22.12.10

Al-Qur'an Al-Karim Penuh Al-Hikmah

https://agamahatidanilahi.blogspot.co.id/
“Dan sesungguhnya al-Qur'an itu dalam induk al-Kitab (Lohmahfuz) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah” (QS. Az-Zukhruf: 4).
Sirah atau sejarah Al-Qur’an dalam berbagai buku telah dijelaskan. Sebagai mukjizat Rasul Allah Muhammad saw., kandungan Al-Qur’an penuh dengan hikmah. Al-Qur’an diturunkan untuk menjadi pedoman bagi orang-orang yang beriman. Bahkan, Al-Qur’an diturunkan oleh Allah sebagai penawar (obat) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Allah azza wa jalla menjadikan Al-Qur’an untuk menunjuki manusia mengetahui berbagai persoalan hidup di dunia maupun di akhirat.

Anda sesungguhnya tidak seharusnya bingung ketika menghadapi banyak masalah di dalam kehidupan. Maka, sekiranya anda menjadikan Al-Qur’an sebagai pegangan hidup, tentu saja anda akan mendapati Al-Hikmah di dalamnya. Akan tetapi, anehnya, banyak muslim yang mengaku beriman kepada al-Qur’an tidak melandaskan apa pun persoalan dengan merujuk kepadanya.

Allah azza wa jalla membumikan Al-Qur’an untuk dipedomani oleh umat manusia. Bekerja, misalnya, dapat membantu bagi kelangsungan hidup manusia. Anda akan menemukan persoalan bila tidak bekerja. Bekerja adalah kewajiban umat manusia agar tidak kehilangan peluang untuk tetap hidup di dunia. Allah azza wa jalla mengupas masalah pekerjaan di dalam Al-Qur’an. Anda juga dapat menemukan bagaimana mengatur persoalan keluarga di dalam Al-Qur’an. Berbagai persoalan hidup telah ditulis di dalam Al-Qur’an,

Allah azza wa jalla memberi kemudahan bagi manusia dalam menjalani kehidupan di dunia, juga di akhirat! Sudah sangat jelas ditunjukkan oleh Al-Qur’an bagaimana anda dapat hidup bahagia di dunia dan di akhirat! Manusia, sebagai ciptaan-Nya, mustahil dibiarkan oleh Allah Yang Maha Pencipta begitu saja. Adanya kenyataan demikian, nyatanya masih banyak yang belum menyadarinya. Al-Qur’an dibaca (dieja) tetapi tidak dikaji isi yang dikandung di dalamnya.

Allah mengajarkan kepada manusia melalui Al-Qur’an yang disampaikan oleh rasul Allah saaw dengan perantaraan malaikat Jibril a.s. Allah Azza wa Jalla mengajari beliau untuk pertama kalinya dengan 5 ayat pertama Surat Al-'Alaq.

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,” “Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.” “Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,” “Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam.” ” Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya” (QS. Al-'Alaq: 1-5).

Ayat-ayat Allah ini sungguh sangat penuh dengan Al-Hikmah. Bacalah! Allah memerintah akan pentingnya membaca. Perintah membaca merupakan salah satu bentuk peribadatan yang memiliki nilai yang sangat tinggi. Allah swt menciptakan manusia untuk beribadah kepada-Nya. Salah satu bentuk ibadah itu adalah membaca sebagai awal adanya pelaksanaan perintah. Dengan demikian, membaca merupakan ajakan yang wajib dipatuhi. Insya Allah, siapa pun akan mengetahui ada-Nya pengetahuan yang sangat bermanfaat bagi dirinya.

Allah azza wa jalla memberi anda pengetahuan karena mau membaca. Anda memperoleh al-hikmah karena membaca. Al-Hikmah adalah kebijaksanaan yang dimiliki Allah untuk setiap yang mau membaca ayat-ayat-Nya. Ayat berarti tanda-tanda kebesaran Allah. Semua ciptaan Allah yang berada di alam dunia juga adalah ayat. Allah azza wa jalla menerangkan kebenaran ayat-ayat-Nya dengan mengutus seorang rasul untuk membacakannya, Allah azza wa jalla berfirman:

“Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan menyucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui” (QS. Al-Baqarah: 151).
Al-Qur’an mulia merupakan kitab bacaan umat manusia yang seharusnya dipedomani dengan penuh keimanan. Jangankan kaum muslim, mereka yang bukan dari agama Islam pun sangat boleh untuk mempelajarinya. Sesungguhnya Al-Qur’an diturunkan bagi semua makhluk-Nya, manusia maupun jin. Allah sebagai Tuhan Yang Maha Pencipta memberlakukan Al-Qur’an untuk semua yang membutuhkan sandaran kebenaran akan kebesaran Allah. Jadi, bagi kaum muslim, Al-Qur’an bukanlah suatu bacaan yang dapat dihindari! Allah sangat mewajibkan kaum muslim untuk mengimaninya.

