11.5.11

Geliat Iman Kaum Muslim

Berbeda antara diam dengan geliat! Diam berarti tak adanya sikap, tutur kata dan perbuatan dalam diri seseorang. Sedangkan geliat adalah timbulnya keyakinan terhadap bukti-bukti adanya kekuasaan Allah atas berbagai kelebihan yang ‘dimiliki’ seseorang semakin menguat. Dengan kata lain, geliat merupakan ukuran yang dapat dipakai untuk melihat jumlah kesadaran manusia yang meyakini adanya kebenaran Allah atas makhluk ciptaan-Nya!

Maka, pelajaran yang dapat dipetik dari keadaan yang demikian di antaranya adalah dunia sudah mulai relatif berkurang untuk dicumbui, dininabobokan dan didambakan. Kaum muslim, khususnya mereka yang bergeliat, sudah merasa perlu untuk menatap masa yang akan datang! Telah tumbuh di kalangan mereka untuk berbenah diri dalam menghadapi apa yang akan dialaminya kelak di Hari Akhir. Sikap yang demikian sangat bagus! Bagaimanapun, keyakinan akan Hari Kemudian harus tertanam pada diri semua kaum muslim yang mengimani ayat-ayat Allah.

Kekuatan iman terletak pada tingkat keyakinan terhadap hal-hal yang bersifat abstrak (goib). Tidak akan bertambah keimanan seseorang apabila tiadanya keyakinan dalam jiwanya (dirinya atau ruhnya atau hatinya). Karena itu, geliat iman kaum muslim dapat juga dimaknai sebagai tumbuhnya keyakinan yang semakin menguat bahwa Hari Kebangkitan itu benar-benar pasti terjadi.

Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah Yang Maha Bijaksana, bahwa ternyata abad ini merupakan abad kebangkitan iman kaum muslim terhadap nilai-nilai kebenaran. Sekalipun tingkat keimanan itu relatif tidak sama antara satu orang dengan yang lainnya, paling tidak, kita dapat mengelompokkan sebagai terjadinya akumulasi keyakinan.

Allah Swt dalam hal ini sangat menghendaki adanya perubahan yang demikian mendasar dibandingkan dengan periode sebelumnya (era tahun 50-an sampai tahun 70-an). Kondisi saat itu relatif masih sepi dari perkembangan pemikiran intelektual muslim. Sumbangan pemikiran para ulama intelektual sungguh telah membangun fondasi yang sangat berharga bagi generasi selanjutnya (era tahun 90-an hingga sekarang). Islam telah dapat bersuara di tengah-tengah lahirnya peradaban umat manusia di seluruh dunia.

Kokohnya peradaban Islam telah membuka banyak mata orang-orang yang tidak suka terhadap kebangkitan Islam. Sekalipun begitu, tak perlu dipersoalkan sekiranya mereka tetap berada di dalam kemusykilan mereka sendiri. Mindset yang ada pada diri mereka, bahwa Islam adalah agama yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Naudzu billahi min dzalik!


Telah Datang Kebenaran

Rahasia di balik semua itu sesungguhnya adalah telah datang kebenaran di tengah-tengah orang-orang yang selalu meragukan akan ayat-ayat Allah. Pada benak kaum muslim, terutama yang sedang bergeliat rasa keberimanannya, terdapat gejolak jiwa yang dapat meruntuhkan ketidakmungkinan terjadinya tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang mau berpikir. Segala hal yang dipandang tidak sejalan dengan dunia realitas, maka cenderung tidak dapat diterima keberadaannya (secara logis)! Dengan demikian, datangnya kebenaran (Al-Haq) telah meruntuhkan ketidakpercayaan akan adanya sesuatu yang tidak dapat dijangkau oleh akal.

Allah Swt telah menegaskan kepada Rasul Saaw bahwa telah datang kebenaran, sebagaimana telah disampaikan kepada para nabi sebelum beliau, dan jangan meragukannya.

“Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu. Sesungguhnya telah datang kebenaran kepadamu dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu” (Q.S. Yunus : 94).

Bila masih ada keraguan di dalam jiwa, sesungguhnya karena dia (manusia) tidak menjadikan akalnya untuk tunduk kepada suara hatinya. Selama ini, tingkat keimanan seseorang lebih disandarkan kepada peran akal semata-mata tanpa melibatkan secara intens apa yang disuarakan di dalam hatinya! Lebih menerima pendapat akal ketimbang mengimani suara hatinya! Padahal keduanya adalah karunia Allah Yang Maha Pencipta yang diciptakan sejalan dengan apa yang dikehendaki-Nya! Sebab akal adalah satu karunia yang sulit dapat memahami berbagai peristiwa yang tidak dapat dijangkau kecuali sebatas dilihat oleh mata dan didengarkan oleh telinga.

