuangan dari godaan setan laknatullah ‘alaih. Sebagai musuh yang nyata (‘aduwwum mubiin), iblis akan mengganggu manusia untuk tidak ta’at kepada Allah SWT!

Pola jebakan, godaan dan gangguan telah direncanakan oleh iblis secara halus sampai manusia tidak menyadari kalau dirinya dijebak, diganggu dan digoda. Permusuhan mereka terhadap anak cucu Adam a.s (umat manusia) telah tertulis di dalam al-Qur’an (lihat QS. 2:168; 2:208; 4:101; 6:142; 7:22; 12:5; 17:53; 36:60; 43:62).

Jalan menuju kepada-Nya dihalangi oleh mereka. Siapa pun akan menghadapi rintangan dalam beribadah kepada Allah! Mereka sangat membenci manusia yang ta’at dan patuh kepada Allah! Akan tetapi, Allah Yang Maha Bijaksana mengajari kaum beriman untuk memohon perlindungan kepada-Nya dari gangguan setan terkutuk!

Menuju ke hadirat-Nya bukanlah semudah yang dipikirkan! Akan tetapi, niat tulus dan tekad yang kuat dapat membantu pertolongan Allah turun. Selama perjalanan ditempuh sebagai seorang mu’min yang berkeyakinan akan kemahabesaran Allah SWT, kewaspadaan harus tetap dijaga! Bujuk rayu setan laknatullah ‘alaih pasti diluncurkan dengan tipu dayanya! Di sinilah banyak kaum mu’min jatuh! Allah Azza wa Jalla memberinya ujian, tetapi iblis beserta pasukannya menghalangi seorang salik (penempuh jalan) agar mengikuti jalannya (iblis laknatullah ‘alaih).

Dengan kekuatan Allah Azza wa Jalla, seorang salik harus menyandarkan perlindungan-Nya dari jeratan mereka. Allah SWT berfirman, “Dan jika syaitan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (Fushshilat:36).

Menjalankan syari’ah tidak dapat terabaikan sekiranya anda sudah beriman! Seluruh yang sudah menjadi ketentuan-Nya harus diikuti! Keterangan-keterangan yang diperoleh dari sabda nabi Muhammad saaw sebagai utusan-Nya adalah petunjuk yang wajib diikuti! Allah Azza wa Jalla menegaskan adanya perintah pelaksanaan dan larangan yang harus ditinggalkan, sementara rasul Allah baginda nabiuna Muhammad saaw menjelakan secara teknis pelaksanaan perintah dan larangan Allah yang harus dihindari!

Pelaksanaan syari’ah lebih menekankan pentingnya mengikuti apa yang telah dijelaskan oleh rasul Allah saaw. Berbagai mazhab memperoleh hadits yang tidak sama. Terjadinya perbedaan sesungguhnya merupakan rahmat Allah bagi orang-orang yang mau berpikir! Rahasia yang menyelimuti perbedaan bukan urusan manusia, melainkan menjadi kehendak-Nya. Manusia yang mengimani adanya perbedaan tentu saja tidak seharusnya untuk diperdebatkan, selain adanya sikap toleransi sebagai sama-sama beriman kepada Allah SWT.

Menyalahkan tidak dianjurkan dalam Islam, selain saling melengkapi satu sama lain dalam kasih sayang. Pada kenyataannya ada saja dari sekelompok mazhab pemikiran berusaha menyalahkan yang lain yang tidak satu pemahaman! Adalah pekerjaan iblis memecah belah kaum beriman yang tidak disadari oleh manusia. Kaum mu’min dijebak oleh iblis agar mengabaikan hakikat pelaksanaan syari’ah! Alih-alih ingin mendiskusikan, tetapi yang terjadi justru semakin memperburuk nilai-nilai silaturahmi. Umat Islam pecah, di satu sisi, sedangkan iblis menjadi senang, di sisi lain, karena telah menjebak kaum mu’min.

Perjalanan menuju takwa sungguh teramat berat sekiranya tidak didukung oleh pentingnya mendudukkan saling menghormati perbedaan pendapat atau pemikiran atas ayat-ayat Allah atau hadits nabiuna Muhammad saaw. Padahal, syari’ah berada pada tingkat yang paling mendasar sebelum beranjak pada pemahaman akan hakikatnya. Tidak patut orang beriman saling bermusuhan karena adanya perbedaan memilih, menafsirkan dan mengamalkan perintah kewajiban dan menjauhi larangan Allah!

Perbedaan pemikiran jangan menjegal adanya nilai-nilai kebenaran atas keutamaan ukhuwah islamiah. Perbedaan sangat niscaya terjadi, akan tetapi, nilai-nilai kebenaran berada di dalam kekuasaan Allah SWT sebagai pemiliknya! Bila masih berada di lingkungan tipu daya iblis, tentu saja, kaum beriman tidak pernah meningkat keimanannya selain hanya sebatas menyoal pelaksanaan syari’ah!

Penting untuk dipikirkan, bahwa peribadatan kepada Allah SWT harus berdampak positif kesudahannya. Inilah yang dimaksud dengan hakikat suatu peribadatan. Solat itu dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar! Maka, apabila seseorang solat, sesuai dengan keyakinan dari mazhab yang dirujuknya, tetapi dia mencaci maki (keji) dan memfitnah (mungkar) kepada saudara sesama muslim, solatnya belum mencapai hakikatnya! Hakikat itu adalah efek atas amal ibadah yang dilakukan seorang ‘abid, juga ‘alim.