Al-Hikmah

Allah Maha Pemurah! Keimanan akan apa yang difirmankan-Nya sangat mengikat bagi kaum beriman. Orang-orang beriman seharusnya memahami apa yang dikandung di dalam Al-Qur’an. Mustahil, seseorang dapat memahaminya bila tidak mempelajarinya. Membaca mencakup keduanya. Bahkan lebih dari itu, juga harus mengkajinya dengan penuh kehati-hatian! Tidak semua orang yang mempelajari secara otomatis dapat memahaminya. Al-Qur’an hanya dapat dipahami bila diyakini akan kebenarannya. Ada banyak ayat yang belum dapat dipahami apa yang dimaksud di dalamnya. Allah mengajarkan kepada orang-orang yang meyakini dengan sepenuh hati. Pengajaran Allah kepada orang-orang beriman adalah dengan Al-Hikmah.

Anda pasti sulit untuk memahami apa itu Al-Hikmah bila belum diberi petunjuk oleh Allah. Anda boleh jadi pernah mengetahui istilah ini, Akan tetapi, pengetahuan itu belum mencukupi apabila tidak diberi petunjuk, Petunjuk Allah azza wa jalla sangat dibutuhkan agar dapat memahami isi kandungan Al-Qur’an, Mengapa demikian rumit sepertinya untuk menangkap isi yang ada di dalamnya? Al-Qur’an bukanlah bacaan biasa seperti koran. Al-Qur’an berisi penuh dengan Al-Hikmah. Kebijaksanaan-kebijaksanaan Allah dikandung di dalamnya.

Oleh karena itu, Al-Qur’an akan mudah dipahami bila diajarkan oleh orang-orang yang sudah mendapat Al-Hikmah. Allah azza wa jalla berfirman:

“Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur'an) dan Al-Hikmah serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. Al-Baqarah: 129).
Allah azza wa jalla menjelaskan Al-Hikmah dalam Al-Qur’an sebagai pengetahuan yang mendalam. Rasul Allah yang mulia saaw adalah utusan Allah yang sudah diberi pengetahuan tentang ayat-ayat Allah. Dengan pengetahuan Allah itulah beliau dijadikan sandaran bagi kaum beriman untuk bertanya kepadanya. Perhatikan firman Allah berikut:

“Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui” (QS. An-Nahl: 43).
Firman Allah di atas mewahyukan kepada Rasul-Nya yang mulia saw bahwa Allah menurunkan para rasul-Nya (sebelum Nabi Muhammad saw) untuk menjelaskan ayat-ayat Allah. Allah azza wa jalla menjadikan rasul-Nya sebagai orang yang patut dijadikan sandaran untuk bertanya tentang berbagai hal yang belum diketahui oleh umatnya. Rasul Allah saw diperintahkan agar menyampaikan berita dari Allah azza wa jalla bahwasannya apabila ada di antara umatnya yang masih belum paham tentang Al-Quran, dia dapat bertanya kepada orang-orang di antara umatnya yang telah diberi petunjuk yang menjadikan dia mengetahui isi kandungan Al-Qur’an.

Siapakah di antara mereka yang telah diberi petunjuk? Inilah yang saya maksud mereka yang memperoleh Al-Hikmah. Pada setiap umat pasti ada seorang rasul yang mengajak untuk menyembah hanya kepada Allah, Adakah di antara mereka (umatnya) mengikuti ajakannya? Allah azza wa jalla memberi petunjuk kepada orang-orang yang meyakininya. Allah swt berfirman:

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)” (QS. an-Nahl:36).
Itulah Al-Qur’an yang suci telah menjelaskan kebenaran bagi kaum yang beriman. Allah Azza wa Jalla sangat menghendaki agar manusia beriman hanya kepada-Nya, Singkirkan syirik dari dalam diri setiap manusia. Maka, apabila tidak mengindahkan-Nya berlakulah ketetapan-Nya: Allah swt akan memberi petujuk bagi orang-orang yang meyakini kebenaran ayat-ayat-Nya dan menyesatkan siapa saja yang bersekutu dengan para Thaghut (setan).

