Rabu, 13 April 2011

Suara Hati (Jiwa atau Ruh atau Diri)

"Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai" (Al-A'raaf:205)

Anda dapat menyimak perintah Allah pada ayat di atas. Bagaimana menurut anda? Saya menangkapnya adalah ayat tersebut mengandung perintah Allah untuk menyeru asma-Nya di dalam hati dengan aturan:
1) Merendahkan diri;
2) Ada rasa takut saat menyeru asma-Nya;
3) Tidak mengeraskan suara.
Dilakukan pada waktu pagi dan petang. Ditambah, selain ketiga aturan tersebut, adalah tidak boleh lalai.

Adakah yang dapat memaknai apa maksud Allah dengan perintah tersebut? Dengan pertolongan Allah, saya insya Allah memaknainya sebagai berikut:

Perintah Allah adalah suatu kewajiban yang harus diamalkan oleh kaum mukmin atas firman-Nya! Jika, dari ayat tersebut, perintah Allah Swt berupa ajakan untuk menyeru asma-Nya (asmaul husna), maka kewajiban yang harus dipatuhi adalah melaksanakan seruan (dzikir) kepada-Nya tanpa membantah!

Kemudian, seruan tersebut seharusnya dilakukan di dalam hati, bukan di lisan (fisik). Dzikir ini disebut dzikir fi nafs atau dzikir khofi. Pertanyaannya adalah mengapa Allah menyuruh untuk dzikir di dalam hati? Saya, alhamdulillah, mengetahui bahwa hati itu sesungguhnya adalah diri (nafs) kita, bukan siapa-siapa! Karena itu, apabila Allah meminta diri (hati) kita untuk menyeru asma-Nya, maka yang diwajibkan itu bukan selain diri kita yang bersifat peralihan (sementara), yaitu jasad kita. Lho? Anda pasti masih bingung: mengapa jasad itu bersifat sementara (peralihan) dari diri kita yang sesungguhnya?

Anda sesungguhnya sudah memahami bahwa yang ada di dunia ini hanya bersifat sementara, yang sebenarnya (hakiki) adalah yang berada di alam keabadian. Allah telah menciptakan manusia berada di dua dunia, yaitu dunia yang tampak (fisik atau jasadi) dan dunia yang tidak tampak (ruhani atau hati). Dunia yang tampak berbentuk kasar (wadag), sementara dunia yang tak tampak berwujud sangat halus (sebenarnya ruh itu sangat halus, karena itu, berbeda dengan makhluk halus -- jin muslim dan jin kafir atau iblis laknatullah 'alaih).

Anda bukan tidak mengenal apa yang saya maksudkan tersebut. Jasad, termasuk di dalamnya adalah otak, berwujud ada secara lahir karena Allah Swt telah berketetapan menjadikan ruh sebagai Anda, yang nanti akan dimintai pertanggungjawaban atas seluruh amal jasad anda sewaktu hidup di dunia yang tampak. Untuk itu, jasad ketika ajal menjemput akan menjadi rusak dan tidak dialihkan ke alam keabdian. Ruhlah yang dipindahkan.

Sesudah Anda berada di alam barzakh (alam kubur), Allah Swt akan meminta malaikat-Nya yang ditugasi untuk menanyakan segala hal yang telah diperbuat (oleh jasad anda) sewaktu di dunia. Allah akan memberikan balasan sepadan dengan amal perbuatan (jasad anda)! Penting untuk dicatat, bahwa persoalan ruh itu urusan Allah, bukan urusan manusia! Bagaimana Anda di alam barzakh, semuanya sudah ada 'aturan mainnya' yang hanya Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana Yang Maha Mengurusnya!

Jadi, jasad itu bersifat sementara. Artinya, setelah habis jatah hidup di dunia, dia tak digunakan lagi! Maka, jasad sebetulnya hanyalah 'pengganti antar waktu', bukan sebagai yang sesungguhnya.

Allah mengajarkan agar menyeru asma-Nya di dalam hati (diri) agar Anda sudah terbiasa mengingat Allah apabila saat ajal tiba untuk menemui-Nya di hadirat-Nya. Anda akan sulit bila tidak terbiasa berdzikir di dalam hati! Bila anda asyik menyibukkan apa yang dilakukan oleh jasad, sedangkan hati anda lalaikan, maka jiwa (diri atau hati atau ruh) akan dikuasai oleh iblis dan pasukannya! Naudzu billahi min dzalik!