Peran hati (ruh atau jiwa atau diri) memiliki pengaruh yang sangat kuat bagi setiap manusia dalam menghadapi ‘ketidakmengertian’ ketika hadir di balik realitas. Irasionalitas sesungguhnya bukan tidak mungkin berlangsung di wilayah rasionalitas, selain tiadanya kepekaan hati untuk meyakininya bahwa segala hal pasti dapat terjadi karena Ada-Nya Yang Maha Goib. Dia sesungguhnya sulit dijangkau oleh akal (rasional). Akal hanya mampu bertumpu kepada yang ril (tampak). Jika tak tampak, akal sangat sulit menerimanya, sekalipun terbukti keberadaan-Nya!

Keberadaan Allah memang sangat tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata (lahir) kecuali setelah mencapai tahap diperkenankan!

“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui” (Q.S. Al-An’am : 103).

Ayat ini telah menegaskan akan keberadaan Dia (Allah) yang mata (lahir) tak dapat mencapai-Nya, sementara Dia dapat melihat segala penglihatan (makhluk-Nya) tanpa sedikit pun tersembunyi dari penglihatan-Nya! Inilah Allah dalam kedudukan sebagai Dia Yang Maha Goib dalam penglihatan (mata) lahir!

Sedangkan Allah dalam kedudukan sebagai Tuhan Yang Maha Mulia dapat menunjukkan keberadaan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki! Yaitu kaum mukmin yang telah berada dalam puncak kerinduan kepada-Nya tanpa terselubung oleh keinginan palsu (nafsu)! Dia adalah Tuhan Yang Maha Suci, dan karena itu, mustahil hati yang masih ‘kotor’ dari keinginan nafsu (kesenangan diri) dapat mencapai penglihatan (Yang Hakiki).

“Katakanlah: "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa". Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya" (Q.S. Al-Kahfi : 110).

Karena itu, mustahil sekiranya belum dapat berbuat (beramal) soleh dan tidak syirik ketika beribadah kepada-Nya seorang manusia ‘mampu’ mencapai-Nya! Akan tetapi, ayat ini, sangat menghimbau kepada siapa saja kaum mukmin yang sangat (bukan sekedarnya) berharap (dengan sepenuh jiwa) berjumpa (dapat memandang wajah-Nya Yang Mulia), sungguh nyata Ada-Nya, bukan khayalan atau palsu (wujud-Nya)!

Beramal soleh dan tidak syirik kepada-Nya adalah ‘kunci pembuka’ ketidakmungkinan (musykil) seorang hamba dengan Mawla-nya dalam kekuasaan diri-Nya! Saya menyebut hal demikian dengan perumpamaan sebagai berikut:

“Kalau ada orang yang sangat merindu kepada seseorang yang dirindukannya dalam setiap kesempatan (sepanjang hayatnya), maka pasti kerinduannya itu sangat sungguh-sungguh, bukan sebatas merindu. Dalam setiap kesempatan, senantiasa dia (sang perindu) mengingat dia (yang dirindukannya) tanpa mengenal lelah, bahkan bertambah kerinduannya (dengan semangat jiwa kerinduan). Secara ketersengajaan apa yang menjadi kerinduannya itu adalah seseorang yang telah dia kenal dalam hidupnya. Bahwa dia adalah seorang yang sangat permisive atas siapa pun yang merindukan dirinya. Dengan kekuasaannya sebagai seorang pemimpin yang sangat bijaksana, dia adalah seorang pemimpin yang sangat berkasih sayang kepada bawahan (rakyat)-nya sendiri. ‘Dunia’-nya sebagaimana berada di dalam sebuah kerajaan! Maka, sang Raja yang sangat bijaksana dapat memahami akan kerinduan rakyatnya kepada dirinya! Sebagai Raja, dia tentu saja akan sangat menerima permohonan rakyatnya yang sangat berharap dengan penuh kerinduan dapat ‘dijamu’ secara langsung! Semua itu karena sang Raja telah mengundangnya yang telah ditetapkan di dalam Undang-Undang Kerajaan, dengan beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh rakyatnya sendiri!”

Bagaimanapun sangat lemahnya seorang hamba di dalam kemahabesaran-Nya, maka Dia (Allah) pasti akan menepati janji-Nya sekiranya ada seorang hamba yang tak pernah mengenal lelah berjuang (jihad) untuk mendapatkan kasih sayang-Nya dengan sungguh-sungguh sebagaimana yang diperintahkan dalam kitab-Nya! Allah Swt benar-benar adalah Dia Yang Mahaesa dalam kedudukan-Nya sebagai Tuhan Yang Maha Mulia lagi Maha Bijaksana.