Maka, Allah azza wa jalla hanya memberi petunjuk kepada yang benar-benar beriman kepada-Nya. Petunjuk Allah akan diturunkan oleh Allah kepada seseorang yang memperoleh Al-Hikmah. Allah  Maha Mengetahui atas segala sesuatu. Dengan cahaya-Nya, orang yang menerima Al-Hikmah dapat mengetahui sesuatu yang belum pernah dia ketahui sebelumnya. Anda akan memahami isi yang dikandung Al-Qur’an sekiranya Allah memberi anda Al-Hikmah! Artinya adalah apabila sampai pada saatnya anda diberi karunia oleh Allah Yang Maha Bijaksana, maka Dia menurunkan cahaya-Nya ke dalam lubuk hati. Cahaya Allah akan mengantarkan seseorang kepada suatu petunjuk yang benar. Allah azza wa jalla memberi petunjuk dengan kebijaksanaan-Nya! Anda memperoleh petunjuk disebabkan karena Dia telah rida kepada Anda sebagai hamba-Nya.

Al-Qur’an sebagai pedoman bagi kaum beriman sangat mulia disebabkan dia adalah bacaan yang memuat perkataan-perkataan Allah Yang Maha Mulia! Untuk itu, sekiranya anda tidak bersikap sopan ketika belajar mengeja Al-Qur’an, maka anda tidak mengerti etika kesopansantunan! Mengeja bacaan Al-Qur’an tidak sama dengan membaca Al-Qur’an. Mengeja adalah mengenal huruf-huruf arab yang digunakan dalam Al-Qur’an. Allah menurunkan Al-Qur’an dalam bahasa Arab. Mengenal huruf-huruf Acaan Al-Qur’an. Pelajaran ini termasuk qiroah (pelajaran baca Al-Qur’an). Anda akan diberi pahala oleh Allah bila mengeja Al-Qur’an.

Silakan baca: Pengajaran Al-Hikmah

Allah Mengajari Anda

Allah azza wa jalla mengajari kepada siapa yang Dia kehendaki. Jika anda terpilih, maka Anda juga akan diajari langsung oleh Allah. Bila saya mengatakan langsung, Anda selalu saja apriori bahwa itu tak mungkin. Allah azza wa jalla bukan Tuhan tempo doeloe, saat ini, mendatang atau kapan pun. Allah dalam waktu kapan pun adalah Dia Yang Maha Kuasa. Allah tidak dapat didudukkan dalam suatu zaman.

Anda selalu menyandarkan bahwa Allah seakan tidak lagi berkata-kata. Allah telah berkata-kata di dalam Al-Qur’an. Anda apriori mustahil Allah akan berkata-kata lagi selain di dalam Al-Qur’an. Ketika ada suatu pendapat demikian, menurut saya berarti Allah diperuntukkan hanya untuk masa lalu. Allah tidak diperuntukkan bagi waktu yang tertentu atau manusia tertentu. Adakah yang berpendapat bahwa Al-Qur’an itu tidak berlaku untuk saat ini dan yang akan datang? Al-Qur’an diturunkan saat Nabi Muhammad saw masih hidup.

Akan tetapi, Al-Qur’an juga turun setiap malam Al-Qadar di bulan Ramadhan. Apa maksudnya? Allah Azza wa Jalla mengajari manusia tahap demi tahap agar mudah dipahami. Allah azza wa jalla sama sekali bukan tidak membimbing Anda, selain Anda sendiri yang tidak meyakininya. Kalau saja Anda memiliki keyakinan yang kuat, maka Allah pasti memberi Anda petunjuk. Allah Azza wa Jalla akan memilih siapa yang dikehendaki sejalan dengan tingkat keyakinan dan harapannya. Allah Azza wa Jalla berfirman: 

Dan demikianlah Kami telah menurunkan Al Qur'an yang merupakan ayat-ayat yang nyata; dan bahwasanya Allah memberikan petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki” (QS. Al-Hajj: 16).
Allah Azza wa Jalla memberi karunia yang banyak kepada yang mengimani Al-Qur’an untuk dijadikan sandaran dalam banyak hal. Anda tidak akan gelisah, misalnya, bila menghadapi persoalan sekiranya Anda senantiasa berzikir kepada Allah. Allah berfirman:

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram” (QS. Ar-Ra’d: 28).