Allah sesungguhnya Maha Penyayang kepada kaum mukmin! Sebagai Tuhan Yang Maha Pencipta, maka Dia berkedudukan sebagai Penguasa Tunggal yang seluruh peraturan diberlakukan sebagaimana yang dikehendaki-Nya. Pernyataan atau firman-Nya untuk diketahui dan diamalkan. Bagi siapa pun yang beriman lagi menjalankan apa yang diperintahkan-Nya, Allah pasti memberi pahala yang sepadan, bahkan dilipatgandakan! Persoalan ganjaran untuk kebaikan, Allah dapat memberi lebih dari yang ditunaikan oleh orang-orang yang beriman, sementara balasan atas kejahatan, Allah membalasnya sepadan.

Peringatan Allah untuk berdzikir dengan asma-Nya agar diseru di dalam hati (ruh atau jiwa atau diri) dengan cara-cara yang sepatutnya dilakukan oleh seorang pedzikir, yaitu rendah di hadapan Allah dengan ada rasa takut sehingga patut bila berdzikir di dalam hati (ruh atau jiwa atau diri) dilakukan dengan penuh kelembutan (tidak keras).

Allah itu adalah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Besar, maka Dia adalah Tuhan Yang Perbuatan-Nya harus diikuti oleh seluruh makhluk-Nya. Maka, seorang hamba yang ta'at akan memperlakukan dirinya (hatinya atau ruhnya atau jiwanya) di hadapan Allah Yang Maha Bijaksana sepatutnya merendah. Artinya, seorang hamba tidak patut membanggakan dirinya (hatinya atau ruhnya atau jiwanya) di hadapan Allah Yang Maha Besar. Rendah bermakna kecil, tak memiliki kekuasaan, dan hanya dapat menggantungkan segala sesuatu kepada-Nya! Dengan cara seperti itu, yang patut dilakukan saat merendah di hadapan kemahabesaran-Nya pasti dapat merasakan takut! Takut tak berarti menyeramkan ketika berhadapan dengan-Nya, selain seorang hamba tak patut bila tidak menunjukkan kelemahan dirinya (hatinya atau ruhnya atau jiwanya), ketakkuasaan dirinya (hatinya atau ruhnya atau jiwanya) dan kehinaan dirinya (hatinya atau ruhnya atau jiwanya)! Dengan cara seperti itu pula, maka dia akan menyeru asma-Nya dengan sepenuh (jiwa atau hati, yang dia adalah ruh atau diri, yaitu aku yang lemah dan tak berdaya) melembutkan suaranya di dalam hati (diri atau jiwa atau ruh). Lembut artinya tiadanya kesulitan untuk memujinya dengan penuh kerinduan akan Dia Yang Maha Suci dalam kekuasaan-Nya!

Allah Swt mengajarkan agar terus (istiqamah) berdzikir kepada-Nya di dalam hati (ruh atau jiwa atau diri), di waktu senggang, apakah saat pagi, (siang), dan petang (dan malam) hari. Dengan cara seperti itu, maka Allah pun akan mengingatnya. Hati Anda pun tak lalai akan Dia Yang Maha Pencipta! Setan pasti takut, lari tunggang langgang dari diri (hati atau jiwa atau ruh) Anda. Tenteram, tenang, bahagia, senang, bersemangat hidup, senantiasa optimis, tidak lesu dan loyo, bersikap positif (tidak mudah putus asa), tidak congkak, tidak hasad, tidak 'ujub, tidak riya dan tawadhu.

Anda yang sesungguhnya (ruh atau jiwa atau diri atau hati) menjadi stabil (kuat) keimanannya. Anda (hati atau ruh atau diri atau jiwa) pun dapat bersuara dengan sangat jelas, memberitakan segala hal yang diperoleh dari Dia Yang Maha Luas Ilmu-Nya. Subhanallah wal hamdu lillah wa la ilaha illallah wallahu Akbar. Allah berkenan menjadikan hati (Anda) suci, bersih dari kekotoran (penyakit hati). Suara Hati (Anda) pun nyaring, berwibawa, berwawasan meluas, mendalam pembicaraannya (lisan dan tulisan), menggetarkan jiwa orang yang mendengarnya, berhati emas dan setia kepada Allah menjadi hamba-Nya sampai kapan pun di dunia dan di akhirat!