Hilangnya keragu-raguan atas apa yang difirmankan oleh Allah di dalam kitab-Nya akan meningkatkan nilai keutamaan diri! Maka, bagi siapa pun yang senantiasa mengamalkan apa yang sudah dibaca dari ayat-ayat-Nya, pasti Dia akan mengeluarkan kebijaksanaan-Nya tanpa memandang status keduniawiannya; seorang kaya atau miskin, pandai otaknya atau biasa-biasa saja, berkedudukan atau tidak berkedudukan, berpendidikan tinggi atau rendah (sedang), pria maupun wanita dan sebagainya.

Dalam dunia tasawuf, seorang mukmin yang sangat mengharap perjumpaan dengan-Nya harus menempuh perjalanan ruhani di saat dirinya telah benar-benar bertobat! Tidak dapat diberikan karunia seseorang yang berkeinginan untuk menempuh perjalanan sebelum memulainya dengan permohonan pengampunan (tobat yang sebenar-benar bertobat; taubatan nasuha). Allah pasti menerima tobatnya, dan insya Allah, Dia Yang Maha Bijaksana akan mengajarkan serta menunjuki jalan-jalan-Nya.

“Allah hendak menerangkan (hukum syariat-Nya) kepadamu, dan menunjukimu kepada jalan-jalan orang yang sebelum kamu (para nabi dan salihin) dan (hendak) menerima tobatmu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (Q.S. An-Nisa : 26).

Itu adalah janji-Nya, dan tiada Allah berjanji selain pasti menepatinya. Maka, permulaan seorang yang sedang berkhidmat kepada-Nya membutuhkan pembimbingan dari seorang Mursyid yang sudah mencapai derajat yang disempurnakan (kamil mukamil). Melalui dia, seorang penempuh jalan (salik) akan memperoleh berbagai petunjuk untuk mengantarkan kepada tingkat (derajat) mengenal Tuhannya (ma’rifat)!

Begitulah pelajaran yang memiliki nilai-nilai keutamaan bagi seorang mukmin yang sangat berharap perjumpaan dengan Dia Yang Maha Mulia lagi Maha Bijaksana. Saya tidak akan membicarakan materi tasawuf pada tulisan ini, selain saya sudah menyiapkan naskah yang akan dibukukan dengan judul: “Saatnya Menuju Allah: Jadilah Manusia Sejati.” Dunia tasawuf memang masih sangat sedikit dicintai oleh kaum mukmin! Saya sendiri awalnya tak pernah mengenal dunia ini. Segala puji hanya milik Allah, saya mendapatinya dalam kerinduan hati untuk senantiasa memperoleh pertolongan-Nya dari waktu ke waktu. Sungguh Maha Besar Dia Yang Maha Berkuasa atas semua makhluk-Nya tanpa membedakan bagaimana keberadaan dirinya (insan) sepanjang kerinduan kepada-Nya terpatri di dalam jiwanya.

Menyibak Kerinduan Jiwa

Seolah tiada henti aku menyaksikan keindahan itu
Begitu indah dari keindahan itu sendiri
Duhai Sang Pujaan Hati,
betapa kerinduanku kepada-Mu sangat sulit untuk kumengerti
selain bahwa Engkau memang indah.

Jiwaku yang Engkau genggam,
hanya diam membisu,
mengerti tapi tak kumengerti
Betapa bodohnya diriku oh Tuhanku
Kalau saja Engkau perlihatkan wajah-Mu,
tentu saja diriku semakin bertambah rindu kepada-Mu

Itulah kedudukan-Mu,
dan beginilah keadaanku
Merindu tapi tak kumengerti
Kalau bukan karena Engkau Yang Maha Bijaksana,
bagaimana mungkin aku dapat merindu dan mengerti

Hanya karena diri-Mu,
aku dapat merindu dan
mengerti akan kemahabesaran diri-Mu
Kesejukan jiwa untuk merindu bukan karena diriku,
selain karena Engkau berkehendak atas diriku

Tiada kerinduan yang menyejukan bila bukan diri-Mu
menaburkan cahaya-Mu dalam jiwaku
Sangat mustahil terjadi sebagaiman adanya kerinduan,
selain Engkau tanamkan pada diriku caraku merindu kepada-Mu

Dunia yang aku hidup di dalamnya,
juga sangat merindu kepada-Mu
Seluruhnya tunduk dan patuh kepada keluasan ilmu-Mu
Maka bagaimana mungkin aku harus menghindar dari kerinduan kepada-Mu

Silakan dibaca Artikel Terkait di bawah ini

No comments:

Post a Comment

Artikel Populer 7 Hari Terakhir