Jika Anda seorang mukmin, tentu saja, sudah seharusnya berzikir. Apa pun persoalan yang Anda hadapi, bila hati Anda tenang karena berzikir, maka Anda tidak akan gelisah. Ayat Allah ini harus diyakini kebenarannya. Jangan ada keraguan. Anda seakan sulit membayangkan apa hubungan zikir dengan hutang?

Allah azza wa jalla apabila berjanji pasti ditepati. Anda hutang tetapi Anda menjauh dari mengingat Allah, maka pasti Anda gelisah. Mengapa? Anda takut ditagih. Padahal, ketika Anda hutang, Anda sudah memperhitungkan bagaimana Anda dapat melunasinya. Jika Anda memiliki jaminan untuk dibayarkan, tentu saja Anda sesungguhnya mengetahui apa yang seharusnya Anda persiapkan bila saatnya Anda sulit melunasi.

Jaminan merupakan bagian yang harus Anda sandarkan untuk melunasi hutang-hutang tersebut. Dengan mengingat Allah, Anda menyandarkan seluruh hutang itu kepada kekayaan Allah. Anda lupa bahwa jaminan itu adalah sebuah kekuatan yang dipertaruhkan. Mengapa Anda lupa? Allah melupakan Anda dari transaksi yang sudah Anda lakukan ketika bermu’amalah.

Allah azza wa jalla akan membantu Anda, dan pasti Dia akan menolong Anda, apabila Anda menyandarkan kepada-Nya. Allah mengatur bagaimana cara anda bermu’amalah sesuai tuntunan Islam. Allah berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu`amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berutang itu mengimlakan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikit pun daripada utangnya. Jika yang berutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakan, maka hendaklah walinya mengimlakan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki di antaramu). Jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridai, supaya jika seorang lupa maka seorang lagi mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis utang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih dapat menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu, (Tulislah muamalahmu itu), kecuali jika muamalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit-menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS. Al-Baqarah: 282).
Allah azza wa jalla mengajari kepada Anda bagaimana cara bermu’amalah. Apabila firman Allah ini diikuti sebagai pedoman Anda dalam bermu’amalah, maka Anda akan selamat. Firman Allah adalah petunjuk yang akan menyelamatkan Anda dari jalan yang sesat,

Jadi, ada hubungan antara Anda berzikir dengan Anda bermu’amalah. Hubungannya adalah Anda mengingat Allah atas firman-Nya yang mengatur cara-cara bermua’amalah tidak secara tunai (hutang), maka apabila diikuti dengan benar, pasti Dia akan menenangkan hati Anda. Siapakah yang dapat memberi ketenangan hati? Hanya Allah!

Pikiran Anda tidak akan menjadi jumud memikirkan hutang apabila Anda berzikir kepada Allah. Hutang tetap hutang yang harus dibayar. Akan tetapi, Allah membolehkan Anda hutang apabila dilakukan dengan benar sebagaimana ditunjukkan di dalam Al-Qur’an. Lain halnya bila hutang Anda itu untuk tujuan kejahatan.

Anda sesungguhnya mengetahui ayat-ayat Allah itu pasti benar. Akan tetapi, kebanyakan manusia tidak mau meyakininya dengan sangat. Anda percaya tapi anda ragu. Ini bukan sebuah keyakinan. Allah azza wa jalla hanya menunjuki kepada yang meyakini kebenaran firman-Nya. Firman Allah berlaku sepanjang zaman, bukan hanya untuk zaman Rasulullah saw. saja. Allah secara langsung dengan Al-Qur’an mengajari Anda. Akan tetapi, Anda tidak meyakini-Nya dengan sangat. Anda lebih mengandalkan cara Anda sendiri. Padahal, tidak ada jaminan akan keselamatan bila Anda berlepas dari pertolongan Allah.

Anda akan diantarkan menuju kepada cahaya Allah bila Anda meyakini kebenaran Al-Qur’an. Anda membacanya kemudian Anda meyakininya dengan sepenuh hati, maka Anda akan mendapati cahaya Allah azza wa jalla menyinari hati anda yang berzikir kepada-Nya. Inilah hati yang memperoleh ketentraman (mutmainnah).

Allah azza wa jalla bersemayam di hati Anda yang meyakini ayat-ayat Allah. Ayat-ayat Allah merupakan tanda-tanda kebesaran-Nya. Anda masih bingung ayat Al-Qur’an dengan ayat (tanda kebesaran Allah), apa perbedaannya? Ayat sesungguhnya merupakan bukti kebenaran Allah bahwa Allah itu Maha Besar. Semua yang difirmankan oleh Allah itu benar ada-Nya.