Hakikat tidak hanya diperuntukkan bagi ahli ‘ibadah, juga ‘alim ‘ulama. Solat seseorang yang tidak menguasai hadits dan al-Qur’an dengan seseorang yang menguasainya, hakikatnya sama, yakni menjadi semakin bajik dalam perkataan dan perbuatannya (akhlaqul karimah).

Bila syari’ah dan hakikat sudah dijalankan, maka seorang mu’min sudah separuh perjalanan munuju kepada-Nya. Allah Azza wa Jalla akan memberinya anugerah karunia yang mengukuhkan keyakinannya sampai mendapati Dia Yang Maha Mulia berkenan menghampirinya! Proses menuju kepada-Nya sangat bergantung dari keistiqamahan mu’min dalam melaksanakan karunia yang telah dianugerahkannya.

Keyakinan akan adanya yang goib mulai terungkap. Jin pengganggu (pasukan iblis) berupaya mengajak untuk membelokkan ke jalan sesat. Jalan orang-orang yang telah Allah anugerahi kenikmatan dipalsukan. Dalam kondisi jiwa yang sudah bertambah keyakinan akan kemahabesaran Allah Azza wa Jalla, seorang salik dikibuli oleh mereka (iblis dan pasukannya). Hanya dengan bergantung dan menyandarkan kepada kekuasaan Allah, maka musuh-musuh Allah dapat dikalahkan.

Pertolongan Allah Azza wa Jalla akan diturunkan untuk memperkuat keyakinannya akan perjumpaan dengan Dia Yang Maha Bijaksana. Gairah semakin menguat untuk meneruskan perjalanan seolah sangat dekat puncak kebahagiaan jiwanya. Bimbingan dari pertolongan Allah selalu mengajak agar tetap istiqamah. Hatinya senantiasa memuji Allah! Dalam jiwa yang dipenuhi dengan dzikrullah, salik semakin meyakini bahwa Allah akan mencintainya!

Peribadatan dilakukan sesuai petunjuk dari pesan-pesan bimbingan yang diturunkan Allah ke dalam jiwanya. Seluruhnya, baik syari’ah maupun hakikatnya tidak terlepas dari petunjuk-Nya berupa al-Hikmah (kebijaksanaan yang diberikan oleh Allah Azza wa Jalla sesuai tingkat keyakinan kepada-Nya)!

Pada tahap ini, seorang salik sudah mencapai maqam disayangi oleh Allah! Subhanallah, sampai pada tingkat ini saja seorang penempuh jalan sangat damai dan tenang di hati! Seolah tidak ada beban apa pun yang andaikan dijual dengan gunung emas sekali pun akan sulit diperolehnya! Sayang-Nya menjadikan dia bertambah menguat akan diajak menuju ke hadirat-Nya. Anda akan sulit untuk memahami apa  yang dimaksud hadirat! Hadirat adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menujukkan akan keberadaan Allah Azza wa Jalla. Hanya saja, istilah keberadaan-Nya tidak dimaknai dalam pemahaman makhluk-Nya yang dibatasi oleh arah dan tempat. Sama sekali berbeda dengan keberadaan makhluk-Nya! Seorang salik yang sampai pada tingkat ini akan merasakan Hadir-Nya dalam jiwa!

Sesuai aqidah Islam, seorang mu’min mustahil menjangkau penglihatan ada-Nya dengan mata (lahir). Akan tetapi, bila telah mengenal diri dalam jiwa, seorang salik telah mengenal Tuhannya! Cahaya-Nya meliputi dirinya, dengan tiadanya kebingungan dalam memaknai apa yang dilihat dan didengar! Inilah tahap seorang salik telah mengenal Allah (ma’rifatillah) yang bersemayam di hati! Maknanya adalah Allah telah rido menjadikan dia sebagai hamba-Nya yang mulia!

Kapan pun Allah Azza wa Jalla akan membimbingnya! Si salik senantiasa berada bersama-Nya di dalam kekuasaan-Nya! Allah Azza wa Jalla rido mendudukan si salik menjadi mulia di sisi-Nya. “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (al-Hujurat:13).


Silakan dibaca Artikel Terkait di bawah ini

1 comment:

  1. SubhanAllah... sungguh karunia Allah tiada batas. Ya Allah, izinkan aku mendekat kepada-Mu. Tuntun aku agar tidak salah membaca petunjuk-Mu, jauhkan aku dari nafsu jahat n lindungi aku dari gangguan syetan terkutuk! Jadikan aku n kluargaku dlm golongan org2 yg pandai bersyukur n bertaqwa. Aku memohon ampun atas segala kelemahanku dlm menjalani ketentuan-Mu. Berikan hamba n keluarga rezeki yg Engkau karuniakan barokah di dalamnya. Tiada kemampuanku selain atas pertolongan dan perlindungan dari-Mu ya Allah... Kabulkanlah doa hamba ini ya Allah. Amin ya Robbal alamin.

    Eddy-Samarinda

    ReplyDelete

Artikel Populer 7 Hari Terakhir