"Saya seolah telah berbicara dengan lisan (lahir) saya sendiri, tetapi ternyata aku (hatiku atau ruhku atau jiwaku atau diriku) yang sesungguhnya melisankan pesan-pesan ini. Tanganku (yang di wilayah lahir) sangat lincah memilih huruf-huruf di keyboard mendengarkan lisanku (yang tidak tampak itu) menyampaikan berita dari dalam hati atau ruh atau diri atau jiwa!" Inilah suara hatiku (ruhku atau jiwaku atau diriku yang adalah aku itu) yang kulahirkan di dalam dunia yang akal sulit menjangkaunya!

3 komentar:

  1. Assalamualaikum Pak Ahmad,

    Berkaitan dgn memahami ruh (diri sebenarnya) yg dirasakan di dalam jasad, bagaimana kita memaknai keadaan mimpi? Jasad (tubuh) dunia dalam keadaan istirahat, namun ada sesuatu "seperti" diri kita yg melakukan perjalanan dalam bentuk mimpi. Apakah "kehidupan" di alam mimpi itu adalah aktualisasi hidupnya ruh yg melepaskan diri dari jasad (namun memiliki kisah yg terputus-putus). Sedangkan jasad (tubuh) adalah aktualisasi hidup di alam dunia yg menjalani kisah yg berkelanjutan mulai di dalam rahim hingga wafat (karena kehidupan dunia sebenarnya juga seperti mimpi yg panjang n berkelanjutan).

    Di alam mimpi, kita bisa bertemu dgn banyak orang atau makhluk lainnya, baik yg dikenal maupun tak dikenal atau yg tak dipahami bentuknya.. Apakah itu juga merupakan kekuasaan penciptaan Allah (mimpinya itu sendiri atau fisik org/makhluk yg ditemukan dlm mimpi)?

    Kemudian mimpi juga bisa diartikan menjadi banyak hal: petunjuk Allah, gangguan syetan atau hanya sebuah "bunga" tidur saja yg tiada arti. Terkadang mimpi juga berkaitan dgn apa yg sdg dialami dalam kehidupan dunia saat itu.

    Nabi Yusuf as diberi karunia oleh Allah dgn mampu menerjemahkan arti mimpi seseorang, yg akan dialaminya sendiri atau suatu kaum di kehidupannya di masa mendatang.

    Terima kasih.

    Wassalam.

    BalasHapus
  2. Wa 'alaikum salam wa rohmah,

    "Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir" (Q.S. Az-Zumar : 42)

    Ayat ini menjelaskan tentang kedudukan seorang manusia dalam keadaan tidur: pertama, ada orang yang ditetapkan kematiannya saat sedang tidur, dan kedua, berkaitan dengan belum tiba saatnya ajal menjemput, maka Allah melepaskan kembali (ruhnya).

    Dengan menyandarkan kepada ayat ini, maka mimpi ketika sedang tidur, yang mengalami 'kehidupan' di wilayah tak dapat dijangkau oleh akal, adalah ruh (diri, jiwa, hati) kita, bukan jasad kita.

    Jadi, memang benar bahwa mimpi merupakan penggambaran sebuah kehidupan ruh di wilayah goib. Betapa pun hanya sekilas yang terjadi di dalam mimpi, Anda (ruh anda) betul-betul sedang mengalaminya langsung di wilayah tersebut. Ketika kita menyaksikan adanya sesuatu peristiwa atau seseorang yang dikenal ataupun tidak dikenal, sesungguhnya ruh anda menyaksikannya dengan sebenarnya.

    Peristiwa mimpi sebetulnya menjelaskan kepada seluruh umat manusia, bahwa ada peristiwa goib yang dialami langsung oleh kita. Dan, dengan begitu, diharapkan manusia akan menyadari bahwa selain ada kehidupan di alam dunia, juga ada kehidupan di alam goib. Ini adalah peringatan akan adanya tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang mau berpikir.

