1.8.12

Keutamaan Ramadhan

Allah telah menetapkan Al-Qur'an untuk diturunkan pada bulan Ramadhan. Mengapa dipilih Ramadhan? Al-Qur'an sendiri menerangkan bahwa Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya ada malam kemuliaan (Lailatul Qadar). Keutamaan inilah yang dijadikan untuk menurunkan Al-Qur'an. Lalu, mengapa ada malam kemuliaan?

Adalah Dia Yang Maha Mulia lagi Maha Bijaksana yang telah menghendaki hal demikian harus terjadi. Karena itu, kaum mukmin diperintahkan untuk mengisi malam-malam Ramadhan dengan berbagai kesibukan peribadatan kepada-Nya.

Kalaulah tidak ada malam kemuliaan, maka mustahil Ramadhan terpilih menjadi bulan yang diturunkan Al-Qur'an. Allah Yang Maha Berkuasa berketetapan agar pada malam itu setiap mukmin diberi kesempatan untuk mengedepankan kehendak Allah dari keinginan hawa nafsunya. Keutamaan mendahulukan kehendak Allah menghilangkan keangkuhan diri yang telah menyeret keimanan ke lembah kenistaan.

Al-Qadar ditetapkan menjadi malam penentu adanya keterangan akan kedudukan diri kaum mukmin di hadapan kemahabesaran Allah Swt. Malam penetapan derajat diri orang-orang yang telah beriman kepada Allah akan diperlihatkan oleh Allah kepada siapa yang Dia kehendaki.

Kedudukan seorang hamba di hadapan kemahabesaran Allah sudah seharusnya adalah merendahkan diri dengan rasa takut. Kelemahan umat Rasulullah Saaw tercipta apabila dirinya merasa “hebat” tanpa pertolongan Allah. Kesombongan diri di dalam kekuasaan Allah dapat menyebabkan dirinya sangat dibenci oleh Allah.

Oleh karena itu, malam Al-Qadar menjadi penentu kaum mukmin yang benar-benar menjalankan puasa di siang hari Ramadhan untuk meraih predikat takwa sekiranya dia mendapati malam kemuliaan tersebut. Bagaimanakah anda mengetahui adanya malam kemuliaan itu?

Itulah keutamaan Ramadhan. Dengan keutamaan itulah setiap diri diperintahkan agar benar-benar berpuasa dengan penuh keimanan dan keikhlasan menjalankannya hanya semata-mata karena Allah, bukan karena mengikutinya tapi tidak tahu mengapa harus berpuasa.

Berpuasa adalah suatu perjuangan untuk tidak berbuat mengikuti hawa nafsu ketika Allah memerintahkan agar jangan berbuat yang sudah biasa dilakukan, sekalipun kita mampu melakukannya. Jangan makan dan minum di siang hari, juga jangan melakukan hubungan suami istri pada waktu yang sama. Kemampuan untuk mengikuti perintah Allah yang dilandaskan pada kesadaran akan turunnya kemuliaan benar-benar terpatri di dalam jiwanya.

Kesadaran akan keimanan terhadap perintah dan larangan Allah lah yang menyebabkan malam kemuliaan itu akan diturunkan ke dalam hatinya. Konsekuensinya adalah dia (shoimin/shoimat) tidak mengumbar hawa nafsu di saat bulan Ramadhan itu tiba. Kebiasaan-kebiasaan buruk yang dilakukan pada bulan-bulan yang lain tidak lagi dilakukan pada bulan Ramadhan. Mampukah? Inilah ujian terberat bagi kaum mukmin yang berharap ketetapan Allah menurunkan kemuliaan pada dirinya.

Adakah malam itu akan segera menghampiri kaum mukmin yang mengikuti kehendak Allah? Sudah pasti. Kemuliaan adalah suatu derajat terpuji dan tertinggi bagi kaum mukmin yang telah berjuang (jihad) di saat telah mampu memenuhi kehendak Allah atas dirinya. Puasa, yang merupakan kesempatan terpilih bagi kaum mukmin, ditujukan agar kebiasaan-kebiasaan buruk terlepas dari dalam jiwanya.

Maka, kaum mukmin yang menjalankan shaum tak sepatutnya memperlakukan dirinya menjadi hina di hadapan Dia Yang Maha Mulia. Keterangan Al-Qur’an bahwa kaum mukmin yang berpuasa akan beroleh kemuliaan (derajat takwa) sesungguhnya merupakan implementasi kasih sayang Allah kepadanya. []

Silakan dibaca Artikel Terkait di bawah ini

No comments:

Post a Comment

Artikel Populer 7 Hari Terakhir