Jika dikatakan di dalam Al-Qur’an bahwa langit dan bumi itu milik Allah, maka benar ada-Nya. Al-Qur’an menjelaskan, kenyataan membuktikan akan kebenaran perkataan-Nya. Jadi, tidak ada pertentangan antara yang difirmankan dengan bukti nyata di dunia maupun di akhirat kelak.

Anda saat ini masih berada di alam dunia/ Anda sesungguhnya mengimani bahwa semua yang tampak dalam pandangan mata lahir benar-benar terbukti ada-Nya!.Mustahil, langit dan bumi tercipta dengan sendirinya! Allah Azza wa Jalla menjelaskannya di dalam Al-Qur’an bahwa langit dan bumi diciptakan oleh Allah!

Baca: Pengajaran Apa yang Belum Kamu Ketahui

Wali Allah adalah Ayatullah

Pada setiap masa, Allah menurunkan seorang yang akan dijadikan sebagai wali-Nya sesudah Rasululllah saaw wafat. Wali-wali Allah itu adalah orang-orang yang telah diberi pengetahuan oleh Allah karena ketakwaannya, Allah azza wa jalla telah memberinya pemahaman yang mendalam tentang isi yang dikandung di dalam Al-Qur’an. Wali Allah adalah tanda-tanda kebesaran Allah (Ayatullah) bagi orang-orang yang mau berpikir. Anda boleh jadi meragukan hadirnya seorang wali di abad modern. Akan tetapi, bila anda diberi Al-Hikmah, maka Anda akan diberi petunjuk oleh Allah akan kebenaran ayat-ayat-Nya.

Apabila Anda termasuk yang meyakini ayat 36 surat An-Nahl di atas, maka Anda tidak mempertanyakan apakah benar ada wali Allah di era informasi sekarang ini. Allah Maha Berkehendak. Apa pun yang dikehendaki-Nya pasti terjadi. Bila Allah berfirman bahwa Allah menunjuki siapa yang Dia kehendaki, maka bagi-Nya sangat mudah. Keragu-raguan Anda disebabkan Anda tidak memperoleh Al-Hikmah.

Mengapa Anda tidak memperoleh Al-Hikmah? Sekalipun Anda tidak ragu, tetapi Anda belum yakin akan firman Allah, maka Anda sulit untuk memperolehnya. Anda harus yakin akan kebenaran firman Allah. Anda tidak perlu mendahulukan akal Anda sebelum akal Anda diberi petunjuk oleh Allah. Maksudnya?

Sekiranya Anda belajar membaca Al-Qur’an, belajarlah kepada orang yang memperoleh Al-Hikmah. Petunjuk Allah akan dicurahkan kepada dia. Anda dengan demikian juga akan memperoleh pengetahuan yang sulit dipahami oleh otak Anda. Otak Anda belum memperoleh pemahaman yang mendalam sehingga tidak mengerti di luar kemampuan otak Anda. Dengan otak Anda, Anda berakal, tetapi di dalam otak Anda tidak ada pengetahuan yang mendalam dari cahaya Allah. Otak Anda sementara ini hanya berisi informasi dari wilayah lahir semata, belum ada pesan-pesan petunjuk dari dalam hati.

Kecerdasan otak Anda adalah suatu karunia dari Allah. Akan tetapi, sekiranya anda melupakan Dia Yang Maha Pencipta, maka kecerdasan anda tidak berkah! Anda cerdas tetapi tidak mendapati keberkahan bagi diri anda sendiri! Anda berpengetahuan sebatas dari apa yang anda lihat (baca) dan dengar saja! Allah Azza wa Jalla memiliki pengetahuan yang dapat membimbing anda memperoleh pemahaman yang mendalam! Mustahil anda akan mendapatinya bila anda masih terselip keraguan di dalam hati!

Sebelum dilanjutkan, coba baca dahulu: Wali Allah

Al-Qur’an dan Al-Hikmah

Allah azza wa jalla mengajarkan kepada orang-orang yang beriman akan kebenaran Allah dengan Al-Qur’an dan Al-Hikmah (lihat Surat Al-Baqarah: 129 di atas). Pengajaran Allah azza wa jalla dilakukan dengan perantaraan keduanya, Anda boleh jadi bertanya, katanya Allah itu langsung mengajari Anda? Mengapa sekarang disebutkan bahwa Allah mengajarinya melalui Al-Qur’an dan Al-Hikmah?