    Tentang kehidupan ruh (diri) kita yang sesungguhnya selain dalam mimpi, sebenarnya juga dapat dirasakan keberadaannya. Akan tetapi, kebanyakan manusia mengabaikannya. Allah Swt menciptakan ruh, selain otak, untuk dikenali oleh manusia itu sendiri. Sekiranya banyak manusia menyadari, ruh itu adalah Anda yang sesungguhnya.

    Dengan diberikannya sebuah impian, Allah Swt sesungguhnya Maha Bijaksana agar manusia mau belajar mengenal dirinya sendiri. Maka, mimpi terkadang menjadi petunjuk yang sesungguhnya bagi manusia agar dapat mengambil pelajaran. Artinya, mimpi itu benar-benar menjadi kenyataan di dalam kehidupan.

    Akan tetapi, kebanyakan mimpi itu lebih merupakan peristiwa yang dialami oleh ruh (diri) kita pada saat di wilayah goib. Dalam kondisi seperti itu, kebanyakan manusia tidak dapat menakwilkan mimpinya, kecuali yang telah diberi petunjuk oleh Allah Swt!

    Hanya dengan ilmu-Nya sajalah kita dapat memaknai sebuah mimpi, maka jika tidak mengetahuinya, sesungguhnya mimpi itu hanya menjadi ujian bagi manusia: Adakah manusia meyakini akan adanya peristiwa goib? Itulah yang dapat kita ambil hikmah dari sebuah mimpi. Untuk itu, Allah Swt telah berfirman:
    "Dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu: "Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia". Dan Kami tidak menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia dan (begitu pula) pohon kayu yang terkutuk dalam Al Qur'an. Dan Kami menakut-nakuti mereka, tetapi yang demikian itu hanyalah menambah besar kedurhakaan mereka" (Q.S. AlIsraa : 60).

    BalasHapus
  3. Terima kasih Pak Ahmad atas penjelasannya.. ternyata firman Allah bisa sangat mudah dipahami, hanya bagi orang2 yg dikaruniai al-Hikmah.. subhanallah.. seperti berkomunikasi lsg dgn Allah.

    Saat bermimpi, kita mengenali diri kita seperti wujud jasad kita di dunia. Begitu juga dgn org yg kita temui/kenali di alam mimpi, mungkin dgn org yg masih hidup maupun yg sudah meninggal.

    Bila org yg ditemui dlm mimpi tsb masih hidup, apakah sebenarnya itu ruh org dimaksud? Pada faktanya, walau bertemu dlm mimpi kita, org tsb tidak merasakan hal yg sama... jadi hal ghaib apakah yg menyebabkan terjadi seperti itu?

    Kemudian sering diceritakan, org yg telah meninggal bisa mengunjungi kita dalam mimpi bahkan ada yg memberi pesan sesuatu yg mungkin nyata akan terjadi ataupun sesuatu hal yg harus dilakukan. Apakah itu benar ruh org tsb atau godaan syetan, atau hanya fatamorgana?

    Bagaimana dgn pandangan yg dialami seseorang saat berada di sakaratul maut..? Banyak diceritakan org2 yg amalannya baik, jasadnya tersenyum seperti melihat hal yg membahagiakan, sdgkan yg beramal buruk byk diceritakan menunjukkan roman wajah yg buruk atau ketakutan seperti melihat sesuatu yg mengerikan. Berarti apa yg dialami ruh akan diwujudkan ke jasad yg ditempati... begitulah apa yg dirasakan di hati akan terlihat di wajah seseorang.

    Maka benar juga Allah yg mengatakan bahwa semua manusia adalah bersaudara, karena yg dilihat bukanlah keturunan dari jasad-nya sbg saudara dari satu darah, namun dilihat dari penciptaan ruh-nya yg sama bersumber dari-Nya shg adalah salah org yg menilai sesuatu dari fisiknya, keturunan maupun kedudukannya. Sungguh bijaksana Allah yg menilai dari sisi ketaqwaan-Nya.. karena fisik hanyalah semata bentuk penciptaan jasad yg materinya sama, namun berbeda bentuk. Wallahu a'lam.

    Maha benar Allah dgn segala firman-Nya.

    BalasHapus

Artikel Populer 7 Hari Terakhir