Allah adalah Tuhan Yang Maha Goib. Anda adalah makhluk Allah yang sangat kasar (wadag). Dia Maha Halus, sementara Anda tidak. Anda bukan makhluk halus. Kemahahalusan Allah tak dapat dijangkau tanpa dengan seizin-Nya. Bahkan makhluk halus pun tak dapat menjangkau Dia Yang Maha Halus. Allah swt berfirman:

“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui” (QS. Al-An’am: 103).

Apa maknanya?

Saya bukanlah ahli tafsir. Saya tidak akan menafsirkan dengan akal saya, tetapi insya Allah, saya akan memohon kepada Allah untuk diberi kemampuan memaknainya. Anda boleh saja tidak sama dengan yang akan saya tuliskan. Allah azza wa jalla adalah Tuhan saya dan Anda. Bila Anda memohon kepada Allah, mudah-mudahan Allah memberi Anda petunjuk. Bila Allah berkenan, maka tidak ada yang dapat menghalangi-Nya.

Makna ayat 103 Surat Al-An’am tersebut menunjukkan bahwa Allah sangat jelas tak mungkin dicapai oleh penglihatan lahir (kasar). Dia Maha Halus. Sangat jelas antara kata ‘kasar’ dengan kata-kata ‘Maha Halus’. Keduanya tidak sama. Bila terdapat perbedaan, maka tak mungkin dapat bersatu. Antara air dengan minyak, misalnya, jelas tak dapat bersatu. Keduanya memiliki unsur senyawa yang berbeda.

Allah adalah Maha Pencipta sedangkan Anda adalah makhluk-Nya yang diciptakan dengan kekuasaan-Nya. Allah sangat berkuasa, Anda sangat lemah. Tiadanya kekuasaan berarti adanya kelemahan. Anda makhluk yang lemah karena ada-Nya Yang Maha Perkasa. Maka, bila Anda berada dalam kekuasaan Allah, Anda sesungguhnya sangat lemah tak berdaya. Inilah yang disebut Anda sebagai seorang hamba Allah di dalam kekuasaan-Nya,

Bila Anda memosisikan sebagai yang lemah tak berdaya di hadapan Allah, Anda justru didudukkan oleh Dia sebagai yang mulia di sisi-Nya, Kenapa begitu? Anda lemah tak mungkin dapat menjadi sandaran bagi Yang Kuat. Allah Yang Maha Perkasa adalah patut menjadi sandaran bagi yang lemah. Apabila Anda menyandarkan kepada Dia Yang Maha Kuat, maka Anda pun menjadi kuat. Inilah logikanya.

Sekarang Anda adalah makhluk yang kasar (kasat mata), sementara Allah Maha Halus. Mustahil yang kasar menjangkau Yang Maha Halus. Apabila Anda menjauh dari Allah Yang Maha Halus, maka Anda pun tak mungkin berada di dalam kemahahalusan-Nya. Jauh dan dekatnya Anda kepada Allah Yang Maha Halus berpengaruh terhadap keberadaan jiwa Anda di dalam kekuasaan-Nya. Anda tak kuasa untuk menjadi halus karena Anda lemah tak memiliki kekuasaan untuk berbuat seperti itu. Allah Maka Kuasa, Dia dapat berbuat sebagaimana yang dikehendaki-Nya.

Bila Anda seorang hamba yang lemah tak berdaya menyandarkan kepada kemahakuasaan-Nya, maka Dia memiliki kehendak-Nya untuk hamba-Nya yang beriman kepada-Nya. Alhasil, Anda tidak mustahil apabila Allah Yang Maha Berkehendak dengan kekuasaan-Nya menjadikan Anda berada bersama-Nya di hadirat-Nya yang tak dapat dijangkau oleh makhluk-Nya yang tidak memiliki kekuasaan untuk berbuat sesuai keinginannya.

Sekarang kita membahas mengapa Allah mengajari manusia melalui Al-Qur’an? Al-Qur’an adalah ciptaan Allah di dalam Lohmahfuz (Kitab Induk) yang berada di sisi-Nya. Apa pun yang berada di sisi-Nya pasti mulia. Orang bertakwa mulia di sisi-Nya. Bila Anda tidak bertakwa, Anda pasti tidak mulia di sisi-Nya.

Al-Qur’an Al-Karim (Bacaan Yang Mulia). Semua firman Allah ditulis di dalamnya. Allah Maha Halus mustahil secara langsung berbicara kepada semua manusia, kecuali orang bertakwa. Allah azza wa jalla berkehendak menyampaikan berita gembira dan kabar peringatan kepada semua manusia. Allah Maha Mengetahui atas segala sesuatu. Allah mengetahui bahwa semua manusia dalam keadaan tak berdaya untuk bertemu langsung di hadirat-Nya untuk menerima pesan-pesan petunjuk-Nya.

Untuk itu, Dia mengabarkan kepada semua manusia melalui perantaraan malaikat Jibril a.s untuk disampaikan kepada Rasul-Nya yang mulia saw sebagai wakil atau utusan-Nya dari golongan manusia.

Saya menyebutkan demikian bukan berarti Rasul Allah tidak berada di dalam kekuasaan-Nya. Allah azza wa jalla pasti memuliakan Rasul-Nya. Artinya, beliau berada di sisi-Nya karena kemulian dirinya sebagai seorang utusan Allah.

Akan tetapi, Allah azza wa jalla saat menyampaikan firman-Nya melalui perantaraan malaikat Jibril a.s dalam kekuasaan-Nya untuk berbuat sebagaimana kehendak-Nya. Inilah bukti bahwa Allah dapat berbuat apa pun sebagaimana yang dikehendaki-Nya. Allah Azza wa Jalla mengajari Rasul-Nya dengan cara seperti itu bukanlah tiada pelajaran yang ada di balik semua itu.

Dia mengajari Rasul-Nya dengan perantaraan malaikat Jibril a.s. tidak menafikkan bahwa Rasul-Nya tidak dapat memperolehnya secara langsung dari Allah. Sekiranya Allah menyampaikan secara langsung, maka sejarah akan menjelaskan banyak kaum kafir yang mencibirkan kepada beliau. Ketika disampaikan bahwa beliau memperoleh wahyu melalui perantaraan malaikat Jibril a.s saja banyak yang menyebutnya sebagai manusia gila. “Allahu Akbar, muliakan Rasul-Mu yang suci yang telah mengajarkan kepada umatnya akan kemahabesaran-Mu!”

Allah azza wa jalla membumikan Al-Qur’an agar menjadi pelajaran bagi umat manusia yang jauh dari Dia Yang Maha Pencipta. Manusia adalah makhluk Allah yang sangat lemah keyakinannya bila tidak diajarkan dengan perantaraan. Perantaraan merupakan pengejawantahan dari yang sebenar-Nya. Bumi, misalnya, adalah perwujudan ada-Nya Dia Yang Maha Pencipta. Anda akan mendapati keyakinan bahwa Allah itu ada karena menyaksikan ciptaan-Nya.

Akan tetapi, Anda masih menyangsikan bila ciptaan Allah yang berada di balik yang tampak. Anda percaya alam ini diciptakan oleh Allah, tapi Anda masih ragu adanya surga dan neraka. Anda tidak meragukannya selain keyakinan Anda masih lemah. Keyakinan manusia berjenjang-jenjang.

Inilah yang menyebabkan banyak manusia yang sulit menerima firman Allah bahwa Dia menunjuki siapa yang Dia kehendaki. Allah azza wa jalla menunjuki manusia-manusia yang dengan ikhlas mengabdikan hidupnya hanya untuk Allah. Anda akan menjadi seorang hamba Allah sekiranya Anda mengabdikan diri Anda sepenuhnya hanya untuk Allah. Anda berhak menjadi hamba yang mukhlis.

Allah Azza wa Jalla menyampaikan firman-Nya melalui perantaraan Malaikat Jibril a.s agar dapat diambil pelajaran bagi orang-orang yang mau berakal. Selanjutnya, Allah azza wa jalla mengajari manusia dengan Al-Qur’an supaya secara bertahap tumbuh keyakinan akan adanya kebenaran Allah. Anda akan dibimbing menuju cahaya-Nya bila Anda secara istiqamah menyandarkan kepada kebenaran Allah dan mengimaninya dengan sepenuh hati. Bila terus dalam keyakinan seperti itu, maka Allah Yang Maha Bijaksana akan mencurahkan anugerah-Nya berupa Al-Hikmah!

Dengan Al-Hikmah inilah Anda, insya Allah, akan mendapati petunjuk Allah langsung menuju ke hati Anda. Siapakah yang berbicara di dalam hati Anda ketika Anda mendengar adanya pesan yang mengajari Anda untuk tidak berbuat dosa? Pernahkah Anda mengalami hal seperti itu?

Sepanjang hidup Anda, suara hati itu akan terus mengajak Anda kepada kebenaran. Andalah yang tak kuasa untuk mengikutinya. Anda belum memperoleh Al-Hikmah. Allah mengajari Anda dengan Al-Hikmah ke dalam jiwa Anda sesudah Anda secara istiqamah dengan sepenuh hati membaca Al-Qur’an melalui orang yang telah memperoleh Al-Hikmah. Jadi, secara terstruktur dapat dijelaskan demikian: ‘Allah azza wa falla mengajari manusia dengan perantaraan Al-Qur’an agar meyakini kebenaran-Nya. Allah selanjutnya memberi Al-Hikmah kepada yang istiqamah membaca ayat-ayat-Nya dengan sepenuh hati. Allah menunjuki langsung dengan Al-Hikmah itu ke dalam jiwanya. Maka, bagi yang sudah mendapati Al-Hikmah, dia berhak untuk mengajarinya kepada mereka yang benar-benar memiliki niat yang tulus untuk membaca kebenaran Allah!'

Allah -----> Jibril a.s. ----> Rasul Allah saw ----> Al-Qur’an ----> manusia yakin akan kebenaran Allah ----> Al-Hikmah ----> petunjuk Allah ----> cahaya-Nya ----> mulia/takwa/makrifat (mengenal Allah dan dengan seizin-Nya akan ditemui Allah) ----> (jika Allah mengehandaki) wali-Nya

Itulah alur Allah dalam mengajari manusia tentang kebenaran Allah!

Baca: Pengajaran Al-Quran

Silakan dibaca Artikel Terkait di bawah ini

2 comments:

  1. Assalamu'alaikum wr wb.

    Mohon d jelaskan lebih lanjut mengenai bahwa Allah akan bersemayah di hati orang yg sudah d beri alhikmah.

    Kalau di alquran pada ayat dengan Asbabun nuzul mengenai hijrahnya Nabi muhammad SAWW yang d kejar sama orang2 kafir Qurasy beliau masuk ke gua Hira pada waktu bersamaan sahabat umar sangat takut kawatir di ketahui oran2 kafir maka turunlah ayat...sesungguhnya Allah bersama kita sebagian muffasir menafsirkan bahwa Ilmu Allah menjangkau segala sesuatu.

    Wa Allahu 'alam.

    ReplyDelete
  2. Allah Azza wa Jalla bersemayam di hati orang-orang bertakwa atau yang telah diberi al-Hikmah maknanya adalah Dia senantiasa bersamanya (seorang hamba bertakwa itu) dalam kekuasaan Allah! Anda akan berada di hadirat-Nya ketika Allah mendudukkan anda mulia di sisi-Nya! Anda jangan menafsirkan bersemayam dengan seakan-akan Allah diposisikan sebagaimana seorang makhluk! Allah Azza wa Jalla ada dengan kekuasaan-Nya tanpa dapat diprediksi bagaimana keberadaan-Nya! Dia ada sebagaimana kehendak-Nya! Kehendak Allah Azza wa Jalla hanya dipertemukan dengan cahaya-Nya! Maka anda akan menemukan kesulitan bila dijelaskan dengan pengetahuan lahiriah! Allah menggambarkan bagaimana menjelaskan kedudukan seorang hamba mulia di sisi-Nya dengan Allah rido menjadikan dia sebagai hamba-Nya!

    Anda hanya memahami makna bersemayam seolah berdiam diri di hati! Apabila kata berdiam sama dengan bersemayam, tidak dapat dimaknainya seakan berdiamnya seorang makhluk yang terbatas karena adanya arah dan tempat di mana dia berdiam. Berdiamnya atau bersemayamnya Allah tidak seperti itu! Laitsa kamitslihi syaiun -- Allah tidak seperti sesuatu pun!

    Allah menjelaskan bersemayam dengan pemaknaan bahwa Dia rido terhadap seorang hamba bertakwa menjadi mulia sampai dia mendapati cahaya-Nya! Cahaya-Nya mencakup segala sesuatu sampai seolah-olah seorang hamba mengetahui segala hal karena cahaya-Nya itu! Apabila dikaitkan dengan firman-Nya bahwa Allah bersama kita dengan ilmu Allah meliputi segala sesuatu, seperti itulah cahaya-Nya bila sudah berada di dalam diri seorang hamba bertakwa!

    ReplyDelete

Artikel Populer 7 Hari Terakhir